
Bbukkk...
Buket bunga yang berwarna-warni dengan beberapa jenis itu terjatuh dilantai, susunannya menjadi rusak dan beberapa kelopak bunganya berserakan dilantai.
"Fa Fauzi.."
Kulihat Fauzi berdiri mematung disana, nafasnya seperti tertahan, tanpa kata hanya dengan sorot matanya yang sedikit kebingungan.
Farhan melepas pelukannya, mundur selangkah memberikan jarak antaraku dan dia.
Fauzi terlihat kesulitan mengambil nafas setelah tadi beberapa saat dia menahan nafasnya. Fauzi terlihat terkejut sekali dengan apa yang barusan dia lihat dan sedang berusaha memahami apa yang sedang terjadi sekarang. Pandangannya yang sedari tadi menyorotiku dia alihkan. Fauzi tertunduk dan memungut buket bunga yang terjatuh di lantai.
"Ma.. Maaf" kata Fauzi tergugup-gugup. "Maaf menganggu.." Katanya kemudian berbalik membelakangiku dengan Farhan.
"Fauzi.." Aku berlari kecil mengejarnya yang mulai melangkah menjauh dariku dan Farhan. "Ozi.." Aku menarik tangannya "Ozi..." Aku berhasil menahannya dan.. Kulihat airmatanya yang perlahan mulai menetes. Fauzi dengan cepat menyekanya.
"O Ozi.. i ini.."
"Maaf karena menganggumu.." Kata Fauzi mencoba tersenyum meski matanya memerah dan berkaca-kaca. Melihatnya seperti itu membuat hatiku semakin sakit.
"Gak.. bukan begitu.."
"Ini untukmu, selamat karena sudah menyelesaikan ujian terakhir.." Kata Fauzi sambil memberikan buket bunga yang sempat terjatuh tadi. "Ah maaf, tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya jadi sedikit rusak"
"Fauzi..."
"A aku.. Aku pulang dulu.." Fauzi menoleh dan melihat Farhan yang hanya berdiri mematung disana. "Han, gue pulang duluan.." Kata Fauzi berlalu mempercepat langkahnya.
"Fauzii..." Panggilku.
Fauzi tidak menghiraukan panggilanku hanya terus berjalan lebih cepat menjauhiku. Aku terdiam sejenak ditempatku, aku bingung apa yang harus aku lakukan dan aku harus bagaimana.
Aku menoleh melihat Farhan terdiam berdiri belakang, dia sepertinya cukup terkejut juga. Aku tahu ada beban tersendiri bagi Farhan mengingat Fauzi adalah sahabatnya dan baru saja Fauzi melihat semua yang dia sembunyikan selama ini.
Aku harus mengejar Fauzi, aku harus menjelaskan semuanya pada Fauzi. Aku berlari meninggalkan Farhan sendirian dibelakang.
Aku mengarahkan pandanganku mencari sosok Fauzi disekitarku, baru saja Fauzi keluar tadi tapi dengan cepat aku sudah kehilangan jejaknya. Aku meraih ponselku dan menelfonnya tapi tidak ada jawaban, kukirimi pesan tapi tidak ada balasan.
"Fauzi kamu dimana?" Gumamku sambil terus berusaha menghubungi Fauzi.
Entah sudah ada berapa panggilan tak terjawabku di ponselnya dan berapa banyak pesanku dikotak masuknya yang dia abaikan sekarang. Aku terus berusaha menghubungi Fauzi sambil mencarinya.
"Fa Fauzii..." Ah akhirnya dia mengangkat telfonku.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, dia mengangkat telfonku tapi tidak menjawabku. Dia terdiam
"Ozi.. Kamu dimana?"
Masih sama tidak ada respon dari Fauzi, aku hanya mendengar suara-suara angin dari seberang telfonnya.
"Ozi aku tanya kamu dimana sekarang?"
"Kenapa?" Tanyanya. Kata pertama yang dia ucapkan selama telfonku terhubung.
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku? ah aku masih disini.."
"Disini dimana Fauzi.."
"Untuk apa tahu?"
"Aku akan kesana.."
"Tidak usah, disini rasanya menyenangkan sendirian.."
"Tapi.."
"Gak, kamu dimana? Aku mau kesitu.."
"Jangan kesini, ada seseorang yang menunggumu. Buat apa kesini? Aku bukan lagi orang yang menunggumu.."
"Maksudmu? kamu ngomong apa sih Zi?"
"Aku.. aku juga gak tau lagi ngomong apa.."
Kudengar suaranya menjadi semakin parau, mungkin saja dia sedang menangis sekarang..
"Ozi.. Kamu harus nge..." Perkataanku terhenti mendengar sesuatu dari sana. Ah aku tau sekarang Fauzi ada dimana.
Aku langsung memutuskan telfonku lalu memanggil Taxi dan menuju ketempat Fauzi berada. Aku mendengar suara pesawat dari seberang telfon Fauzi barusan. Aku tahu Fauzi sekarang ada dilapangan dekat bandara bagian lepas landas pesawat, sesekali FauziĀ kesana untuk menenangkan perasaannya.
Aku melemparkan pandanganku dirumput hijau yang terbentang cukup luas, mencoba mencari keberadaan Fauzi. Tak cukup lama berjalan, aku melihat Fauzi sedang berbaring di rerumputan hijau. Ia membiarkan wajahnya dilahap oleh panasnya matahari yang mulai menguning mengingat hari mulai sore. Airmatanya menetes meskipun ekspresi wajahnya datar saja tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Ozi..." Kupanggil dengan nada pelan. Tidak ada respon dari Fauzi. "Fauzi.." Aku kembali memanggilnya.
Perlahan Fauzi membuka matanya, dan menyeka sisa airmatanya yang belum kering oleh angin.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyannya tanpa melihatku.
"A aku.. aku mau ngejelasin semuanya.."
"Sudahlah, aku sudah cukup mengerti meskipun gak kamu jelaskan" Kata Fauzi terbangun dan membersihkan beberapa dedaunan yang menempel dirambutnya.
"Ozi... Maafkan aku.."
"Tidak apa, terkadang kita memang butuh oranglain untuk ganti suasana.."
"Bu bukan begitu Fauzi.."
"Salwa.. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, tapi sepertinya usahaku belum cukup besar untuk ngebuat kamu merasa nyaman sama aku saja.." Katanya menatapku.
"Bu bukan.. Aku yang.."
"Aku berlarian kesini Salwa, Aku berlarian ke bandara memesan tiket dan langsung pulang hanya untuk memberimu kejutan dan mengucapkan selamat atas ujianmu yang sudah selesai. Aku menyiapkan ribuan kata manis dikepalaku yang akan kuucapkan sambil memberikanmu bunga untuk melengkapi rasa bahagiamu selepas ujian.. Tapi.."
Fauzi berhenti sejenak, ia kembali menyeka airmatanya.
"Tapi.. Aku tidak bisa mengungkapkan semua kata manis itu, aku tidak memberikanmu bunga dengan caraku yang sudah aku rencanakan. Aku bukannya memberimu kejutan tapi kamu... Tapi kamu yang memberiku kejutan" Jelasnya.
"Maafkan aku Ozi, aku salah.. Aku sedang memperbaiki semuanya.."
"Apa yang kulakukan hari ini tidak jauh berbeda dengan hari itu.. semuanya sama saja, keadaan yang sama, hatiku yang tetap hancur dan perasaanku yang berusaha aku kuasai tapi hari ini aku tidak bisa menahannya lagi.."
"Ha hari itu??"
"Iya, hari dimana aku berlarian dari bandara menuju rumah sakit karena khawatir sama kamu tapi apa yang aku temui pertama hari itu? Perasaan sakit yang tidak bisa aku kendalikan dengan mudah.."
"Ka kamu hari itu.."
"Iya, aku tau semuanya Salwa, hanya saja hari itu aku lebih hebat dalam mengendalikan perasaanku sehingga aku bisa lebih tenang, tapi hari ini aku kalah.. Aku tidak bisa menahannya lagi.."
"Ozi.. maafkan aku.. tolong maafkan aku.." Airmataku mulai menetes.
"Aku kira, dengan aku memberimu kesempatan, dengan aku mengarahkanmu dengan semua penjelasanku malam itu, dengan aku yang memberimu jalan keluar kamu bisa mengambil tindakan seperti apa yang kau mau" Jelasnya dengan suara parau.
"Aku.. aku sedang memperbaikinya Ozi.. aku sedang.."
"Aku takut Salwa.. Setelah mengatakan semuanya malam itu aku takut kamu akan mengambil tindakan melepasku dan memilih bersama Farhan, tapi pada akhirnya aku merasa lega karena selama aku disana bersamamu saat dirawat kamu masih denganku, aku berfikir kamu memilihku saat itu tapi ternyata aku salah.."
"Gak Ozi, aku milih kamu dan sekarang aku sedang berusaha memperbaiki semuanya"
__ADS_1
Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Fauzi, tapi rasanya sangat sulit untuk meyakinkan Fauzi.