Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Bar again?


__ADS_3

Tidak ada yang bisa menjelaskan, seperti apa rasa sakit yang sedang ia rasakan sekarang. Bukan waktu sebentar yang ia gunakan saat menunggu Sasa. Kesabaran yang luas dalam penantiannya, rupanya tidak memberikan hasil yang manis, sebagaimana yang dia harapkan selama ini.


Sakit, perih, putus asa, semua bercampur menjadi satu. Rasa sesak juga turut mengambil peran dalam memperburuk perasaannya. Sejenak terlintas dipikirannya, bagaimana jika ia akhiri saja hidupnya yang malang ini. Tujuan hidupnya selama ini adalah agar bisa bersama Sasa dikemudian hari, dan tujuan itu sudah hilang bersamaan dengan undangan yang di genggamnya dengan erat.


langkah kaki yang lunglai dengan pikiran yang berkecamuk.


"ARGHHHHHH..." Teriak Faiq melampiaskan semua sesak yang dia rasakan. Beberapa penghuni jalan lainnya spontan berbalik ke arah Faiq yang mulai menangis tak jelas di tengah jalan.


"Apa yang salah? Apa yang salah dari aku sampai hidupku seperti ini? Aku pernah berbuat dosa apa di kehidupan sebelumnya sampai mendapat hukuman seperti ini?" deretan pertanyaan tanpa jawaban terus keluar dari bibirnya. "Apa aku salah karena terlalu mencintai?" Suaranya mulai serak, bahkan kerongkonan mulai terasa kering sekarang.


Faiq terus berjalan menyusuri jalan dengan langkah yang lunglai. Entah kemana arah tujuannya, ia hanya menyusuri sepanjang trotoar jalan. Undangan yang ditangannya kini remuk tak berbentuk.


Berlalu 30 menit Faiq berjalan tanpa tujuan, hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah bar. Sudah sangat lama ia tidak menapakkan kakinya ditempat yang penuh dengan warna warni lampu dan dentuman musik yang keras. Sudah lama sekali juga, minuman yang mengandung alkohol tidak melewati tenggorokannya. Niatnya berhenti waktu itu demi wanita yang dicintainya, rupanya tidak menghasilkan apa-apa saat ini.


Faiq melangkah masuk, kerlap kerlip lampu, serta musik menyambutnya. Meski sedikit terasa asing mengingat hampir sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kakinya di bar, namun Faiq melangkah mantap untuk menghabiskan malamnya disana.


Airmata yang sebelumnya banjir di wajah, kini sudah kering tidak berbekas. Meski akibat dari tangisan itu masih meninggalkan jejak dengan memperlihatkan matanya yang memerah.


Faiq meminta satu gelas minuman beralkohol pada bartender yang bekerja malam itu. Satu gelas yang disiapkan untuknya diteguk satu kaligus tanpa sisanya. Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi masam ketika minuman beralkohol itu melewati tenggorokannya. Sekarang, bukan matanya saja yang memerah, kini pipinya pun mulai berubah warna. Ia meletakkan gelasnya diatas meja, dan kembali meminta bartender untuk mengisi gelas itu hingga penuh.


"Kamu?"


Faiq yang perlahan kehilangan keseimbangan dirinya menoleh dan hampir terjatuh saat sapaan dengan suara yang tak asing menyentuh indra pendengarannya.


Dahinya berkerut, mencoba mengenali wajah yang sedikit sulit terdeteksi akibat kerlap kerlip lampu yang sesekali menyilaukan.


"Karin?"


Karin hanya tersenyum simpul sembari mengambil tempat duduk disamping Faiq.


"Aku kira kamu gak bakal pernah lagi datang ke bar. Gak nyangka ternyata malam ini kamu disini" Kata Karin sembari meminta satu gelas minuman bersoda.


"Aku lebih gak nyangka lagi bisa ketemu sama orang kayak kamu ditempat seperti ini. Kamu bukan orang cocok untuk datang ke tempat seperti ini"


"Terus tempat seperti apa yang cocok untukku?"

__ADS_1


Faiq tidak menjawab, ia hanya terdiam dan kembali meneguk minumannya.


"Sejak kapan kamu masuk ditempat seperti ini?" Tanya Faiq tanpa menjawab pertanyaan Karin sebelumnya.


"Belum lama.." Jawab Karin meneguk minumannya


"Kenapa?"


Karin menatap Faiq yang terlihat berantakan, meski masih jelas terlihat bahwa Faiq masih sadar dan belum mabuk meski tiga gelas alkohol sudah habis di teguknya.


"Mungkin seperti kamu sekarang"


Faiq menoleh, tidak cukup mengerti dengan apa yang dikatakan Karin.


"Kamu keliatan berantakan. Bisa aku tebak, kalau sesuatu sedang mengganggu pikiranmu sekarang"


Faiq tersenyum simpul, tidak ada yang salah dari perkataan Karin.


"Setelah beberapa tahun, aku akhirnya kembali lagi ketempat seperti ini"


"Kenapa kamu tiba-tiba datang ketempat seperti ini?"


"Patah hati" Jawab Faiq tanpa basa basi.


Faiq tidak merasa bahwa hal yang dia rasakan saat ini adalah sesuatu yang harus disembunyikan dari Karin.


"Perempuan yang aku sukai, sebentar lagi akan menikah"


Faiq belum mabuk, Karin tahu itu. Namun Faiq yang bercerita hal seperti ini padanya, jelas sekali bahwa Faiq tengah membutuhkan pendengar.


"Perempuan yang ku temui saat ada Fauzi dulu?"


Faiq mengangguk membenarkan ucapan Karin.


"Dia.. Dia perempuan yang aku cintai selama ini, yang ngebuat aku melakukan segalanya. Dia.. Diaa..."

__ADS_1


Faiq tidak melanjutkan ucapannya, dan kembali meneguk minumannya.


"Rasanya sakit sekali tahu kalau dia mau menikah" Mata Faiq mulai berkaca-kaca.


Tindakan impulsif Karin mengangkat tangannya, namun terhenti saat jarak tangannya hanya berkisar 5cm dari punggung Faiq. Melihat Faiq yang seperti ini, membuat Karin berinisiatif menenangkannya.


Meski ragu-ragu, Karin akhirnya menepuk pelan-pelan pundak Faiq, mencoba menenangkan laki-laki yang terlihat begitu malang itu.


"Aku sudah melakukan semuanya untuk dia Karin, tapi kenapa... Kenapa dia berakhir sama orang lain dan bukan sama aku??"


"Kamu nyesel sudah melakukan semuanya untuk dia?"


Faiq menggeleng.


"Tidak. Meski dia akhirnya bukan sama aku, aku sama sekali tidak menyesal sudah melakukan semuanya untuk dia. Apa yang aku lakukan buat dia, adalah bukti seberapa besar perasaanku buat dia"


Mungkin terlihat aneh, namun nyatanya mantan suami istri itu tengah bercerita perihal kehidupan mereka masing-masing.


.


.


.


.


Ohayo minna-san, maaf karena menghilang selama ini.. InsyaAllah mulai sekarang aktif nulis lagi, meski gak se aktif yang kemarin..


Ribuan makasih Lina ucapin karena masih stay.. Salam cinta dari Lina 💜


.


.


__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel barunya Lina 😊


__ADS_2