
Penjelasan Fauzi seperti sebuah tamparan buatku, seolah menggambarkan bagaimana buruknya aku saat ini. Aku semakin takut kalau suatu hari nanti Fauzi tahu yang sebenarnya.
"Kalau emang udah niat sama oranglain mending putusin sama yang pertama dulu.."
"Kenapa begitu?"
"Yang kedua gak akan ada kalau kamu masih sayang sama yang pertama.." Kata Fauzi menatapku sambil tersenyum. Aku tidak tau harus berekspresi bagaimana menanggapinya.
"Ta tapi gimana kalau masih gak bisa ngelepas yang pertama?" Tanyaku sedikit terbata-bata.
"Kalau gak bisa ngelepas yang pertama itu tandanya rasa cintamu masih ada sama yang pertama, dan karena sudah mengadakan yang kedua yang berarti udah selingkuh itu artinya udah egois.."
"Tapi..."
"Gini ya sayang, aku ambil contoh aja sama hubungan kita yang sekarang lagi LDRan. Misalnya aku suka sama oranglain disana harusnya aku mutusin kamu dulu, kenapa? karena gak mungkin aku bisa suka sama oranglain disana kalau aku masih sayang sama kamu. Tapi kalau pada akhirnya aku tetap selingkuh disana dan gak mau ngelepas kamu disini itu berarti aku egois" Jelas Fauzi.
"Egois?"
"Iya, karena sebenarnya aku gak suka sama orang yang disana, aku cuman gak terbiasa sendiri karena sekarang kamu jauh dari aku. Jadi aku cuman manfaatin orang disana buat ngegantiin kamu sementara selagi aku disana, hal itu pasti nyakitin kamu dan juga orang itu"
GLEBBB.. Pernyataan Fauzi barusan benar-benar menggambarkan posisiku.
"Tapi gi gimana kalau orang disana yang mi minta kamu buat ada disampingnya meskipun dia tahu kalau kamu punya aku?"
"Itu semakin ngebuat aku gak mau sama dia, dia harusnya sebagai cewek bisa memposisikan diri gimana kalau seandainya dia yang digituin, dan lagi kalau dia bisa kayak gitu ke aku suatu hari nanti dia juga bisa kayak gitu ke oranglain"
Aku membetulkan apa yang dikatakan Fauzi, apalagi jika diposisi Farhan saat ini, dia bersamaku yang jelas-jelas kekasih dari sahabatnya sendiri.
"Tidak alasan untuk sebuah perselingkuhan, gak ada istilah selingkuh karena terpaksa. Yang ada karena tidak adanya ketegasan sama diri sendiri dan ego yang besar. Harusnya kalau kita benar suka sama orang lain kita harus tegas memutuskan hubungan dengan yang pertama dan seandainya kita masih suka sama yang pertama kita gak boleh egois dengan mengadakan yang lain hanya karena yang pertama tidak bisa memenuhi sesuai keinginan kita.."
Perlahan aku mulai mengerti dan sadar dengan apa yang dimaksud Fauzi.
"Sayang, kita harus selalu sadar. Bukan hanya oranglain yang tidak bisa memenuhi ekspektasi kita tapi kita juga tidak akan bisa memenuhi ekspektasi oranglain, jadi sebelum mengharapkan hal yang lebih pada oranglain sebaiknya kita berkaca sendiri dulu untuk intropeksi diri.."
"Iya, selingkuh itu harusnya gak ada, kita harus tegas mengambil keputusan dan membuang semua ke egoisan.." Kataku dengan nada rendah dan mulai sadar.
Fauzi tersenyum. "Kamu sakit jadi aneh sayang.."
"Apanya?"
"Ya kenapa jadi penasaran tentang perselingkuhan coba?"
"Ah itu... A aku cuman.."
"Udah gak usah dibahas, mungkin masalah perselingkuhan itu lagi ngeganggu pikiran kamu.."
__ADS_1
"I iyaa... kayaknya gitu.."
"Jadi kalau kamu lagi selingkuh sekarang kamu harus bisa yakin sama perasaanmu, dan tegas ngambil keputusan. Mutusin aku atau tinggalin dia.."
"Iya, kamu bener.." Jawabku sedikit lirih. "Ehh..." Aku terkejut menyadari sesuatu.
"Hem kenapa?"
"Kamu kok ngomongnya gitu.. ka kamu pikir aku se selingkuh?" Tanyaku terbata-bata.
"Haha aku cuman asal bilang sayang, aku cuman ngasal ngasih solusi.."
Aku sedikit terkejut. Fauzi seperti sedang mengarahkanku untuk mengambil sebuah tindakan sekarang.
"Masih mau buah?" Kata Fauzi sambil sedikit menguap.
Kenapa aku lupa, Fauzi masih sangat kurang istirahat. Sampai kemarin dia langsung berlarian kesini, dia hanya tidur sebentar tadi dan sekarang harus terjaga lagi karenaku.
"Kamu ngantuk, udah tidur gih.."
"Ah enggak kok.."
"Gak apanya? Matamu memerah dan berair.."
"Tapi kamu..."
Aku berbaring dan berusaha untuk tidur, Fauzi tidak akan tidur kalau aku tidakĀ tidur sedangkan dia masih sangat kurang istirahat.
Tidak cukup lama Fauzi akhirnya tertidur, sedang aku masih saja terjaga. Aku terus-terusan memikirkan perkataan Ibu kemarin dan penjelasan Fauzi tadi.
"Apa aku mencintai kak Farhan? Karena tentang perasaanku ke Fauzi itu masih sangat nyata kalau aku mencintai Fauzi" Pikirku.
Aku berusaha menyadari perasaanku yang sebenarnya. Mencoba masuk lebih dalam pada perasaanku sendri untuk menemukan jawaban dari ketidak jelasanperasaanku pada Farhan.
Mungkin saja betul yang dikatakan Fauzi tadi. Aku bukannya suka pada Farhan, aku hanya terlalu egois karena tidak bisa menerima keadaan Fauzi yang saat ini jauh dariku. Aku hanya tidak ingin merasa kesepian sehingga aku menahan Farhan disisiku. .
Waktu berlalu aku masih saja tidak bisa tidur. Diluar mungkin sudah mulali terang dan aku benar-benar tidak bisa tidur. Fauzi masih terlelap dengan nyenyaknya tidur sambil duduk dikursi meletakkan kepalanya ditepi brangkar.
.
.
.
.
__ADS_1
Sudah sekitar tujuh hari aku dirawat di Rumah sakit, hari ini aku sudah bisa pulang. Selama tujuh hari di Rumah sakit Fauzi terus-terusan menemaniku, membuat Ibu sedikit terbantu mengurusiku selama aku dirawat. Selama tujuh hari itu Farhan sesekali datang menjengukku, tapi karena ada Fauzi ia jadi tidak bisa berlama-lama. Aku juga tidak merespon Farhan dengan baik.
Sudah kuputuskan seperti apa yang dikatakan Fauzi, aku harus memilih salah satu diantaranya dan aku memilih bertahan dengan Fauzi. Aku memiliki cukup waktu untuk merenungi dan menyadari kalau perasaanku sepenuhnya masih milik Fauzi, hanya ada kesalahpahaman tentang perasaanku pada Farhan, aku hanya merasa kesepian saja selama ini sehingga aku salah mengartikan perasaanku pada Farhan.
Kali ini aku harus tegas mengambil tindakan, aku tidak boleh egois lagi. Aku akan benar-benar kehilangan Fauzi kalau sampai dia tahu hubunganku dengan Farhan.
Karena aku sudah bisa pulang, Fauzi akhirnya memutuskan kembali hari ini juga untuk melanjutkan kuliahnya. Satu minggu full bersama Fauzi membuatku nyaman dan benar-benar bisa meyakinkan diri bahwa selama ini benar aku hanya merasa kesepian karena jauh dari Fauzi dan bisa untuk mengambil tindakan yang tegas.
Aku tiba dirumah, baru juga tujuh hari tapi rasanya rindu sekali dengan suasana kamarku.
Tok tok...
"Salwa, Ibu masuk ya.."
"Iya Bu.."
"Bagaimana perasaanmu sayang? Sudah baikan?"
"Iya, Salwa udah baikan kok Bu, besok udah bisa berangkat sekolah.."
"Besok gak usah bawa sepeda dulu, biar Ibu antar jemput saja.."
"Tapi Ibu bisa kerepotan.."
"Gak ada Ibu yang merasa direpotkan sama anaknya sayang.." Kata Ibu sambil membelai rambutku dengan lembut.
"Makasih Bu"
"Iya sayang.." Kata Ibu mengecup keningku. "Fauzi sudah pergi?"
"Mungkin masih di bandara atau mungkin sudah take off sekarang.."
"Syukurlah, Fauzi pasti ketinggalan banyak mata kuliahnya. Tugas-tugasnya sudah menumpuk sekarang.."
"Aku udah bilang kalau aku udah baikan dan minta Fauzi buat kembali kuliah tapi Fauzi nolak terus.."
"Itu karena dia khawatir terus sama kamu sayang.."
"Aku jadi gak enak Bu.."
"Hem.. kalau begitu berbaik-baiklah dengan Fauzi, jangan seperti sekarang.."
"Seperti sekarang? Maksud Ibu?" Tanyaku bingung..
"Karena sudah terlanjur ngebahas ini, Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu sayang.."
__ADS_1
"Apa Bu?"
Ibu sepertinya akan membicarakan sesuatu yang serius, tidak biasanya Ibu seperti ini.