
Aku memesan makanan selagi menunggu Farhan yang sedang di toilet sekarang. Ponselnya terus berdering entah panggilan dari siapa, aku tidak berani menjawab panggilan masuk di ponsel Farhan, aku tidak ada hak lagi untuk itu.
"Kak, ponsel kakak berdering terus tadi" Kataku ketika Farhan kembali dari toilet.
"Tiga panggilan tak terjawab? Aduh. dia bisa marah" Kata Farhan setelah mengecek panggilan masuk yang tidak terjawab di ponselnya.
Aku sejenak berfikir, siapa orang yang bisa membuat Farhan khawatir seperti ini karena tidak menjawab panggilannya.
Farhan mencoba menghubunginya kembali. Aku diam saja melihatnya.
"Halo, maaf sayang tadi aku lagi di toilet"
Sayang?? Siapa orang yang dipanggil sayang oleh Farhan? Hubungan apa orang itu dengan Farhan sampai memanggil Farhan dengan panggilan sayang?
Aku tidak tahu apa perasaanku ini wajar atau tidak, hanya saja jelas aku merasa hatiku sakit dan kecewa. Aku tidak tahu apakah ini bagian dari perasaan cemburu atau apa. Aku seperti uring-uringan sendiri melihat Farhan yang gelisah karena khawatir dengan perempuan yang sedang berbicara dengannya di telfon itu marah. Aku berusaha menekan sebisa mungkin perasaanku. "Arghh kenapa aku harus seperti ini?" Batinku.
Apa aku salah mengartikan kebaikan Farhan selama ini? Apa aku salah mengira dengan perlakuan baik Farhan terhadapku. Aku selalu mengira Farhan berbuat baik padaku karena menyangkut dengan perasaannya terdahulu yang belum terselesaikan. Toh bagaimana bisa Farhan bisa sebaik ini padaku kalau bukan karena dia yang masih menyukaiku. Dan lagi, selama ini Farhan bersamaku tidak ada seorangpun yang menelfonnya. Lagian mana mungkin Farhan bisa jalan dengan aku seleluasa ini jika dia punya kekasih. Apa benar Farhan hanya melihatku seperti adik perempuannya sekarang?. Bagaimana bisa seperti itu?
Aku berusaha menekan perasaanku, menyembunyikan ekspresi dan berusaha tetap terlihat baik-baik saja, tapi tetap saja itu sulit sekali untuk kulakukan.
"Aku lagi diluar, lagi di cafe" Kata Farhan memperjelas lokasinya pada perempuan yang di ajaknya menelfon. Farhan kini mengabaikanku yang duduk didepannya.
Farhan hanya fokus pada telfonnya saja.
"Serius kamu disini? Jangan bohong sama aku.." Terlihat jelas ekspresi bahagia Farhan berbicara dengan perempuan itu.
"Mau aku jemput?? Tapi eh" Farhan berhenti sejenak setelah melirikku. "Aku lagi sama seseorang disini sayang, aku gak mungkin langsung kesana dan.."
"Gak apa kak, jemput aja dulu. Atau kita pulang saja sekarang?" Kataku memotong perkataan Farhan dan mencoba mengerti posisi Farhan.
Bukan juga dikatakan aku mengerti posisi Farhan saat ini, aku hanya ingin cepat pulang karena rasanya sudah tidak tahan sekali seperti ini.
"Iya cewek sayang.. Ah maaf, tapi aku yakin kamu gak akan marah karena aku gak ngapa-ngapain" Mendengar perkataan Farhan sepertinya perempuan itu sedikit marah mengetahui Farhan sedang bersama perempuan.
Tadinya aku masih mencoba berfikir positif, sebelumnya Farhan pernah memanggil Key sahabatnya dengan panggilan sayang jadi aku berfikir bisa saja ini juga hanya temannya. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi berfikir positif, tidak mungkin itu hanya teman perempuan melihat dia cemburu karena Farhan sedang bersamaku sekarang. Aku mengalihkan pandanganku, mencoba mengusap airmata diujung pelupuk mataku.
Tunggu? Nina pernah bilang kalau dia melihat Farhan dengan perempuan di bandara sebelum Farhan kesini. Apa jangan-jangan perempuan itu? Nina sempat menceritakan ciri-ciri perempuan itu dulu, waktu itu aku tidak peduli tentang perempuan yang Nina maksud itu, tapi setelah aku ingat-ingat ciri-ciri perempuan itu seperti ciri-ciri yang dimiliki Key. Apa benar Farhan bersama Key? Jika itu benar Key, berarti Farhan juga selingkuh dariku waktu itu.
__ADS_1
"Gak sayang, aku cuman ngebantu buat perasaannya jadi lebih baik karena habis terjadi sesuatu, aku yakin kamu gak marah" Farhan mencoba membujuknya.
Aku diam saja melihatnya, ya aku diam meski sebenarnya aku ingin berteriak melepaskan sesaknya perasaanku.
"Kamu gak tau tentang kejadian itu? Masa kamu gak tau?" Kata Farhan melihatku. Kenapa juga Farhan melihatku seperti itu.
Aku menunggu Farhan selesai berbicara, aku diam saja karena perempuan itu akan mendengar suaraku lagi jika aku berbicara.
Farhan mengakhiri telfonnya setelah sekita lima belas menit dia bercerita dengan wajahnya yang berseri-seri.
"Ah maaf jadi sempat ngabaiakan kamu tadi.."
"Gak apa kak, aku ngerti kok" Jawabku dengan berusaha tersenyum.
"Beberapa hari ini kami tidak saling mengabari karena dia pergi liburan dan disana gak ada jaringan" Farhan mulai bercerita
"Oh hehe.." Jawabku setengah tertawa.
"Kamu pasti juga kepikiran kan? Di daerah mana coba yang gak ada jaringannya, awalnya aku kira dia cuman bohong tapi dia berusaha ngejelasin semuanya sampai aku juga percaya"
"Hehehe iya kak, sekarang kan sudah modern bagaimana bisa ada daerah yang gak ada jaringan telfonnya"
CK, apa dia sedang menyinggungku sekarang?
"Hehe iya.."
"Aku senang sekali tau dia udah disini sekarang.." Kata Farhan yang sedari tadi tersenyum tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Dia orang sini?"
"Loh kamu gak tau?"
Aku mengerutkan keningku.
"Oh iya, dia mau datang kesini kamu gak apa kan?" Farhan mengabaikan pertanyaanku, yah sekarang yang dipikirannya hanya keberadaan kekasihnya saat ini.
"Iya kak.." Jawabku setengah hati.
__ADS_1
"Aku harus pesanin dia makanan biar kalau datang bisa langsung makan"
"Gimana kakak tau dia mau makan apa?"
"Aku udah hafal betul dia akan makan apa, setiap kami makan bersama diluar dia akan memesan menu makanan yang sama atau sejenisnya"
"Oh begitu.. Sepertinya kakak sayang sekali sama dia"
"Hehe iya, awalnya juga aku gak nyangka bakalan bisa sayang begini sama dia"
Hatiku benar meronta-ronta tak karuan. Aku berada dalam keadaan dimana ekspresi yang kuperlihatkan dengan apa yang kurasakan bertolak belakang.
"Apa aku sebaiknya pulang aja? Nanti aku malah ngeganggu kakak"
"Gak kok, gak mungkin juga aku ngebiarin kamu pulang sendiri sedangkan tadi aku ngejemput kamu dari rumah"
"Gak apa kak, aku bisa kok pulang sendiri.."
"Jangan, aku gak tenang kalau kamu pulang sendiri, tunggu sebentar ya.."
Aku hanya mengangguk sambil terus berusaha tersenyum.
Aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa bertahan menyembunyikan perasaanku yang berkecamuk seperti ini.
"Kenapa dia lama sekali?" Kata Farhan terus mengecek ponselnya, terlihat sekali bagaimana Farhan mengkhawatirkannya
"Coba ditelfon kak.." Saranku.
Farhan menelfon perempuan itu berkali-kali tapi sepertinya tidak ada jawaban.
"Dia gak ngejawab telfonku, mungkin sedang dijalan" Kata Farhan lesuh.
Aku mengaduk-aduk makanan yang ada didepanku, rasanya selera makanku sudah hilang.
"Oh itu dia datang.." Farhan terlihat senang melihat perempuan itu sudah datang.
"Maaf aku telat, sempat kejebak macet.."
__ADS_1
Aku menoleh.
"Loh????"