
Waktu menunjukkan pukul 07:15, Cahaya matahari sudah menyelinap masuk kedalam kamarku, menerpa wajahku yang membuatku semakin sulit membuka mata.
"Ah, aku lupa tutup gorden jendela semalam" keluhku melihat sinar matahari yang masuk menerpa wajahku.
Karena keasyikan mengobrol dengan Fauzi lewat telfon semalam, aku jadi tertidur dan lupa menutup gorden juga lupa mematikan lampu dikamar.
Aku bahkan tidak ingat, kapan aku mulai hilang kesadaran dan tertidur. Yang aku ingat, hanya ketika Fauzi menyanyikan sebuah lagu untukku sebagai permintaan maafnya padaku karena akhir-akhir ini jarang menghubungiku.
"Ah, hari libur.. Malasnya" kataku dengan nada sedikit mengantuk.
Seminggu yang lagi aku dan Fauzi ikut dengan Farhan dan perkumpulannya berlibur. Menikmati sejuknya angin desiran pantai dan cantiknya pemandangan lautan.
Aku jadi mengingat, itu adalah kali terakhir aku bersama Fauzi dengan waktu yang lama selama seminggu terakhir ini.
Semenjak kejadian itu, aku dan Farhan tidak lagi canggung. Aku menjadi lebih nyaman dari sebelumnya jika mengobrol dengan Fauzi meskipun ada Farhan, tidak jarang juga menjadi ikut larut dalam perbincangan dan saling melempar canda dengan Farhan.
Yah, sudah pasti Fauzi bertanya karena sebelumnya tidak seperti ini.
"Kurasa aku kurang sopan aja kemaren-kemaren agak ngecuekin kak Farhan, ngedenger kamu bercanda sama kak Farhan dipantai kemarin kayaknya akrab banget. Kurasa kamu gak bakal terganggu kalo aku sedikit lebih akrab sama kak Farhan, biar kamunya juga bisa lebih santai ngobrolnya" jelasku pada Fauzi ketika ia bertanya perihal aku yang mulai akrab dengan Farhan.
Fauzi mengerti dan cukup senang dengan aku yang mulai mencoba akrab dengan teman-temannya.
"Teman-teman aku kan teman-teman kamu juga sayang" Jawab Fauzi waktu itu.
Kuraih telfon genggamku, kulihat ada satu pesan dari Farhan.
"emh? Kok beruntun?" tanyaku bingung melihat chat Farhan yang beruntun masuk .
Semalam sebelum Fauzi menelfon, aku sempat chat dengan Farhan. Membahas tentang seperti apa Fauzi waktu ia menjadi siswa baru. Karena Fauzi menelfon, aku jadi tidak lagi merespon chat dari Farhan, sehingga chatnya beruntun masuk dan mengakhiri dengan mengucapkan selamat tidur untukku.
Akhir-akhir ini, aku lebih sering chat dengan Farhan dibandingkan Fauzi. Entahlah akhir-akhir ini Fauzi sangat sibuk yang menyebabkan kami jadi jarang berkomunikasi dan jarang bertemu. Sesekali kami hanya bertemu disekolah dan itupun tidak lama, mengingat Fauzi sedang sibuk mengatur team basket dan aku mulai sibuk latihan tari untuk melakukan pementasan tari diperlombaan tari daerah tingkat sekolah menengah di provinsiku. Chat juga sangat jarang, hanya saat mau tidur malam saja kami terkadang chat sekedar memberi kabar dan mengucapkan selamat tidur sebelum tidur. Malah sesekali tidak saling mengucapkan selamat tidur karena salah satu dari kami sudah tertidur lebih dulu sebelum chat bersama.
Dua hari setelah pulang dari pantai, Fauzi mendapat telfon dari teman Farhan dalam perkumpulan itu untuk menawarkan sesuatu yang berhubungan dengan Photografer. Kurasa pengambilan gambar milik Fauzi waktu itu benar bagus sehingga ia mulai diajak sesekali ikut mengambil gambar untuk vlog ataupun untuk mengabadikan momen penting seseorang dalam suatu acara.
.
"Sayang.. Kamu sudah bangun?"
Kudengar suara Ibu dari balik pintu kamar.
"sudah bu.." Jawabku
"Ibu masuk ya" kata Ibu sambil melangkah masuk menghampiriku.
"Sayang, kamu mau ikut ibu gak?"
"Kemana bu?"
"Ibu mau kerumah bibi Lily, bibi Lily sudah lahiran"
"Kok cepetan bu, perasaan baru kemarin bibi Lily hamilnya"
"ngomong apa sih kamu sayang, lahirannya ya gak mungkin cepetan, tapi karena memang sudah waktunya lahiran" jelas Ibu
"hehehehe iya, Salwa aja yang sibuk sampai gak sadar waktu"
"Jadi gimana sayang? Mau ikut?" kata Ibu sambil mengelus-elus rambutku.
"Gak ah, Salwa dirumah aja.. Ibu biasanya kalau kerumah bibi Lily suka lama"
"Yaudah, ibu berangkat ya.. Salwa bangun gih terus sarapan, Ibu udah siapin sarapan buat Salwa"
"Ibu berangkat sendiri?"
"Gak, ibu berangkat sama Ayah.. Ibu berangkat yah sayang" kata Ibu sambil mengecup keningku dan berjalan keluar.
Sampai didepan pintu, ibu berbalik
"Kalau mau keluar, jangan lupa tanya Ibu nak, rumah jangan lupa dikunci" pesan Ibu .
"Iya bu" Jawabku.. "Hati-hati dijalan Bu, salam sama bibi Lily dan dede Cherry.
Ibu hanya tersenyum kemudian berlalu.
Kuraih kembali telfon genggamku. Mondar mandir di sosial media, Log in Instagram, log out Instagram. Log in Facebook, log out Facebook. Itu saja yang kuperbuat.
__ADS_1
"ah bosannya.." Keluhku meletakkan telfon genggam.
"Ah, sebaiknya aku ajak Fauzi aja, lagian janji yang kemaren juga belum ditepatin"
Kuhubungi Fauzi, mencoba menagih janji yang sempat ia lupakan.
"Halo sayang" Jawab Fauzi dari seberang telfon.
"Tepatin janji yang kemarin" tagiku.
"Janji yang mana?" tanyanya yang sepertinya lupa lagi
"Maen ke Gallery sayang.." kataku mengingatkan.
"Yah sayang.. aku kira kamu udah gak mau ke gallery lagi, jadi aku iyain ngikut sama teman buat motret pagi ini sayang"
"Ah kamu.. Gimana ceritanya sampai gak jadi? Kamu tu ya.." aku mulai kesal.
"Aduh.. Maaf banget sayang"
"Udah empat hari ini kamu sibuk banget. Disekolah sibuk, diluar sekolah juga sibuk.."
"Maaf sayang, ini aku lagi belajar biar bisa dapat jajan sampingan juga"
"Alesan aja kamu.." kataku ketus
"sayang, bukannya ngedoain aku, kamu malah marah-marah"
"yah gimana gak marah-marah, dari kemarin kamu lupa-lupa terus. Mataku ini butuh asupan yang cantik-cantik Fauzi"
"Ya kan kemarin udah kepantai"
"ya bedah lah.. Aku kan maunya sama kamu, bukannya rame-rame kayak gitu"
Kata-kata Fauzi barusan benar-benar membuatku kesal.
"Oh, yaudah" Jawabku singkat
"Lah kok yaudah?"
"Yah terus mau gimana lagi?"
"Sayang, kemaren kan udah..."
"Iya udah, udah emang.. Yaudah gak usah, aku dirumah aja" kataku memotong pembicaraan Fauzi
"Sayang jangan gitu dong" bujuknya.
"Jangan apalagi? kan kamu bilang kamu bilang gak bisa, jadi yaudah gak usah.."
"Maksud aku tuh gak gitu sayang"
"Yah terserahlah maksud kamu apa, yaudah aku matiin telfonnya"
Kataku dan langsung memutuskan telfon.
Rasanya aku kesal sekali, mungkin karena faktor aku sendirian dirumah hari ini sehingga aku sangat ingin keluar. Juga mungkin karena sudah sangat lama aku tidak jalan berdua dengan Fauzi, mungkin kesalku ini bagian dari rasa rinduku yang tidak bisa tertebuskan.
Telfonku berdering.. Panggilan dari Fauzi, karena kesal, telfonnya kuabaikan saja.
Aku berjalan menuju kamar mandi, kudengar telfonku terus berdering. Hingga ada tujuh panggilan tak terjawab dari Fauzi setelah aku kembali kekamar.
Telfonku kembali berdering lagi.
"Kenapa?"Jawabku ketus.
"Kamu kenapa sih sayang? Sengaja mengabaikan telfonku?"
__ADS_1
"enggak" Jawabku singkat.
"Sayang.. kamu tau sendiri kan aku baru belajar motret, ini yang lagi butuh kan aku jadi gak enak kalau lagi diajak tapi aku nolak" Jelasnya.
"Yaudah, kan aku udah bilang jalannya sama aku gak usah, jadi ya terserah kamu hari ini mau ngapain" jawabku kesal.
"Sayang kamu kenapa?"
"Apanya yang kenapa sih?"
"Yah, aku tau aku salah.. aku lupa lagi, aku gak bisa lagi temenin keluar, maaf sayang"
"Emhh..." Jawabku singkat.
"Sayang jangan marah dong.." bujuknya
"enggak.."Jawabku ketus
"Enggak apanya, ini jelas banget kamu lagi marah"
"Aku bilang enggak ya enggak"
"Sayang maafin aku"
"Iya.."
"Yaudah, jangan marah lagi.."
"Aku gak marah" Jawabku dengan nada cuek.
"Beneran?"
"Iya.. Yaudah sana motret lagi, kapan-kapan aja kalo kamu punya sisa waktu baru buat aku..
"Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Ya terus, emang mau aku mau bilang apa lagi?"
"Kamu itu kenapa sih?" Nada bicara Fauzi mulai berubah, terdengar sedikit kesal.
"Apa kamu bilang? Aku kenapa?" Tanyaku dengan perasaan tambah kesal
"Aku jadi bingung, aku gak selalu nolak permintaan kamu, baru kali ini aku beneran gak bisa. Untuk sekali ini apa kamu gak bisa ngertiin aku?"
Aku sedikit terkejut mendengar nada Fauzi yang terdengar meninggi.
"Aku juga punya kegiatan lain Salwa, aku gak bisa selalu ikut apa yang kamu mau, lagian aku gak selalu sibuk kan?" Jelasnya lagi.
"Yasudah, terserah kamu saja" Jawabku
"Kamu itu, sedikit-sedikit ngomongnya yasudah, sedikit-sedikit ngomongnya terserah"
"Yah terus kamu maunya aku ngomongnya kayak gimana?"
"Kamu beneran gak bisa ngertiin aku? bahkan untuk kali pertama ini saja selama setahun kita sama aku gak bisa nurutin maunya kamu"
"Ya kan aku udah bilang terserah. Udah gak usah jalan, apalagi sih yang kamu permasalahkan"
Kami jadi ribut, nada bicara Fauzi makin tinggi, dan aku semakin kesal saja rasanya. Entahlah, apakah ini pertengkaran yang wajar diantara kami.
~
~
.
Dan lagi, saya ucapkan terimkasih banyak kepada Readers.. selamat membaca 😊
kritik dan sarannya sangat saya nantikan..
__ADS_1