
Meski tidak begitu yakin, namun Fauzi merasakan kejanggalan yang terjadi pada perilaku dan pola pikir istrinya. Fauzi yang awalnya berfikiran bahwa itu hanya bagian dari rasa lelah yang dimiliki istrinya, perlahan mulai berfikir serius tentang hal-hal yang menurutnya tidak rasional pada istrinya itu.
Fauzi mendekat dan memeluk Salwa, ia ingin menepis rasa khawatirnya dengan membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Ya, mungkin benar Salwa hanya kelelahan, toh dokter juga tidak bilang apa-apa, pikir Fauzi.
“Tapi kamu dapat obat dari dokter kan sayang??” Tanya Fauzi yang sudah menyandarkan kepalanya di bahu Salwa dengan tangan yang melingkar manja di pinggang ramping milik Salwa.
“Iya” Jawab Salwa tersenyum melihat kelakuan suaminya yang mulai bergelut manja.
“Ya, Salwa tidak mungkin diam begini saja jika obat yang diberikan dokter adalah obat-obat untuk penyakit tertentu” Pikir Fauzi.
Fauzi tidak tahu obat apa yang diberikan pada istrinya. Menurutnya, jika obat itu adalah obat untuk menangani penyakit tertentu, jelas Salwa tidak akan setenang sekarang. Sayangnya, Fauzi yang berpikir demikian karena tidak tahu menahu tentang obat yang diberikan pada istrinya, telah dilepas dari kemasannya dan diberikan dalam kemasan zak obat tanpa keterangan nama obat pada etiketnya. Hal yang demikian harusnya menjadi sebuah keanehan bagi Salwa mengingat ia paham betul bagaimana pemberian etiket yang benar pada obat, tapi lagi itu dianggapnya sebagai hal yang wajar.
Wangi aroma Salwa yang bercampur dengan aroma bayi dari minyak telon milik Mikayla begitu menenangkan bagi Fauzi. Rasanya begitu nyaman bersandar di pundak istrinya sambil mengamati jari-jari lentik milik istrinya yang sibuk menekan keyboard hingga menghasilkan susunan kata pada layar netbook .
Gerak jari Salwa yang sebelumnya sangat lincah bermain diatas keyboard netbook perlahan melambat, kata yang belum selesai ia ketik dihapusnya lalu kembali mengetik kata yang sama namun lagi dihapus sebelum kata itu selesai. Berulang-ulang Salwa melakukan itu, membuat Fauzi yang memperhatikannya menjadi kebingungan.
“Kenapa sayang?” Tanya Fauzi.
Tidak ada jawaban dari Salwa. Fauzi mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar manja di pundak milik Salwa, menatap istrinya yang mulai memasang ekspresi kebingungan.
“Kamu kenapa?” Tanya Fauzi mengulangi pertanyaannya, yang sebelumnya tidak mendapat jawaban.
Salwa menoleh, menatap Fauzi dengan tatapannya yang kebingungan.
“Aku mau pesan obat kan?” Tanya Salwa.
“I iya.. Tadi kamu bilang gitu, mau pesan obat dan mau ngeretur. Kenapa?”
Salwa mengalihkan pandangannya dari Fauzi, dan kembali menatap layar netbooknya.
“Aku pesannya gimana ya??”
“Gimana apanya?”
“A aku.. Aku gak tahu cara pesannya kayak gimana?”
Salwa mulai kebingungan, seolah apa yang ingin dia lakukan sebelumnya terlupakan begitu saja. Seperti ada sesuatu yang baru saja merestart isi kepalanya hingga membuatnya kebingungan sekarang.
“Gak tahu gimana? Kamu kan udah sering melakukan pemesanan obat sayang..” Tanya Fauzi kebingungan.
“Ahhh....” Salwa tersenyum. Ingatannya yang entah jalan-jalan kemana tadi itu, sepertinya sudah kembali.
__ADS_1
“Sudah tahu??”
Salwa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Fauzi.
Fauzi menatap Salwa. Baru saja tadi ia menepis kekhawatirannya dan mencoba berpositif thinking pada keadaan istrinya, namun tidak membutuhkan waktu yang lama, ke khawatirannya itu kembali muncul. Istrinya itu benar-benar terlihat tidak seperti biasanya.
Pandangan Fauzi yang tidak lepas dari wajah istrinya, kembali mendapati ekspresi Salwa yang mulai kebingungan lagi.
“Kenapa lagi?” Tanya Fauzi.
“Aku bingung” Jawab Salwa dengan ekspresinya yang kecewa. “Aku tahu, aku harus memesan obat prekursor dengan SP yang terpisah dengan obat lainnya, tapi aku gak ingat gimana bentuk surat pemesanan obat prekursor”
“Gak ingat?” Tanya Fauzi memperjelas.
Pikiran Fauzi kembali bekerja keras berusaha memahami hal aneh yang terjadi pada istrinya sekarang. Bagaimana bisa istrinya itu lupa akan sesuatu yang sudah dia kerjakan bertahun-tahun.
“Ahh.. Sepertinya aku beneran udah pikun deh sayang..” Keluh Salwa menatap Fauzi dengan memperlihatkan ekspresinya yang kesal pada dirinya yang melupakan hal-hal yang sering dia lakukan sebelumnya.
Fauzi meraih istrinya, memeluknya dengan lembut.
“Kamu bukannya pikun, kamu cuman kecapean aja..” Kata Fauzi mencoba menenangkan istrinya yang sedih, kecewa dan kesal pada dirinya sendiri.
Fauzi sadar, itu bukan sekedar kelelahan. Beberapa kali ia mendapati Salwa dalam keadaan kebingungan dan tidak tahu akan apa yang ingin dia kerjakan. Hanya demi menepis rasa sedih istrinya, Fauzi mencoba menenangkan dengan kata-kata yang dia sendiri pun sadar, kalau bukan lagi rasa lelah yang membuat istrinya seperti sekarang ini.
“Hem??”
“Kayaknya bener deh yang aku bilang kemarin..”
“Tentang apa??”
“Tentang aku yang bisa aja lupa sama kamu gara-gara pikun di usia dini..”
“Ck, kamu ini ngomong apa sih? Kamu itu cuman kecapean aja sayang, makanya konsentrasimu terganggu. Bukannya karena sudah pikun”
Fauzi sendiripun ingin sekali menyangkal kebenaran tentang keanehan yang terjadi pada istrinya akhir-akhir ini. Hingga ia melihat keadaan Salwa yang semakin sulit berkonsentrasi, Fauzi masih ingin percaya, bahwa istrinya hanya sekedar kelelahan saja hingga kehilangan konsentrasinya. Bukan karena hal-hal yang bisa membuat istrinya melupakannya.
“Kecapean apaan? Aku kan gak ngapa-ngapain akhir-akhir ini. Apotek udah 3 hari ditutup, bahkan masak pun kamu yang masak. Apa jangan jangan ak...”
“Jangan jangan apa??” Potong Fauzi. “Kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh sayang..” Fauzi mempererat pelukannya.
“Tapi...”
__ADS_1
“Ck.. Udah, jangan ngomong lagi..”
“Kamu kok ngelarang aku ngomong??” Tanya Salwa mengangkat sedikit kepalanya sembari memasang wajah cemberut.
“Karena kamu ngomongnya ngelantur. Diam dulu, aku mau meluk kamu aja..”
Fauzi memperlihatkan senyumnya meski di kepalanya mulai timbul pertanyaan-pertanyaan tak jelas dan hatinya yang mulai resah.
Salwa tersenyum dan mengeratkan tarikan tangannya yang melingkar dipinggang Fauzi.
Semakin Fauzi menyadari keanehan-keanehan yang terjadi pada Salwa akhir-akhir ini, semakin pelik pikirannya dengan rasa sakit yang mulai merasuki perasaannya. Airmatanya perlahan menggenang di pelupuk matanya, berusaha ia bendung agar tidak menetes. Ia tidak ingin memperlihatkan airmata hasil dari perasaan kalut yang mulai menghampirinya pada istrinya.
“Sayang” Salwa melepas pelukannya ketika sesuatu menghampiri pikirannya dan ingin segera ia sampaikan pada suaminya.
Salwa yang seketika melepas pelukannya itu, membuat Fauzi tidak sempat menyeka airmata yang menggenang dipelupuk matanya sehingga Salwa mendapati suaminya yang spontan menyeka airmatanya.
“Kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya Salwa terkejut.
“Nangis? Aku??”
“Ini..” Salwa menyeka sisa airmata yang belum kering bersih dari sekaan Fauzi.
“Ah.. Aku ngantuk sayang, tadi aku menguap makanya airmataku keluar. Hem kenapa tadi??”
Ekspresi khawatir Salwa berubah menjadi lebih baik setelah jawaban tak jujur Fauzi berhasil mengelabuhinya.
“Sayang.. Kita udah lama gak jalan-jalan kedekat bandara.. Padahal dulu kan kita sering main kesana..”
“Ah iya ya. Kamu mau kesana?”
Salwa mengangguk dengan senyum antusias menghias di bibirnya.
“Yaudah, nanti kalau aku libur kita jalan kesana ya. Sekarang ayo tidur dulu, kerjanya besok aja di lanjut”
“Tapi aku gak ngantuk..”
“Ngantuk atau gak, kamu harus tidur sayang. Ayo..”
Fauzi menarik lembut Salwa, hingga akhirnya istrinya itu menurut.
Malam semakin larut, namun pikiran yang bergejolak membuat Fauzi belum bisa terlelap. Meski begitu, Fauzi terus-terusan memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur agar istrinya yang tengah insomnia saat ini bisa terlelap juga.
__ADS_1
Salwa yang akhir-akhir ini mengalami insomnia akhirnya tertidur di malam yang mulai menjelang pagi. Sedang Fauzi, baru saja bisa lepas dari pura-pura tidurnya.
Dipandanginya wajah Salwa, ditatap lekat wajah istrinya itu. Perlahan airmatanya menetes, seperti ada kalut dibalik wajah damai milik istrinya yang mungkin sedang memasuki alam mimpi saat ini.