Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Maaf...


__ADS_3

Farhan terbawa emosinya, matanya mulai berkaca-kaca dan memerah.


"Aku tidak mau mengakhiri ini.." Katanya.


"Tapi kak, hubungan kita ini salah.."


"Apanya yang salah Salwa? hanya karena kamu tidak mencintaiku lalu itu berarti hubungan ini salah?"


"Kak, aku sudah punya Pacar.."


"Dan aku juga pacarmu.."


"Kak, Fauzi akan terluka kalau dia tau.."


"Hanya Fauzi? Hanya perasaan Fauzi yang kamu pikirkan? Lalu bagaimana dengan perasaanku Salwa? Apa kamu pikir aku baik-baik saja? Apa segitu tidak pentingnya perasaanku bagimu?" Airmatanya perlahan menetes, ia mengalihkan pandangannya dariku dan menyeka airmatanya. "Aku juga sangat mencintaimu Salwa.." Katanya menunduk dan terus menyeka airmatanya yang kembali menetes.


"Maafkan aku kak..."


Farhan meraih tanganku.


"Salwa, apa kamu tidak bisa mempertimbangkan perasaanku? Tolong jangan mengambil kembali kesempatan yang sudah kamu kasi ke aku.. Tolong jangan sekejam ini terhadapku Salwa..." Katanya terus menggenggam tanganku dengan erat.


"Tapi kak, Kalau Fauzi tahu..."


"Tidak, akan kupastikan Fauzi tidak akan tau, aku akan menjaga jarak denganmu ketika ada Fauzi. Aku tidak bisa melepasmu Salwa..."


"Bagaimana jika.."


"Sudah aku katakan, aku akan membuat Fauzi tidak mengetahui ini, sampai pada saat kita dewasa nanti, sampai pada saat kamu sudah bisa menentukan pilihan hatimu dengan jelas"


Aku terdiam saja. Aku tidak tau harus berkata apa lagi, aku seperti kehabisan cara untuk mengakhiri hubungan ini. Semakin aku menolak, semakin juga aku menyakiti perasaan Farhan.


Farhan meraih dan memelukku.


"Jangan bahas ini lagi Salwa, jangan mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti ini lagi.. tolongg..."


Aku tidak tau harus berkata apa, aku membiarkan Farhan menenangkan perasaannya.


Perasaan Farhan mulai tenang, matanya yang sedari tadi memerah mulai membaik, ekspresinya yang tadi dipenuhi emosional juga mulai hilang.


"Maafkan aku Salwa.." Katanya menunduk. "Aku tau, aku memberimu waktu-waktu yang sulit"


Aku terdiam saja.


"Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu, aku sudah tidak bisa mengikhlaskanmu lagi dengan Fauzi saat melihatmu sakit karena Fauzi kemarin. Aku benar-benar gilaa.. Aku tau betul aku salah karena memintamu untuk tetap denganku padahal aku tau kamu siapa. Tapi aku sepenuhnya tidak merasa bersalah juga.."


"Kenapa?" Tanyaku.


"Fauzi yang menyia-nyiakan perasaanmu, dan aku tidak tahan melihatnya. Aku tidak bisa melihat perempuan yang aku suka harus menangis seperti itu.."


Aku terdiam sejenak.


"Tapi kak, aku tidak akan bisa memperlakukan kakak seperti aku memperlakukan Fauzi.."


"Apa aku meminta? Aku tidak peduli seperti apa kamu memperlakukan Fauzi, aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu.."


"Kalau pada akhirnya nanti aku tetap bersama Fauzi"


"Tidak mengapa, aku hanya ingin membuktikan padamu sebagaimana besar perasaanku, jika pada akhirnya perasaanku tidak sampai pada hatimu itu tidak masalah, setidaknya kamu udah ngasih aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku..."


"Tapi aku.."


"Sudahlah Salwa, aku tidak ingin membahasnya lagi. Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja asal kita tetap bersama aku tidak peduli dengan apapun yang kamu lakukan. Kalau pada akhirnya nanti ada waktu dimana aku terluka ngelihat kamu sama Fauzi itu adalah tanggung jawabku pada perasaanku, jangan hiraukan aku tetap saja seperti biasanya kamu sama Fauzi"


Aku hanya terdiam, aku juga tidak tau apa yang harus katakan.


Farhan menghela nafas panjang. Setelah kami sama-sama tediam beberapa saat


"Makasih Salwa, setidaknya perasaanku yang memburuk hari ini sedikit membaik.." Katanya tersenyum kepadaku.


"Membaik?" Tanyaku bingung


"Sebenarnya waktu kamu nelfon tadi orangtuaku membicarakan hal penting yang tidak aku senangi.."


"Apa?"


Farhan terdiam sejenak menatapku lalu tersenyum


"Bukan hal yang bisa kakak ceritain ke aku.."

__ADS_1


Farhan mengalihkan pandangannya dariku lalu mengangguk.


"Maaf.." Katanya.


"Maaf untuk apa? Kalau itu betul privasi kakak memang seharusnya gak ceritain ke aku.."


"Kamu gak kesal?"


"Kesal kenapa?"


"Ya karena aku nyembunyiin sesuatu dari kamu, aku gak terbuka ke kamu.."


"Bukan kakak nyembunyiin sesuatu ke aku, tapi itu karena berhubungan sama privasi kakak, Fauzi bilang sama aku kalau gak semua hal tentangku harus aku ceritain ke dia karena aku punya privasiku sendiri. Fauzi selalu bilang..." Aku berhenti "Ah, maaf kak.." Kataku seketika sadar aku sedang membahas Fauzi.


"Kenapa?" Tanyanya


"Aku.."


"Tidak apa Salwa, kan aku sudah bilang aku tidak akan mempermasalahkan apapun tentangmu termasuk kamu yang terbiasa ngebahas Fauzi ke aku.."


"Ah iya.. aku terbiasa kak.."


"Tidak apa" Jawabnya tersenyum.


.


.


.


Kemarin ataupun hari ini sama saja, statusku dengan Farhan bukannya merubah malah sepertinya semakin mengiyakan permintaan Farhan saja.


"Ah terserah.. Ya, asal Fauzi tidak tau saja kan, semua akan baik-baik saja..." Kataku mencoba membenarkan apa yang terjadi saat ini.


Aku selalu berusaha membuat pikiranku bahwa ini baik-baik saja, tapi tetap saja aku terus-terusan gelisah.


Telfonku berdering.


"Halo.."


"Ngapain?"


"Lah, bukannya sore tadi harusnya udah nyampe?"


"Iya, harusnya gitu tapi Ayah bilang pulangnya selepas Maghrib saja, soalnya kalau sore pulangnya bersaan sama orang pulang kantor jalannya macet."


"Ah iya juga.."


"Kamu?"


"Aku? Kenapa?"


"Sekarang ngapain?"


"Bulumata kamu ada yang jatuh gak?"


"Apaan sih gak nyambung banget.. Ditanyain bukannya dijawab malah nanya balik.."


"Udah jawab aja, bulumata kamu ada yang jatuh gak.."


"Gak ada, emang kenapa?"


"Wah berarti bulumata kamu kuat, padahal aku rindunya udah setengah hidup.."


"Ya terus hubungannya apa Jamaluddin??? Ya Allah gak jelas banget deh jadi orang.."


"Kamu gak pernah dengar kalau bulumata itu jatuh karena rindu.."


"Kamu percaya kayak gituan?"


"Ya bukannya percaya, niatnya ngegombalin kamu tapi kamunya malah gak ngeh.."


"Ya kamunya emang gak jelas, gimana aku mau ngerti coba.."


"Tapi serius aku kangen kamu..."


"Hem.."


"Pengen ngeliat kamu.."

__ADS_1


"Yaudah kesini.."


"Oke Otewee..."


"Eh eh.. ini kan udah malam.."


"Ya terus kenapa? Baru juga jam 8, biasanya juga aku main kerumah kamu jam segini, kok sekarang gak bisa?"


"Ayahku nanti baru nyampe, bukannya istirahat malah ngeladeni kamu lagi.."


"Iya yah.. kasian Papa mertua.. Yaudah besok aku jemput kamu, kita kesekolah bareng..."


"Ketemu disekolah kan bisa.."


"Kamu tau kan, semakin lama rindu itu menunggu, semakin juga dia nyiksa pemiliknya.. aku kepengen lebih cepat ketemu kamu, gak tahan pengen ngeliat kamu.."


"Kamu kenapa? Tumben banget kayak gini.."


"Gak tau, pokoknya aku kangen kamu, mau secepatnya ngeliat kamu. Pokoknya besok aku jemput.."


"Kalau aku gak mau?"


"Ya udah, aku nungguin kamu disekolah aja kalau gitu.."


"Lah gitu aja?"


"Apanya?"


"Gak.." Jawabku singkat.


"Lah apa? Kok jadi marah?"


"Ya habis kamu.."


"Apa? Aku kenapa?"


"Gak.." Jawabku cuek.


"Ohaha, aku ngerti sekarang.. jadi minta dipaksa dijemput nih ceritanya?"


"Ish.. siapa yang mau dipaksa sih.."


"Haha jadi gak nih?"


"Jadi kamu gak mau maksa aku?"


"Haha.. Aduh, pacarnya siapa sih ini? Kok lucu sekali, menggemaskan sekali.. Yaudah besok aku jemput ya.."


"Gak usah.."


"Gak, pokoknya aku maksa, besok aku jemput kamu.. oke??"


"Gak.."


"Pokoknya aku jemput.. aku maksa loh.. yah? yah?? Oke?"


"Hem.. yaudah.."


"Tungguin aku besok.."


"Iya iya.. yaudah dulu, kayaknya Ayah udah sampai.."


"Hem.. Nanti tidurnya jangan kemaleman, titip salam sama Ayah.."


"Oke.. Aku matiin.."


"Eh tunggu..."


"Apalagi sih??"


"Aku sayang kamu Salwa, sayang sekali.."


"Hem.. Iya iya Ozi.. udah ya.."


"Oke.. Bye Sayang.."


"Hem.."


Telfonku terputus.

__ADS_1


__ADS_2