Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Baikan


__ADS_3

Entah jam berapa semalam Sasa kembali ke rumahnya diantar oleh Faiq. perasaannya menjadi lebih baik setelah melampiaskan semua perasaannya, dan berbagi cerita pada Azka.


Namun dibalik kelegaan yang dia rasakan, perasaan lain sempat singgah di hatinya yang membuatnya jadi gugup dan sempat salah tingkah.


Sasa tidak sadar saat Azka menariknya kedalam pelukan Azka, bahkan ketika ia menangis meraung-meraung dalam pelukan Azka dengan Azka yang berusaha menenangkannya, Sasa sama sekali tidak menyadari itu. Tangan hangat milik Azka yang memeluknya dalam, detak jantung Azka yang didengarnya perlahan, membuatnya tenang dan lupa tentang bagaimana posisinya saat itu. Sejenak, dia benar-benar larut dalam perasaannya dengan ketenangan yang Azka berikan.


Hingga saat Sasa sadar, barulah dia beranjak dari pelukan Azka dan membuang muka demi mengalihkan perhatian Azka dari wajah miliknya dengan ekspresi gugup yang tidak bisa dia sembunyikan.


Namun Azka yang bisa mengembalikan suasana seperti semula, membuat kegugupan Sasa tidak bertahan lama. Mereka kembali kerumah dengan obrolan ringan yang mengiringi mereka di perjalanan. Meski begitu, tetap saja Sasa merasa malu tiap kali dia mengingat kejadian dimana dia berdiam cukup lama di pelukan Azka, wajahnya tetap saja merona jika mengingat hal itu.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul delapan kurang sembilan menit. Sasa masih saja terperangkap dalam gravitasi kasur, perasaan sakit yang dia dapatkan kemarin masih saja senang menyelimutinya meski semalam ia sudah berhasil mengobatinya separuh. Karena perasaan yang tidak karu-karuan saat ini, membuat Sasa masih betah rebahan diatas tempat tidurnya lebih lama.


Sasa meraih ponselnya, beberapa panggilan masuk tak terjawab dari Faiq, dan pesan singkat yang menanyakan apakah dia sudah pulang ataukah masih di rumah sakit. Ya, semalam ia berbohong pada Faiq, demi menghindari pertemuan agar perasaannya tidak meledak.


Selain pesan dari Faiq, beberapa pesan juga masuk dari Azka yang menanyakan kondisi dan perasaannya. Pesan yang masuk dari Azka itu, kembali membuat Sasa mengingat apa yang telah terjadi semalam saat ia membenamkan diri dalam pelukan Azka.


Aisshh....


Sasa meraih bantal, dan menutup wajahnya dengan erat, sekiranya bantal itu bisa menutupi dan menormalkan kembali warna wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus akibat mengingat kejadian bersama Azka semalam.


Ttok ttok..


Ketukan pintu membuat Sasa beralih perhatiannya. Dia yang sebelumnya masih terus terbayang-bayang pada Azka, buyar seketika ketika mendengar daun pintunya di ketuk oleh seseorang.


Sasa beranjak dan mempercepat langkahnya ketika daun pintunya kembali diketuk. Sepertinya orang diluar yang mengetuk pintunya, tidak memiliki kesabaran yang baik.


Wajah Faiq dengan senyuman manisnya menyambut Sasa, saat Sasa membuka pintu. Sebuah kantong plastik bertengger ditangannya yang berisikan beberapa jenis makanan.


Sasa hanya tersenyum simpul, membalas senyuman yang Faiq berikan padanya pagi ini. Rasa sakit yang belum sepenuhya sembuh itu, kembali menghujaninya ketika bola mata hitamnya menangkap sosok Faiq pagi ini.


“Untung aja aku gak ke Rumah sakit” Kata Faiq melangkah masuk setelah Sasa mempersilahkan. “Aku hampir kesana tadi, aku kira kamu masih di Rumah sakit. Tapi setelah aku pikir-pikir, baiknya aku cek kamu di rumah dulu, dan ternyata kamu beneran udah pulang” Jelas Faiq panjang lebar, dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


Sasa hanya terdiam, ingatannya kembali menyentuh tentang apa yang Karin katakan padanya siang kemarin.


“Kamu kenapa?” Tanya Faiq, melihat Sasa yang tampak berbeda hari ini. Sasa yang biasanya merespon dengan antusias, hari ini lebih diam dari biasanya.


Sasa hanya menggeleng, memperlihatkan sedikit senyumnya.


“Aku pindahin ini dulu..” Kata Sasa, meraih makanan yang Faiq bawa dan membawanya ke dapur.


Faiq merasa bingung, ini benar-benar tidak seperti Sasa yang dia kenal biasanya.


Airmata Sasa menetes, rasanya terlalu sakit mengetahui fakta, bahwa laki-laki yang sedang menunggunya diluar itu, dulunya adalah suami orang lain.


Sasa menyeka airmatanya, sebelum akhirnya kembali duduk bersama Faiq diluar.


“Kamu kesini pagi-pagi, apa kamu gak kerja hari ini?”


“Kerja, tapi gak terlalu sibuk kok jadi aku bisa ketemu sama kamu dulu. Aku kangen sama kamu” Kata Faiq tersenyum.


Sasa hanya balas tersenyum kecil, meski wajahnya tetap memperlihatkan bagaimana lusuhnya dia saat ini.


“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya Sasa membuka obrolan.


“Ya seperti biasa, ngerjain proyek, nyelesain proyek, dan mulai proyek baru”


“Proyek yang sebelumnya di mulai sama Fauzi gimana?”


Dahi Faiq berkerut, sebelumnya Sasa tidak pernah bertanya lebih rinci seperti itu masalah pekerjaannya.


“Baik-baik aja, sekarang sementara di jalankan”


“Oh gitu..” Jawab Sasa memperlihatkan senyum kecilnya.


Faiq masih bingung melihat Sasa yang tidak terlihat seperti biasanya, tapi dia juga enggan bertanya, takut itu akan semakin merusak mood Sasa.


“Faiq..”

__ADS_1


“Hem??”


“Selama kita gak sama, kamu ngapain aja?”


“Maksud kamu?” Tanya Faiq yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Sasa, Faiq juga bingung dengan Sasa yang tiba-tiba bertanya dengan nada yang serius.


“Beberapa tahun terakhir saat kita pisah, kamu ngapain saja?”


“Aku? Bukannya aku udah pernah cerita sama kamu?”


“Hanya itu?”


“Iya. Aku kuliah, kerja, terus lanjut belajar lagi dan sampai sekarang kembali kerja seperti yang kamu lihat”


Sasa tertunduk, senyum yang tidak bisa diartikan berhias di bibirnya.


Kamu bohong, kamu gak berniat buat jujur dan cerita semuanya, Faiq.


“Kenapa tiba-tiba tanyain ini?”


Sasa kembali mengangkat wajahnya, memandangi Faiq yang sudah memasang ekspresi bingungnya.


“Kamu gak niat mau jujur sama aku?”


“Jujur? Jujur tentang apa?”


“Ya, apapun itu yang kamu sembunyikan”


Faiq terdiam sejenak. Meski ia sempat berpikiran perihal Sasa yang mungkin tahu tentangnya yang pernah menikah, namun dia pungkas pikiran itu mengingat hal itu tidak mungkin Sasa tahu. Pikir Faiq, darimana juga Sasa bisa mengetahui hal itu, sedang Fauzi saja tidak tahu. Ya, Sasa gak mungkin tahu masalah itu.


“Aku gak nyembunyiin apa-apa”


Sasa terdiam sejenak. Apa Faiq benar-benar tidak mau bercerita tentang pernikahannya.


“Sayang, kamu kenapa tiba-tiba tanya itu??”


“Gak apa-apa, aku hanya kepikiran saja. Aku kira, karena kita sudah sama lagi sekarang kamu akan cerita semuanya sama aku, ternyata gak..”


Faiq menatap Sasa dengan semakin bingung.


Degg....


Faiq tersentak, bagaimana bisa Sasa tahu tentang ini? Dan dari mana dia tahu?.


Faiq terdiam sejenak dan bingung harus mengatakan apa.


“Apa itu sesuatu yang gak boleh aku tahu?” Tanya Sasa lagi.


“Bu-bukan begitu sayang.. A-aku bukannya gak mau ngasih tahu kamu tentang itu.. Ak..”


“Kamu sengaja nyembunyiin ini dari aku??” Tanya Sasa dengan airmatanya yang perlahan mulai menetes.


“Sa.. Bukan begitu..”


“Kamu bilang, kamu gak pernah ngeganti aku dalam hati kamu, hanya aku dan aku terus yang kamu pikirkan, tapi ini apa Faiq????” Pertanyaan beruntun Sasa luncurkan dengan emosi yang meledak-ledak.


“Aku memang pernah menikah, tapi tentang perasaanku, aku serius kalau aku gak pernah ngegantiin kamu di hati aku. Aku hanya mencintaimu kamu sampai hari ini”


“Bohonggg...”


“Saa...”


“Kamu udah bohongin aku, kalau aku gak tahu ini dari orang lain, apa kamu ada niat mau cerita ini sama aku?? Gak kan???”


“Sa, ini adalah masalaluku dan aku pikir..”


“Kamu pikir aku tidak perlu tahu???”


Faiq terdiam saat apa yang akan dia katakan, sudah dikatakan lebih dulu oleh Sasa.


“Ini adalah hal besar, dan kamu gak bilang hal ini sama aku?? Kamu jahat”


“Sa, bukannya aku sengaja gak mau bilang hal ini. Aku pikir ini bukan hal yang harus aku bilang sama kamu, karena itu hanya pernikahan tanpa ada rasa”

__ADS_1


“Bagaimana bisa kamu menikahi seseorang kalau kamu gak ada perasaan sama dia??”


“Sa, aku berani bersumpah kalau aku gak pernah cinta sama orang lain selain kamu. Aku menikah saat itu, hanya karena Ayahku mau seperti itu. Aku sama sekali gak pernah menyentuh perempuan itu, aku gak pernah ngebiarin dia buat nyentuh dan mengurusku, karena aku hanya mau kamu yang punya hak atas aku”


Sasa hanya memandangi Faiq dengan airmatanya yang semakin deras.


Faiq beranjak dari duduknya, mendekat pada Sasa dan menggenggam pelan tangan wanita yang sudah di banjiri airmata itu.


“Sa, maafkan aku karena gak bilang ini sama kamu. Aku hanya gak mau kamu jadi pergi dan gak mau sama aku, kalau kamu tahu aku sudah menikah. Aku menikah hanya karena Ayahku mau seperti itu, selama kami menikah juga aku sama sekali gak pernah menyentuhnya. Aku cuman cinta sama kamu Sa”


Tatapan tulus dari mata Faiq, perlahan membuat derasnya airmata Sasa, sedikit menyurut.


“Pernikahan kami hanya lima bulan, dan dia minta cerai saat aku bilang kalau aku mencintai perempuan lain, dan itu kamu”


“Tapi tetap saja, kamu bohong sama aku..”


“Maafkan aku sayang.. Maafkan aku karena sudah bohong. Aku cuman takut, kamu jadi menghindar dan gak mau sama aku kalau tahu aku sudah menikah, sedang aku masih sangat cinta sama kamu. Pernikahan itu gak ada artinya bagi aku, dan aku mengakhiri semuanya untuk kamu”


Faiq menatap dalam mata Sasa, memperlihatkan bagaimana dia tulus mencintai wanita yang ada di depannya itu dan memperlihatkan bagaimana dia yang menyesal karena tidak berkata jujur.


“Sa, aku cuman cinta sama kamu, tolong percaya sama aku. Aku sama perempuan itu sama sekali gak ada perasaan, kami hanya sebatas menikah saja. Aku mencintaimu Sa, cuman kamu, hanya kamu dan kamu terus..”


Sasa tidak memberi respon, hanya matanya yang tidak teralihkan dari Faiq, meski basah akibat airmata yang tidak berhenti mengalir.


“Kalau kamu gak percaya, aku bisa ngajak perempuan itu buat ketemu dan menceritakan semuanya”


“U-untuk apa??” Tanya Sasa dengan tersikuk-sikuk.


“Biar kamu percaya, kalau aku sama dia sama sekali gak ada perasaan, biar kamu tahu penyebab kami bercerai itu karena aku yang mencintai kamu..”


“Kamu ninggalin dia karena kamu cinta sama aku. Jadi nanti, saat kamu cinta sama orang lain, kamu bakal ninggalin aku juga seperti dia”


“Gak mungkin sayang. Bertahun-tahun aku hanya cinta sama kamu, jadi bagaimana bisa aku bisa cinta sama orang lain kalau aku hanya cinta sama kamu. Apalagi saat ini, kamu sudah ada sama aku sekarang..”


Faiq menyeka airmata Sasa, membelai lembut pipi yang sudah basah oleh airmata itu.


“Maafin aku, tolong maafin aku.. Aku gak bisa kalau gak ada kamu, aku bisa mati kalau kamu ninggalin aku Sa, aku cinta sama kamu..”


Sasa hanya terdiam, namun tidak menolak tangan Faiq yang mengusap airmatanya.


“Kamu mau kan maafin aku? Aku beneran cinta sama kamu Sa, kamu satu-satunya dan gak akan ada yang lain”


“Kamu, gak ada lagi kan yang kamu sembuyiin dari aku?” Tanya Sasa dengan suaranya yang serak.


“Gak ada sayang, gak ada lagi.. Aku udah cerita semuanya sama kamu. Kalau kamu gak percaya, aku bisa ngebawa kamu ke Jerman dan tanyain langsung temen-temenku disana, bagaimana aku waktu kuliah dulu. Aku juga bisa ngebawa kamu ke kantor Ayahku dan tanya semua orang disana, bagaimana aku yang selalu bersikap dingin sama perempuan karena aku yang cuman cinta sama kamu. Atau kalau perlu, aku bisa bisa ngebawa mantan istriku buat ketemu sama kamu, dan minta dia buat ceritain semua yang terjadi”


Sasa menggeleng, dan menyeka sisa airmatanya.


“Kenapa? Biar kamu percaya..”


Sasa kembali menggeleng.


“Sayang, aku bakal ngelakuin apapun biar kamu bisa percaya sama aku, jadi tolong percaya sama aku..”


Perlahan Sasa mengangguk.


“Aku percaya sama kamu, tapi jangan ada lagi yang kamu sembunyiin mulai sekarang dari aku..”


Mendengar perkataan Sasa, Faiq berhambur memeluk Sasa.


“Makasih sayang.. Makasih.. Makasih karena udah percaya sama aku. Aku janji, aku gak akan nyembunyiin apapun lagi sama kamu, aku akan ceritain semua sama kamu tentang apapun itu yang menyangkut tentang aku. Aku gak akan mengulangi ini lagi.. Aku sayang sama kamu Sa, aku cinta sama kamu”


“Aku juga sayang sama kamu”


Faiq melepas pelukannya, dan menyeka seluruh airmata Sasa.


“Aku gak akan ngebuat kamu nangis lagi kayak sekarang, aku janji..”


Sasa tersenyum, meski airmata masih belum kering semuanya.


Meski rasa sakit sempat menderunya hingga membuatnya merasa sesak, namun Sasa akhirnya memilih untuk melupakan itu, dan memaafkan Faiq. Bagaimana Faiq menatapnya dengan tulus, dan siap membawa mantan istrinya hanya untuk menjelaskan padanya, membuat Sasa merasa cukup untuk Faiq membuktikan kesungguhannya.


Sasa sendiri dengan perasaan cintanya pada Faiq, tidak akan bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik jika melepaskan Faiq saat ini. Dia sendiripun akan terluka jika memilih untuk berpisah. Toh Faiq sudah meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulang hal seperti ini lagi. Sasa percaya, bahwa benar yang terjadi pada pernikahan Faiq itu hanya sebuah kesalahan. Jika Faiq berbohong masalah itu, dia tidak mungkin berani menawarkan untuk mendatangkan mantan istrinya ke depan Sasa.

__ADS_1


Sasa hanya berharap, kedepannya mereka saling terbuka dan tidak lagi ada hal-hal yang seperti ini terjadi.


__ADS_2