
Matahari mulai menyeruak, meski dengan sinar tanpa hawa panas, namun cahaya mulai terlihat terang. Fauzi beranjak dari tempat tidur dan melakukan kebiasaan seperti hari-hari sebelumnya. Sedikit membantu pekerjaan istrinya dengan merapikan tempat tidur.
Fauzi menoleh, kemeja yang akan dia gunakan hari ini sepertinya belum disiapkan oleh istrinya. Padahal setiap harinya, kemeja itu sudah siap tergantung dengan rapi sebelum ia terbangun.
"Apa Salwa lupa lagi?" Gumam Fauzi.
Hal lain yang tidak ia temui pagi ini seperti biasanya adalah, aroma masakan yang menyentuh indra penciumannya dan suara ribut di dapur dari benda-benda yang digunakan istrinya saat memasak. Dua hal itupun tidak Fauzi dapatkan pagi ini.
Fauzi berjalan keluar kamar. Mungkin saja pagi ini putri mereka satu-satunya sedang rewel sehingga membuat istrinya bergegas ke kamar putri mereka dan lupa menyiapkan bajunya, juga membuat istrinya tidak sempat berkutit di dapur pagi ini, pikirnya. Namun hal yang dipikirnya sepertinya berbeda dengan kenyataan yang ada. Mikayla putri kecil mereka masih terlelap di kamarnya pagi ini, masih larut dalam mimpinya yang membuat tidurnya begitu nyenyak.
Kening mulus miliki Fauzi berkerut memberi tanda akan dirinya yang kebingungan. "Lalu dimana Salwa?"
Fauzi menuju dapur, meski tak ada suara ribut dari sana dan tidak ada aroma harum masakan, namun bisa saja istrinya disana menyiapkan makan dengan kalem sehingga tidak perlu menghasilkan suara-suara ribut dari alat dapur yang dia gunakan.
"Sayang, kamu ngapain disitu?" Tanya Fauzi sembari menghampiri istrinya yang tengah duduk dilantai melamun sambil memeluk kedua lutunya.
Lamunan Salwa buyar, perlahan ia angkat kepalanya melihat suaminya yang berjalan menghampirinya.
"Kamu ngapain duduk dilantai sayang? Kan dingin.."
Salwa hanya menatap Fauzi dengan pandangannya yang kosong.
"Kamu kenapa?"
"Ah aku.." Salwa terlihat bingung, dia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. "Aku gak tahu.."
"Kamu gak tahu? Apanya yang gak tahu? Kamu gak tahu mau masak apa pagi ini??"
Fauzi menghujani istrinya dengan pertanyaan, melihat istrinya yang kebingungan.
"Masak? Ah iya, aku harus masak" Kata Salwa tersenyum. Seolah Fauzi memberinya jawaban akan kebingungannya tentang apa yang harus dia lakukan sekarang.
Salwa beranjak dari duduknya, namun Fauzi dengan cepat menahannya sebelum Salwa memulai aktifitas memasak yang sempat membuatnya kebingungan itu.
"Sayang.. Kamu kenapa??" Tanya Fauzi khawatir.
"Aku? Aku gak papa." Jawab Salwa tersenyum.
"Gak papa? Tapi barusan kamu.."
"Aku cuman kebingungan sebentar tadi" Potong Salwa.
"Kebingungan? Bagaimana bisa dia bingung dan tidak tahu harus melakukan apa sedang kegiatan sehari-harinya dipagi hari adalah memasak"
Fauzi bingung dan khawatir melihat apa yang terjadi pada istrinya pagi ini.
"Biar aku yang masak.."
__ADS_1
Fauzi meraih pisau yang dipegang Salwa.
"Kenapa? Kamu kan harus siap-siap kerja pagi ini sayang?"
"Aku masih sempat masak kok" Jawab Fauzi tersenyum. "Kamu bangunin aja Mikayla dan siap-siapin dia ke sekolah.."
"Kamu aja sayang, biar aku yang masak.."
"Gak, kamu aja. Mikayla kan gak suka kalau aku yang ngikatin rambut dia"
"Ah iya ya.. Yaudah, aku bangunin Mikayla dulu. Maaf ya sayang, kamu terpaksa masak pagi-pagi padahal harus kerja. Besok-besok, aku gak bakalan bengong pagi-pagi lagi dan nyiapin sarapan kamu seperti biasanya"
Salwa memberi kecupan kecil di pipi suaminya sebelum berlalu menuju kamar putri kecil mereka.
...
Kebingungan memenuhi kepala Fauzi. Ia kembali menuju kamar untuk bersiap-siap setelah menyelesaikan masakan, juga bekal yang akan dia bawa dan yang akan dibawa Mikayla.
Fauzi tersenyum kecil saat memasuki kamarnya dan melihat kemeja dan jas yang akan dia gunakan sudah tersedia dengan rapi. Ada sedikit perasaan lega. "Ya, mungkin Salwa beneran cuman kecapean aja dan karena kurang tidur makanya hal seperti pagi tadi terjadi. Toh dia tetap ingat menyiapkan bajuku"
Embun mulai menguap keudara dan perlahan hilang berganti dengan cahaya matahari yang hangat. Pakaian yang sudah rapi, juga tas dan bekal yang berada di tentengan Fauzi, membuatnya siap untuk berangkat kerja pagi ini.
"Sayang, jangan lupa makan bekalnya di jam istirahat nanti ya. Jangan nakal dan dengarkan apa kata Ibu guru"
Salwa memberi wejangan pada putri kecilnya yang kini menggenggam erat jari telunjuk ayahnya, siap berangkat kesekolah.
"Iya Mami.."
Ciuman manis Salwa mendarat di pipi Mikayla.
"Sayang, hari ini kamu periksa ke Dokter ya.."
Salwa hanya mengangguk. Ia tahu, dirinya yang kesulitan tidur akhir-akhir ini dan kurang bisa berkonsentrasi jelas membuat suaminya khawatir.
"Atau mau aku antar? Aku bisa keluar saat jam istirahat nanti.."
"Gak usah sayang, aku bisa kok ke dokter sendiri.."
"Yasudah, jangan lupa kabari aku nanti.."
"Iya sayang.."
Fauzi mengecup kening istrinya "Aku berangkat dulu sayang.."
"Iya, hati-hati.."
"Mami.. Mikayla ke sekolah dulu.."
__ADS_1
"Iya sayang, nanti Mami jemput kalau Mikayla sudah selesai.."
Mikayla melambaikan tangan mungilnya, dan Salwa balas melambai sambil tersenyum.
.
.
.
.
Seperti hari-hari biasanya. Suasana pagi yang mulai ramai, beberapa pekerja kantoran yang mendapat tugas diluar, sibuk lalu lalang dengan pakaian jas yang lengkap juga tas yang ditentengnya. Juga beberapa pekerja berat yang terlihat mulai sibuk mengangkut-angkut memindahkan barang tertentu dan beberapa siswa siswi yang entah karena mendapat tugas diluar sekolah atau sedang bolos yang ramai memenuhi jalan.
Salwa tiba di sebuah klinik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia lebih memilih klinik dibandingkan Rumah sakit, karena itu tidak akan membuatnya mengantri lama, mengingat ia harus cepat dan menjemput Mikayla nanti. Toh klinik yang didatanginya memiliki beberapa dokter spesialis, juga menurutnya dia yang hanya kelelahan saja sehingga tidak harus sampai ke Rumah sakit. Meski klinik ataupun Rumah sakit tetap memiliki pelayanan yang sama baiknya untuk memeriksa kesehatan.
Salwa mulai menyebutkan keluhannya yang kesulitan tidur dan terkadang hilang konsentrasi pada dokter yang sedang duduk didepannya saat ini sambil mendengarkannya.
"Selain sulit tidur dan konsentrasi yang sering terganggu, apa ada gejala lain?" Tanya Dokter yang mulai menulis beberapa jenis obat pada kertas resep.
"Tidak ada dok. Saya mengira, kalau saya hanya kelelahan sehingga konsentrasi saya sedikit terganggu. Jadi saya meminum beberapa multivitamin"
Dokter itu terdiam sejenak.
"Jika karena kelelahan yang membuat konsentrasinya berkurang, jelas dia tidak akan mengalami insomnia karena tubuh yang lelah membuatnya akan membuatnya mengantuk"
"Insomnia yang Ibu rasakan, apakah itu setelah Ibu tidur lebih awal kemudian bangun di malam hari atau.."
"Bukan dok, saya kesulitan tidur bukan karena saya memiliki waktu tidur yang baik sebelumnya. Saya pikir, mungkin karena terbiasa tidur larut selama menjaga putri saya"
"Bukannya tadi Ibu sebelumnya mengatakan bahwa Ibu bahkan hilang konsentrasi saat menyiapkan perlengkapan sekolah putri Ibu. Itu berarti putri Ibu sudah besar sekarang? Apa putri Ibu masih rewel di malam hari sampai Ibu harus menjaganya semalaman?"
Salwa terdiam sejenak. Sudah lama Salwa tidak dibuat begadang hanya untuk menidurkan Mikayla. Lalu kenapa baru akhir-akhir ini dia mengalami insomnia. Salwa sedikit bingung, mengapa pikirannnya menjadi tidak rasional dan berfikir insomnianya itu disebabkan oleh kebiasaannya yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu, saat Mikayla masih sering terbangun dan rewel di malam hari.
Salwa menatap dokter yang ada di depannya dan mulai kebingungan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Selain pada buah, cinta-cintaku juga bisa mengonsumsi Vitamin C langsung..
Bisa ditemukan di Apotek ya.. 😊