Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Get Worse


__ADS_3

Nina dan Farhan yang baru saja mengetahui kondisi Salwa, masih sangat sulit percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya, Salwa keluar dan menampar mereka dengan fakta tentang keadaannya sekarang.


“Loh, kalian datangnya barengan?” tanya Salwa.


Nina dan Farhan terdiam sejenak. Apa ini yang dikatakan Fauzi? Tentang Salwa yang bisa saja berpikir sesuatu yang berbeda dari apa yang sebelumnya dia lihat.


“Maksud kamu apa sayang? Kan mereka memang datangnya bersamaan”


Seperti biasanya, Fauzi akan membantu istrinya untuk menjelaskan kebenarannya, agar Salwa tidak terus-terusan larut dalam pikirannya yang keliru.


“Kenapa datengnya barengan? Kalian memang janjian barengan kesini?”


“Dari awal kan memang mereka barengan kesini sayang”


“Iya? Tapi kok aku gak lihat”


“Itu kamu buat teh-nya empat gelas. Masing-masing untuk satu orang kan? Jadi memang mereka datangnya barengan tadi”


Salwa menatap 4 cangkir yang berisi teh, cukup lama Salwa menatap cangkir itu tanpa mengatakan apa-apa.


“Ah iya ya.. Kalian datengnya barengan, makanya aku buat empat gelas tadi. Hehe maaf, aku lupa”


Salwa yang tadinya kebingungan, kembali tersenyum dan memasang ekspresinya yang ceria, seolah tidak terjadi apa-apa.


“Iya gak apa” Jawab Nina.


Airmata Nina mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dengan cepat ia seka sebelum Salwa melihatnya. Ada rasa sakit tersendiri bagi Nina melihat kondisi sahabatnya saat ini. Dia tidak pernah menyangka, hal seperti ini akan terjadi pada Salwa.


“Oh ya, kalian ketemu dimana sampai bisa barengan kesini?”


Nina mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan Salwa. Dia sudah tidak tahan lagi melihat Salwa seperti yang sekarang ini. Melupakan hal-hal dalam hitungan menit, dan selalu mempertanyakan hal-hal yang seharusnya sudah ia tahu.


“Salwa, kamu lupa ya kalau Nina itu istriku?” Tanya Farhan lembut dengan senyumannya yang manis, tetap berusaha memberi kesan yang baik pada Salwa dan menyembunyikan perasaan khawatir yang sebenarnya.


“Is-istri? Kalian su... Ah iya ya, kalian kan sudah menikah. Ck, aku ini nanya apa sih. Hehe maaf, akhir-akhir ini aku suka lupa. Mungkin karena faktor usia”


Fauzi hanya memandang istrinya dengan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Beberapa hari setelah memeriksakan kondisi Salwa, Salwa tidak menunjukkan perubahan yang sangat signifikan, meski memang sering mengalami delusi dan lupa dengan sesuatu yang baru saja terjadi. tapi kali ini, Fauzi kembali di tampar dengan fakta tentang istrinya yang sepertinya sudah lebih buruk dari kemarin.


“Salwa, kamu ingatkan kalau aku sudah menikah?” Tanya Nina berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Iya aku tahu Nin, kan aku sudah bilang tadi, kalau aku cuman lupa sebentar..”

__ADS_1


Nina terkejut, nada bicara Salwa yang meninggi dan sedikit ketus membuat Nina terbelalak melihatnya. Baru saja tadi Salwa menghiasi wajahnya dengan senyuman manis, namun dalam sekejap yang terlihat di wajahnya adalah ekspresi kesal.


“Jangan di masukkan kedalam hati, emosi Salwa tidak stabil” Bisik Farhan pada Nina, ia tidak ingin istrinya merasa tidak enak akan perlakuan Salwa.


“Ah iya syukurlah kalau kamu ingat. Jadi kamu tahu kalau aku sudah punya anak?”


“Fariz? Ah kenapa kamu gak ngebawa Fariz kesini Nin?”


Dalam kurun waktu yang tidak cukup semenit, Salwa yang tadinya kesal berubah lagi menjadi ramah.


“Fariz gak bisa ikut, soalnya dia lagi di rumah Mamaku sekarang, katanya rindu sama neneknya”


“Hem sama. Aku juga cuman berdua aja sama Fauzi dirumah. Mikayla lagi dirumah Ibu, katanya dia juga rindu sama neneknya”


Pagi tadi saat salwa menelfon Nina, ia tidak sadar bahwa mereka telah memiliki buah hati. Tapi sekarang, sepertinya Salwa sudah menyadari itu.


“Eh diminum teh-nya”


Salwa menawarkan teh yang tadi di bawanya. Karena perasaan yang terlanjur tidak karuan melihat kondisi Salwa, Fauzi sampai lupa menawarkan Teh pada Nina dan Farhan. Sedang Nina dan Farhan juga tidak lagi mengingat Teh yang disajikan untuk mereka karena syok melihat keadaan Salwa.


Nina meraih pelan cangkir berisi teh yang disajikan diatas meja. Tangannya sedikit gemetar akibat rasa terkejut yang dia dapatkan setelah melihat kondisi Salwa. Di seruputnya teh itu dengan pelan, karena suhunya yang masih cukup panas.


Tidak banyak yang diteguk Nina, spontan ia berbalik menatap Farhan yang sudah lebih dulu menatapnya, kemudian menjurus menatap Fauzi yang hanya menunduk setelah mencicipi teh buatan istrinya.


Aroma teh yang terpancar harum menggoda rasa itu, rupanya rasanya tidak senikmat dengan aromanya. Entah apa yang Salwa masukkan kedalam teh itu. Yang jelas, bukan manis dan rasa khas yang dimiliki oleh secangkir Teh hangat. Rasanya lebih terasa asin dan sedikit kecut.


Fauzi yang sedari tadi hanya menunduk, refleks mencegah Salwa saat tangannya meraih cangkir dengan niat ikut serta mencicipi teh buatannya.


“Kenapa?” tanya salwa bingung melihat Fauzi yang mencegahnya.


“Masih panas, jangan diminum..”


“Kan bisa aku tiup sayang..”


“Ja..”


Belum Fauzi menyelesaikan kata-katanya, ujung bibir cangkir sudah lebih dulu menyambut bibir Salwa dan hanya dengan mengangkat sedikit saja cangkir itu, Salwa sudah meminum teh yang dibuatnya.


Salwa kebingungan merasakan sesuatu yang aneh pada indra pengecapnya.


“Kok rasanya aneh..” Tegur Salwa. “Astaga, sepertinya aku salah masukin gula. Kayaknya tempat gula dan garam ketuker. Aduh maaf ya..”

__ADS_1


Farhan dan Nina hanya tersenyum.


“Ck, kenapa aku ceroboh sekali sih. Maaf ya.. Mau aku buatin teh yang baru..”


“Gak usah Wa..” Cegah Nina.


“Iya, gak usah. Yang seperti ini juga enak kok, ini emang lagi trend di kalangan anak muda, jad...”


“Gak..” Potong Fauzi. membuat Farhan dan Nina spontan berbalik menatapnya.


“Ini rasanya gak enak, dan rasa teh yang sebenarnya itu gak seperti ini sayang. Yang harus dimasukkin ke dalam teh itu gula, bukan garam. Kamu tahu kan sayang?”


“Haa?”


“Yang dimasukkin dalam Teh itu gula, bukan garam” Fauzi mengulangi apa yang dia katakan sebelumnya. “Teh rasanya gak enak kalau pakai garam”


“Ah iya, rasanya gak enak”


“Jadi, kamu harus ngeganti teh-nya sayang. Ganti teh yang baru pakai gula. Masa iya kamu ngebiarin aku, Nina dan Farhan minum teh yang rasanya seperti ini”


“Ah iya iya, sebentar aku buat yang baru dulu.. Maaf ya..”


Salwa beranjak dari duduknya namun Fauzi yang menarik pergelangan tangannya membuatnya kembali berbalik.


“Yang ini dibawa masuk dulu..”


Tunjuk Fauzi pada cangkir-cangkir yang berisi teh dengan rasa yang asin.


Salwa tersenyum, dan mengambil kembali cangkir-cangkir itu sebelum berlalu kembali ke dapur untuk membuat teh yang baru.


Airmata Fauzi menetes saat Salwa sudah tidak lagi melihatnya. Nina pun tidak mampu lagi menahan airmatanya.


“Maaf Zi, gue cuman gak mau ngebuat Salwa kecewa tadi, jadi gue bilang kalau ras..”....


“Gak apa Han, gue ngerti kok maksud Lu. Gue cuman gak mau istri gue membenarkan apa yang Lu bilang. Dia harus tahu, kalau rasa seperti itu salah. Biar dia bisa memperbaikinya”


“Zi.. Sabar ya..”


Fauzi hanya mengangguk.


“Gue bakal ngelurusin setiap sesuatu yang salah dari apa yang Salwa buat. Gue akan berusaha ngebuat dia melakukan sesuatu seperti yang seharusnya”

__ADS_1


Airmata Fauzi mengalir meski ia seka berkali-kali. Sedang Nina sudah tidak tahan lagi, dan membenamkan wajahnya di dada Farhan yang duduk disampingnya sambil menyembuyikan isak tangisnya.


Hingga Salwa kembali dengan membawa teh yang baru. Nina kembali berusaha mengatur ekspresinya, menghapus sisa airmatanya dan tersenyum pada Salwa, seolah semuanya baik-baik saja. Begitupun dengan Fauzi.


__ADS_2