
Ayah Faiq begitu senang tatkala putra semata wayangnya itu memutuskan untuk ikut bergabung dalam mengembangkan perusahaan yang sudah dia bangun bertahun-tahun itu.
Kehadiran Faiq memang memberikan perubahan yang sangat signifikan. Perusahaan meningkat secara drastis, harga saham terus meningkat, juga permintaan kerjasama dan penjualan meningkat. Terlebih lagi dia yang memiliki bakat di bidang mendesain, ia sering sekali mendatangi beberapa rumah usang yang dijual murah, kemudian disulapnya dengan bakat yang dia miliki dan kembali di pasarkan dengan harga yang fantastis.
Tidak hanya dengan kemampuan penjualan yang terbilang sangat hebat, Faiq juga sangat handal dalam hal negosiasi. Tidak lagi sulit bagi perusahaannya untuk diterima dari setiap kali ia melakukan negoisasi kerjasama dengan perusahaan lain. Terbukti setelah ia berhasil membuat Ayahnya memperoleh penerimaan dari ajakan kerja sama yang Ayahnya ajukan pada perusahaan besar.
Beberapa minggu yang lalu, Ayahnya mengajukan kerja sama pada perushaan yang terbilang sangat besar. Perusahaan yang dikenal dengan keberhasilannya itu, tidak menerima perusahaan lokal untuk bergabung dalam bisnis yang dia mainkan. Benar, beberapa perusahaan yang bermain bersama perusahaan itu, adalahh perusahaan yang sudah bermain di taraf internasional.
Datangnya persetujuan yang diterima oleh Ayah Faiq, membuktikan seberapa kuatnya Faiq dalam bernegoisasi hingga berhasil menembus perusahaan yang kuat itu. Ayahnya begitu senang dan bangga dengan apa yang di raih oleh Faiq. Sayangnya orangtua itu tidak tahu, jalan apa yang putranya itu sudah tempuh untuk mendapatkan hal seperti itu.
“Oh ya, bagaiamana caranya sampai kamu bisa membuat mereka menerima tawaran kita? Apa kamu kesana langsung buat bicara sama mereka?” Tanya Ayahnya penasaran dengan apa yang telah dilakukan putranya sehingga bisa mendapat persetujuan yang sangat luarbiasa seperti ini.
Jelas saja, tidak terlintas dipikirannya tentang jalan buruk atau kotor yang di tempuh putranya. Selama ini yang dia tahu, semua yang di dapatkan oleh putranya itu adalah sesuatu dengan menggunakan cara yang benar.
“Ya seperti itu, tapi tentunya Ayah tahu kalau kita tidak akan bisa mendapatkan hal seperti ini kalau hanya mengandalkan kemampuan berbicara dalam menawarkan” Jawab sembari duduk dengan santai.
“Terus apa yang kamu lakukan??”
Faiq mengeluarkan ponselnya, dan mengarahkan layar ponsel pada Ayahnya dengan foto perempuan cantik terpampang disana.
“Ayah kenal dengan perempuan ini??”
“Tentu saja. Dia Alesha bukan? Putri dari pemilik perusahaan itu”
“Sepertinya dia benar-benar perempuan yang terkenal, sampai Ayah yang lanjut usia juga kenal sama dia..”
“Lalu apa hubungannya sama dia?? Oh tunggu tunggu.. Apa kamu sama dia punya hubungan spesial? Kalian berkencan??” Tanya Ayahnya antusias dengan wajah sumringah.
Ya, mendapatkan hal besar seperti ini jelas mudah jika anak tunggal dari pemilik perusahaan itu telah melabuhkan hatinya pada putra tunggalnya yang sangat dia bangga-banggakan saat ini.
Faiq tertawa kecil sembari memperlihatkan senyum smriknya.
Faiq menggeser layar ponselnya, dan kembali mengarahkan pada Ayahnya.
“Apa Ayah melihat wajah yang sama dengan foto ini?”
Dahi Ayahnya berkerut, dan tatapannya berubah, juga senyum sumringahnya meredup. Sesuatu yang tidak dia pahami mulai meronta meminta penjelasan.
“Ke-kenapa foto seperti itu kamu perlihatkan pada Ayah??”
“Ayah pikirkan saja..” Jawab Faiq santai.
Ayahnya terdiam sejenak, kemudian perlahan mengangkat kepalanya menatap sang putra yang duduk dengan senyum smrik penuh arti.
“Apa yang sudah kamu lakukan, Faiq???” Tanya Ayahnya, mulai menebak hal yang tidak-tidak setelah melihat foto yang Faiq tampilkan di layar ponselnya.
Faiq tertawa kecil sembari menatap layar ponselnya dengan foto wanita yang diketahui adalah Alesha, putri tunggal dari pemilik perusahaan besar itu.
__ADS_1
Foto Alesha tanpa busana hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, tengah berbaring di salah satu tempat tidur yang jika dilihat dari ruangannya terlihat seperti sebuah hotel. Wanita cantik itu, entah sadar atau tidak saat gambar dirinya sedang diambil, yang jelas foto itu sekarang menjadi bagian dari foto-foto lain yang tersimpan di album ponsel milik Faiq.
Ayah Faiq yang melihat itu mulai mengarahkan pikirannya pada hal yang tidak-tidak dengan berbau negatif.
“Ka-kamu dapatkan dari mana foto seperti itu??”
“Apa Ayah pikir untuk perempuan seperti Alesha, foto miliknya yang seperti ini mudah di dapatkan oleh oranglain?” Pertanyaan Ayahnya yang ia jawab dengan pertanyaan baru, semakin membuat Ayahnya bingung denga sekelebat hal negatif yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
“Ja-jadi fot-foto itu??”
Faiq berbalik menatap Ayahnya dengan senyum smrik yang tidak lepas dari bibirnya yang tipis.
“Ka-kamu yang mengambilnya sendiri??”
Faiq hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ayahnya. “Pikirkan lah..”
Ayahnya beranjak, dengan ekspresi terkejut yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. “Faiq.. Apa yang sebenarnya kamu lakukan??”
“Aku?? Aku hanya melakukan sesuatu agar yang kuinginkan bisa terwujud”
“Kamu tidur dengan perempuan itu???” Tanya Ayahnya dengan nada tinggi.
Faiq hanya tertawa melihat reaksi Ayahnya yang begitu tekejut dengan pikiran-pikiran yang dimilikinya.
“Ayah membuatku ternoda dengan pikiran Ayah itu..”
“Karena aku mengambil fotonya” Jawab Faiq santai.
“Jangan bicara berbelit-belit. Jelaskan sama Ayah, apa yang sudah terjadi? apa yang sudah kamu lakukan”
Faiq menoleh dan menatap Ayahnya.
“Ayah, apa Ayah tidak capek berdiri seperti itu? Duduk santai saja dan dengarkan..”
Wajah Ayahnya memerah, perasaan yang bercampur aduk membuat ekspresi di wajahnya terlihat sudah geram. Ditambah lagi dengan respon Faiq yang begitu santai menyikapinya.
“Jawab Ayah? Apa kamu tidur dengan Alesha?”
Faiq kembali tertawa kecil. “Apa hanya itu yang ada di pikiran Ayah ketika aku memperlihatkan foto ini??”
“Lalu apa yang terjadi??”
“Aku hanya mengambil gambarnya saja”
“Bagaimana caranya kamu mengambil gambarnya dengan.... dengan dia yang..”
“Dia yang terlalu bodoh karena mau ikut sama aku. Mau melakukan apa saja yang aku minta” Jawab Faiq dengan gaya santainya dan tanpa rasa bersalah mengatakan hal yang buruk.
__ADS_1
“A-apa yang kamu lakukan? Dia yang seperti itu?? Ti-tidak... Ka-kamu??”
“Ayah santai saja. Kenapa gugup begitu?? Apa yang mau Ayah tanyakan?? Apa Ayah masih berpikiran kalau aku tidur sama Alesha??”
Ayahnya tidak menjawab, dan hanya menatap Faiq dengan wajahnya yang semakin merah padam.
“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada perempuan murahan..”
“Faiqq.. Jaga bicaramu.. Kamu pikir siapa Alesha itu sampai kamu..”
“Lalu? Istilah apa yang bisa disematkan pada perempuan yang menurut saja? Bodoh??”
“Faiq..” Nada Ayahnya semakin meninggi.
“Ayah harus ingat.. Aku hanya memiliki satu perempuan, dan aku tidak akan menodai diriku untuk perempuan lain. Aku hanya miliknya saja, dan tidak akan melakukan hal yang disebut kotor itu jika belum saling memiliki dalam ikatan” kata Faiq mempertegas akan hatinya yang tidak beranjak dari seorang Sasa, wanita yang sangat dicintainya.
“Ja-jadi kamu? Kamu mempermainkan Alesha??”
“Aku tidak bermaksud begitu, tapi kalau seperti itu pandangan Ayah, ya berarti seperti itulah..”
“Kenapa kamu melakukan ini Faiq??”
“Untuk mendapatkan persetujuan Ayahnya, untuk mendapatkan apa yang aku mau. Laki-laki tua itu akan melakukan apa saja demi menyembunyikan foto putri bodohnya yang kupunya”
“Kamu ini kenapa Faiq?? Kenapa melakukan hal kotor seperti ini??? Kenapa berubah seperti ini dan menjadi orang yang...”
“Ayah..” Faiq beranjak dari duduknya, mendekati Ayahnya yang sedari tadi berdiri dengan wajah shocknya. “Ayah jangan lupa, kalau aku ini anak monster, jadi jangan terkejut kalau hal seperti ini aku lakukan. Bukankah hal seperti ini lumrah di lakukan oleh seorang monster??”
“Faiq..”
“Apakah Ayah lupa? Siapa yang mengajariku membuat seseorang menunduk dengan ancaman??”
Ayahnya menatap Faiq dengan kornea mata yang semakin melebar.
“Aku hanya belajar dari Ayah. Belajar bagaimana cara menundukkan seseorang. Dan kurasa, ancaman cukup efektif untuk membuat orang-orang tidak bisa berkutik”
Faiq melangkah, meninggalkan Ayahnya yang masih shock dengan apa yang baru saja ia ketahui tentang putranya.
Belum jauh Faiq melangkah, ia terhenti.
“Ayah tidak perlu khawatir, nikmati saja apa yang sudah aku sediakan untuk Ayah. Bersenang-senang saja dengan apa yang sudah aku hasilkan. Seperti biasa, bangga-banggakan aku saja” kata Faiq dengan senyum yang menyunggingkan bibir atasnya.
Faiq hendak melangkah kembali, tapi langkahnya di hentikan oleh panggilan Ayahnya.
“Faiq.. Apa kamu pikir, perempuan yang kamu puja-puja dan kamu cintai itu masih bisa menerimamu kalau dia tahu, orang seperti apa kamu sekarang???”
Faiq terdiam sejenak mendengarkan apa yang Ayahnya katakan. Sejenak pikirannya terlintas pada Sasa.
__ADS_1
“Ayah tidak perlu repot memikirkanku” kata Faiq melanjutkan langkahnya.