
Faiq terus-terusan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dia begitu tidak sabar menunggu kedatangan Sasa. Rasa rindu yang tertanam beberapa minggu terakhir ini, kini semakin menggebu-gebu meminta segera ditebus.
Faiq mulai gelisah, rasanya dia sudah menunggu begitu lama namun dia belum juga melihat keberadaan Sasa. Hingga ekspresi cemas yang sedari tadi dia tampakkan, seketika berubah ketika pandangannya mendapati sosok wanita yang sudah ditunggunya sedari.
“Maaf, aku terlambat”
“Tidak apa, keterlambatanmu tidak ada artinya dengan adanya kamu disini sekarang”
Sasa hanya tersenyum. Jelas sekali terlihat dimatanya, bagaimana Faiq terlihat begitu antusias.
“Kamu mau makan apa?”
“Ah gak, aku...”
“Yaudah, kalau gitu mau minum apa??”
“Anu...”
“Aku mau Cappucino? Kamu? Ah biasanya Greentea. Kamu mau greentea?”
Sasa hanya mengangguk, dia yang niat awalnya hanya bertemu sebentar saja dengan Faiq, sepertinya akan berubah melihat Faiq yang begitu antusias.
Mata berbinar-binar dan pandangan begitu hangat yang diarahkan Faiq pada Sasa, membuat Sasa menundukkan kepalanya sejenak. Rasanya begitu sulit menerima pandangan yang sangat jelas disertai rasa cinta itu. Sejenak Sasa berpikir, mengenai apa yang akan dia katakan pada Faiq hari ini.
“Anu.. Tentang aku yang ngajak ketemu hari ini..”
“Apa itu harus dibahas sekarang?” Tanya Faiq memotong ucapan Sasa. “Kita udah lama gak ketemu”
“Ta-tapi aku..”
“Kalau kamu ngebahas apa yang mau kamu bilang sama aku, otomatis pertemuan ini bakalan cepat berakhir. Ataukah...”
Sasa hanya memandang dengan tatapan penuh tanya. Kata terakhir yang diucapkan Faiq, mengundang pertanyaan dalam benaknya.
“Ataukah apa??”
“Ataukah, apa yang bakal kamu bilang itu, tentang sesuatu yang gak bakal ngebuat kita terpisah lagi?” Tanya Faiq dengan senyumnya yang mengembang. Rona wajahnya terlihat lebih cerah bahkan hanya dengan pikiran yang dia simpulkan sendiri.
“Jangan berpikiran terlalu jauh Faiq. Saat ini aku gak punya banyak waktu, aku sibuk dan harus menyelesaikan beberapa urusan”
__ADS_1
“Urusan apa? Pekerjaanmu? Aku pulang balik ke Rumah sakit nyariin kamu, dan mereka bilang kalau kamu resign. Kamu punya pekerjaan baru sekarang? Apa? Dimana?”
Sasa menggeleng. “Aku udah gak kerja sekarang”
“Terus, kamu sibuk apa? Dan mau nyelesaiin apa?”
“Aku ada janji ketemu sama wedding organizer hari ini, dan menyelesaikan beberapa hal sebelum hari istimewa dalam hidupku datang”
Faiq terdiam. Sejenak dia membatu dengan manik mata hitamnya yang tak lepas dari pandangannya pada Sasa. “A-apa?” Bibirnya cukup bergetar hanya untuk bertanya satu kata saja.
“Aku kesini, dan minta ketemu sama kamu. Karena aku mau ngasih ini”
Sasa mengulurkan sebuah undangan berwarna merah muda dengan namanya terukir indah disana sebagai mempelai wanita.
Ada rasa sakit yang tidak bisa Faiq jabarkan. Apa yang disajikan di depan matanya, tidak sesuai dengan ekspektasi yang selama ini bermain dipikirannya. Waktu yang dia tunggu dengan rasa bahagia menggebu-gebu, rupanya menyimpan sebuah boomerang untuknya.
“Aku akan menikah, dan..”
“La-lalu, aku bagaimana? Aku bagaimana kalau kamu nikah?” Bulir kristal bening mulai bertengger di pelupuk mata Faiq. ia mengangkat wajahnya menatap Sasa, disusul dengan airmatanya yang menetes tanpa aba-aba. “Aku sangat mencintaimu, Sasa. Kalau kamu menikah, aku bagaimana??”
Tidak bisa dipungkiri, ada perasaan turut sedih yang dirasakan Sasa melihat Faiq yang rapuh di depannya saat ini.
“Kamu gak perlu minta maaf Faiq, itu bukan salah kamu. Apa yang mereka katakan juga gak salah, memang faktanya seperti itu”
“Ja-jadi kamu gak marah kan?”
Sasa mengangguk pelan.
“Terus kenapa aku, kamu tinggal nikah? Kamu kan gak marah, seperti yang kamu bilang, aku gak salah. Jadi kenapa kamu ninggalin aku, Sa?”
Airmata Faiq semakin deras. Rasa sakit yang menghantam perasaannya saat ini, membuatnya tidak lagi bisa membendung airmatanya. Faiq tidak lagi peduli dengan pandangan orang-orang terhadapnya.
“Apa kita gak bisa memperbaiki semuanya? Apa kita gak bisa memulai dari awal?? Sa, aku bisa ninggalin semuanya demi kamu, aku bisa menjadi apapun seperti apa yang kamu mau dan menjadi apa yang kamu butuhkan”
“Faiq. Hal seperti itu gak pantas aku dapatkan dari orang hebat seperti kamu. Aku sama sekali gak ada hak untuk ngebuat kamu terjun bebas dari posisimu saat ini hanya untuk bisa mensejajarkan diri sama aku”
“Kenapa? Aku ngasih hak untuk kamu atas diriku. Apapun yang kamu mau, aku bolehin Sa. Asal jangan tinggalin aku”
“Kamu mau tapi belum tentu bisa, Faiq. Kamu sadar kalau kita bukan orang yang sama. Kamu tidak akan bisa menyesuaikan diri kalau ikut sama aku”
__ADS_1
“Kenapa gak bisa? Aku sudah pernah mengalami titik terendah dalam hidupku Sa, aku sudah pernah berada dalam jurang keterpurukan. Lalu kenapa kamu...”
“Iya, kamu bisa dan berhasil melewati itu. lalu aku bagaimana? Aku gak akan bisa menjadi buta dan tuli sama penilaian orang-orang disekitarmu. Kalaupun kita pergi jauh pun, itu tidak akan bisa mengubah apa yang ada dipikiranku tentang penilaian orang-orang terhadapku, yang udah ngebuat kamu ninggalin tahta kesuksesanmu”
Emosi sudah mulai menyentuh perasaan Sasa, kini airmatanya juga mulai jatuh perlahan. Ya, memaksa melepaskan orang yang lama dicintainya, sementara orang itu masih memelas untuk bersamanya, jelas bukan hal yang mudah.
Faiq yang sebelumnya terus-terusan terbawa emosi dan memaksa Sasa untuk bersamanya, spontan terdiam dan terkejut melihat Sasa yang melampiaskan perasaannya.
“Faiq, aku tidak akan menjadi tega menyeret kamu turun kebawa dan memulai semuanya dari awal lagi hanya untuk mempertahankan egoku. Kita harus sadar, kalau benar kita bukanlah orang yang bisa bersama. Kita dipertemukan, tapi tidak untuk dipersatukan”
Manik mata hitam pekat milik Faiq yang diselimuti air bening pelampiasan dari perasaannya, tidak lepas dari pandangannya untuk Sasa. Derai airmata Sasa kini menjadi pemandangan yang sangat menyakitkan baginya saat ini.
“Aku yang membuatnya menangis. Ya, aku yang membuatnya menangis. Bagaimana ini? Apa cintaku benar hanya akan membuatnya merasakan sakit seperti ini?? Apa sebesar itu rasa sakit yang harus kamu terima dari mencintaiku?”
“Maafkan aku” Kata Faiq yang sudah memalingkan pandangannya. “Sepertinya benar, aku hanya ngasih waktu-waktu yang sulit buat kamu”
“Bukan seperti itu, Faiq. tapi..”
“Tapi apa? Faktanya, aku lebih sering ngeliat kamu nangis kebanding tersenyum kalau lagi sama aku. Itu adalah bukti bahwa aku tidak cukup mampu menjadi sumber kebahagiaanmu”
Sasa hanya terdiam, dengan emosi yang perlahan mereda.
“Keberadaanku tidak cukup untuk menjadi surga yang membuatmu nyaman. Aku bukan lautan yang bisa memuaskan dahagamu. Maafkan aku Sa, karena sudah menjadi egois”
Perlahan Faiq meraih undangan berwarna merah muda yang dibawa Sasa untuknya.
“Selamat atas pernikahanmu. Perlu kamu tahu, aku tidak ikhlas dan tidak mengubah posisimu dihatiku sebagai orang yang istimewa. Cintaku terlalu egois, sehingga tidak mengizinkan kamu untuk pergi dari perasaanku. Kamu masih bertahta hebat di surgawi cintaku”
Faiq beranjak dari duduknya, dengan undangan Sasa yang berada dalam genggamannya.
“Aku akan datang. Aku akan menjadi saksi di hari bahagiamu”
Perlahan Faiq melangkah meninggalkan Sasa yang masih duduk tanpa kata hingga Faiq berlalu.
******
Faiq memasuki sebuah bar dengan undangan yang masih digenggam erat ditangannya. Tidak ada yang bisa memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja sekarang. Pandangannya yang kosong dengan mata sembab, jelas memperlihatkan betapa terpuruknya laki-laki yang baru saja mendapat kabar buruk baginya itu.
Faiq mengambil posisi duduk tepat di depan bartender yang sedang mencampur larutan berwarna dengan bau khas alkohol yang kuat.
__ADS_1
“Kamu, ngapain kamu disini? Bukannya????”