
Farhan mulai disibukkan dengan proyek baru yang baru saja berhasil memenangkan negosiasi dengan perusahaan lainnya. Namun dikarenakan keadaan Nina yang sedang tidak memungkinkan untuk keluar rumah lebih sering saat ini, membuat Farhan harus bekerja lebih ekstra dari sebelumnya, dimana yang sebelumnya bertugas menjemput Fariz adalah Nina, sekarang beralih tugas menjadi dia.
Farhan melirik ponselnya dengan jam digital yang sudah menunjukkan sebentar lagi pukul 10. Farhan dengan cepat menyelesaikan proposal kerja lanjutan untuk proyek barunya dan segera menjemput Fariz.
Pandangannya yang kembali fokus pada netbook didepannya, kembali teralihkan saat ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari Fauzi.
“Kenapa Zi?”
“Han, Lu yang ngejemput Fariz kan nanti?”
“Iya, Nina udah gak aku ijinin keluar-keluar dulu sekarang. Kenapa?”
“Gue minta tolong sekalian ngebawa Mikayla ya..”
“Lah kenapa? Salwa gak ngejemput Mikayla?”
“Iya, Gue ada keperluan mendesak sama Salwa, jadi gue minta tolong bawa Mikayla pulang juga”
“Oh oke. Tapi Lu baik-baik aja kan Zi?”
“Iya. Gue cuman ada keperluan mendesak aja..”
“Bilang sama Gue kalau Lu butuh bantuan”
“Iya, thanks Han. Sorry Gue ngerepotin Lu..”
“Ngomong apaan sih Lu? Nina juga bakal senang kalau Gue pulang ngebawa Mikayla”
“Oke, Gue matiin dulu. Sekali lagi, thanks bro..”
Sambungan telfon yang buru-buru diputus oleh Fauzi membuat Farhan jadi bingung, dan bercampur dengan sedikit rasa khawatir.
Pekerjaan yang sempat tertunda karena harus menerima telfon masuk dari Fauzi sebelumnya, membuat Farhan tidak lagi melanjutkan pekerjaannya. Sudah waktunya dia untuk menjemput putranya sekarang, dia tidak ingin terlambat menjemput Fariz yang akan berujung mendapat omelan dari istri tercintanya.
.
.
.
Farhan melangkah masuk dengan genggaman tangan Fariz di sebelah kanannya dan genggaman tangan Mikayla di sisi lainnya.
“Sayang.. Kenapa tumben Mikayla ikut pulang?” Tanya Nina bingung.
Nina tahu betul, bagaimana Salwa mengajarkan disiplin pada Mikayla. Dimana Mikayla tidak di izinkan bermain menggunakan seragam sekolahnya dan pergi ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah terlebih dahulu.
“Fauzi tiba-tiba nelfon aku, dan minta ngebawa Mikayla juga. Katanya dia gak sempat buat ngejemput Mikayla hari ini”
“Yang biasa ngejemput Mikayla kan Salwa” terang Nina.
__ADS_1
Sebelumnya, Nina juga sangat rutin menjemput Fariz, sehingga ia sering kali bertemu dengan Salwa. Namun berhubung kondisi Nina saat ini tidak memungkinkan untuk menjemput Fariz seperti biasanya, sehingga Farhan lah yang bertugas mengantar, sekaligus menjemput Fariz saat jam pulang sekolah tiba.
“Aku juga gak tahu. Fauzi hanya minta aku ngebawa Mikayla juga. Dia bilang ada keperluan mendesak yang ngebuat Fauzi dan Salwa gak bisa ngejemput Mikayla hari ini..”
Nina merasa heran. Pasalnya, Salwa selalu mengutamakan hal apapun yang menyangkut Mikayla. Salwa akan meninggalkan pekerjaan lainnya sepenting apapun itu demi Mikayla, putri kecilnya.
“Ini, tadi aku singgah beli baju buat Mikaya. Kita gak punya baju anak perempuan, dan gak mungkin Mikayla pakai baju laki-laki punya Fariz”
Nina membuka paper bag yang diserahkan Farhan, sepasang baju anak perempuan berwarna merah muda didalamnya.
“Cantiknya. Baju anak perempuan lucu sekali..” kata Nina sembari menatap baju anak perempuan dengan bawahan brukat.
“Semoga yang disini juga perempuan, jadi kamu bisa puas-puas ngebeli baju anak perempuan nanti..” Farhan mengusap lembut perut Nina yang tengah hamil muda.
“Aamiin..” Nina tersenyum bahagia.
“Ah sayang, aku harus kembali ke kantor. Sore nanti baru aku antar Mikayla pulang”
Nina hanya mengangguk.
Farhan mengecup lembut kening istrinya sebelum berlalu dan kembali ke kantor, untuk menyelesaikan pekerjaannya disana.
“Mikayla, hari ini main disini dulu ya sama kakak Fariz”
“Iya Bunda. Tapi bunda, kenapa mami gak jemput Mikayla hari ini”
“Iya bunda, kenapa mami Salwa gak jemput dede Kayla?”
“Mami Salwa ada keperluan sebentar, sore nanti baru Mami salwa kesini buat ngejemput Mikayla. Jadi sekarang Mikayla main sama kakak Fariz dulu disini” jelas Nina dengan lembut.
“Iya Mami..”
“Yasudah, ayo ganti baju terus kita makan bareng..”
Kebingungan masih bermain di kepala Nina, namun ia tepis sejenak dan memilih bermain dengan putra dan putri sahabatnya. Toh, Salwa akan cerita juga nantinya.
.
.
.
.
Salwa dibantu oleh Fauzi, baru saja mengisi formulir persetujuan untuk melakukan tes MRI. Dokter yang menanganinya tidak lagi ingin hanya mendiagnosa Salwa melalui cerita yang Salwa tuturkan, ia butuh sesuatu yang jelas untuk memastikan diagnosa pada Salwa.
Fauzi duduk termenung sembari menunggu Salwa selesai melakukan tes MRI. Sekelebat ketakutan terus menghampirinya, membuat Fauzi semakin tak bisa tenang menunggu Salwa keluar dari ruangan radiologi.
Dengan segala kecemasannya, Fauzi masih berusaha terliat tenang. Fauzi tidak ingin, saat Salwa keluar nanti dan mendapatinya dengan ekspresi khawatir, karena hal itu bisa membuat Salwa turut khawatir.
__ADS_1
Setelah berlalu sekitar hampir 1 jam, dokter yang memeriksa Salwa sebelumnya keluar dari ruangan radiologi, Fauzi dengan cepat menghampirinya.
“Bagaimana hasilnya dok? Apa yang terjadi pada istri saya??”
Dokter itu hanya tersenyum.
“Bapak Fauzi, apa bapak bisa tinggal lebih lama nanti? Saya perlu berbicara dengan bapak, hanya saja..”
Dokter itu menoleh, dilihatnya Salwa yang melangkah keluar dari ruangan.
“Hanya saja, saya tidak bisa membicarakannya sekarang. Saya perlu berbicara berdua saja dengan bapak”
Fauzi mengangguk, mengerti dengan apa yang dimkasud oleh dokter.
Fauzi menghampiri Salwa, menuntunnya berjalan meski ia tahu Salwa masih mampu berjalan dengan baik.
“Gimana perasaan kamu? Baik-baik aja kan sayang?”
Salwa mengangguk.
“Gak ada yang sakit kan?”
“Gak ada kok. Perasaanku baik-baik saja”
Salwa memperlihatkan senyumnya yang begitu manis pada Fauzi. Fauzi hanya balas tersenyum meski hatinya sedang meronta-ronta ingin menolak semua fakta yang disajikan untuknya saat ini.
Salwa kembali ke ruang pemeriksaan. Kembali melanjutkan konsultasi yang sempat terjeda kurang lebih 45 menit saat ia sedang melakukan pemeriksaan MRI.
Tidak banyak yang dokter itu tanyakan, hanya seputaran masalah hal-hal umum yang sudah sering dilakukan dalam beraktifitas. Dan dari semua pertanyaan yang dokter ajukan, hanya sedikit bagian saja yang mampu Salwa jawab dengan respon cepat dan baik. Sisanya, Salwa harus berfikir lama bahkan tidak mampu menjawab. Hal yang semakin mengiris-ngiris perasaan Fauzi.
“Ibu Salwa, saya rasa sekian dulu pemeriksaan Ibu hari ini”
“Bagaimana hasil tes sampel darah saya dan hasil dari tes MRInya?”
“Ah tentang sampel darah Ibu, sepertinya normal saja. Dan mengenai tes MRInya, kita harus menunggu setidaknya satu minggu hingga hasilnya keluar”
“Jadi..”
“Ibu tenang saja, tetap minum dengan rutin obat yang diberikan”
Salwa mengangguk pelan. Ia memiliki kata-kata untuk menyanggah perkataan dokter perihal kondisinya, namun ia kesulitan untuk menyampaikannya sehingga ia memilih untuk menurut saja.
Fauzi mengantar Salwa keluar. Mencari taxi untuk mengantar istrinya pulang.
“Sayang, aku masih ada kerjaan di kantor, jadi aku harus kembali ke kantor lagi. Kamu gak apa kan pulang sendiri?” Jelas Fauzi dengan lembut. Ia tidak mungkin jujur pada Salwa, bahwa ada hal lain yang harus ia bicarakan lebih lanjut pada dokter.
Salwa mengangguk. “Aku gak apa” Jawab Salwa tersenyum.
“Aku pasti pulang lebih awal kalau kerjaanku udah selesai”
__ADS_1
Salwa hanya tersenyum.
Fauzi kembali memastikan pada supir taxi alamatnya, ia tidak yakin lagi Salwa bisa menunjukkan jalan pulang dengan benar, sehingga hanya supir Taxi itu yang bisa Fauzi andalkan. Jujur saja, Fauzi sangat kesulitan melepas istrinya untuk pulang sendiri, namun ia juga tidak bisa melewatkan pembicaraan penting yang akan dibahas oleh dokter, dengannya.