
Satu minggu berlalu dari hari dimana Faiq marah pada Karin yang menurutnya telah lewat batas karena menyentuhnya. Hari dimana Karin menyadari kebenaran yang ada, bahwa yang selama ini Faiq perlihatkan, berbeda dengan apa yang sebenarnya.
Bukan, bukan Faiq memperlihatkan hal berbeda dengan apa yang ada di pikirannya, melainkan Karin yang salah mengerti dikarenakan Faiq yang begitu pandai menyembunyikan maksud dan niatnya.
Dari seminggu setelah kejadian itu, sudah seminggu pula dari keduanya tidak tidur bersama seperti biasanya.
Faiq memilih diam tanpa penjelasan, hanya tingkahnya yang berubah menjadi sangat dingin dan dinding pembatas yang dia buat besar-besaran.
Faiq tidak lagi tidur di kamar mereka, ia memilih tidur di kamar tamu. Bukan hanya tidak tidur bersama Karin lagi yang dia lakukan, ia juga tidak berbicara bahkan tidak pernah menatap Karin satu kalipun. Jelas apa yang Faiq lakukan, memberikan luka yang luar biasa bagi wanita yang menyandang status sebagai istrinya.
Karin bingung harus seperti apa, semakin hari hubungan rumah tangga mereka semakin buruk. Karin mengalami stres berat dan tidak tahu harus bagaimana. Dia bingung dengan perubahan sikap Faiq, dan lebih bingung lagi karena tidak tahu harus melakukan apa. Meski ia pernah berniat untuk memberitahu hal ini pada Ayah dan Ibunya, namun kembali ia urungkan sebelum mendapatkan penjelasan Faiq tentang semua yang terjadi pada rumah tangga mereka saat ini.
Karin terus-terusan bertanya tentang kesalahannya, dengan kembali mengingat apa yang sudah terjadi selama ini. Namun sekuat apapun Karin memikirkannya, ia tetap tidak menemukan hal yang seharusnya bisa suaminya itu jadikan alasan untuk marah berlarut-larut seperti ini.
Logika Karin masih membenarkan apa yang dia lakukan. Toh benar, mereka adalah sepasang suami istri, sehingga apa yang Karin lakukan itu bukanlah hal yang salah. Meski Faiq sudah mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
Selain rasa sakit yang dia dapatkan dari rusaknya hubungan mereka saat ini, Karin juga menderita sakit setiap kali ia mengingat apa yang Faiq katakan padanya pagi itu. Kejujuran Faiq adalah fakta yang sangat buruk bagi Karin. Bagaimana bisa suami yang menurutnya begitu baik, tiba-tiba mengatakan apa yang sama sekali tidak pernah ia sangka-sangka. Sebuah kejujuran yang sangat memilukan.
.
.
Malam semakin larut, dan seperti beberapa malam terakhir ini, Karin masih saja terjaga dengan pikirannya yang berkecamuk. Ini sudah memasuki malam kedelapan, dimana dia tidur sendiri tanpa suaminya.
Airmatanya kembali menetes menyadari bahwa tidak ada lagi laki-laki yang sering tidur di tepi ranjang itu, dalam pandangannya. Sudah satu minggu dia bangun pagi tanpa memandang wajah suaminya, dan sudah satu minggu juga dia mengalami tidur yang sangat singkat.
Jam terus berdetak menemani melewati malam yang semakin larut. Karin menoleh dan melihat jam yang sudah menunjukkan kurang sembilan menit lagi memasuki jam sebelas malam.
Karin dengan segala gejolak dalam hati dan beban dalam pikirannya, tidak lagi tahan menampung sesak yang dia rasakan. Karin beranjak, dan berjalan menuju kamar dimana Faiq memilih tidur disana saat ini. Dia butuh penjelasan, agar saling diam ini tidak berlarut-larut semakin lama. Karin tidak lagi bisa menahan keadaan dimana ia merasa tertekan setiap harinya.
“Faiq tidak mungkin sudah tidur jam begini, biasanya dia tidur lebih larut” Pikir Karin sembari mempercepat langkahnya menuju kamar tamu.
Karin mengetuk pelan pintu kamar yang kini dijadikan Faiq sebagai kamar tidurnya. Karin memutar engsel pintu yang tidak terkunci dan masuk meski belum mendapat izin dari Faiq, seolah Faiq memang sedang menunggu perempuan yang menjadi istrinya itu untuk meminta penjelasannya.
Karin yang muncul dari balik pintu, disambut oleh tatapan Faiq yang masih duduk ditepi ranjang dengan buku yang di pegangnya.
“Aku perlu bicara” Kata Karin tanpa basa basi dan langsung mengambil posisi duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Faiq duduk saat ini.
Faiq menutup bukunya, dan perlahan meletakkan pada meja yang berada disamping tempat tidur, memperbaiki posisi duduknya dan siap mendengarkan Karin. Sepertinya amarah yang membara beberapa hari lalu, kini telah padam. Rasa kesal yang kemarin menggebu-gebu kini sudah hilang dan kembali normal.
“Tapi sebelumnya, aku mau tanya”
Faiq hanya menatap Karin, memberi izin Karin untuk bertanya.
“Aku selama ini kamu anggap apa? Apa artinya aku bagimu?” pertanyaan yang Karin lontarkan dengan tegas, meski airmata perlahan mulai mengumpul di kelopak matanya.
Faiq tertunduk sejenak, sebelumnya akhirnya kembali menatap Karin.
“Maaf, maafkan aku. Aku salah..”
“Aku bukannya butuh permintaan maafmu, aku butuh penjelasanmu Faiq. Kamu ngebuat aku bingung dengan semua ini”
“Aku memang harus minta maaf sebelum memberikan jawabanku”
Karin menatap lekat laki-laki yang duduk tidak jauh darinya itu. Sebuah kalimat yang dia tidak mengerti, tapi cukup bisa menyimpulkan bahwa apa yang akan Faiq katakan selanjutnya adalah hal yang meyakitkan untuk di konsumsi oleh telinganya.
__ADS_1
“Aku sama sekali tidak pernah bermaksud seperti ini sebelumnya, aku benar-benar berniat melamarmu hari itu. hanya saja, aku merasakan kehampaan”
Airmata Karin mulai menetes, meski ekspresinya masih memperlihatkan ketegasannya.
“Aku mencintai perempuan lain, Karin”
Jleebbb... Apakah yang dia dengar saat ini benar? Apa indra pendengarannya tidak salah tangkap. Gemuruh dalam hatinya kembali mencuak, menciptakan rasa sakit yang tidak tertahankan. Wajah tegas yang dimilikinya tadi, perlahan berubah. Rasa sakit yang dia miliki terlihat jelas dari ekspresinya dan airmatanya yang tumpah beruntun.
“Ke-kenapa? Kenapa bisa kamu mencintai wanita lain, dan sejak kapan kamu menghadirkan orang ketiga dalam hubungan kita?? Pernikahan kita baru berjalan empat bulan dan kamu sudah bisa mencintai perempuan lain???”
“Bukan, dia bukan orang ketiga. Dia adalah penghuni hatiku, dari sebelum aku memutuskan untuk menikah sama kamu”
Rasa sakit yang sama kembali menghantam Karin. Bagaimana bisa, suami yang sempurna dimatanya itu ternyata memberikan fakta yang sangat menyakitkan baginya.
“La-lalu.. Lalu kenapa kamu nikah sama aku kalau kamu mencintai oranglain? Kenapa kamu ngebuat aku jadi orang ketiga dalam hubungan kalian??” Tanya Karin beruntun sambil terisak.
“Maafkan aku Karin, maafkan aku karena menjadikanmu orang yang terluka dalam hubungan ini. Aku benar-benar gak berpikiran akan seperti ini. Aku begitu yakin saat melamarmu, tapi...”
Faiq terdiam sejenak. Ia sedikit sulit melanjutkan ucapannya tatkala isak tangis Karin semakin jelas terdengar di telinganya.
“Aku benar-benar yakin saat melamarmu, bahwa kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia. Tapi ternyata aku...”
Faiq kembali terdiam, dan Karin masih memandangi, menunggu Faiq melanjutkan kata-katanya dengan airmata yang semakin deras mengalir.
“Rasa nyaman yang aku rasa saat sama kamu beberapa waktu yang lalu, membuat aku berpikiran kalau kamu bisa ngebuat aku melupakan orang di masa laluku. Aku begitu yakin untuk menjadikanmu istriku, dan siap memulai semuanya sama kamu, tapi..”
“Apa aku hanya pelampiasan??” tanya Karin dengan suara yang bergetar.
Faiq tidak bisa menjawab dengan cepat pertanyaan Karin. Jika dipikirkan, Karin benar adalah pelampiasan. Faiq yang berpikir impulsif akibat rasa nyaman yang dia rasakan, secara cepat mengambil keputusan melamar Karin, dengan pikiran bahwa karin adalah wanita yang dikirim untuknya agar bisa melupakan Sasa. Sayangnya, perasaan yang dia miliki pada Sasa terlalu kuat, sehingga membuat keberadaan Karin yang sekarang berstatuskan sebagai istrinya, tidak bisa menyingkirkan Sasa dari hati Faiq.
Karin memalingkan wajahnya, airmatanya semakin deras meski ia berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah tepat di depan suaminya.
“Jadi selama ini, kamu tidak menggauliku, tidak mau aku sentuh dan tidak mau aku menyiapkan perlengkapanmu, itu karena kamu berharap perempuan itu yang akan melakukannya untuk kamu??”
Faiq mengangguk pelan, mengiyakan apa yang Karin katakan.
“Aku bersedia menjadi istrimu, bersedia keluar dari nyamannya keluargaku hanya untuk kamu. Dan apa yang kamu lakukan sama aku sekarang??? Kamu tega..”
Faiq tidak bisa membantah apa yang Karin katakan. Ia sendiri perlahan mulai mengutuk dirinya sendiri setelah menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah hal yang sangat tidak benar.
“Kita tidak bisa melanjutkan ini. Kita selesaikan saja”
Dengan suara bergetar dan tangis yang ditahannya meski sudah tumpah sedari tadi, Karin mengajukan keinginannya untuk mengakhiri rumah tangganya. Meski sangat sakit, namun Karin tidak lagi bisa bertahan, kenyataan yang Faiq berikan padanya hari ini, terlalu sakit untuk dilanjutkan.
“Ya, kurasa itu adalah pilihan terbaik untuk kita..”
Rasa sakit semakin menjadi-jadi saja tatkala ia mendengar persetujuan Faiq. meski ia menginginkan pisah, namun di hati kecilnya, ia masih berharap Faiq berubah pikiran dan siap mengubah dirinya sehingga mereka bisa mempertahankan pernikahan yang usianya masih sangat muda. Namun persetujuan Faiq akan permintaannya untuk berpisah, semakin membuat Karin sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan rumah tangganya.
Karin menyeka airmatanya, mengangkat kepalanya dan dengan tegas menatap Faiq.
“Aku akan menggugat cerai besok”
Kalimat terakhir yang Karin ucapkan sebelumnya melangkahkan kakinya keluar dari kamar, meninggalkan Faiq yang masih mematung ditempatnya.
Meski persendiannya serasa lemas setelah apa yang baru saja ia putuskan, namun Karin menguatkan dirinya berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Tubuh itu ia hempaskan diatas tempat tidur, dan mulai menangis meraung-raung meratapi apa yang telah terjadi pada rumah tangganya. Semua rasa sakit ia lampiaskan dengan menangis sejadi-jadinya. ia bersembunyi dibalik bantal, menutupi suara tangisnya yang pecah dan tidak bisa ditahannya lagi.
Karin masih tidak menyangka, hubungan rumah tangganya akan berakhir seperti ini. Saat kecil, ia selalu memimpikan dirinya menjadi putri cantik dengan pangeran yang sangat mencintainya, persis dengan cerita dongeng yang sering di lantunkan Ibunya, saat ingin menidurkannya. Namun dunia yang kejam ini, telah meruntuhkan mimpi yang dia miliki, merusak kehidupannya dengan menghadirkan pangeran yang buruk kedalam hidupnya.
Laki-laki yang pernah membuatnya merasa sangat beruntung sebagai wanita, ternyata telah mengubah hidupnya menjadi wanita yang sangat menyedihkan.
Selain mengutuk Faiq dalam hatinya, ia juga mengutuk dirinya sendiri yang telah salah menilai dan hanya memikirkan rasa bahagianya yang telah dipilih oleh laki-laki yang banyak dikagumi wanita. Faktanya, itu bukanlah hal yang bisa membuatnya bahagia.
.
.
.
.
Malam gelap yang kelam bagi keduanya telah berlalu. Dan seperti yang dikatakan Karin, hari ini dia menggugat cerai suaminya.
Jelas saja ini adalah berita yang sangat mengejutkan bagi kedua keluarga, semuanya bertanya akan apa yang terjadi pada mereka dan mereka sama memilih untuk tetap diam dan membungkam mulut. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan akan keputusan dan penyebab keduanya memilih mengakhiri pernikahan mereka, sama sekali tidak mendapat jawaban dari Karin, maupun Faiq. mereka benar-benar memilih diam dari tiap-tiap pertanyaan itu.
Tidak ada yang tahu alasan perceraian mereka kecuali mereka berdua. Semua orang bertanya-tanya perihal itu, namun semua pertanyaan itu hanya lewat tanpa mendapatkan jawaban.
Setelah mengurus segala hal dan mendatangi persidangan, mereka akhirnya resmi bercerai, dan memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain. Luka yang Karin dapatkan masih sangat terasa, membuatnya tidak pernah melihat kearah Faiq, bahkan saat mereka duduk bersampingan di persidangan.
“Semoga kedepannya kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Maafkan aku” kata Faiq sebagai ungkapan terakhir sekaligus ucapan selamat tinggal pada wanita yang kini sudah menjadi mantan istrinya.
Tidak ada balasan dari Karin, dia memilih diam dan tidak menggubris perkataan Faiq. jelas rasa benci kini bersemayam di hatinya untuk Faiq, namun ia tidak ingin memperparah perasaan benci itu dengan mengubahnya menjadi dendam. Bagi Karin, ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang akan ia kubur dalam-dalam sebelum kembali memulai kehidupannya, dengan harapan kelak ia bisa menjadi putri cantik untuk seorang pangeran, seperti yang dia impi-impikan saat ini.
Setelah resmi bercerai, Karin menenangkan diri sejenak dan kemudian memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan Ayahnya. Dia sangat fokus dan hanya memikirkan pekerjaan, agar bisa mengubur lebih cepat dan lebih dalam luka yang pernah dia dapatkan.
Karin tidak lagi ingin ada hubungan apa-apa dengan Faiq, meski mereka masih berada pada kota yang sama, namun Karin berusaha menghindari pertemuan dengann Faiq. Ia hanya fokus pada pekerjaan, dan tidak keluar jika bukan hal yang mendesak. Hanya kantor dan rumah tempatnya bernaung, juga sesekali beberapa tempat yang dia reservasi jika ingin bertemu dengan klien dan beberapa tempat yang dia kunjungi hanya karena pekerjaan. Bagi Karin, tidak berkeliaran adalah cara efektif untuk menghindari pertemuan tak disengaja dengan Faiq. Hingga beberapa waktu berlalu, Karin mendengar kabar bahwa Faiq tidak lagi berada di kota yang sama dengannya, dan perlahan Karin mulai melangkahkan kakinya keluar, menikmati kehidupan luar tanpa takut bertemu dengan Faiq.
Luka yang dia miliki perlahan sembuh. Kesibukan yang dia miliki selama ini memberikan hasil. Dia tidak lagi terkurung dalam rasa sakit yang dia dapatkan dari mantan suaminya, Karin sudah kembali seperti semula, meski rasa was-was akan bertemu dengan Faiq masih sesekali menghantuinya.
Karin yang begitu telaten dalam pekerjaannya, melebarkan sayapnya hingga akhirnya mengambil alih perusahaan Ayahnya dan menjalankannya dengan baik. Dunia perkantoran yang ia geluti berhasil membawanya kembali setelah pernah jatuh terperosot kedalam jurang luka. Ia kini tampil menjadi wanita karir yang cantik dan elegan. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan baik dan handle dengan maksimal, hingga perusahaan berkembang pesat dan menerima banyak tawaran kerja sama dari perusahaan-perusahaan lain.
Setelah berada di puncak karir, Karin tidak lagi bisa untuk mengurus semuanya sendiri. Sekretaris dan beberapa orang kepercayaannya kini turut ikut campur tangan dalam mengembangkan perusahaan. Meski begitu apapun yang harus dilakukan dalam perusahaan tetap harus melalui persetujuannya. Hingga suatu hari, ia mendapati permintaan kerja sama dalam suatu proyek dari perusahaan yang membuatnya tertarik ketika ia tahu, bahwa direktur perusahaan itu adalah orang yang dia kenal di masa lalu, yang kembali bisa membangkitkan perasaannya. Ya, perusahaan dimana Fauzi adalah direktur penanggung jawabnya.
.
.
.
**Cerita Flashback : Story of Faiq & Karin SELESAI
*Taqaballahu minna waminkum..
selamat hari Raya Idhul Fitri..
Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin 😊😊
Semoga kita di panjangkan umur sehingga bisa bertemu di Ramadan yang akan datang..
Aamiin***..
__ADS_1