
Ara mengerjapkan mata kecilnya, mencoba memastikan perempuan yang berdiri disana. Apa yang ditangkap pandangannya saat ini tentang wanita itu, tidaklah asing. Perempuan itu bukan oranglain, dia orang yang cukup dikenal baik oleh Ara.
Ara melangkah pelan, dia harus memastikan indra penglihatannya dengan lebih jelas pada jarak yang lebih dekat.
“Alesha??” Tanya Ara memperjelas wanita yang tengah asyik memperbaiki penampilannya dari cermin kecil yang di pegangnya.
Wanita yang diketahui bernama Alesha itu, terkejut mendapat sapaan dari Ara. Jelas sekali terlihat bagaimana dia gugup dan sedikit salah tingkah, meski ia tetap memperlihatkan senyum canggungnya.
“Kamu ngapain disini? Didepan apartemen Revano?”
Alesha tidak serta menjawab, ia dengan cepat mengalihkan pandangannya dari kuncian tatapan mata Ara yang sudah dilayangkan untuknya sedari tadi.
Ara berusaha menekan pikiran-pikiran yang muncul di benaknya. Sejenak ia mulai berpikir sesuatu yang tidak-tidak mengenai perempuan yang dia kenal lima tahun silam saat ia sama-sama menempuh pendidikan di Universitas dan Fakultas yang sama.
“I-itu.. A-aku..”
Ara tidak mendengar hingga selesai jawaban dari Alesha yang terbata-bata. Dia dengan cepat menekan bel apartemen Revano, biarlah nanti Alesha, wanita yang dia anggap teman itu menjelaskan apa maksud kedatangannya malam ini ke apartemenn milik kekasihnya.
Bel sebelumnya yang tidak mendapat respon, membuat Ara kembali menekan bel yang kedua kalinya.
“Kamu sudah datang Alesha..” Revano yang muncul dari balik pintu memperlihatkan senyum yang begitu semangat. Seolah sedang menyambut dengan riang kedatangan seseorang yang sudah ditunggu-tunggunya.
Ekspresi senang dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar yang sebelumnya Revano perlihatkan, seketika berubah dan memiliki ekspresi yang sejurus dengan Ara, yang begitu terkejut.
Apa ini? Kenapa bukan namaku yang dia sebut? Apa dia sedang menunggu kedatangan Alesha? Bukan aku?.
Pertanyaan bertubi-tubi mulai berburu meminta jawaban dengan tidak sabaran. Pertanyaan yang hanya bisa Ara ajukan dalam hati dan tidak bisa keluar dalam perkataannya akibat rasa terkejut yang dia dapatkan saat ini.
“A-Ara??” Tanya Revano memastikan perempuan yang saat ini berdiri di depannya. Revano mengalihkan pandangannya, dan mendapati Alesha, wanita yang sebenarnya dia tunggu saat ini.
“Ka-kamu disini?”
Dengan usaha yang sangat keras, Ara mencoba tidak berburuk sangka pada Alesha, juga Revano sang kekasih. Namun melihat respon Revano saat ini, jelas sekali bahwa ia bisa membenarkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Kenapa?” Tanya Ara dengan tatapan tajam yang dia arahkan pada Revano. “Kenapa kalau aku ada disini? Bukannya aku memang sering datang tanpa ngabarin kamu dulu? Atau sekarang aku harus ngelapor dulu sama kamu sebelum datang kesini? Biar kamu gak ketahuan kalau lagi nungguin tamu lain” Tanya Ara berturut-turut dengan lirikan mata yang dia tujukan pada Alesha.
“Alesha, kamu ada perlu apa kamu kesini?” Ara menatap lekat ke arah Alesha.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan dari Ara, Alesha tidak memberi jawaban dan hanya mengarahkan pandangannya pada Revano, seolah meminta Revano untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya.
“Di-dia.. Dia kesini karena a-aku..”
“Aku tanya sama Alesha, Revano. Bukan sama kamu” Suara Ara mulai meninggi, emosi yang sedari tadi ditahannya mulai sampai pada batasnya. Sekiranya tidak membutuhkan waktu yang lama lagi untuk meledak. Mata bulat miliknya mulai berkaca-kaca. Pemandangan yang di sajikan untuknya malam ini, menyimpan sakit yang tidak bisa dia jabarkan.
“Apa kamu harus marah?” Alesha mulai angkat bicara, dengan ekspresi datar ia melayangkan pertanyaan yang jelas sudah dia tahu jawabannya.
“Apa aku harus marah, katamu? Kalau kamu ada di posisiku dan mendapati pacarmu sedang menunggu perempuan lain, bagaimana perasaanmu?”
“Bagaimana perasaanku? Tentunya aku intropeksi diri” Jawab Alesha santai.
Sejenak Ara tidak mengenali wanita yang berdiri di depannya saat ini. Alesha yang dulu, ah bukan, Alesha yang dia temui kurang dari sepuluh menit yang lalu tidak akan memberikan jawaban seperti ini.
“Kamu yang terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, kamu yang tidak menyisihkan waktu untuk Revano, dan..”
“Apa urusannya denganmu?” Potong Ara.
Alesha tertawa kecil, memperlihatkan respon yang meski tidak secara langsung, ia tengah memberi hinaan pada Ara saat ini. Hal yang demikian membuat Ara terkejut. Alesha yang dulu dikenalnya tidaklah seperti ini, ekspresi yang Alesha perlihatkan saat ini juga sangat berbeda dengan apa yang Ara kenal selama ini.
“Revano, apa gak sekarang saja kamu mewujudkan niatmu itu?” Tanya Alesha yang mengubah nada bicaranya menjadi lembut dan menyisipkan suara yang terdengar lebih imut. “Katamu, kamu gak mau ngebuat aku nunggu lebih lama”
Revano hanya terdiam.
“Kamu kok diam aja, jadi kamu gak serius sama aku?” Revano yang tidak memberikan respon sesuai keinginannya, membuat Alesha kembali bertanya pada Revano dengan sedikit desakan.
Laki-laki dengan tubuh tinggi itu menghela nafas sejenak, kemudian mengarahkan pandangannya pada Ara yang sudah sedari tadi memberinya tatapan tajam dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ara.. Aku rasa, kita cukup sampai disini saja”
Ara menyunggingkan bibir atasnya, mengalihkan pandangannya dari Revano dengan airmata yang sedari tadi dibendungnya kini mulai menetes.
“Kenapa? Apa karena dia?” Ara kembali mengarahkan pandangannya pada Revano setelah menyeka airmatanya. “Apa karena dia lebih cantik? Lebih sexy? Atau karena dia yang lebih mudah didapatkan?”
“Hey, jaga bicaramu” Potong Alesha, yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ara.
“Apa aku salah? Lalu sebutan apa yang benar untuk perempuan yang siap menjadi pasangan dari orang yang sudah memiliki pasangan? Aku hanya gak mau menyebut kata kotor untuk mendeskripsikan dirimu yang sekarang, Alesha”
__ADS_1
Jelas sekali, wajah geram yang Alesha perlihatkan, apa yang baru saja Ara katakan, sangat merendahkan harga dirinya.
Alesha mengarahkan pandangannya pada Revano, seolah meminta pertolongan dan pembelaan dari laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya
“Ara, apa kamu gak keterlaluan ngomong kayak gitu ke Alesha? Dia kan temanmu..”
“Teman??” Ara tertawa kecil. “Aku tidak tahu, kalau seorang teman bisa mengambil milik temannya sendiri”
“Bicaramu benar-benar keterlaluan Ara, kayaknya emang sudah seharusnya aku putus dari kamu, mulai sekarang..”
“Tunggu!” Potong Ara. “Kamu gak ada hak untuk mutusin aku, karena kamu yang ngemis-ngemis buat jadian sama aku dulu” Tatapan tajam Ara kembali ia arahkan pada Revano. “Revano, kita putus!!!”
Meski Revano tahu, hal seperti itu akan keluar dari mulut Ara, namun tetap saja ia merasa terkejut mendengarnya, ditambahkan lagi dengan penekanan nada yang tegas dari Ara.
“Karena kamu sudah putus, jadi jangan menyesal apalagi kembali merengek-rengek meminta Revano balik sama kamu. Revano sekarang milikku” Alesha memperjelas dengan menegaskan hubungan yang dimiliki Revano dengannya sekarang.
“Tentu saja. Meskipun kamu sudah mengambil apa yang menjadi milikku, tapi aku tidak akan tertarik mengambil apa yang menjadi milikmu, meskipun itu adalah milikku sebelumnya. Aku tidak tertarik mengambil bekasmu, karena aku bukan kamu” Tegas Ara.
“Kamu!!!” Alesha menghentikan makian yang akan dia lontarkan, dan berbalik bergelut manja pada Revano. “Sayang lihat, dia menganggap kamu seperti barang bekas dan aku...”
“Cukup..” Potong Ara. “Rengekanmu menjijikkan” Ara mengalihkan pandangannya dan menatap Revano. “Aku akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu, yang pastinya tidak berjenis laki-laki yang menelan ludahnya sendiri”
Ara melangkahkan kakinya, meninggalkan mantan kekasihnya yang kini sudah menjadi milik temannya sendiri. Tentu saja, dia sangat ingin memaki-maki dan juga memukuli laki-laki itu hingga babak belur, namun Ara mempertahankan eksistensinya dengan menahan semua amarah dan gejolak dalam hatinya. Dia harus terlihat tegar dan kuat, agar tidak terlihat menjadi wanita yang mengemis cinta pada Revano, meski hatinya menangis meraung-raung melepaskan laki-laki yang sangat dicintainya.
“Aku akan membuatmu menyesal karena sudah melakukan ini sama aku, Revano”
.
.
.
.
Berselang satu minggu, setelah Ara berusaha mati-matian melupakan Revano, sang kekasih yang telah selingkuh di belakangnya.
Ara berdiri cantik, dengan balutan gaun yang menambah keanggungannya. Ia tersenyum ramah setiap kali berpapasan mata dengan tamu-tamu yang ada di pesta itu. Sebuah pesta besar yang dibuat oleh pemilik hotel terkenal.
Tangan Ara melingkar cantik di lengan laki-laki berpostur tubuh tinggi disampingnya, mereka terlihat begitu serasi.
Sedang, sepasang kekasih disampingnya tengah memasang wajah tak karuan.
Ya, Revano tidak tahu apa yang terjadi seminggu ini. Yang dia tahu sekarang, ia bertemu dengan Ara sang mantan, di sebuah pesta besar dengan Ara yang sudah memiliki lelaki hebat di sampingnya.
seminggu bukanlah waktu yang lama, lalu darimana Ara bisa mengenal laki-laki hebat yang disampingnya itu? Terlebih lagi mereka terlihat sangat romantis.
Gemuruh mulai menyambut perasaan Revano, ada penyesalan yang mulai mendatanginya, melihat Ara yang kini berada dalam gandengan laki-laki lain, yang dia tahu bahwa laki-laki itu jauh lebih hebat darinya.
☆☆☆☆☆☆
Nah, kalian penasaran juga kan sama laki-laki yang di gandeng Ara, dan apa yang sebenarnya terjadi setelah Ara putus dari Revano.
Mampir di karya baru Lina ya 😁
Love maze di @****** atau @Innovel
__ADS_1
Makasih 😊💜💜