
Ada perasaan bahagia dan ada perasaan lega setelah aku mengetahui kebenarannya. Dinding pembatas yang selama ini aku buat untuk melindungi diri dari perasaan sendiri terhadap Fauzi perlaha runtuh. Dia Fauzi, pria yang sangat kucintai sekarang belum menjadi milik oranglain.
Hari setelah kami makan bersama kami menjadi lebih akrab lagi, hanya saja keakraban kami sekarang tidak lagi seperti yang dulu, tetap ada rasa canggung. Sesekali aku menjadi lebih egois dengan berharap Fauzi bisa kembali seperti Fauzi yang dulu meski aku sadar itu tidak mungkin karena luka yang pernah aku berikan pada Fauzi tidak akan hilang begitu saja. Sebaik dan sekuat apapun Fauzi pada perasaannya, fakta bahwa aku pernah menyakitinya tidak akan hilang dari ingatannya begitu saja.
Meskipun kami mulai akrab, tapi Fauzi tidak menghubungiku sesering yang aku harapkan, aku sering-sering mengecek ponselku berharap ada panggilan masuk atau setidaknyaada pesan singkat yang kudapat dari Fauzi, tapi sesering apapun aku mengeceknya, tetap saja ponselku tetap sepi notif dari Fauzi. Yah mungkin aku saja yang terlalu berharap lebih pada Fauzi, mungkin aku salah mengartikan lagi perhatian Fauzi sejenak saat acara pesta pernikahan Farhan dan Nina.
Aku kembali berusaha menyadarkan diriku sendiri. Fauzi belum punya wanita pendamping bukan berarti Fauzi akan memilihku, mungkin saja saat inipun dia sedang dekat dengan wanita lain. Mungkin saja akhir-akhir ini kebaikan yang Fauzi berikan hanya untuk menjalin silaturahmi sebagai seorang teman, tidak lebih.
.
.
Hari ini aku mendapat hari libur karena sempat bergantian shift dengan teman kerja yang lainnya. Semenjak hubunganku mulai membaik dengan Fauzi, aku tidak perlu lagi bekerja secara berlebihan untuk menjadikan pekerjaan sebagai pengalihan perhatianku dari Fauzi. Sekarang aku bekerja sebagaimana seharusnya, seperti yang dikatakan Ibu, menjaga kesehatanku itu sangat penting.
Sedari pagi aku hanya berbaring-baring tidak karuan, bermain ponsel dan menonton beberapa video comeback stage idolaku. Ah entahlah, di usiaku yang tidak lagi muda ini aku masih saja tetap menyandang status sebagai fangirl, mungkin karena beberapa lirik lagu dari idolaku sangat membantuku dalam menjalani keseharianku.
Aku melirik jam dinding yang terpajang di dinding kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan aku belum pernah meninggalkan tempat tidurku kecuali saat ke kamar mandi tadi. Biar saja, aku harus menikmati hari liburku dengan baik.
"You've shown me i have reasons i should love myself oohhhh...πΆπΆπ΅π΅" Aku asyik bergumam sendiri bernyanyi bersama musik mengikuti lirik lagu idolaku, lirik lagu yang mengajarkan dimana fakta yang ada mencintai diri sendiri lebih sulit daripada mencintai oranglain, dimana kita harus memaafkan diri kita yang seperti itu dan mulai belajar mencintai diri sendiri, bukankah kita tidak perlu mendapat izin dari oranglain untuk mencintai diri sendiri? mencintai dirimu sendiri itu gratis dan itu akan membantumu menjadi pribadi yang lebih percaya diri. yah intinya jangan membanding-bandingkan dirimu dengan oranglain karena setiap orang punya keindahan pada dirinya sendiri yang oranglain tidak bisa memilikinya juga punya sisi buruknya sendiri yang dia sembunyikan.
Aku yang dengan asyiknya bernyanyi meski sesekali liriknya menjadi salah ketika mendapati lirik dalam bahasa korea akhirnya terganggu karena panggilan masuk yang membuat laguku harus terhenti dan berubah menjadi nada deringku. Aku yang berbaring-baring santai dengan cepat beranjak setelah melihat panggilan masuk itu dari Fauzi.
"Ha haloo.." Ya tidak bisa kupungkiri sesekali jantungku masih dag dig dug saat mengangkat telfon Fauzi.
"Sa Salwa.. Maaf kalau aku menganggumu.." Kata Fauzi terdengar terengah-engah.
"Kamu kenapa?" Tanyaku mulai khawatir mendengar suaranya yang tidak seperti biasanya.
"Hufft aku ti tidak apa-apa.. Salwa, apa ada Apotek yang kamu tahu yang memberi pelayanan home care atau setidaknya yang bisa mengantarkan obat ke rumah? A aku udah menghubungi pengantaran online tapi dia gak ngerti disuruh beli obat kalau cuman nyuruh sebutin keluhanku.."
"Kakak kenapa? Kakak sakit??"
"Kepalaku pusing sekali, kakiku dingin dan suhu tubuhku panas sekali, aku gak kuat buat keluar ke rumah sakit"
__ADS_1
"Ibu kemana?"
"Lagi keluar kerumah keluarga, aku gak bisa ngehubungi Ibu sekarang karena dia akan khawatir dan bisa membuat orang disana khawatir juga.."
"Jadi kakak sendiri dirumah?"
"Iya, aku udah nelfon Annisa tapi telfonku gak dijawab.." Fauzi semakin terdengar tidak bisa mengatur nafasnya. "A atau, Salwa apa yang bisa aku lakuin sekarang buat penanganan pertama agar perasaanku bisa sedikit membaik??"
"Kaki kakak yang mulai dingin itu menandakan suhu tubuh kakak akan semakin meningkat, kakak bisa mengompres menggunakan air hangat, tidak harus di dahi lebih baik kalau disekitar leher atau ketiak, bungkus kaki kakak yang dingin dan jangan make baju yang tebal.."
"Ah iya terimakasih Salwa.."
"Kalau sekiranya kakak udah agak mendingan segera ke klinik atau rumah sakit terdekat.."
"Iya Salwa.. Makasih, aku matiin dulu telfonnya.." Suara Fauzi terdengar semakin melemah.
Belum sempat aku menjawab telfon Fauzi sudah terputus.
Sudah sekitar satu jam yang lalu setelah Fauzi menelfonku, aku semakin khawatir jadi kuputuskan untuk menelfonnya kembali.
Berkali-kali aku menelfon Fauzi tapi tidak ada jawaban, lagi dan terus aku berusaha menghubunginya tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Fauzi. Aku semakin khawatir. "Apa dia baik-baik saja?" Gumamku. Aku terus mengiriminya pesan namun tidak ada balasan. Aku sudah tidak tahan lagi, aku mengambil sweeater dan tasku lalu bergegas menuju rumah Fauzi. Dia tidak mungkin tidak menjawab puluhan panggilanku kalau dia baik-baik saja.
.
.
Berkali-kali aku menekan bel rumahnya tapi tidak jawaban dari dalam. Aku mengingat ada klinik di samping rumah Fauzi dulu, mungkin Fauzi sudah ada disina. Tapi melihat kaca depan klinik yang sangat berdebu menandakan bahwa klinik itu sudah tidak lagi aktif, lalu dimana Fauzi sekarang??
"Fauzi... Kamu di dalam???" Panggilku dengan sedikit berteriak.
Aku kembali menekan bel rumahnya dan berusaha menelfonnya sekali lagi tapi tidak ada jawaban
"Fauzi kamu dimana??" Gumamku khawatir.
__ADS_1
Aku mengetuk pintu rumahnya tapi tetap tidak ada jawaban. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa, Annisa yang juga tidak menjawab telfonnya sedang aku tidak mungkin menghubungi Farhan dan Annisa karena mereka sedang honeymoon sekarang dan sedang diluar kota. Aku juga sudah tidak memiliki nomor orangtua Fauzi lagi semenjak aku mengganti ponsel baru.
Aku kembali menekan bel dan mengetuk pintu rumah Fauzi, tapi lagi tidak jawaban yang ku dapatkan. Aku mencoba memutar engsel pintunya dan...
"Ah tidak terkunci..." Seruku.
Aku melangkah masuk, aku tau ini tindakan tidak sopan masuk kedalam rumah seseorang tanpa izin, tapi sekarang keadaannya sedang genting. Ah Fauzi, Ibu dan Ayah, maaf karena aku masuk rumah kalian tanpa izin.
"Fauzi.. Kamu didalam??" Panggilku.
Aku terus berjalan masuk dan....
"Astaga Fauzi kamu kenaapaa??????"
Aku berlari menghampirinya.
.
.
.
.
Hay hay makasih masih stay buat ngebaca kisah Salwa π
.
.
Uwwuuu terharunya.. 2 hari gak buka, pas buka ratingnya sudah bintang 4..
Terimakasih kalian π€π€πππ
__ADS_1