Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Semoga baik-baik saja..


__ADS_3

Hari ini terasa panjang sekali. Sangat banyak kejadian-kejadian yang bahkan otakku belum bisa mencernanya dengan baik, dari kemarin hingga hari ini rasanya melelahkan sekali. Banyak sekali drama yang terjadi dalam hidupku dalam dua hari ini, andaikan ini dibuat film singkat mungkin saja ratingnya akan tinggi.


Fauzi mengantarku pulang selepas makan malam bersama dirumahnya tadi. Awalnya Ibunya melarangku pulang dan memintaku menginap saja disana mengingat Ibu dan Ayahku sedang tidak dirumah. Tapi aku merasa sungkan menginap disana apalagi Ibunya menawarkan untuk tidur bersamanya.


"Ibu juga kepengen rasain punya anak perempuan, jadi sesekali Salwa nginap disini aja biar bisa tidur sama ibu, kan kita bisa ngobrol-ngobrol apa dulu gitu sebelum tidur." Katanya tadi.


Tapi pada akhirnya ia mengizinkanku pulang setelah banyak alasan yang kuberikan. Ya kan aku belum mandi, terus tidur sama calon mama mertua, hikss apa katanya nanti ketika ia menemukan kejanggalan-kejanggalan saat aku tidur, mendengkur misalnya. Ya meskipun aku sangat yakin aku tidak mendengkur saat tidur tapi siapa tau saja dunia sedang ingin bercanda denganku dengan tiba-tiba membuatku mendengkur saat tidur. Bisa-bisa aku kehilangan restu mama mertua.


Aku menghempaskan tubuhku ketempat tidur. "Lelah sekali.." Gumamku sambil meregangkan otot-otot ditanganku. Kupandangi langit-langit kamarku dengan pandangan kosong, sejenak pikiranku berkelana entah kemana sampai akhirnya aku teringat ponselku yang kuabaikan beberapa jam sampai saat ini.


Kuraih ponselku yang sedari tadi senyap sepi seperti kuburan tanpa notif.


"Aah.. ternyata mati.." Keluhku. Ya wajar saja ponselku Low saat ini, sedari kemarin belum pernah di charger.


Ya tolong mengerti saja lah ponselku, pemilikmu ini sedang galau tak karu-karuan kemarin sampai lupa memberimu makan


Aku terbangun, meraih charger diatas meja dan mengisi daya ponselku lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah tidak karu-karuan ini.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 22:17 WITA. Aku hampir saja tertidur dan lupa melepas charger ponselku..


Aku berjalan dengan malas untuk melepas charger ponselku, lalu kuaktifkan.


Ada beberapa pesan masuk, dari Ibu dan Ayah juga Farhan.


"Kamu baik-baik aja dirumah sayang? Kalau ada apa-apa hubungi Ibu segera ya Nak.." Pesan dari Ibu, dan kubalas bahwa aku baik-baik saja agar ia tidak khawatir, aku juga tidak mungkin menceritakan hal-hal apa saja yang telah terjadi padaku dua hari ini.


Pesan Ayah sama saja, menanyakan kabarku dan, hehe Ayah memang tidak pernah lupa untuk bertanya tentang sisa persediaan uang saku ku.. Hohoho meskipun masih ada sisa yang diberikan sama Ibu, aku tetap meminta lagi sama Ayah. Dasar aku anak nakal..


Lalu ada beberapa pesan dari Farhan.


"Siang.. kamu sudah makan?"


"Hey.. pesanku kok gak dibalas.."


"Kamu lagi Istirahat?"


"Nomor kamu kok gak aktif.."

__ADS_1


"Salwa, jangan buat khawatir.."


"Sayang kamu dimana? Aku kerumahmu tapi kamu gak ada.."


"Balas pesanku segera kalau kamu udah baca, aku khawatir.."


Pesan Farhan berderet di kotak masukku.


"Oh, Jadi dia tadi kerumah nyariin aku?" gumamku..


Eh? Tunggu.. Ini? Ini Farhan kan? Dan dia manggil aku sayang??? SAYANG??


Uhukkk.. Aku sampai terbatuk-batuk sendiri menyadarinya. Awalnya aku biasa saja membacanya, aku terbiasa di chat Fauzi dengan panggilan sayang sehingga saat membaca pesan Farhan dengan kata sayang pikiranku secara impulsif mengarahkan kalau itu adalah Fauzi.


Ah, rasanya canggung sekali mendapat pesan seperti ini dari Farhan. Seharusnya sih tidak terlalu canggung mengingat saat ini Farhan menganggapku sebagai kekasihnya. Meskipun begitu aku belum terbiasa dengan panggilan seperti itu dari Farhan. Fauzi saat awal-awalpun tidak serta merta memanggilku seperti itu, Fauzi lebih sering memanggilku adik hingga lama kelamaan tanpa disadari Fauzi mulai memanggilku sayang dan akhirnya terbiasa sampai sekarang.


Aku jadi merasa bersalah, hal ini harus kujelaskan atau kudiamkan saja. Ini sama halnya aku sedang berselingkuh, Fauzi maupun Farhan sama-sama menganggapku sebagai kekasihnya dan keduanya tidak saling menahu antar hubunganku dengan yang lain. Fauzi tidak tau tentang apa yang terjadi denganku dan Farhan, juga Farhan yang sudah menganggap seolah aku berakhir dengan Fauzi. Yah, aku perempuan yang munafik, terlalu lama memikirkan kesimpulan sehingga jadinya malah berlarut-larut seperti ini.


Aku harus tegas, aku tidak boleh membiarkan Farhan terus-terusan beranggapan aku kekasihnya.aku tidak boleh membiarkannya berlarut-larut dalam kesalapahaman ini dan akan berakhir melukainya. Aku harus siap menerima konsekuensinya. Jangan sampai dikemudian hari hubungan kami menjadi buruk. Yah, jika hubunganku dengan Farhan pada akhirnya akan menjadi buruk mungkin itu bukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai masalah besar. Tapi yang jadi permasalahan besar adalah ketika hubungan antara Fauzi dan Farhan yang memburuk, mereka adalah teman baik sejak lama, jangan sampai karena aku hubungan mereka menjadi tidak baik.


Sudah kubulatkan tekadku untuk terus terang pada Farhan.


"Aku baik-baik aja.." Balasan pesanku untuk Farhan.


"Kamu dari mana aja? Kenapa telfonnya gak bisa kesambung? Kamu baik-baik aja kan? Aku khawatir sama kamu?" Tanya Farhan bertubi-tubi.


"Aku baik-baik aja.." Jawabku


"Ini kenapa udah jam sepuluh baru nomor kamu aktif?"


"Iya tadi low, lupa ngecas.."


"Lain kali jangan seperti itu, Hape itu gak boleh sampai Low begitu, kalau ada hal penting yang harus disampein ke kamu gimana? aku benar-benar khawatir Salwa.."


"Iya..." Jawabku singkat.


"Hem... Tapi kamu baik-baik aja kan?"


"Iya.."


"Syukurlah.." Katanya menghela nafas.

__ADS_1


"Kak.."


"Ya, Kenapa?"


"Ada hal yang ingin aku omongin sama kakak.."


"Tentang apa?"


"Nanti saja, besok bisa ketemu?"


"Bisa dong, besok aku jemput ya.."


"Ah gak usah.."


"Lah kenapa?"


"Nanti ketemunya disekolah aja, di jam istirahat, bisa?"


"Bisa.. Kamu mau ngomong apa sih?"


"Besok aja dibahasnya, ini udah jam 10, aku udah harus tidur biar bangunnya gak telat.."


"Kamu udah mau tidur?"


"Iya, kenapa?"


"Bisa nanti-nanti aja gak?"


"Kenapa?"


"Aku masih mau ngobrol sama kamu.."


"Besok aja, ini udah jam sepuluh.."


"Tapi..."


"Kak.. aku mau istirahat.."


"Hem.. oke deh.. Selamat tidur Salwa..."


"Iya, kakak juga selamat tidur.." Kataku memutuskan telfon.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang.. Entah apa yang terjadi besok apakah akan menjadi hari yang buruk atau melegakan ataukah mungkin tidak untuk kedua pilihan itu. Aku hanya berharap ini adalah keputusan yang tepat yang bisa aku ambil, aku harus meluruskan semuanya sebelum terlambat.


Pikiranku kembali berkeliaran entah kemana, aku hanya berharap besok semuanya akab baik-baik saja, aku terus bergumam tidak jelas menyusun kata-kata baik untuk kusampaikan pada Farhan besok sampai pada akhirnya aku kehilangan kesadaranku dan tertidur.


__ADS_2