
Sekitar satu jam yang lalu Fauzi menghubungi dan dia sedang tidak enak badan, aku cukup khawatir mengingat Fauzi sedang sendiri sekarang. Berkali-kali aku mencoba menghubungi Fauzi tapi tidak ada jawaban, pesan singkat yang kukirimkan juga sampai sekarang belum ada balasan.
Aku sudah tidak tahan lagi, Fauzi tidak mungkin tidak mengangkat telfonku jika dia baik-baik saja. Aku menyusulnya kerumahnya dan itu belum juga meredakan kekhawatiranku karena berkali-kali aku menekan bel, mengetuk pintu bahkan memanggilnya tapi tidak ada sahutan dari dalam sampai akhirnya aku memberanikan diri memutar engsel pintunya yang ternyata tidak terkunci.
"Fauzi kamu didalam??" Seruku berjalan masuk. Aku tahu, masuk tanpa izin dirumah oranglain adalah perbuatan yang tidak baik, tapi aku tidak ada maksud lain selain untuk memastikan kondisi Fauzi saja.
Aku berjalan pelan, melangkah masuk dengan berusaha mencari Fauzi dan....
"Astaga Fauzi kamu kenapa???" Seruku berlari menghampiri Fauzi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku belum tiba, yang kutemui sekarang adalah Fauzi yang tergeletak di dekat dapur.
"Fauzi.. Kamu dengar aku?? Ozi bangunn.." Kataku sambil berusaha menyadarkan Fauzi dengan menggoyangkan tubuhnya dan menepuk-nepuk pipinya perlahan.
Suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi meski masih belum mencapai suhu tubuh normal orang sehat.
"Ozi.. banguunnn.. Oziii..." Tanpa sadar aku meneteskan airmataku, aku memeluk Fauzi erat. Karena panik aku sampai tidak tahu harus berbuat apa, hanya berussaha menyadarkan Fauzi.
Andaikan aku datang lebih awal.. Ah tidak, andaikan aku langsung datang menemaninya saat tahu dia sedang tidak sehat dan sendiri dirumah ini pasti tidak akan terjadi, aku sangat menyesal.
"Oziiii bangguunnnn..." Panggilku terus memeluknya dengan erat.
Ini semua salahku karena tidak langsung datang melihatnya tadi.
"Sa.. Salwaaa... A aakuu ga gak bisa nafasss..."
"Fauziii...." Aku sedikit terkejut.
Aku melepas pelukanku, airmataku menetes dan jatuh di pipi Fauzi.
"Ka kamu gak papa...??"
"Uhuukk uhuukkkk.. "Fauzi terbatuk-batuk dan kesusahan mengambil nafas.
"Kamu kenapa? Kamu kesulitan bernafas??" Aku khawatir sekali, saat Fauzi menelfon tadi dia tidak mengatakan tentang kesulitan bernafas, yang dia sebutkan hanya ciri-ciri kalau dia sedang mengalami demam.
Aku memegang lehernya memastikan tidak ada ruam disana, lalu memeriksa nadinya untuk mengetahui tngkat kecepatan detak jantung dan aliran darahnya.
"A aku gak papa Salwa.."
"Gak papa apanya, kamu sesak nafas Ozi.. Ayo kerumah sakit sekarangg..." Kataku sambil berusaha membantunya bangun.
"Aku sesak nafas karena kamu meluknya terlalu erat.."
"Ha?? A apa??" Tanyaku memperjelas perkataan Fauzi.
"Kamu ngecekik leherku, gimana aku gak sesak.." Kata Fauzi masih berusaha mengambil nafas dengan normal.
__ADS_1
O owww... Bingung, malu, awkard dan entah perasaan apa lagi yang aku rasakan saat ini. Ingin rasanya aku berlari pulang dan tidak menemui Fauzi lagi bahkan jika masih ada kehidupan selanjutnya. Saking khawatirnya tadi aku sampai tidak sadar memeluknya dengan erat membuatnya kesulitan bernafas dan bodohnya lagi aku mengira Fauzi sesak nafas karena suatu penyakit.
"Ma maaf.. A aku gak sengaja.." Kataku mengalihkan pandanganku dan berusaha menyeka airmataku.
Fauzi mengulurkan tangannya, tapi aku dengan cepat mengalihkan wajahku. Aku sudah cukup malu karena khawatir berlebihan, dan akan sangat memalukan lagi kalau sampai Fauzi membantuku menyeka airmata yang keluar karena kekhawatiran yang tidak berdasar ini.
"I ituu.."
"Aku gak papa kak, aku bisa menyeka airmataku sendiri.."
"Ga gak.. Bu bukan itu.. I ingusmu beleberan.."
Jleebbb.. Harus ya bilang seperti itu sama aku? Aku sudah cukup malu dan sekarang tambah malu lagi. Dimana kantong kresek?? Bisa tolong ambilkan.. Aku ingin membuang mukaku saja saking malunya..
Aku memegangi hidungku berusaha membersihkan ingus yang katanya sudah bleberan itu tapi..
"He he he aku cuma bercanda, ingusnya gak ada kok.." Kata Fauzi cengengesan. "Lucu saja ngeliat kamu yang khawatir sekali.." Katanya tertawa kecil.
Malu, kesal dan marah menjadi satu. Hilang sudah rasa kekhawatiranku yang hanya terlihat lelucon dimata laki-laki ini.
"Kakak sepertinya sudah sehat, kalau gitu aku balik dulu.." Kataku dengan kesal.
"Tunggu.."Kata Fauzi menahanku. Aku merasakan suhu panas pada telapak tangannya yang memegang pergelangan tanganku karena menahanku pergi. Aku dengan cepat memeriksa dahinya kembali dan benar saja suhu tubuhnya semakin meningkat.
"Kakak panas lagi..??"
"Ah iya?" Fauzi memegangi dahinya sendiri untuk memastikan panas badannya. "Ka kakiku mulai dingin lagi.." Katanya mulai menarik kakinya.
"Lagian kakak kenapa berbaring di dekat dapur?? Disitu kan gak bagus.." Kataku sambil membungkus kaki Fauzi yang mulai dingin lagi.
"Lantai dapur sejuk, jadi terasa nyaman.."
"Apanya yang nyaman.. Kakak jadi semakin demam sekarang.." Kataku terus mengoceh. "Lagian kenapa kedapur kalau cuman untuk cari yang sejuk sih..." Aku benar-benar mengomelinya sekarang.
"Tadinya aku haus, aku kedapur cuman untuk mengambil air tapi karena lantai dapur terasa dingin jadi aku baring disana saja biar punggungku yang panas bisa jadi dingin.."
"Bodohhh.. Lain kali jangan seperti itu lagi.."
Fauzi hanya tersenyum.
"Kamu seperti ini karena khawatir sama aku kan?" Tanya Fauzi menatapku. Aku melihatnya sejenak lalu mengalihkan pandanganku.
"Bukan karena kakak aku seperti ini, aku seperti ke semua pasien-pasienku.." Jelasku.
"Jadi kamu gak khawatir sama aku? Kamu seperti ini hanya karena ngeliat aku seperti pasienmu yang lain?" Tanya Fauzi.
"Iya, memangnya seperti apa lagi??" Kataku sambil sibuk menyiapkan selimutnya.
__ADS_1
"Bohongg.." Kata Fauzi menarik tanganku membuatku menjadi lebih dekat dengannya. "LIhat aku.. Kamu beneran khawatir sama aku kan? Bukan karena aku terlihat seperti pasien yang lainnya dimatamu" Kata Fauzi terus-terusan menatapku.
Aku mengalihkan pandanganku dengan cepat, aku tidak bisa menatap Fauzi terlalu lama karena jantungku akan berdetak tidak karuan-karuan lagi.
"Kamu khawatir sama aku kan???" Tanya Fauzi ulang.
"Kenapa? Kenapa aku harus khawatir??" Tanyaku balik menatapnya.
Fauzi melepas tanganku lalu mengalihkan tatapannya dariku dan terdiam sejenak.
"Kalau kamu gak khawatir terus ngapain kesini? Ngapain nangis dan..." Fauzi tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kalau tahu itu kenapa bertanya?" Kataku sambil mengambil obat dari dalam tas yang sempat kubawa tadi.
Fauzi hanya tersenyum mendengar perkataanku.
"Minum obat dulu.." Kataku menyiapkan obat untuk Fauzi.
"Tapi aku belum makan.."
"Gak apa, gak semua obat gak bisa diminum sebelum makan.." Jelasku.
"Tapi aku sama sekali belum makan apapun.."
"Yasudah, aku pinjam dapurnya.."
"Mau masak buat aku??"
"Terus? Mau aku pesanin bubur? Keburu kamu makin lapar buburnya belum datang-datang juga"
"Maaf merepotkan.."
Aku hanya tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Fauzi.
.
.
.
.
.
Maaf karena telat Up 🙏🙏😣😣
Huhu akhir-akhir ini sibuk banget karena harus ngerjain kerjaan yang diabaikan selama waktu akreditasi kemarin 😭😭
__ADS_1
.
Sebelumnya makasih banyak.. Sayang cinta untuk kalian semua 🤗🤗💜💜💜