Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (2)


__ADS_3

Pesta yang diselenggarakan Ayahnya terbilang ramai hari ini. Semua orang dari kalangan elit berkumpul dan berbaur satu sama lain, membahas hal-hal yang menurut mereka menarik untuk dibahas.


Tamu yang banyak itu memilih duduk berkelompok dan berbincang-bincang dengan respon yang menyenangkan. Semuanya nampak menikmati acara itu, dan larut dalam obrolan satu sama lain.


Namun ada satu pemandangan yang berbeda dari apa yang ada disana. Seorang laki-laki berjas hitam tengah duduk dengan segelas minuman yang dia nikmati sendiri tanpa orang lain. Meski puluhan pasang mata tengah memperhatikannya, namun tak satupun yang beranjak dari posisi mereka untuk mendekat dan menghampirinya.


Bisik-bisik kekaguman dan ketertarikan dari wanita sekitarnya harusnya bisa ia dengar, namun sifat dingin yang dia miliki telah menepis semua itu. Dia terlihat tidak peduli dengan semua hal yang di tujukan untuknya.


Melihat hal itu membuat Karin terdorong untuk mendekatinya. Alasan logis yang Karin miliki ialah, tentang statusnya sebagai putri dari pemilik pesta itu, yang seharusnya tidak akan diabaikan meski laki-laki itu sangat dingin. Tata kramanya sebagai tamu tidak akan membuatnya bisa mengabaikan Karin.


Kaki yang sebelumnya begitu mantap Karin langkahkan, perlahan menciut ketika jarak mereka semakin dekat. Aura dingin dari pria itu makin terasa, namun Karin tidak memiliki jalan untuk mundur jika ingin mempertahankan harga dirinya.


Sebelum Karin tiba pada meja dimana pria dingin itu bertengger sedari tadi, Karin mengambil dua gelas jus warna senada dengan jus yang sebelumnya dinikmati oleh seseorang yang akan dihampirinya.


“Gelasmu mulai kosong..” Kata Karin sembari mendorong pelan gelas yang dibawanya kedepan laki-laki yang tidak lain adalah Faiq.


Faiq menatap gelas itu sejenak, dan perlahan mengangkat pandangannya memandangi wanita yang sebelumnya menyodorkakn gelas berisi penuh minuman yang sama dengan yang dia nikmati sebelumnya.


Faiq tersenyum, ia mengenali wanita yang ada di depannya itu adalah putri dari pemilik pesta yang sedang dinikmati oleh ratusan orang itu.


“Sendiri saja? Kenapa gak berbaur sama yang lainnya?” Tanya Karin sembari meneguk minumannya, ia berusaha keras terlihat natural dan menepis sebisa mungkin rasa gugup yang dimilikinya.


“Bagaimana aku bisa berbaur? Yang lainnya punya percakapannya sendiri. Masa iya aku tetiba datang dan ikut dalam obrolan mereka” Jawab Faiq. “By the way, thanks..” Faiq mengangkat gelas yang diberikan Karin sebelumnya, dan meneguk pelan minumannya.


“Dia tidak sedingin dengan yang terlihat” Gumam Karin melihat respon Faiq yang cukup baik menurutnya.


“Orang-orang juga gak ada yang datang menghampiriku, jadi aku hanya bisa menikmati minumanku disini sampai Ayahku mengajakku pulang”

__ADS_1


Karin tertawa kecil, rasanya lucu sekali untuk laki-laki seusia Faiq sedang menunggu Ayahnya untuk pulang, seperti anak kecil yang ikut dalam pesta keluarga dan tidak bisa pulang sendiri.


“Kamu gak bisa pulang sendiri?” Tanya Karin berusaha menahan tawanya.


Faiq tersenyum, ia tahu jawabannya barusan benar-benar terdengar seperti lelucon.


“Ketawa saja, tidak usah ditahan begitu. Nyatanya aku memang gak bisa pulang sebelum Ayahku pulang”


“Kenapa?? Takut pulang sendiri??” Karin masih menahan tawanya.


“Ya mungkin begitu”


Karin tidak lagi bisa menahan tawanya mendengar jawaban Faiq. Tawanya akhirnya lepas meski tidak meledak-ledak mengingat sangat banyak orang disana. Dia bisa menarik perhatian orang-orang jika tidak bisa mengontrol tawanya.


“Kamu kayak anak kecil saja”


“Ya mau bagaimana, aku kesini kan nebeng sama Ayahku” Jawab Faiq santai sambil menaikkan kedua pundaknya.


“Ada, tapi aku malas. Atau kamu mau nganter aku pulang??”


Karin yang sedari tadi tidak berhenti tertawa mendengar jawaban Faiq yang seperti anak kecil, seketika terhenti mendengar pertanyaan Faiq yang terakhir.


“Eh?”


Karin tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


“Ha ha ha aku hanya bercanda”

__ADS_1


Sekarang Faiq yang balas tertawa.


Tidak butuh lama untuk membuat keduanya nyaman. Hawa dingin yang sempat Karin rasakan dari Faiq, kini hilang. Pembatas yang amat tebal terlihat sebelumnya, runtuh begitu saja ketika mereka mulai larut dalam obrolannya.


Karin sangat menikmati obrolan yang berlangsung diantara dia dan Faiq, ia merasa nyaman dan merasa mulai bisa menebak orang seperti apa Faiq itu. Ya, sebuah pikiran yang terlalu naif untuk disimpulkan.


Ya, Karin yang tidak mengenal lebih dalam orang seperti Faiq, jelas merasa bahwa rasa akrab yang terjadi pada keduanya adalah murni sebuah perasaan yang muncul akibat mereka yang tertarik satu sama lain dalam obrolan. Sedang Faiq, obrolan yang terasa menarik bagi Karin itu, adalah sesuatu yang dia kontrol agar Karin bisa merasa seperti itu.


Faiq dengan sengaja membuat Karin bisa larut dalam obrolan mereka, sengaja memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang nyaman untuk dijadikan lawan bicara. Faiq sadar akan kekuatan bisnis yang dimiliki Ayah Karin, sehingga tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti ia akan membutuhkan Karin untuk membantunya meraih apa yang dia inginkan tanpa melakukan trik-trik yang teramat kotor seperti yang pernah ia lakukan sebelum-sebelumnya.


Faiq terus memainkan perannya sebagai orang yang sangat menyenangkan di mata Karin, ia juga mulai menyadari akan beberapa pasang mata yang tertuju pada mereka. Ya, Faiq berhasil menarik perhatian orang-orang, dan itu akan semakin memudahkannya jika suatu hari nanti, ia berhasil menarik Karin dalam masalah bisnis dimana ia membutuhkan bantuan wanita yang jelas tidak asing lagi bagi beberapa pemain bisnis. Dengan memperlihatkan keakrabannya bersama Karin, orang-orang tidak akan mencurigainya jika suatu hari nanti, dia menggunakan Karin sebagai batu loncatan saat memainkan trik dalam dunia bisnisnya.


Tentunya, bukan hanya tamu-tamu lainnya saja yang mengarahkan pandangan mereka pada Karin juga Faiq, Ayah Faiq pun ikut melirik sesekali dari kejauhan, melihat putranya yang sedang asyik berbincang dengan lawan bicaranya.


Terbesit satu keinginan pada orangtua tunggal dengan seorang putra itu, ia berharap putra semata wayangnya yang kini dia ketahui telah berubah, bisa perlahan kembali seperti dulu setelah mengenal Karin. Meski ia tidak tahu kedepannya seperti apa, namun besar harapannya, obrolan putranya dengan Karin hari ini tidak berakhir sampai disitu saja dan akan berlangsung hingga putranya bisa kembali seperti semula.


Ya, lagi-lagi ia tidak mengenal putranya. Apa yang dia lihat hari ini, hanyalah sebuah tipuan yang putranya ciptakan agar orang-orang di sekitar mereka bisa berpikiran seperti apa yang dia inginkan.


.


.


.


.


Waktu berlalu semenjak hari dimana Faiq memanipulasi pandangan orang-orang tentang keakraban yang dia miliki bersama Karin. Ia yang sebelumnya memiliki niat menyimpang, memilih menarik kembali pikirannya itu, dan memilih untuk mengakhiri drama keakraban yang dia buat dengan memanfaatkan Karin.

__ADS_1


Bagi Faiq, apa yang dia miliki saat ini sudah cukup bisa untuk membuatnya bisa memiliki hal yang lebih besar lagi kedepannya, sehingga ia tidak lagi membutuhkan seseorang untuk menjadi batu loncatannya.


Namun niat Faiq untuk mengakhiri apa yang telah dia mulai bersama Karin, tidak tuntas begitu saja. Seolah takdir memang sudah menentukan jalan keduanya, orangtua mereka menjadi kaki tangan Tuhan untuk membawa mereka terjerumus dalam takdir yang sama.


__ADS_2