
Rafiq Faiq Marsa, atau yang kerap di panggil Faiq, adalah seorang laki-laki yang berkulit sawo matang dengan berat badan 53 kg dan tinggi badan 169 cm, yang membuatnya terlihat sedikit cungkring. Entah apa yang membuat berat badannya tidak memadai seperti itu, sedang jika dipikir dari segi materi, ia cukup mampu untuk membeli banyak makanan enak dan bergizi. Ya kecuali akhir-akhir ini, keuangannya memang sedang tidak memadai, meski ia masih mendapat bantuan tunjangan makanan dari pemilik rumah yang dia tempati saat ini.
Faiq adalah anak tunggal dari salah satu pengusaha yang cukup ternama di kotanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses, jika yang dibahas adalah masalah materi jelas saja Faiq tidak akan kekurangan satu apapun. Sedang Ibunya, sudah berpulang semenjak dia masih duduk di bangku Sekolah menengah pertama.
Ayahnya kini menjadi single parent. Ia tidak menikah lagi selepas kepergian istrinya, dan hanya memilih fokus pada pekerjaan dan juga putra satu-satunya. Entah karena cintanya yang masih bertahta hanya untuk istrinya itu, atau karena memang belum siap melabuhkan hatinya pada pemilik baru.
Faiq adalah mahasiswa jurusan arsitek. Bakat mendesain yang dia miliki, tidak ingin dia sia-siakan dan sudah berniat untuk menyalurkan bakat dan hobinya itu dalam pekerjaannya nanti, sehingga dari dini Faiq sudah mengambil konsentrat pendidikan yang bisa mendukung bakat sekaligus hobinya.
Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Dia menikmati hidupnya sebagai mahasiswa yang disibukkan oleh tugas-tugasnya dan menjalani hari-hari tetap bahagia bersama kekasih hatinya yang sudah bersamanya satu tahun terakhir ini.
Hingga suatu hari, ketika Ayahnya mengetahui hubungan yang dia miliki bersama perempuan yang menurut Ayahnya tidak sepadan itu, dari situlah semuanya berubah menjadi sesuatu yang rumit.
Faiq meninggalkan rumah ketika Ayahnya memaksa agar dia mengakhiri hubungannya dengan perempuan yang Ayahnya tahu tidak memiliki latar belakang keluarga yang baik. Menurut Ayahnya, putranya itu masih bisa menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari perempuan yang tengah menjalin hubungan spesial dengannya sekarang. Sudah seperti zaman siti nurbaya saja, yang perihal kekasih hati pun masih harus di tentukan oleh orangtua.
Namun di balik ketidaksetujuan Ayahnya dengan wanita yang sekarang menjadi pujaan hati Faiq, Ayahnya juga menginginkan agar putranya itu meneruskan usaha yang dia bangun selama ini. Sehingga Ayahnya mengait-ngaitkan semua masalah tentang perempuan yang dicintainya, juga tentang tujuan hidupnya dalam hal pekerjaan yanga akan dia tekuni kedepannya nanti.
Faiq adalah anak tunggal, satu-satunya pewaris yang dia miliki, sehingga tidak ada cara baginya untuk bisa membuat Faiq mau melanjutkan usaha yang sudah di bangunnya puluhan tahun terakhir ini, dengan sedikit paksaan dan ancaman.
Jelas dia memiliki orang-orang berbakat di sekitarnya yang bisa meneruskan apa yang sudah dia raih sebagai pemilik paten dari perusahaan yang bergerak dibidang properti itu. Namun tetap saja, dia menginginkan hasil dari kerja kerasnya selama ini, dilanjutkan oleh putra tunggalnya. Toh Faiq bukannya tidak berbakat, dia hanya memiliki minat lain sehingga tidak turun tangan pada bidang yang sama dengan Ayahnya.
.
.
Faiq yang pulang lebih awal karena memiliki janji bertemu dengan wanita yang dicintainya, dibuat terkejut dengan kehadiran bodyguard Ayahnya, yang sudah menunggu di depan rumah yang dia jadikan tempat tinggal beberapa hari ini setelah memilih meninggalkan rumahnya yang mewah dengan segala fasilitas yang memadai.
“Mau apa kalian kesini? Dan tahu darimana rumah ini?” Tanya Faiq menghampiri laki-laki berotot yang menggunakan setelan jas dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangir miliknya.
“Kami ingin menjemput tuan muda untuk kembali ke rumah”
“Aku tidak mau” Tolak Faiq.
“Kami tidak meminta persetujuan tuan muda. Kami di beri wewenang untuk bisa membawa paksa tuan muda, jika tuan muda menolak untuk kami bawa dengan cara baik-baik”
“Aku tetap tidak mau. Aku bisa teriak disini, dan orang-orang akan datang”
Faiq meluncurkan ancaman kecil. Sekiranya itu bisa membuat laki-laki dengan badan yang cukup besar di depannya dengan laki-laki lain yang memiliki badan lebih kecil sedikit yang berdiri tidak jauh dari mereka, bisa mengurungkan niat untuk membawanya pergi.
“Kalau begitu temuilah dulu Ayah Tuan muda. Dia sudah menunggu Tuan muda”
“Bilang sama Ayahku, aku tidak mau pulang. Aku akan pulang kalau Ayah merestui hubunganku dengan Sasa”
“Sebaiknya Tuan muda menemui Ayah tuan muda dulu. Dia sudah menunggu di mobil”
Faiq berbalik, menatap sebuah mobil dengan warna hitam metalic, dimana Ayahnya berada di dalam mobil itu.
“Aku gak mau. Aku gak mau bicara sama Ayah..”
“Maaf tuan muda..”
Belum Faiq mempertanyakan maksud dari permintaan maaf yang diucapkan oleh bodygurad Ayahnya itu. Dia sudah lebih dulu di angkat paksa oleh tangan yang berotot besar itu.
Faiq meronta, menolak untuk dibawa ke Ayahnya. Namun tubuh cungkringnya dengan tenaga yang tidak seberapa dibanding bodyguard yang dikirim Ayahnya untuk menjemputnya, membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal tanda penolakannya.
Hanya dengan beberapa langkah saja, bodyguard dengan tubuh tinggi dan lengan yang dipenuhi otot itu, sudah mengirim Faiq ke Ayahnya.
“Ayah, apa-apaan ini??” Tanya Faiq kesal mendapat perlakuan yang menurutnya sangat buruk.
“Ayo pulang sama Ayah”
“Aku gak mau..”
“Ayah bukannya ngasih kamu pilihan, mau ikut pulang atau tidak. Ayah memaksamu ikut sama Ayah untuk pulang”
“Tap..”
“Sasa anak yatim piatu bukan? Selama ini dia tinggal bersama pamannya dan setelah kuliah, dia hidup sendiri”
Faiq terkejut mendengarkan apa yang Ayahnya katakan. Apakah Ayahnya tengah mencari tahu tentang Sasa akhir-akhir ini. Ayah yang dia kenal selama ini, adalah orang yang tidak pernah peduli dengan kehidupan pribadi oranglain.
__ADS_1
“Hidup dengan tidak ada tempat berpegangan seperti itu, apa kamu pikir bisa bertahan kalau Ayah memercikkan sedikit masalah untuknya?”
“Maksud Ayah apa? Apa yang mau Ayah lakukan?”
“Pikirkan saja Faiq”
Faiq terdiam. Dia tahu, dengan apa yang Ayahnya miliki saat ini, jelas sangat mudah bagi Ayahnya untuk membuat kehidupan Sasa yang sederahana, menjadi rumit.
“Bukan cuman perempuan itu yang bisa Ayah usik kehidupannya. Teman laki-lakimu yang punya rumah ini juga Ayah tahu”
“Ayah tidak bisa melakukan hal seperti itu sama teman-temanku”
“Kenapa Ayah tidak bisa? Teman-temanmu itu melakukan apa untuk menghindari masalah yang akan Ayah lemparkan pada mereka”
Faiq menatap tajam laki-laki yang sudah menjaganya seorang diri tujuh tahun terakhir ini.
“Aku akan melindungi mereka”
“Benarkah? Saat ini keuanganmu sudah menipis. Jangankan untuk melindungi mereka, menolak bodyguard Ayah untuk membawamu kesini saja, kamu tidak mampu”
Faiq kembali mengingat, bagaimana kuatnya bodyguard yang dimiliki Ayahnya, hingga begitu enteng mengangkatnya seolah tanpa beban tadi.
Faiq terdiam sejenak, menunduk dan sama sekali tidak mengeluarkan satu katapun. Membuat Ayahnya menjadi bingung dengan apa yang terjadi pada Faiq.
“Ayah..” panggilnya pelan. “Aku tidak mengenal Ayah yang sekarang. Ayahku dulu adalah orang yang tidak akan melakukan hal rendah seperti ancaman ini untuk menundukkan seseorang, terlebih lagi ini adalah putranya”
Laki-laki berusia 47 tahun itu tersentak mendengar apa yang dikatakan putranya. Seolah mengingatkan, bagaimana dirinya dulu yang sama sekali tidak pernah melakukan hal curang seperti ini. Ada perasaan bersalah yang dia rasakan, namun kembali lagi ia berpikir bahwa inilah yang terbaik bagi putranya. Usaha yang dia miliki saat ini bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan bisa dikatakan sesuatu yang luarbiasa dalam bidangnya, sehingga sama sekali tidak ada salahnya jika dia menginginkan putranya itu meneruskan usahanya. Ya apa yang dia lakukan selama ini adalah demi kebaikan putranya sendiri.
Juga tentang wanita yang sekarang menjadi pujaan hati putranya. Menurutnya, banyak yang lebih baik dan lebih pantas bagi putra semata wayangnya itu. Dia ingin, putranya itu bisa mendapatkan yang lebih baik dari perempuan yang sekarang menjadi kekasih hatinya. Dia ingin, wanita yang akan memberinya cucu kelak adalah wanita dengan latar belakang keluarga yang jelas dan martabat yang baik. Juga memiliki orangtua lengkap, sehingga setidaknya Faiq bisa merasakan kembali kasih sayang seorang Ibu dari Ibu mertuanya kelak, mengingat putra semata wayagnya itu sudah kehilangan cinta seorang Ibu di usianya yang masih terbilang muda saat itu.
“Terserah apa katamu” Kata Ayahnya menepis perasaan iba yang sempat menghampiri melihat putranya menjadi lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa dengan ancamannya itu. “Ayah hanya ingin kamu mengakhiri hubunganmu dengan perempuan itu”
“Ayah..”
“Faiq.. Sekali lagi Ayah tekankan. Ayah bisa melakukan apa saja untuk membuat mereka dalam kesulitan. Ayah tidak sedang membujukmu untuk pulang layaknya anak kecil. Ayah tidak memberimu pilihan mau pulang atau tidak. Tapi Ayah datang untuk menjemputmu, tidak peduli kamu mau atau tidak” Tegas Ayahnya.
“Ayah..”
Faiq terdiam, kembali memikirkan apa yang Ayahnya katakan. Sebelumnya dia meronta-ronta menolak melakukan apa yang Ayahnya katakan. Namun perlahan, ia mulai memikirkan tentang apa yang Ayahnya bisa lakukan pada Sasa juga pada Fauzi.
Sekilas terlintas di pikirannya, akan kemungkinan yang terjadi pada teman dan kekasih hatinya, yang bisa saja mengalami hal buruk karenanya.
“Faiq.. Ayah hanya ingin kamu memiliki kehidupan yang baik. Saat hidupmu sudah baik dan menjadi orang yang sukses, Ayah tidak akan melarangmu melakukan apapun yang kamu mau”
Faiq terdiam saja, pikirannya masih mencari jalan keluar akan apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Ayah akan mengirimmu keluar negri untuk belajar disana”
Spontan Faiq berbalik. Apa lagi yang Ayahnya katakan sekarang. Bukan hanya sekedar ingin memisahkan dia dengan kekasih hatinya, tapi juga ingin membentang jarak untuk keduanya.
“Apa maksud Ayah?”
“Ayah akan mengirimmu belajar disana, kamu bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik disana. Ayah sudah menyiapkan semuanya”
“Ayah, kenapa harus diluar negri. Aku punya banyak teman disini, aku mau disini saja..”
“Ayah tidak yakin kalau kamu benar-benar tidak berhubungan lagi dengan perempuan itu kalau kamu masih disini..”
“Tapi Ayah...”
“Ayah sudah mengurus semuanya. Ayah sudah mendaftarkan kamu di kampus bisnis terbaik disana”
“Bis-bisnis??” Tanya Faiq memperjelas apa yang Ayahnya katakan.
“Iya.. Ayah rasa, kamu bisa sukses lebih cepat jika menekuni dunia bisnis daripada hanya mencoret-coret kertas dengan gambar bangunan yang tidak jelas seperti itu”
Ada sakit luarbiasa yang Faiq rasakan tatkala apa yang menjadi kesukaannya, begitu dipandang rendah oleh Ayahnya. Sesuatu yang menjadi keahlian dan kegemarannya, di rendahkan tepat di depannya. Ayahnya seolah sedang mencoreng wajahnya sekarang dengan mengatakan hal buruk tentang bakatnya.
“Ayah.. Ayah sudah setuju saat aku memilih jurusan ini..”
__ADS_1
“Itu dulu, setelah Ayah pikirkan, kamu bisa memiliki kehidupan lebih baik dengan melanjutkan usaha Ayah. Ayah hanya punya kamu untuk lanjut menjalankan perusahaan saat Ayah pensiun nanti.
“Ayah tahu kan, kalau aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan bisnis..”
“Tapi itu lebih baik untukmu..”
“Ayah..”
“Faiq, Ayah bukannya sedang memberimu pilihan”
Faiq menatap tajam Ayahnya. Dia sendiri tidak paham, apa yang menyebabkan Ayahnya begitu egois sehingga melakukan sesuatu sesukanya atas dirinya.
“Aku gak peduli sama apa yang Ayah mau. Aku menolak..”
Faiq bergegas turun, namun sekali lagi ia di hentikan oleh rekaman suara yang Ayahnya perdengarkan.
“Desainku diterima, huaa rasanya senang sekali. Hari ini ayo makan bareng, aku akan pulang lebih cepat..”
Faiq begitu terkejut, bagaimana bisa voice note yang dia kirimkan pada Sasa, bisa ada pada Ayahnya.
Faiq menatap lekat Ayahnya dengan tatapan penuh pertanyaan tentang apa yang tengah terjadi sekarang.
“Kamu harusnya sudah bisa memikirkan, sejauh apa Ayah bisa bertindak dengan mendengar ini”
“A-ayah.. Bagaimana bisa itu ada sama Ayah?”
“Pikirkan saja. Ayah mengetahui semua isi pesan yang kamu kirimkan pada perempuan itu. Ah bukan hanya itu, Ayah tahu semua isi pesan dan telfon masuk yang diterima dari ponsel perempuan itu”
Tatapan penuh pertanyaan bercampur kebingungan yang sedari tadi Faiq lancarkan pada Ayahnya, seketika berubah menjadi tatapan dengan percikan kebencian.
“Ayah mengakses kehidupan pribadi oranglain? Itu adalah tindak kriminal, itu adalah kejahatan, itu ada undang-undanganya dan Ayah bisa di tuntut karena itu”
“Tuntutan tidak akan bisa di layangkan tanpa bukti”
Faiq terdiam, mengalihkan pandangannya sejenak dan kembali menatap Ayahnya dengan senyum smirik.
“19 tahun aku hidup, dan baru sekarang aku sadar kalau ternyata aku adalah anak dari sosok monster yang selama ini berakting sebagai Ayah yang hebat dan keren. Topengnya sudah lepas sekarang”
Deggg....
Sebuah kata-kata yang lebih tajam dari sembelih, menghantam ulu hati dari Ayah beranak satu itu. Apa yang putranya katakan barusan, memperlihatkan seperti apa pandangan anak semata wayangnya itu melihatnya sekarang.
Sebagai seorang Ayah, dia merasa gagal menciptakan figur seorang superman, gelar yang Faiq berikan pada Ayahnya semasa ia kecil. Superman yang begitu di bangga-banggakannya dulu, kini hilang dan menjadi sosok yang putranya itu tidak kenali lagi. Pandangan Faiq pada sosok superman yang keren, kini berubah menjadi monster yang menakutkan.
Ayahnya terdiam saja mendengarkan perkataan Faiq, tanpa menyangkal atau melakukan pembelaan. Dia mematung dengan rasa sakit yang mulai menyerangnya. Namun lagi, ini semua demi kebaikan putranya, membuatnya tetap kokoh untuk mempertahankan keinginannya membuat Faiq menjadi orang yang bisa menggantikannya mengurus perusahaan kelak.
Semua demi kebaikanmu, pandanganmu pada Ayah sekarang akan berubah nantinya saat kamu sudah menjadi lebih dewasa dan mengerti akan hidup yang sebenarnya.
Faiq lanjut beranjak setelah sebelumnya di cegah oleh rekaman yang memperdengarkan voice note yang dia kirimkan pada Sasa.
“Mau kemana kamu??”
“Tenang saja, aku tidak akan membantah Ayah lagi. aku akan ikut pulang dan belajar di tempat yang Ayah mau dengan pelajaran yang Ayah tentukan. Aku tidak punya pilihan lain bukan? Lakukan apapun yang Ayah mau terhadapku”
Senyum smirik Faiq perlihatkan, yang dengan sekejap berubah menjadi ekspresi yang menakutkan. Ekspresi yang sebelumnya belum pernah ia perlihatkan pada Ayahnya.
Faiq berjalan dengan lemah dan pandangan kosong, masuk ke dalam rumah yang dia tempati beberapa minggu terakhir ini. Dia mengambil selembar kertas dan menuliskan pesan untuk Fauzi yang kemudian ia letakkan bersama surat diterimanya desain yang dia buat.
Faiq menyapu seisi rumah dengan pandangannya, airmatanya perlahan menetes. Dia benar-benar menjadi seseorang yang tidak bisa melakuakn apa-apa untuk melawan Ayahnya yang bisa melakukan segalanya.
Rasa pecundang mulai menyelimutinya, menembakkan rasa sakit pada dasar hatinya yang terdalam, membuatnya merasa sesak dengan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
Fauzi,
Aku pergi.
Terimakasih untuk semuanya selama ini.
Jangan mencariku..
__ADS_1
Faiq..