Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Hay, Aku Salwa (2)


__ADS_3

*Sekarang plot alurnya maju mundur. Untuk episode ini dan satu episode kedepan bakal menggunakan alur maju yang menceritakan Salwa sudah menikah, lalu episode selanjutnya menggunakan alur mundur yang menceritakan kembali proses perjalanan Salwa sampai menikah. Maaf kalau buatnya jadi sulit di mengerti ๐Ÿ™๐Ÿ˜ญ


Karena kalau pakai alur maju terus, jodohnya Salwa bisa ketebak langsung ๐Ÿ˜ฅ*


*Selamat membaca lagi, terimakasih sudah mampir dan terimakasih sudah membaca sampai di episode ini ๐Ÿ˜Š*


.


.


.


Hay, aku Salwa.. Seorang istri yang masak pun aku tidak bisa.


Ini aku yang memperkenalkan diriku dengan statusku yang baru. Aku baru saja meraih gelar sebagai seorang istri tiga hari yang lalu, dan aku bahagia sekali.


Aku sudah melalui semua masa-masa yang ada dalam hidupku, dari aku yang remaja yang sempat berperan sebagai pemeran utama dalam kisah cinta segitiga, aku yang sempat salah mengira perhatian dari mantan pacarku sebagai rasa sukanya yang belum tuntas padaku dan ternyata saat itu dia berstatuskan tunangan dari sahabatku, sampai aku yang kembali merasakan keterpurukan yang sama dari 7 tahun sebelumnya setelah meliihat seseorang yang aku harapkan dan aku rindukan hadir kembali dihadapanku bersama perempuan lain dimana mereka sedang mempersiapkan pernikahan mereka waktu itu.


Aku memberi kesibukan pada diriku sendiri, memaksa diriku bekerja lebih keras tanpa ampun agar aku bisa melupakan dia. Hanya saja usahaku itu sia-sia dan sama sekali tidak ada manfaatnya. Aku benar-benar tidak belajar dari pengalaman dimana aku yang harusnya memperjelas sesuatu sebelum melakukan suatu tindakan.


hari ini, ah bukan tepatnya sekitar sebulan yang lalu akhirnya semua perasaan sakit dan kegundahanku itu hilang setelah seseorang datang melamarku.


Sekali lagi, jodoh itu adalah takdir yang tidak bisa kita ubah. Sekuat apapun kita bertahan jika kita tidak berjodoh kita tetap akan dipisahkan dengan cara apapun. Sebaliknya sekuat apapun menghindar jika sudah jodoh kita akan kembali dipersatukan dalam ikatan resmi.


Tiga hari yang lalu adalah penegasan bahwa aku adalah pelengkap tulang rusukmu yang ganjil. Aku sudh pernah mengalami rumitnya lika liku cinta sebelum pada akhirnya diikat dalam ikatan Cinta yang Sah.


Yang namanya jodoh, kita tidak bisa menebak. Entah dia adalah orang yang pertama kali kita cintai, atau orang yang hanya hadir saat kita terluka dan mungkin saja seseorang yang hanya sekedar lewat saja dikehidupan kita sebelumnya. Tapi bisa juga adalah seseorang yang tidak pernah kita duga tiba-tiba datang melamar.


Intinya cinta sejati tidak akan pernah salah alamat meskipun pernah bertamu di alamat yang salah. Aku hanya ingin mengucapkan, terimakasih karena telah melabuhkan cintamu padaku, memilihku diantara banyaknya perempuan yang lebih baik dan siap menanggung tanggung jawab orangtuaku yang dialihkan kepadamu.


Aku masih mengingat dengan jelas, bagaimana perasaan haruku ketika aku mendengar orang sekitar mengatakan Sah setelah kamu mengucapkan Ijab kabul untukku. Sekarang kamu adalah suamiku, yang kupersiapkan hidupku untuk mendampingi dalam suka maupun duka.


.


.


.


.


Aku hanya duduk manis memperhatikannya yang sibuk memasak untuk sarapan kami pagi ini. Ah dia makin terlihat tampan saja saat memasak, tapi dalam keadaan apapun suamiku selalu terlihat tampan seperti yang dulu.


"Tadaaa.. sarapan kita sudah siap.." Katanya sambil mengangkat dua piring yang berisikan nasi goreng.


"Wahh.. Aromanya enak..." Seru senang.


"Bukan cuman aromanya sayang, tapi rasanya juga pasti dijamin enak.." Katanya memberi satu suapan.


Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya setelah memakan sesuap nasi goreng buatannya. Kami menikmati sarapan pagi bersama.


"Sayangg.."

__ADS_1


"Hemm??"


"Aku harusnya manggil kamu apa?" Tanyaku.


"Manggil aku apa? Maksud kamu?" Tanyanya bingung.


"Manggil kamu Mas? Abang? atau apa. Aku bingung.."


"Ya panggil seperti biasanya saja sayang.."


"Panggilan 'sayang'?? Masa iya aku manggil kamu kayak gitu kalau didepan Ibu sama Ayah, kan malu.."


"Ibu dan Ayahku manggilnya begitu, tapi mereka gak malu. Ibu sama Ayah mertua juga saling manggil sayang kan?"


"Iya sih, tapi tetep aja rasanya gimana gitu kalau aku manggil kamu kayak gitu kalauย  banyak orang.."


"Jadi kamu maunya manggil aku apa? 'Suamiku?, Kekasihku?, atau Ayah dari calon anak-anakku?' gitu"


"Ish apaan sih, ya gak alay begitu juga lah sayang.."


"Jadi maunya gimana?"


"Gimana kalau aku manggil kamu Mas Zahran saja?" Kataku nyegir.


"Apaan? yang ada Ibu sama Ayah bakalan makin ketawa kalau kamu manggilnya gitu.."


"Tapi itu kedengarannya bagus sayang, kayak lebih romantis gitu. Ya kan Mas Zahran?"


"Hehe iya sih, rasanya kok aneh yaa.."


"Lagian kamu kenapa tiba-tiba manggilnya Zahran? Gak kayak yang biasa aja manggil aku Fauzi atau Ozi? Kenapa tiba-tiba jadi manggil make nama depanku?"


"Ya kan aku mau ganti suasan aja. Dulu kan aku manggil kamu Ozi waktu kita pacaran, sekarang udah nikah jadi aku mau manggil kamu dengan panggilan yang lain.."


"Ah ada-ada saja kamu.." Katanya tertawa kecil.


"Jadi aku manggilnya apa nih? Beneran manggilnya Mas Zahran?"


"Hem.. Terserah kamu saja sayang, kamu nyamannya manggil aku apa saja"


"Yaudah aku udah putuskan untuk manggil kamu Mas Zahran, hehe rasanya romantis sekali.."


"Jadi sekarang aku manggil kamu Mrs. Zahran gitu?" Katanya sambil membersihkan ujung bibirku yang mulai belepotan.


"Uwuu ngedenger kamu manggilnya Mrs. Zahran rasanya manis sekali.." Jawabku senyum-senyum sendiri.


"Kamu lebih manis sayang.." Kata Fauzi dengan tersenyum.


"Ah masa??" Godaku.


Cupp.. Fauzi mengecup keningku. "Tuh barusan aku cobain, beneran manis kok.."

__ADS_1


Blusshhh.. Gombalan suamiku pagi-pagi membuat pipiku merona lagi.


Aku bahagia sekali, bisa berduaan seperti ini dan saling membagi cinta dan kasih sayang satu sama lain. Aku melupakan bagaimana sakitnya perasaanku beberapa tahun terakhir dan hanya merasakan kebahagiaanku hari ini saja.


"Aku bahagia sekali bisa seperti ini sekarang.."


"Aku juga sayang.." Jawabnya.


"Meski dulunya aku pernah sakit hati banget sampai gak tau mau bagaimana lagi pas pertama kali ketemu kamu bareng Afifah di Rumah sakit.."


"Yang kamu kiranya aku yang bakalan nikah sama Afifah?"


"Iya, aku nungguin kamu selama 6 tahun, eh pas ketemu kamu malah udah mau nikah.."


Fauzi berdiri dan mengetuk kecil dahiku. "Kamu nih kebiasaan menyimpulkan sesuatu sendirian, sukanya gak ngedenger penjelasanku.."


"Ya gimana aku gak berfikiran kayak gitu coba, Afifah manja banget sama kamu dan kamu juga ngemanjain Afifah. Belum lagi kamu ngomong sama aku kayak santai banget padahal akunya udah gugup gak karu-karuan.."


"Haha iya, waktu itu muka kamu lucu sekali sayang, aku kepengen ketawa tapi ya ditahan-tahan saja. Aku yakin kamu pasti salah paham. Tapi karena ngeliat ekspresi kamu yang seperti itu juga yang ngebuat aku yakin untuk kembali sama kamu dan meminta kamu jadi istriku"


"Kamu nahan ketawa, aku malah setengah mati nahan biar gak nangis.." Jawabku kesal.


"Sebenarnya aku juga sempat khawatir waktu itu, aku takut kamu beneran mikir kalau aku bakalan nikah sama Afifah dan kamu memutuskan untuk berhenti suka sama aku.."


"Kamu tahu dari mana kalau aku terus-terusan suka sama kamu.."


"Ada deh.."


"Isshh dari mana?"


"Heemm.. dari ekspresi kamu waktu itu.."


"Kamu jahat waktu itu.. Aku beneran kaget waktu itu.."


Fauzi beranjak lalu duduk di dekatku. "Maafkan aku sayang, maaf karena sudah membuat merasakan hal yang buruk waktu itu.." Katanya sambil memelukku.


"Gak apa, yang terpenting sekarang kamu ada sama aku.." Aku balas memeluknya dengan erat.


Aku berharap bukan hanya karena kami yang masih pengantin baru sampai terus-terusan merasakan keromantisan seperti ini. Tapi akan terus seperti ini sampai nanti kami memiliki uban bersama.


Tingg tongg..


Bel rumah berbunyi.


"Lah siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Tanya Fauzi.


"Bentar aku bukain pintu dulu.."


"Gak usah sayang" Kata Fauzi menahanku. "Biar aku saja". Fauzi melangkah keluar.


Aku mendengar keributan dari luar, siapa pagi-pagi begini sudah bertamu.

__ADS_1


"Siapa sayang?" Tanyaku sambil melangkah keluar menghampiri Fauzi.


__ADS_2