
BBRRUUUKKKKK... CCKIIITTTT..!!!!
"Uhukk...."
"Kecelakaan.. kecelakaann.."
"Tolong panggil ambulance..."
Botol parfume yang kupegang tadi jatuh dan pecah di jalan, aromanya menyebar dan semakin kuat. Kulihat orang-orang berlarian menghampiriku, kurasakan cairan hangat mengalir di pipiku yang keluar dari mulutku tiap kali aku terbatuk, terasa kental dan amis. Darah semakin banyak berceceran di jalan, penglihatanku mulai pudar dan....
.
.
.
"Dokter.. dokterr..."
Ah itu suara ibu, kepalaku terasa sedikit pusing dan tubuhku terasa lemah. Selang oxygen menggantung di hidungku dan telapak tanganku yang tertusuk jarum intravena chateter penghubung venaku dengan selang infus. Aku berusaha membuka mataku, penglihatanku sedikit pudar entah berapa lama aku terbaring disini. Aku tidak bisa membuat pandanganku lebih jauh, yang kulihat hanya langit-langit rumah sakit yang putih dan beberapa buah diatas meja disamping tempat tidur..
"Ibu.." Panggilku parau.
Ketika aku siuman, aku tidak sempat melihat Ibu karena butuh beberapa saat untukku bisa melihat dengan baik. Aku hanya mendengar Ibu berteriak memanggil dokter dan mendengar langkah kakinya berlari keluar kamar. Sepertinya Ibu sedang memanggil dokter melihatku sudah siuman.
"Dok, anak saya sudah siuman dok tolong diperiksa.." Kata Ibu berjalan masuk kedalam ruangan mengikuti dokter dan perawat yang bertugas.
"Sebentar ya Bu, saya periksa dulu.." Kata dokter itu sambil meletakkan stetoskopnya untuk mengetahui denyut jantungku dan memeriksa pernafasanku, kemudian meyalakan Penlightnya mengarahkan ke mataku untuk memeriksa kondisi mataku.
"Apa adik bisa mendengar saya?"
"Iya.." Jawabku pelan.
"Apa ada bagian tubuh yang terasa nyeri?"
Aku menggeleng. Entah kenapa tubuhku terasa baik-baik saja meskipun aku tahu, aku baru saja mengalami kecelakaan dimana sebuah mobil menabrakku, mungkin pengaruh obat yang diberikan sampai aku tidak merasakan nyeri
"Baiklah, silahkan beristirahat dulu.."
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?"
"Setelah memeriksanya dan melakukan pengecekan berkala sebelumnya, Alhamdulillah dia sepertinya baik-baik saja. Organ vitalnya berfungsi dengan baik, hanya saja mungkin dia akan merasa mual karena efek samping dari obat yang diberikan, jika pasien merasa mual berlebihan Apoteker dan perawat akan datang memberinya obat"
"Syukurlahh.."
"Tapi kami tetap menyarankan untuk melakukan CT Scan untuk lebih memastikannya lagi, jadi untuk sekarang pasien jangan diberi makan dulu agar CT Scan bisa dilakukan secepatnya karena mengingat hasil CT Scan tidak bisa keluar di hari yang sama. Jika kita melakukan CT Scan dengan cepat maka kita bisa memperoleh hasilnya dengan cepat pula.."
"Baik Dok, terimakasih.."
"Sama-sama Bu, saya permisi dulu. Jika ada apa-apa bisa segera memanggil saya, perawat atau dokter sesiapun yang Ibu temui di Rumah Sakit untuk penanganan langsung.."
"Baik Dok.."
Dokter dan perawat yang bertugas itu berlalu..
"Bagaimana perasaanmu sayang?"
"Aku baik-baik saja Bu" Jawabku berusaha tersenyum
"Syukurlah.. Ibu sangat bersyukur.."
"Bu, aku sudah berapa lama baring disini?" Tanyaku. Aku ingin tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri dan berbaring disini.
"Sekarang masih hari yang sama sayang, sekarang jam empat sore.."
"Ayah mana Bu?"
__ADS_1
"Ayahmu sedang mengurus administrasi.. Sudah, istirahat saja sayang. Ibu sangat ingin menyuapimu tapi kata dokter kamu gak boleh makan dulu.."
"Bu, apa aku baik-baik saja.."
"Tentu sayang, anak Ibu baik-baik saja.. Dokter bilang tadi tubuhmu baik-baik saja. Anak Ibu kuat, meskipun sudah ditabrak mobil tapi baik-baik saja, Ibu bersyukur sekali.."
Aku tersenyum. Syukurlah kalau aku baik-baik saja, awalnya aku takut menanyakan apa yang terjadi padaku aku takut mendengar jawaban yang buruk. Karena keseringan menonton drakor pikiranku sampai jauh sekali.
"Oh iya, tadi temen Fauzi datang kesini melihatmu.."
"Teman Fauzi yang mana Bu?"
"Itu, yang biasa ngejemput kamu.."
"Maksud Ibu Farhan?" Pikirku.
"Dia bilang apa?"
"Dia kelihatannya khawatir sekali, hem dia teman yang baik Nak jadi baik-baiklah juga dengannya. Dia cukup lama menjagamu disini selagi ibu menyiapkan administrasimu sebelum ayahmu datang tadi. Dia terus disini menjagamu"
"Lalu sekarang?"
"Ah tadi temannya menelfon, hem sepertinya ada kesibukan dengan kuliahnya. Sudah-sudah, istirahat dulu sayang sebentar Ibu panggil Ayahmu dulu. Gak apa kan kalau Ibu tinggal sendiri?"
Aku mengangguk.
.
.
.
Aku baru saja kembali ke kamarku setelah melakukan CT Scan, aku benar-benar berharap hasil yang keluar menunjukkan kalau aku baik-baik saja.
"Sayang makan dulu, kamu belum makan sedari tadi.."
"Dimakan sedikit saja Sayang.. oke?"
"Permisi.."
Aku dan Ibu spontan menoleh kearah sumber suara.
"Oh Nak Farhan, masuk sini nak.."
"Iya Tante.."
Ibu ramah seperti ini pada Farhan karena Ibu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tau akan seperti apa respon Ibu kalau tahu hubungan aku yang sebenarnya dengan Farhan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Farhan.
"Aku baik kak.."
"Syukurlah, aku khawatir sekali.."
"Tuh kan Sayang, teman-temanmu dan Ibu khawatir jadi makanlah dulu" Bujuk Ibu..
"Tapi Bu..."
"Maaf Tante, boleh aku coba membujuk Salwa.."
"Oh iya Nak.." Kata Ibu sambil memberikan mangkok bubur pada Farhan.
"Salwa makanlah sedikit..." Kata Farhan mencoba membujukku.
"Eng.. Nak Farhan, Tante boleh titip Salwa sekali lagi?"
__ADS_1
"Tentu boleh Tante.."
"Tante harus mengambil sesuatu di rumah dulu.. sekaligus menyiapkan beberapa kebutuhan Salwa selagi menginap di Rumah Sakit.."
"Iya Tante, biar saya bantu jaga Salwa disini.."
"Aduh.. Maaf jadi merepotkan kamu Nak.."
"Gak apa kok Tante, Tante tidak harus sungkan begitu sama saya.."
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya sebentar.. Sayang Ibu pergi sebentar ya.." Kata Ibu mengecup keningku lalu pergi.
"Maafkan aku.." Kata Farhan menggenggam erat tanganku.
"Kenapa minta maaf?"
"Seandainya aku bisa ngerjain tugasku lebih cepat, seandainya aku bisa lebih cepat datang menjemputmu, seandainya aku..."
"Bukan kakak" Kataku memotong perkataan Farhan. "Bukan karena kakak sampai aku seperti sekarang ini"
"Tapi Salwa, seandainya aku.."
"Kak, jangan salahkan diri kakak karena ini salahku. Seandainya aku mau bersabar sebentar saja sampai kakak datang, seandainya aku bisa memperhatikan sekelilingku ini gak akan terjadi.."
"Maafkan aku karena gak bisa ngejaga kamu dengan baik Salwa.. Maafkan aku.."
"Ini bukan salah kakak.." Kataku sambil tersenyum.
Cukup lama Farhan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Aku berulang-ulang meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja dan kejadian ini bukan karena salahnya sampai akhirnya dia benar-benar berhenti berfikir kalau apa yang terjadi ini bukan karena dia.
"Aku akan disini nemenin kamu untuk beberapa waktu.." Kata Farhan yang sedari tadi menggenggam tanganku.
"Terus kuliah kakak?"
"Gak apa, aku akan minta bantuan temen untuk ngisi absenku dan akan mengejar pelajaran nantinya.."
"Jangan gitu.. kakak masuk aja, aku juga bakalan cepat sembuh.."
"Hem.. aku mau nemenin kamu sampai kamu bener-bener sembuh.."
Farhan terus-terusan merajuk ingin menemaniku, aku mengiyakan saja karena Farhan bukan orang bisa diubah keputusannya dengan mudah.
"Salwa, aku sayang sama kamu.."
"Makasih karena udah sayang sama aku kak.."
"Kalau kamu?"
"Aku sama kakak sekarang karena aku sayang juga kan sama kakak.."
"hehe ngedenger kamu ngomong gitu jadi makan sayang.." Katanya tersenyum manis.
"Loh Nak Fauzi kok berdiri saja didepan pintu? kenapa gak masuk?" Terdengar suara Ibu dari luar yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.
Tunggu-tunggu? Nama siapa yang Ibu sebut tadi? Fauzi? Apa Fauzi ada diluar sekarang? Sudah berapa lama Fauzi ada diluar? Apa dia mendengar semuanya?
Aku terkejut, jika benar diluar yang ibu ajak bicara adalah Fauzi lalu percakapanku tadi dengan Farhan?
Farhan menatapku dengan terkejut, sama terkejutnya denganku.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf karena belum bisa memenuhi permintaan pembaca T_T..