Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 44


__ADS_3

Fauzi berdiri didepan cermin, memandangi kembali penampilannya dan memastikan kalau semuanya terlihat bagus, dia ingin tampil menawab di depan Salwa malam ini. Jas yang Ayahnya pilihkan begitu pas dia kenakan.


"Sudah siap?" Fauzi mengirimkan pesan singkat pada Salwa.


Dengan perasaan deg-degkan Fauzi mengendarai mobilnya untuk menjemput Salwa setelah sebelumnya menerima balasan pesan dari Salwa bahwa dia sudah siap, sesekali dia melirik kaca, memperbaiki rambutnya dan memastikan penampilannya tetap terlihat bagus.


"Tolong jangan terlalu cantik malam ini Salwa, takutnya aku gak bisa tampil cool lagi, nanti kamu bisa illfeel kalau tau seberapa sukanya aku sama kamu.." Fauzi menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.


Sepanjang perjalanan Fauzi terus-terusan berusaha mengatur nafasnya dan mengendalikan perasaannya juga berusaha melatih detak jantung agar tidak terlalu kencang terdengar meski itu hal yang tidak mungkin.


Fauzi tiba didepan rumah Salwa dan dilihatnya Salwa berjalan menghampirinya, Fauzi dengan cepat turun dan siap membukakan pintu untuk Salwa.


Sejenak Fauzi tercengang.. "Cantik sekali.." Kata Fauzi tanpa sadar.


"Ma makasih" Jawab Salwa terbata-bata.


"Gak gak... tadi kan udah latihan buat ngendaliin diri, hadehh.. kenapa jadi begini sih??? Ck, Salwa ini udah dibilang gak usah terlalu cantik, malah makin cantik" Fauzi berusaha menyadarkan dirinya.


Mereka tiba, hanya berjalan beriringan kemudian berpisah saat memasuki gedung pesta. Meski Fauzi bergabung dengan tamu-tamu yang lain, sesekali matanya tetap melirik ke arah Salwa. "Setelah berangkat bareng, rasanya kayak mau bareng Salwa terus.." Keluh Fauzi dalam hati. Fauzi memandang Salwa dari kejauhan yang sedang asyik mengobrol dengan tamu lainnya sambil sesekali tertawa kecil "Cantik sekali.." Decak kagum Fauzi yang tidak ada hentinya.


Seperti halnya siang tadi, kali ini setelah beberapa tamu beranjak pulang, Fauzi dan Salwa beserta Annisa kembali naik untuk foto bersama dengan kedua mempelai  dan lagi Fauzi dan Farhan memulai candaannya.


"Ha ha kali ini gue serius Lu cepat nyusul gih, Lu jangan kelewat santai. Jangan lupa sama umur bro.." Kata Farhan sedikit meledek Fauzi.


"Elah Han, kan gue udah bilang kalau nanti jodohnya ketemu ya gue pasti nikah lah.."


"Noh itu Salwa nganggurr.." Farhan mulai untuk memberi sinyal agar Fauzi dan Salwa dekat kembali.


"Ha ha kalau orangnya mau, besok gue lamar deh.." Jawab Fauzi sambil tertawa. "Dia gak mau juga bakal ku lamar, ya setidaknya dia tahu kalau aku masih sayang sama dia" Gumam Fauzi dalam hati.


"Ha ha ha.. Salwa siap-siap gih besok bakal di lamar tuh.." Annisa ikut-ikut menambahkan.


"Kalian jangan ngaco.. I itu tidak mungkin terjadi.." Salwa mempertegas meski kata-kata tegasnya tak setegas suaranya.


JLEEBBB.. Fauzi spontan menatap Salwa. "Tidak mungkin?? Kenapa tidak mungkin?? Apa yang salah?? Apa Salwa sudah punya oranglain??" Perasaan Fauzi yang sedari tadi berbunga-bunga karena berangkat dan nantinya akan pulang bersama Salwa seketika berubah menjadi perih. Fauzi mengalihkan pandangannya dari Salwa dan tertunduk mencoba mengatasi perasaannya dan menekan rasa sakit sebisanya, dia tidak mungkin memperlihatkan ekspresi yang tidak menyenangkan didepan Farhan dan Nina yang sedang berbahagia saat ini.


Meski Fauzi berusaha sebisanya untuk tetap menyembunyikan perasaannya dan mengatur ekspresinya untuk terlihat tenang, tetap saja Farhan dan Nina mengerti apa yang Fauzi rasakan saat ini.

__ADS_1


Farhan menatap Nina seolah berbicara menggunakan telepati untuk bisa memecah suasana yang buruk ini dan mengalihkan perhatian Fauzi dari apa yang baru saja Salwa katakan tadi.


"Ha ha ha Kenapa malah ngebahas kalian berdua sih, kan yang nikah aku sama Nina.." Kata Farhan memecah keheningan diantara obrolan mereka tadi.


"I iya nih.. Ha ha udah ayo lanjut foto-foto" Tambah Nina.


.


.


.


Acara yang berlangsung meriah, meski masih ada segelintir tamu yang masih tinggal namun Fauzi dan Salwa sudah undur diri pada dua mempelai untuk pulang.


Sepanjang perjalanan Fauzi hanya terdiam, pikirannya terus-terusan terganggu dengan jawaban Salwa tadi. Fauzi sudah berusaha menekan perasaannya sebisanya, namun tetap saja jawaban Salwa sangat-sangat melukai hatinya.


"Apa Salwa punya pacar sekarang? Kalau tidak, lalu mengapa diantara kita terselip kata 'tidak mungkin'?" Fauzi tidak bisa mengelak dari perasaannya yang mulai kalut sekarang.


Fauzi berbalik menatap Salwa yang diam saja, kemudian kembali menatap jalan. "Apa aku tanyakan saja? Ya aku tanyakan saja, aku harus tahu apa alasan Salwa mengatakan itu, jika memang dia sudah punya oranglain aku seharusnya mempersiapkan diri untuk mundur"


"Salwa, aku mau nanya sesuatu tapi ini sedikit pribadi, apa boleh?" Pertanyaan Fauzi memecah keheningan diantara keduanya.


"Kamu punya tunangan?" Tanya Fauzi tanpa menatap Salwa "Tolong jangan bilang iyaa..." Ada perasaan takut bagi Fauzi untuk mendengar jawaban Salwa.


"A apa? Tu tunangan?" Salwa cukup terkejut mendengar pertanyaan Fauzi.


"Iya.."


"Gak, aku gak punya.." Jawab Salwa.


Hufftt.. Fauzi merasa sedikit lega.


"Kalau pacar??" Fauzi kembali bertanya.


"Gak jugaa.."


Perasaannya yang sedari tadi berkecamuk karena memikirkan Salwa yang kemungkinan punya kekasih perlahan mulai lega. "Syukurlah.. Aku tadinya takut mendengar jawabanmu". Fauzi tersenyum kecil, jujur saja ada perasaan senang mengetahui Salwa yang belum menjadi milik oranglain saat ini.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Salwa kebingungan.


"Gak, aku cuman mau tau saja.." Jawab Fauzi masih menahan senyumannya karena senang.


"Lagi ngejek aku?" Tanya Salwa terlihat kesal.


"Gak, kenapa juga aku ngejek kamu.." Jawab Fauzi spontan dengan balik bertanya. "Kenapa dia ngerasa kayak gitu? Apa salahnya aku bertanya?" Fauzi sendiri bingung mengapa Salwa merasa seperti itu.


"Lah terus kenapa?"


"Masa iya aku jawab karena kepikiran sama jawabannya tadi?" Gumam Fauzi. "Gak, aku cuman ngerasa kamu ngebangun dinding diantara kita seolah kamu sedang ngejaga perasaan seseorang" Jawab Fauzi.


"Memang seperti itu kan.."


Fauzi kembali spontan menatap Salwa. "Jadi beneran kamu sengaja ngehindar dari beberapa gurauan Farhan dan Nina karena ngejaga perasaan seseorang??" Tanya Fauzi kembali terkejut.


"Iya.."


"Ck, maksudnya apa?? Jawaban tadi bohong???" Perasaan lega itu hanya seketika saja singgah dihati Fauzi dan sekarang mulai tidak karuan lagi.


"Kamu bilang kamu gak punya pacar" Fauzi mempertegas jawaban Salwa tadi.


"Memang aku gak punya.."


Jawaban Salwa semakin membuat Fauzi kebingungan.


"Terus perasaan siapa yang kamu jaga?" Fauzi sudah tidak bisa mengontrol image cool-nya lagi.


"Aku memang ngebangun dinding antara kita kak, aku cuman ingin memastikan agar perasaanku tidak melewati dinding pembatas itu.."


"Untuk apa sih Salwa ngelakuin ini? Apa dia mau balas dendam karena aku udah ninggalin dia dulu??"


Fauzi semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Salwa.


"Untuk apa?"


"Ya untuk apa lagi selain untuk menjaga calon istri kakak..."

__ADS_1


"WHAATTT??? Dia bilang apa barusaan????"


__ADS_2