
Malam semakin larut, sedang Salwa yang baru siuman masih saja sibuk mendebat suaminya yang mengatakan kebenaran dirinya sebagai seorang penderita Alzheimer.
Salwa sebagai tenaga medis, jelas tahu seperti apa menyeramkan seseorang yang menderita Alzheimer itu, membuatnya sangat tidak setuju saat Fauzi menyebut dirinya sebagai orang yang menderita Alzheimer.
Dia sadar, bahwa sebelumnya dia sempat keliru dan kebingungan dalam memahami waktu. Namun sekarang dia sudah sadar dan paham akan waktu, dia sudah bisa membedakan waktu dan seperti yang dia rasakan bahwa tidak ada satupun yang terlewatkan dari ingatannya. Dan lagi, seperti yang dia ketahui bahwa penderita Alzheimer bukan hanya orang yang dya ingatnya menurun atau sulit membedakan waktu, tapi juga mereka yang kesulitan bebricara dengan lancar dan sulit menanggapi pembicaraan orang lain. Sedang dirinya saat ini, sangat sadar bahwa dia tidak kesulitan dalam berbicara dan paham dengan apa yang Fauzi katakan padanya tadi.
“Sayang, penderita Alzheimer itu bukan cuman lupa saja. Tapi mereka itu bahkan gak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Segala sesuatu yang dia lihat butuh seseorang untuk menjelaskan pada mereka”
Fauzi terdiam sejenak, dia sendiri bingung. Dalam hati, Fauzi sangat ingin percaya bahwa apa yang terjadi pada Salwa sebenarnya saat ini adalah sebuah kesembuhan untuk istrinya. Hanya saja, dia kembali mengingat, bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus untuk menyembuhkan penderita Alzheimer dan belum ada obat yang didapatkan atau berhasil di teliti sebagai obat yang bisa menyembuhkan Alzheimer. Meski Fauzi sangat senang melihat Salwa yang dengan lancar bercerita tentang kehidupan mereka di masa lalu, namun Fauzi tetap menahan diri untuk terlalu berharap, mengingat sebelumnya Salwa memang pernah tersadar dan ingat beberapa hal tentang kehidupannya.
“Aku kan cuman bingung sama waktu saja tadi. Gak tahu karena habis kecelakaan atau mengigau sampai aku gak sadar. Tapi sekarang kan aku sudah tahu, dan lagi kamu gak harus ngejelasin satu persatu hal sama aku kan? Aku gak keliatan seperti orang yang bingung kan? Aku juga paham sama semua yang kamu katakan tanpa kamu jelaskan panjang lebar. Aku gak lupa sama kamu, sama anak kita, sama kehidupan kita. Aku sama sekali gak gitu..”
“Pernah” Jawab Fauzi singkat.
“Pernah?” Ulang Salwa yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Fauzi.
“Iya, kamu pernah seperti itu sayang. Kamu pernah lupa sama aku, sama anak kita bahkan lupa sama dirimu sendiri”
“A-aku??” Tanya Salwa memperjelas.
“Iya, kamu sayang. Kamu pernah gak bisa paham sama sesuatu kalau gak aku jelasin, kamu pernah kebingungan sama semua hal yang kamu lihat. Bahkan, kamu pernah gak sadar kalau kamu mau buang air kecil, sampai kamu ngompol di tempat”
Salwa terperangah, matanya terbuka lebar dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa dia sembunyikan. Salwa tidak pernah percaya bahwa dia pernah mengalami hal seperti itu.
“A-aku, aku pernah seperti itu?” Tanya Salwa ulang untuk perjelas apa yang dia dengar dari suaminya.
__ADS_1
Fauzi mengangguk pelan. Rasanya terlalu menyakitkan jika kembali mengingat bahwa benar istrinya seperti itu beberapa bulan terakhi ini.
Fauzi menceritakan semua yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, dan Salwa yang mendengarkan dengan rasa tak percaya hingga sesekali harus bertanya ulang untuk memperjelas apa yang Fauzi katakan.
Salwa masih sangat sulit percaya apa yang Fauzi katakan. Ya itu hal yang wajar, bagaimana bisa Salwa percaya akan apa yang Fauzi ceritakan jika hal itu tidak ada diingatannya.
.
.
.
.
Keadaan Salwa yang membaik, membuatnya mendapatkan izin keluar dari Rumah sakit. Hingga Salwa dinyatakan sehat dan bisa keluar dari Rumah sakit, Fauzi tidak pernah menghubungi orangtua mereka. Yang ada di pikiran Fauzi saat ini adalah harapan bahwa apa yang dia lihat dari istrinya saat ini adalah tanda bahwa Salwa akan sembuh, sehingga Fauzi berpikiran untuk mengabari orangtua mereka ketika Salwa selesai melakukan pemeriksaan untuk melihat bagaimana keadaan otaknya.
Fauzi dan Salwa akhirnya sepakat untuk segera memeriksakan kondisi Salwa pada dokter sebelumnya menangani Salwa sebagai penderita alzheimer. Salwa sendiripun masih belum yakin bahwa dirinya pernah di diagnosa sebagai penderita alzheimer.
MRI pun dilakukan untuk melihat seperti apa keadaan otak Salwa saat ini, yang sebelumnya mulai mengkerut akibat penyakit yang di deritanya.
Sembari menunggu hasil MRI yang membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu itu, untuk keluar. Fauzi membawa Salwa pulang ke rumah mereka. Salwa begitu terperanjat menemui keadaan rumah mereka yang dipenuhi dengan tempelan sticky note yang berisi penjelasan-penjelasan kehidupan sehari-hari dan beberapa foto yang tertempel di rumah mereka dengan sticky note yang berisi penjelasan untuk foto itu.
“I-ini kenapa? Kenapa kamu nempelin ini banyak sekali?” Tanya Salwa kebingungan. “Ini untuk apa??”
“Ini untuk ngelatih ingatan kamu kemarin-kemarin sayang. Kamu sering sekali berdiri disini dan ngebaca satu persatu-satu sticky note ini, meski kemampuan membacamu juga perlahan menurun. Semua foto aku tempel disini beserta penjelasannya biar kamu bisa ingat semuanya” Jelas Fauzi.
__ADS_1
Salwa begitu terkejut mengetahui bahwa semua itu dibuat untuknya.
“A-aku beneran lupa akan hal-hal seperti ini? Aku beneran gak bisa ngebedain waktu, jenis makanan dan...” salwa tidak melanjutkan kata-katanya, dia begitu terkejut sampai tidak bisa percaya akan apa yang terjadi pada hidupnya sebelumnya.
Tanpa bukti, Salwa tetaplah sulit percaya bahwa apa yang Fauzi jelaskan padanya itu adalah hal yang benar pernah terjadi. Salwa masih tidak yakin dan bahkan masih berpikiran bahwa Fauzi tengah mengada-ngada.
Dipikiran Salwa, bagaimana bisa dia seperti sekarang ini. Makan dengan baik, mengerti dengan baik, paham dengan baik semua apa yang Fauzi katakan kalau benar dia pernah menderita Alzheimer. Karena seperti apa yang dia ketahui, bahwa penderita Alzheimer tidak mungkin bisa melakukan itu dan jelas bahwa tidak ada penderita Alzheimer yang bisa sembuh.
Jadi kemungkinan yang ada dipikiran Salwa saat ini, yaitu bahwa Fauzi salah memahami atau salah mengira perihal kesehatannya, mengingat dia baik-baik saja sekarang.
“Hanya terus lupa dan terus bertambah parah kemudian mati yang ada dalam pilihan hidup penderita alzheimer” Gumam Salwa saat memandangi sticky note itu.
Seperti seorang anak kecil, dia tidak akan bisa percaya bahwa api itu panas, jika dia belum pernah merasakan api itu sendiri. Dan begitulah yang terjadi pada Salwa saat ini, dia tidak bisa percaya bahwa benar dia adalah penderita sebelum mendapatkan jawaban dan hasil pemeriksaan kesehatannya dari dokter selama ini.
.
.
.
.
Fauzi mendapat telfon dari dokter yang memeriksa Salwa bahwa hasil MRI Salwa sudah keluar, sehingga Fauzi diminta untuk segera datang ke Rumah sakit untuk membicarakan perihal hasil yang ditemui oleh dokter.
Dokter itu mulai memperlihatkan hasil foto tes MRI otak Salwa dan...
__ADS_1
“A-apa
a????”