Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Teguran Ibu..


__ADS_3

"Apa Bu?" Tanyaku.


Tidak biasanya Ibu seperti ini, sepertinya Ibu akan membahas sesuatu yang serius.


Ibu menyodorkan ponselku, sudah sekitar satu minggu aku tidak memegangnya.


"Oh ponselku, sudah lama sekali.." Kataku sambil membukanya.


"Maafkan Ibu.."


"Maaf? Kenapa Ibu minta maaf?" Tanyaku bingung.


"Ibu gak seharusnya membuka-buka ponselmu, ya meskipun kamu anak Ibu tapi Ibu tau kalau kamu punya privasimu sendiri.."


"Gak apa Bu, masa hanya karena itu Ibu minta maaf" Kataku tersenyum "Lagian gak ada apa-apa juga di pon.." Kata-kataku terhenti setelah menyadari sesuatu.


Aku menatap Ibu dan Ibu menatapku dengan serius.


"Sudah berapa lama?"


"A apanya?" Tanyaku sedikit terbata-bata.


"Kamu dengan Farhan?"


Seperti yang kusadari, Ibu sudah membuka ponselku jelas Ibu sudah mengetahui tentang hubunganku dengan Farhan.


"I itu.. Bu.."


"Sudah berapa lama?" Ibu mengulangi pertanyaannya.


"Sebelum Fauzi lulus" Jawabku dengan nada yang rendah sambil menunduk, aku tidak sanggup menatap Ibu.


"Sejak itu? Itu sudah lama sekali Salwa, selama itu kamu ngebohongi Ibu, Fauzi dan keluarganya?"


Aku diam saja, aku tidak berani menanggapi perkataan Ibu


"Sampai sekarang Fauzi tidak tahu?"


Aku menggeleng.


"Hanya kalian berdua yang tahu?"


Aku mengangguk.


"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan ini Salwa?"


"B bu.. Aku akan nyelesaiin semuanya dengan Farhan.."


"Kapan?"


"Secepatnya Bu.."


"Huffttt...." Ibu menghela nafas panjang lalu duduk disampingku. Ibu meraih tanganku.


"Kamu kenapa seperti ini Nak? Apa yang kurang dari Fauzi sampai kamu melakukan ini? Kamu tahu kan resikonya kalau Fauzi sampai tahu?"


Aku diam saja.


"Sayang Ibu gak akan maksa kamu untuk tetap milih Fauzi, kalau perasannmu ke Fauzi benar sudah berubah dan sekarang sukanya sama Farhan, itu terserah kamu. Hanya saja jangan seperti ini sayang, kamu gak boleh egois untuk memiliki keduanya. Perjelas hubunganmu dengan Farhan dan tinggalkan Fauzi. Fauzi akan sangat sakit kalau suatu hari nanti dia tahu dari orang lain.."


"Gak Bu, aku gak akan ngelepas Fauzi.."


"Terus kamu maunya gimana Nak? Kamu gak boleh terus-terusan dalam hubungan seperti ini"

__ADS_1


"Aku akan bicara sama Farhan"


"Tunggu, apa maksudnya mau bicara dengan Farhan? Kamu mau mengakhiri dengan Farhan?"


Aku mengangguk


"Kenapa?"


"Karena aku inginnya sama Fauzi Bu"


"Kalau kamu masih mencintai Fauzi, terus kenapa bisa sama FarhanĀ  Nak?"


Aku menggeleng, aku tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Ibu, aku tidak mungkin bilang pada Ibu alasanku jadian dengan Farhan karena tidak ingin merasa kesepian, bisa-bisa Ibu makin marah.


"Yasudah, kalau kamu benar masih sayang sama Fauzi, akhiri dengan Farhan cepat. Kamu akan kesulitan sendiri kalau sampai Fauzi tahu yang sebenarnya"


Aku mengangguk saja.


"Kamu sudah besar sayang, kamu harusnya sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar"


"Iya Bu.." Jawabku dengan terus-terusan menunduk tidak sanggup menatap Ibu.


"Ini juga salah Ibu.."


Sontak aku mengangkat kepalaku memandangi Ibu, memperlihatkan ekspresiku yang bingung dengan perkataan Ibu


"Iya ini salah Ibu" Kata Ibu yang mengerti dengan tatapanku "Karena Ibu kurang memperhatikanmu sampai kamu tidak tau harus mengambilkan tindakan bagaimana yang benar"


"Gak Bu, Salwa udah cukup besar buat bisa tahu kalau ini salah"


"Ya sudah perbaiki hubunganmu secepatnya, jangan sampai kamu menyesal nantinya"


"Iya Bu.."


"Ibu mau ngasih tau Fauzi?" Tanyaku terkejut.


Ibu menggeleng. "Gak, tapi Ibu juga gak akan menutupi kebenarannya kalau nanti Fauzi mulai curiga dan bertanya-tanya"


Aku diam saja. Benar, tidak mungkin Ibu membantuku menyembunyikan kebohonganku yang seperti ini.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, besok kamu sudah masuk sekolah, nanti Ibu bantu siapkan perlengkapan sekolahmu.."


"Makasih Bu.."


"Iya sayang.." Kata Ibu sambil mengecup keningku lalu meninggalkan kamarku.


Tekadku untuk mengakhiri hubunganku dengan Farhan semakin bulat. Tidak ada lagi alasan buatku untuk terus bertahan dengan Farhan.


Aku membuka ponselku, kutemukan beberapa pesan dari Farhan yang sepertinya sudah dibaca Ibu.


"Kak maaf aku gak ngehubungi kakak sepekan terakhir juga gak bisa ketemu kakak.." Pesan singkat yang kukirimkan pada Farhan


Telfonku seketika berdering, panggilan masuk dari Farhan dan aku langsung menolaknya. Aku tidak ingin berbicara dengan Farhan, itu bisa merubah niatku untuk mengakhiri hubunganku dengan Farhan.


"Kenapa di reeject?" Balasan pesan dari Farhan.


"Kak sebelumnya aku minta maaf, tapi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita.." Kembali kukirimkan pesan singkat itu pada Farhan.


Ponselku kembali berdering, panggilan masuk dari Farhan dan lagi aku menolaknya. Farhan terus-terusan menelfon dan aku terus menolaknya.


"Aku gak mau.. Angkat telfonku.."


"Maaf.."

__ADS_1


"Aku gak butuh maafmu Salwa, yang aku butuhkan kamu tetap disisiku.."


"Aku udah gak bisa kak?"


"Kenapa? Apa karena kamu kembali nyaman seminggu terakhir bisa bersama Fauzi, apa kamu lupa apa yang membuat kita seperti ini? Itu semua karena Fauzi yang melukaimu malam itu.."


Lagi-lagi Farhan mengingatkanku tentang itu.


"Kak, dari awal hubungan kita sudah salah.."


Telfonku berdering lagi panggilan masuk dari Farhan, tapi aku terus-terusan menolaknya.


"Kenapa baru sekarang kamu ngebahas lagi kalau hubungan kita salah? Kalau kamu sadar ini salah lalu kenapa kemarin kamu bilang udah sayang sama aku Salwa?"


"Maafkan aku kak.."


"Aku gak mau, pokoknya aku gak mau pisah dari kamu Salwa. Aku sayang sama kamu.."


"Maaf kak, dan tolong jangan ganggu aku dulu karena aku harus fokus pada Ujian Nasional yang tinggal sebentar lagi.."


"Kamu gak bisa kayak gini Salwa.."


Telfonku terus berdering panggilan masuk dari Farhan.


"Angkat telfonku, kita butuh bicara.."


"Aku gak bisa.."


"Kenapa? Kenapa seperti ini lagi Salwa, kamu kenapa seperti ini sama aku? Aku juga orang yang sayang sekali sama kamu tapi kenapa melakukan ini padaku.."


Aku tidak menggubris pesan dari farhan, semakin aku meladeninya akan semakin kuat juga Farhan mengirimiku pesan.


"Kamu sudah pulang dari Rumah sakit kan? Berarti sekarang kamu sudah ada dirumah. Tunggu aku, aku akan kesana"


Seperti Farhan yang biasanya, dia selalu nekat.


"Ngapain kakak kerumahku? Dirumah lagi ada Ayah dan Ibuku.."


"Lalu kenapa?"


"Apa yang akan kakak bilang kalau ketemu sama Ibu dan Ayahku nanti.."


"Aku akan menceritakan semuanya, sekaligus meminta restu dari Ayah dan Ibumu.."


"Pikirkan baik-baik kalau kakak ingin melakukan itu, Ayah dan Ibuku tahu betul tentang hubunganku dengan Fauzi. Kakak pikir sendiri akan seperti apa tanggapan Ayah dan Ibuku kalau kakak terus terang tentang kita.."


"Lalu aku harus bagaimana Salwa? Aku tidak bisa kehilangan kamu.."


"Maaf kak, tapi hubungan kita cukup sampai disini.."


"Kamu jahat Salwa, kenapa tega seperti ini sama aku.."


"Kalau begitu benci aku kak, benci aku karena udah ngelakuin hal jahat ini sama kakak.."


Farhan kembali menelfon. Aku sadar Farhan akan selalu menelfonku jadi aku memasukkan nomor telfon Farhan dalam kontak blacklist ponselku. Farhan tidak akan bisa menghubungiku karena nomornya sudah masuk daftar blokir panggilanku.


"Apa kamu sampai harus memblokir nomorku?"


"Maaf kak, ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan agar kakak gak selalu menelfonku"


"Salwa, kita masih bisa membicarakan ini baik-baik.."


"Maaf kak, sepertinya aku juga harus memblokir pesan kakak.. Aku sangat minta maaf sudah melakukan ini sama kakak dan aku sangat berterimakasih karena kakak sudah menjaga dan sangat baik padaku selama ini. Aku berharap yang terbaik juga buat kakak.." Pesan singkat terakhir kukirim pada Farhan dan setelahnya aku memblokir pesan Farhan.

__ADS_1


Airmataku menetes, aku sangat menyadari betapa kejamnya apa yang aku lakukan pada Farhan sekarang.


__ADS_2