Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 23


__ADS_3

Tidak ada rasa sakit yang bisa dijelaskan dengan tenang dari pengkhianatan dari orang-orang yang sangat dipercayai. Tindakan apa yang harus diambil?? Bolehkah meluapkan segala emosi yang menggebu-gebu dalam hati dan menumpahkan segala kekecewaan yang serasa mengiris sampai ke pembuluh darah, hati yang sakitnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Apakah aku sedang kehilangan dua orang yang sangat kupercayai saat ini?? Bisakah aku meronta-ronta dengan kemarahanku, meluapkan segala sakitnya perasaanku, menghujani kalian dengan kata-kata kasar karena kekecewaanku dan membunuh kalian dalam hatiku agar dapat membuang segala hal yang berhubungan dengan kalian. Bisakah bertanggung jawab pada perasaanku? Andaikan kamu diposisiku, apa yang akan kamu lakukan???


Fauzi mengalihkan pandangannya dari Farhan dan Salwa yang terhalang kaca pintu meski masih bisa mendengar percakapan yang saling melempar perhatian satu sama lain itu. Airmata Fauzi menetes kembali setelah sebelumnya dia sudah menyekanya. Fauzi menunduk, terisak dan tidak mampu menatap kedepan untuk melihat Farhan dan Salwa. "Aku harus bagaimana sekarang??" Pikir Fauzi. Dia berusaha menenangkan pikiranya dan berfikir tindakan seperti apa yang harus dia ambil.


"Loh, Nak Fauzi? Kok berdiri saja di depan pintu? Kok gak masuk??" Tanya Ibunya Salwa sambil berlajalan menghampiri Fauzi dengan jinjingan tas ditangannya.


Pertanyaan Ibu Salwa membuat Fauzi terkejut dan segera menyeka airmatanya sebelum ibu Salwa tiba tepat didepannya. Fauzi mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum pada Ibunya Salwa.


"Aku baru sampai Bu, ngambil nafas sebentar karena lari-larian tadi cari kamar Salwa.." Jawab Fauzi.


"Yaudah ayo masuk.."


Fauzi melangkah masuk bersama Ibu Salwa untuk menemui Salwa dan Farhan didalam kamar rawat inap Salwa. Fauzi masih terus-terusan berusaha mengendalikan ekspresinya sambil berfikir tindakan apa yang harus dia ambil selanjutnya. Jika bertanya tentang marah, jelas Fauzi sangat marah dan kecewa saat ini hanya saja dia tidak bisa langsung memperlihatkan kemarahannya karena harus memikirkan kedepannya akan seperti apa. Fauzi tidak ingin gegabah dan lagi setelah melihat respon Ibunya Salwa yang biasa-biasa saja dengan kehadiran Farhan disana menandakan bahwa Ibunya Salwa pun tidak tahu menahu tentang hubungan Salwa dan Farhan.


Percakapan dalam ruang inap Salwa dimulai, Ibu Salwa mulai membahas sesuatu namun tidak ada yang bisa didengar baik oleh Fauzi karena pikirannya yang tidak karu-karuan. Fauzi yang sedari tadi mengkhawatirkan Salwa harusnya berhambur memperhatikan Salwa untuk meluapkan kekhawatirannya tapi dengan apa yang baru saja dia lihat akhirnya Fauzi hanya memandang dengan pandangannya yang kosong dan tidak banyak bicara.


Fauzi masih menjawab beberapa pertanyaan dari Ibu Salwa meski belum terlalu bisa benar-benar fokus.


"Kamu sudah tanya Ibumu nak kalau kamu pulang?" Tanya Ibu Salwa.


"Be belum bu, karena terlalu khawatir pas sampai tadi saya langusng berlarian kesini jadi saya lupa ngabari Ibu.."


"Hem.. Kabari Ibumu dulu Nak.."

__ADS_1


"Iya Bu, saya permisi keluar sebentar. Salwa, aku keluar sebentar.." Kata Fauzi izin tanpa menatap Salwa.


Fauzi berjalan keluar dari kamar Salwa, ini adalah waktu baginya untuk berfikir tindakan apa yang harus dia ambil selanjutnya. Sepanjang perjalanan keluar airmata Fauzi terus-terusan menetes.


.


.


.


Fauzi tiba dirumahnya dengan wajahnya yang lusuh dan matanya yang sembab.


"Aku pulang Bu.." Kata Fauzi pada Ibunya saat Ibunya membukakan pintu untuknya.


"Salwa kecelakaan Bu.." Kata Fauzi datar.


"Kecelakaan, kok bisa? Bagaimana keadaannya sekarang???" Tanya Ibunya terkejut.


"Dia baik-baik saja dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit.."


"Nanti Ibu kesana juga dengan Ayah untuk menjenguknya.. Sekarang kamu masuk dulu, sudah makan nak??"


Fauzi menggeleng.


"Yasudah sana ganti baju dan basuh mukamu dulu, Ibu masakan makanan kesukaanmu.." Ibunya mencoba memahami perasaan putranya.

__ADS_1


Fauzi tahu Ibunya mengira ekpresi wajah dan mata sembabnya itu dia dapatkan dari rasa kahawatinya karena Salwa yang baru saja kecelakaan, padahal yang menyebabkan itu semua adalah karena perasaannya yang hancur setelah melihat Farhan dan Salwa tadi. Fauzi membiarkan Ibu salah paham karena menceritakan yang sesungguhnya pada Ibunya hanya akan memperkeruh suasana.


Fauzi duduk tersungkur termenung dibalik pintu kamarnya, perlahan airmatanya kembali menetes namun dengan cepat dia seka. "Apa yang harus aku lakukan sekarang??" Tanya Fauzi pada dirinya sendiri sambil menutupi matanya. "Arrgggg......" Fauzi menarik rambutnya karena kesal tidak dapat berfikir dengan jernih. "Apa aku hanya berhalusinasi? Apa tadi itu benar? Aku tidak ingin percaya bahwa itu nyataa..." Fauzi terus-terusan menanyai dirinya sendiri meski dia tahu kalau dia sendiri tidak punya jawabannya.


Fauzi berjalan dan duduk didepan meja belajarnya, memandangi fotonya bersama Salwa saat pelulusan SMAnya dulu. Fauzi mengangkat foto itu, meraba wajah Salwa lewat foto dan lagi airmatanya menetes jatuh membasahi kaca bingkai yang dipeganginya. Fauzi meletakkan bingkai fotonya terbalik, dia seperti tidak sanggup lagi melihat wajah Salwa meski hanya melalui foto.


Fauzi meraih buku yang selama ini dia tuliskan hal-hal yang ada hubungannya dengan Salwa. Dia semakin terbiasa meluangkan perasaannya dalam buku sekarang.


"Aku berharap, apa yang kulihat hari ini adalah sebuah mimpi atau hanya sebuah kesalahan saja.."


Fauzi menulis satu kalimat itu dan kembali menutup bukunya. Dia meletakkan kepalanya diatas buku itu sambil terus-terusan berfikir dia harus bagaimana sekarang. Meski ada perasaan sakit dan kecewa yang terlalu besar, Fauzi masih tidak sanggup untuk melepaskan Salwa maupun kehilangan Farhan sebagai sahabatnya.


"Sayang.. kamu masih belum ganti baju???" Tanya Ibunya yang masuk untuk melihat keadaan putranya. Ibu Fauzi turut sedih melihat putranya meski yang dia tahu adalah Fauzi yang seperti sekarang ini terluka karena Salwa yang kecelakaan. "Mandi dulu nak, agar pikiranmu bisa lebih jernih. Ibu tunggu kamu dibawah ya, Ibu udah masakin makanan kesukaanmu.." Kata Ibunya penuh perhatian


"I iya Bu.." Fauzi masih berusaha tersenyum pada Ibunya.


Fauzi beranjak dan menuju kamar mandi, berharap pikirannya bisa lebih jernih setelah selesai mandi nanti.


.


.


.


Setelah cukup lama berfikir, Fauzi akhirnya memilih untuk pura-pura tidak tahu tentang hubungan Farhan dan Salwa sambil melihat bagaimana hubungan mereka juga hubungannya sendiri dengan Salwa. Fauzi sendiri belum siap kehilangan Salwa sebagai kekasihnya dan Farhan sebagai sahabatnya. Dia akan melihat bagaimana kedepannya, jika benar Salwa lebih memilih Farhan nantinya, maka dia siap melepaskan Salwa. Fauzi berfikir, bagaimana bisa dia memisahkan Salwa dan Farhan jika keduanya saling mencintai, jangan hanya karena dia lebih awal bersama dengan Salwa sampai dia harus menghalangi perasaan keduanya. Ya Fauzi berfikiran seperti itu meski hatinya sangat terluka dan benar-benar belum siap untuk kehilangan Salwa.

__ADS_1


__ADS_2