
Aku berhasil mendapatkan alamat Fauzi disana dan segera menyusulnya setelah mendapat izin dari Ibu. Ibu memberiku dukungan penuh untuk meminta maaf pada Fauzi.
Kali ini aku terbilang nekat, aku berangkat sendiri ke provinsi seberang tanpa tahu apa-apa, perjalanan dari tempatku tinggal dan tempat Fauzi kuliah memakan waktu tiga puluh menit untuk sampai melalui udara.
Aku sampai tanpa seseorang yang menjemputku di bandara, aku keluar bandara mencari Taxi dan segera menuju alamat tempat tinggal Fauzi.
Aku tiba dialamat yang diberikan Ibu Fauzi, rumahnya terlihat sepi. Aku mengetuk-ngetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam mungkin karena Fauzi masih dikampus saat ini. Aku mencoba menelfon Fauzi berharap telfonku bisa terhubung tapi sepertinya nomor ponselku masih masuk dalam daftar blokir panggilan masuk di ponsel Fauzi.
Sudah sekitar tiga jam aku menunggu tapi masih tidak ada tanda-tanda Fauzi akan kembali, langit sore terlihat gelap karena beberapa bagian sepertinya adalah awan yang sedang menampung air hujan, langit mendung menandakan hujan akan turun, aku hanya berharap awan gelap itu segera berlalu sehingga hujan tidak akan turun hari ini. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika hujan turun, dimana aku akan berteduh jika Fauzi belum kembali.
Aku masih saja menunggu, sesekali berjalan ketengah jalan berharap Fauzi akan segera terlihat.
Tik tik tik..
"Ck.. Cuaca betul-betul tidak bersahabat denganku" Gumamku.
Air hujan mulai turun rintik-rintik, melihat dari awan gelap diatas sepertinya rintik-rintik ini hanya sementara dan akan berubah menjadi hujan yang deras nantinya.
Hujan selalu saja datang disaat yang tidak tepat, bukan hanya hari ini tapi hari dimana sakitnya perasaanku karena meihat Fauzi dengan wanita lain, waktu itu juga hujan turun. Hujan seperti ikut bersedih bersamaku.
Aku mulai basah kuyup, hari juga sudah semakin gelap tapi Fauzi tak kunjung pulang. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa pergi dari sini karena pakaianku yang sudah basah kuyup juga aku tidak tau sampai kapan aku disini diguyur hujan sambil menunggu Fauzi kembali. Orang-orang yang tinggal disekitar tempat tinggal Fauzi juga sepertinya pekerja atau mungkin sesama anak kuliahan yang akan pulang ketika malam sudah larut atau mungkin belum pulang karena hujan yang cukup deras.
Aku mulai kedinginan, aku terus menggosok-gosok kedua telapak tanganku berharap bisa merasa hangat sedikit saja tapi hasilnya nihil. Dalam kondisiku yang seperti ini aku benar-benar menyadari kesalahanku selama ini. Andai aku bisa tegas dari dulu, andai aku bisa lebih memahami perasaanku pada farhan, andai egoisku bisa lebih kutekan dan andai saja semuanya tidak terjadi antara aku dan Farhan, aku tidak akan ada disini menahan dingin seperti orang bodoh.
Sorot lampu menoyorotiku membuat penglihatanku sedikit terhalang karena silau. Apa Fauzi sudah pulang? Lampu sorot yang sepertinya berasal dari motor itu semakin mendekatiku.
"Maaf, apa yang mbak lakukan disini?" Tanya seorang pengendara motor yang menghampiriku.
"A aku.. Aku menunggu pemilik rumah.." Jawabku terbata-bata karena kedinginan.
"Fauzi?" Tanyanya dengan suara agak tinggi karena suara hujan yang deras cukup ribut.
Aku mengangguk.
"Oh, Silahkan masuk dulu, aku temannya Fauzi dan untuk sementara aku tinggal bersama Fauzi disini"
__ADS_1
Aku menggeleng "Aku tunggu Fauzi disini saja.."
"Tapi ini lagi hujan deras mbak, sepertinya gak akan reda dekat-dekat ini, ayo berteduh dulu didalam" Ajaknya.
Aku menggeleng lagi. Aku tidak peduli dengan hujan ini, yang aku inginkan sekarang hanya bertemu dengan Fauzi saja.
"Yasudah, setidaknya mbak berteduh diteras.." Tawarnya.
Aku mengangguk lalu melangkah keteras, tapi sama saja karena hujan yang sesekali disertai angin membuat air hujan sesekali menerpaku.
"Ini mbak.." Kata orang itu sambil memberiku sehelai handuk "Sebentar saya telfonkan Fauzi dulu.."
"Te terimakasih.." Kataku terbata-bata karena mulai menggigil.
Aku menunggu cukup lama lagi, sepertinya temannya juga sedikit sulit menghubungi Fauzi terlihat dia berkali-kali melakukan panggilan ulang. Tapi meskipun Fauzi tetap sulit dihubungi setidaknya aku merasa lebih tenang sekarang karena sudah ada teman Fauzi disini yang bisa memberitahu Fauzi kalau aku sedang ada disini.
"Mbak yakin tidak mau masuk dulu?" Tanyanya lagi, dan jawabanku masih sama.
"Aku disini saja.." Jawabku. Aku juga merasa tidak enak masuk ke dalam mengingat teman Fauzi hanya sendiri dirumah dan sudah malam, juga karena aku sudah basah yang bisa membuat rumah menjadi kotor.
"Ma masuk saja, nanti terkena hujan disini.."
"Tidak apa, sudah terlanjur basah juga.." katanya tersenyum.
Ya, dia pulang menggunakan motor tanpa jas hujan jadi dia juga dalam keadaan basah kuyup.
Tidak lama Fauzipun tiba. Fauzi keluar dari mobil sambil berlari kecil menuju teras agar tidak terlalu basah.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Fauzi sesampainya.
"A aku..."
Fauzi berjalan masuk, bahkan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
Apa Fauzi sebenci ini padaku sekarang? Bahkan di saat kondisiku seperti ini Fauzi tidak menghiraukanku, hatiku sakit sekali tapi tiba-tiba.
__ADS_1
Plukk... Fauzi menutupi kepalaku dengan selimut, lalu membalut selimut keseluruh tubuhku sampai ke ujung kakiku.
"Ayo masuk.." Katanya menuntunku dengan pelan.
Fauzi menuntunku dengan perlahan sampai ke Sofa, air hujan yang tadi membasahi pakaianku semua meresap kedalam selimut yang digunakan Fauzi membalutku.
" So Sofanya nanti basah.."
"Kenapa memikirkan itu.." Kata Fauzi membantuku duduk dengan selimut yang membuatku sulit bergerak.
Fauzi membaluri tanganku dengan minyak kayu putih agar aku merasa sedikit hangat, juga membaluri kakiku yang mulai keriput karena terlalu lama terkena air hujan, kemudian memasangkan kaos kaki. Fauzi melakukan semuanya tanpa satu katapun yang keluar dari mulutnya, dia juga sama sekali tidak pernah menatapku.
"O ozi.. Aku.."
Lagi-lagi Fauzi berlalu tanpa membiarkanku menyelesaikan kata-kataku.
Tak lama Fauzi kembali dengan segelas Teh hijau hangat ditangannya. Ia membantuku meminum Teh hangat itu karena tanganku terbungkus dalam selimut.
"Sudah makan?" Tanyanya dengan nadanya yang masih saja dingin.
Aku menggeleng.
Fauzi kembali berlalu tanpa menghiraukanku.
Aku duduk sendiri di sofa, teman Fauzi yang tadi menemaniku entah kemana? Mungkin masuk kedalam atau entah kemana aku tidak melihatnya lagi sekarang.
Aku diam saja, kudengar Fauzi sedang melakukan sesuatu didalam, sepertinya dia sedang memasak didapur.
"Makan dulu.." Kata Fauzi yang kembali dari dalam setelah beberapa saat sambil membawa nampan yang berisikan semangkuk soup dan nasi yang masih hangat.
Fauzi menyuapiku dengan pelan, ia menyuapiku tanpa menatapku dan tanpa ada sepatah katapun yang dia ucapkan. Dia memperlakukanku dengan baik dengan sikapnya yang masih saja dingin.
"Uhhuukk uhuukkk..." Sepertinya karena terlalu lama terguyur air hujan aku sampai Influenza dan terbatu-batuk.
"Pelan-pelan" Katanya sambil membantuku meminum air hangat.
__ADS_1
Aku senang Fauzi masih seperti ini padaku meski dia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku. Aku tahu kecewanya terhadapku tidak akan mudah hilang begitu saja mengingat apa yang aku lakukan sudah keterlaluan, tapi walau begitu dia masih seperti Fauzi yang kukenal yang penuh dengan perhatian meski sikapnya begitu dingin.