Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Same


__ADS_3

Karin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, kemudian melangkah meninggalkan ruang kerjanya menuju toilet, merapikan make-up dan kembali mengecek penampilannya, dia juga tidak lupa menyemprotkan sedikit parfum beraroma lembut untuk menyempurnakan penampilannya sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya.


Semalam Karin mendapat pesan dari Fauzi, sebuah pesan ajakan untuk bertemu hari ini. Ini adalah pesan yang sangat di tunggu Karin beberapa hari terakhir setelah ia bertemu dengan Fauzi sebelumnya. Ya meski ia tahu akan oranglain yang hadir dalam pertemuan mereka hari ini, namun tetap saja Karin merasa bahagia, meski tak sebahagia saat ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan lain dari ajakan Fauzi untuk bertemu.


Bagi Karin, setiap pertemuan yang akan berlangsung dengan Fauzi, adalah anugrah baginya. Dia tidak peduli akan kehadiran oranglain dalam pertemuan itu, asal dia bisa melihat Fauzi, baginya itu sudah lebih dari cukup. Dan lagi, seperti yang Fauzi katakan padanya bahwa orang lain yang akan ikut bergabung dengan pertemuan mereka hari ini adalah pengganti Fauzi, sehingga Karin sudah menyusun rencana untuk membuat Fauzi tetap tinggal bersamanya saat pertemuan untuk membahas pekerjaan itu selesai.


Karin melangkahkan kakinya memasuki sebuah tempat dimana ia memiliki janji bersama Fauzi. Perempuan yang menggunakan kemeja polos pas body berwarna krem yang dipadu padankan dengan bawahan pencil skirt berwarna hitam dan terakhir dengan sentuhan long coat berwarna coklat muda itu, menyapu tempat sekitar dengan pandangannya mencari posisi Fauzi, laki-laki yang memiliki janji temu dengannya hari ini.


Karin tersenyum lebar tatkala pandangannya mendapati laki-laki yang dikenalinya sedang duduk bersama oranglain yang tidak ia ketahui dengan posisi duduk membelakangi dari posisinya berdiri saat ini.


Karin berjalan mantap menghampiri Fauzi yang terlihat tengah berbincang dengan seorang laki-laki yang duduk bersamanya. Langkahnya sedikit ia percepat tatkala rasa ingin bertemu memburunya untuk segera bisa menyapa Fauzi.


“Maaf, aku datang terlambat..” Kata Karin setelah langkahnya berhasil tiba di dekat Fauzi.


Fauzi menghentikan obrolannya, dan balik menatap Karin yang sudah tiba. Senyum manis tidak lupa Fauzi perlihatkan dalam menyambut Karin.


“Ah tidak apa-apa, ini memang sesuai janji kita. Perkenalkan, dia orang yang aku bicarakan sebelumnya”


Fauzi mengarahkan pandangannya pada Faiq yang sedari tadi bersamanya menunggu kedatangan Karin.


Karin masih dengan senyum yang berhias di bibirnya, mengarahkan pandangannya pada laki-laki yang dia ketahui keberadaannya pada pertemuannya bersama Fauzi kali ini.


Senyum yang sedari tadi berhias dibibirnya seketika hilang ketika pandangannya mendapati wajah yang tidak asing baginya. Dua bola mata yang tengah menatapnya saat ini dengan tatapan terkejut yang sama dengan yang dia miliki, bukanlah orang yang baru pertama kali ia temui hari ini. Wajah yang sangat ia kenali, meski beberapa tahun terakhir tidak pernah ia temui lagi.


Tatapan keduanya terkunci beberapa saat, saling memandang dengan rasa terkejut yang sama. Tak sedikitpun Karin berkedip, begitu juga dengan Faiq yang menyadari, bahwa wanita yang kini berdiri di depannya adalah orang yang begitu ia kenali sebelumnya.


Waktu seolah berhenti diantara keduanya, pandangan yang sejurus dengan tatapan yang lekat terus saja berlangsung, membuat keduanya lupa akan kehadiran oranglain diantara mereka.


“A-ada apa??” Tanya Fauzi yang kebingungan melihat reaksi Karin yang tidak biasa, juga Faiq yang terlihat enggan mengalihkan pandangannya.


Pertanyaan Fauzi memecah kuncian tatapan yang berlangsung beberapa waktu itu diantara Karin dan Faiq.


Karin mengalihkan pandangannya, berbalik menatap Fauzi dan kembali memperlihatkan senyumannya, meski jelas terlihat kecanggungan di wajahnya. Sedang Faiq hanya mengalihkan pandangannya dan berusaha mencari objek lain untuk menjadi sasaran kedua bola matanya.

__ADS_1


“Ah ti-tidak apa-apa” Jawab Karin. “Aku duduk ya..” Karin mencoba menepis rasa terkejutnya.


“Ka-kamu baik-baik saja?” Tanya Fauzi memperjelas keadaan Karin yang terlihat sedikit syok.


“Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terkejut melihatnya, karena jika aku tidak salah, dia adalah pengusaha yang sukses sehingga aku tidak menyangka kalau dia yang akan menjadi partner kerja selanjutnya” Jawab Karin menyembunyikan kebenaran antara hubungan yang dia miliki bersama Faiq sebelumnya.


Faiq yang menangkap maksud perkataan Karin yang ingin menyembunyikan hubungan yang mereka miliki sebelumnya, akhirnya ikut memainkan alur yang sudah terlanjur Karin tentukan secara mendadak. Ya, Faiq sendiri juga tidak ingin mengatakan hal apapun pada Fauzi tentang hubungan yang dia miliki bersama Karin, menurutnya itu bukan hal penting yang harus ia beritahu pada Fauzi.


“A-aku juga sedikit terkejut tadi. Aku tidak mengira bahwa seorang direktur dari perusahaan yang bekerja sama dengan kita adalah perempuan yang terbilang masih muda” Jawab Faiq ikut menyembunyikan kebenaran yang ada diantara keduanya. Faiq kembali menggunakan bahasa formal, untuk memperkuat bahwa keduanya bukanlah orang yang saling mengenali, juga karena Karin yang mulai menggunakan bahasa formal.


“Oh, aku sedikit terkejut tadi melihat reaksi kalian berdua. Ya tidak bisa dipungkiri, kalian berdua benar adalah orang-orang yang hebat” Puji Fauzi pada kedua rekan kerjanya, juga dua orang yang sebelumnya sudah ia kenali sebelum terjun dalam dunia kerja. “Kalau begitu kalian kenalan dulu. Aku tahu, bagian-bagian kecilnya kalian pasti sudah saling tahu menahu, tapi tetap saja harus kenalan kan sebelum kita memulai pembicaraan masalah pekerjaan ini”


Karin juga Faiq hanya tersenyum simpul. Perlahan Faiq mengulurkan tangannya, melanjutkan kepura-puraan yang sudah dimulai oleh Karin dan disetujui olehnya.


“Faiq, orang yang akan menggantikan Fauzi dari posisisnya juga orang yang akan...” Faiq berhenti sejenak, rasanya sangat sulit menjalankan drama yang tiba-tiba saja dimulai. “Yang akan bekerja sama dengan anda”


Karin tersenyum, meski dengan sedikit paksaan.


Keduanya sangat canggung, namun Fauzi yang entah kurang peka atau memang tidak begitu peduli dengan keadaan keduanya, sehingga tidak menyadari kecanggungan yang terjadi.


Fauzi memulai pembahasan mengenai pekerjaan. Meski Karin dan Faiq masih merasa kurang nyaman satu sama lain, tapi mereka tetap profesional dalam bekerja dan mengesampingkan masalah pribadi mereka yang kembali muncul ke permukaan setelah mereka timbun dalam-dalam selama ini.


Pembicaraan berjalan lancar, Fauzi yang sebagai penengah diantara keduanya sangat handal dalam menyampaikan hal-hal yang membuat mereka terhubung dalam pekerjaan.


Waktu berlalu sekitar satu jam lebih, Fauzi akhirnya menutup pembicaraan mereka mengenai pekerjaan dan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Sudah sore, aku harus mengajak Salwa pulang”


“Mengajak? Aku gak liat ada Salwa disini” Tanya Karin sembari mencari keberadaan Salwa. Karin menggunakan bahasa non formal mengingat mereka tidak lagi membahas pekerjaan.


“Iya, aku gak berani ninggalin Salwa di rumah sendirian” Kata Fauzi sembari mengirim pesan pada Sasa.


Faiq melirik Karin, mendengar Karin yang menggunakan bahasa non formal dan mengenal Salwa, membuat Faiq menarik kesimpulan bahwa Karin bukanlah orang yang Fauzi kenal melalui dunia pekerjaan ini. Sejenak ia merasa was-was akan Karin yang bisa saja bercerita pada Fauzi tentang hubungan mereka, atau saja mungkin sudah menceritakan semuanya. Namun rasa was-wasnya ia tepi, dan kembali menyadari bahwa sebelumnya yang memulai drama tidak saling mengenal antara dirinya dan Karin, adalah Karin sendiri, yang berarti Karin juga berniat menyembunyikan kebenaran hubungan mereka.

__ADS_1


Sejenak Faiq sadar. Untuk apa dia menyembunyikan kebenaran tentang dirinya yang sudah menikah, pada Fauzi. Namun benar saja, nalurinya seolah menolak untuk memberitahukan Fauzi kebenaran akan dirinya yang sudah pernah menikah. Dan lagi logikanya bermain, Fauzi tahu atau tidak tentang dia yang sudah menikah, tidak akan ada pengaruhnya bagi Fauzi.


Ekspresi tak jelas Karin perlihatkan setelah mendengar kata-kata perhatian Fauzi yang dia tujukan pada istrinya, berhasil menarik perhatian Faiq yang sedari tadi meliriknya. Meski menurut Faiq itu terasa aneh, namun ia tidak mau ambil pusing dan hanya fokus akan Sasa yang sebentar lagi kembali bersama Salwa.


Tidak cukup lama setelah Fauzi mengirim pesan pada Sasa. Salwa dan Sasa akhirnya kembali menghampiri mereka.


“Pembicaraannya sudah selesai?” Tanya Sasa setelah tiba.


“Iya” Jawab Fauzi tersenyum pada Sasa. “Makasih Sa”


Sasa hanya mengangguk menerima ucapan terimakasih dari Fauzi.


Sekali lagi Karin dibuat terkejut. Perasaan terancam secara alami muncul menghantuinya. Entah itu adalah perasaan wajar ataukah hal yang tidak seharusnya dia rasakan. Yang jelas saat ini, Karin begitu merasa terancam akan keberadaan Sasa, seolah Sasa siap mengambil posisi untuk mendampingi Fauzi suatu hari nanti, terlebih lagi Sasa yang terdengar sangat akrab saat berbicara pada Fauzi.


“Di-dia siapa??” Tanya Karin yang membutuhkan jawaban untuk menebus kegelisahannya.


“Dia Sasa, temanku waktu kuliah. Karena dia perawat aku minta tolong sama dia buat ngejagain Salwa selama aku sibuk dengan kalian tadi.."


"Oh" Jawab Karin singkat, sembari melirik Sasa.


Pandangannya yang dia arahkan pada Sasa, mendapati Sasa yang memberinya senyuman manis tanda keramahannya. Karin hanya balas tersenyum manis, meski perasaan was-was masih saja menghantuinya.


"Kalau begitu, aku balik dulu. Salwa harus segera istirahat"


Fauzi beranjak dari duduknya, meraih pundak Salwa untuk memberi perlindungan pada istrinya. Sebuah pemandangan yang berhasil menciptakan rasa iri di hati Karin.


"Sa, mau tinggal?" Tanya Fauzi. Dia tahu betul, akan Faiq yang masih belum puas berbincang dengan Sasa.


"Gak, aku ikut pulang. Kita kan datangnya bareng" Jawab Sasa tersenyum.


Sebuah jawaban yang memberi tembakan pada perasaan Karin, juga pada Faiq. Keduanya seketika menjuruskan pandangan pada Sasa, seperti ada keinginan untuk protes pada jawaban Sasa, tapi tidak memiliki hak.


Fauzi juga Salwa dan Sasa, akhirnya berlalu. Karin terus mengantar kepergian mereka dengan pandangannya, juga Faiq yang tidak melepaskan pandangannya pada wanita yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2