
Pikiranku sedikit kacau. Aku tidak pernah menyangka Farhan bisa marah seperti itu dan lagi sekarang aku harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan Fauzi tentang kebohonganku tadi. Ya kalaupun aku menjadi Fauzi aku juga akan bertanya karena memang terasa janggal sekali pernyataanku tadi dengan fakta yang ada sekarang.
"Udah gak usah dibahas.. Kenapa nelfon?"
"Kok nanyanya gitu, aku gak boleh aku nelfon kamu?"
"Bu.. Bukan aku maksudku kayak gitu.. Maksudku tumben kamu nelfon kerumah"
"Karena nomor kamu gak aktif.."
"Oh itu.. Tadi lobet.."
"Kamu baik-baik aja kan?"
Aku sedikit bingung dengan pertanyaan Fauzi.
"Aku baik-baik saja, kenapa?"
"Gak, soalnya kamu bicaranya agak aneh.."
"Agak aneh gimana?"
"Gak papa.. Kamu kalau ada apa-apa cerita sama aku.."
"Iya.."
"Tadi gak langsung pulang jadinya kemana?"
"Gak kemana-kemana..."
"Tapi kata Ibu kamu baru nyampe, bukannya pulangnya harusnya udah dari tadi.."
"Kan aku udah bilang tadinya aku mau jalan sama Nina, tapi gak jadi.."
"Jadi kamu nungguin Nina dulu?"
"Ya gak.."
"Terus kok nyampenya lama?"
"Kamu nanya-nanya gini lagi curiga sama aku?"
"Loh kok kamu ngiranya gitu.. Aku kan.."
"Kamu nanya-nanya gini karena ngira aku keluyuran dulu kan?" Tanyaku memotong perkataan Fauzi.
"Bukannya gitu aku cuman.."
"Kamu udah gak percaya sama aku karena kita LDRan sekarang?"
"Ya ampun Salwa maksud aku bukan kayak gitu.."
"Terus?"
"Aku cuman khawatir karena kamu sampai rumahnya kelamaan, aku khawatir kamu kenapa-kenapa.."
"Aku udah sampai rumah ya berarti aku udah gak papa kan.."
"Iya.. Maaf aku jadi nanya-nanya kamu terus.."
"Yaudah aku mau istirahat dulu.."
"Ponselmu diaktifkan.."
"Iya.. Udah ya.."
__ADS_1
"Yaudah, selamat istirahat.. Ntar aku nelfon lagi.."
"Iya.." Jawabku memutuskan telfon.
Beberapa orang pernah bilang, yang sering menuduh dan yang paling sering marah ketika ditanya-tanya kemungkinan besar dia yang berselingkuh, aku contoh realnya. Entah kenapa aku selalu saja kesal jika Fauzi bertanya, aku selalu merasa di introgasi dan merasa Fauzi terlalu mencurigaiku padahal wajar saja jika Fauzi curiga karena kenyataannya aku memang patut dicurigai saat ini.
Bukan waktu yang sebentar, aku sudah cukup lama berselingkuh dan Fauzi masih saja percaya dengan semua alasan-alasanku. Sudah tidak heran lagi jika Fauzi mulai curiga karena aku sering kali menjawab pertanyaan Fauzi dengan jawaban yang tidak masuk akal atau menjawab dengan marah pertanyaan Fauzi agar dia tidak lanjut bertanya-tanya terus. Dengan marah aku bisa mengalihkan rasa curiga Fauzi.
.
.
Waktu menunjukkan hampir pukul empat sore, tanpa sadar aku tertidur cukup lama sembari menunggu ponselku yang ku charger.
Dengan malas aku meraih ponselku, kuaktifkan dan ada beberapa pesan dari Fauzi.
"Maafkan aku.. Aku sama sekali gak bermaksud ngebuat kamu gak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanku.. Aku cuman khawatir.."
"Ini kali pertama kita berjauhan, aku belum terbiasa.."
"Maaf, aku akan berusaha lebih untuk mengontrol diriku biar kamu gak keganggu sama semua pertanyaanku.."
Apa aku keterlaluan sama Fauzi tadi? Pikirku.
Hanya pesan Fauzi? Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda setelah membuka ponselku tapi tak satupun ada pesan dari Farhan. Apa dia benar-benar marah?
"Ya, bukan karena aku menyukainya seperti Fauzi, tapi pasti hanya karena terbiasa makanya aku merasa kehilangan" Pikirku untuk memperkuat keyakinanku.
.
.
.
Waktu berlalu, sudah hampir satu minggu Farhan tidak menghubungiku. Awalnya aku selalu berfikiran "Tidak apa-apa, toh aku bersamanya karena terpaksa, semua karena keadaan" untuk membuat perasaanku lebih baik, tapi semakin lama aku menyadari, bukan sekedar rasa terbiasa tapi sepertinya aku benar-benar merasa kehilangan, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku nyaris tidak bisa membedakan perasaan kehilangan ini dari kekasih yang hanya terpaksa atau kekasih yang perlahan mulai kuakui.
Karena perasaanku yang kacau, aku sering sekali mengabaikan telfon Fauzi dengan alasan sibuk dan sebagainya. Aku tidak mau Fauzi curiga dan akan menimbulkan banyak pernyataan lagi. Ah aku benar-benar dalam kesulitan sekarang.
.
.
.
"Wei.. Itu muka kenapa begitu?" Tanya Nina mencubit pipiku yang membuatku sedikit tekejut.
"Kenapa?"
"Kusut amat, kayak tumpukkan cucian yang gak dicuci semingguan.."
"Perumpamaannya jorok.."
"Ya habis mukanya kayak begitu.. Kenapa? Ada masalah? Sini cerita sama Nina.."
"Gak papa, kayaknya lagi ngantuk aja.."
"Ck.. Bukan hari ini saja mukamu keliatan seperti ini, dari kemarin-kemarin kusut terus.."
"Masa? Tapi aku gak papa..."
"Jangan bohong.. Kenapa? Ada masalah sama kak Fauzi?"
"Gak.."
"Oh.. Aku tau.. Lagi kangen sama Fauzi ya? Ya kan?"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum mengangguk mengiyakan pernyataan Nina agar dia tidak bertanya lagi.
"Yang sabar.. Biar rindumu semakin memupuk, biar nanti kalau ketemu sama kak Fauzi bisa tertebus dengan.."
"Ck.. Si jomblo yang sok bijak.." kataku memotong perkataan Nina dengan nada sedikit meledek.
"Haha.. Biar, daripada kamu punya pacar tapi galau terus.." Ledek Nina. Aku hanya balas tersenyum.
"Salwa.."
"Iya.."
"Aku ada sesuatu yang mau omongin sama kamu.."
"Apa?" Tanyaku.
"Hem.. Gak jadi deh.."
"Ck.. Apaan sih, Nina gak seru deh.." Kataku cemberut.
"Sebenarnya aku cuman mau nanya sih.."
"Nanya apa? Tentang apa?" Tanyaku makin penasaran. Mungkin juga bukan sekedar penasaran, tapi untuk mengalihkan juga agar pikiranku tidak tentang Farhan terus. Mungkin perasaanku bisa lebih baikan jika sibuk bercerita dengan Nina.
"Salwa.. Menurut kamu perjodohan itu bagaimana?"
"Perjodohan? Apanya?"
"Ya menurut kamu perjodohan itu gimana? Bagus kah, atau bagaimana?"
"Kamu dijodohkan?" Tanyaku terkejut..
"Ssttt.. Jangan keras-keras nanti oranglain dengar.."
"Oh maaf maaf... Jadi beneran kamu dijodohkan?" Tanyaku berbisik ke Nina. Nina mengangguk mengiyakan.
"Sama siapa? Kok bisa?"
"Belum tau.. Belum pasti juga sih, cuman mamaku sempat ngebahas itu"
"Kok bisa.."
"Ya bisalah.. Habis mama tanya aku ada pacar apa gak? Aku jawab enggak, jadi ya mama tanya masalah perjodohan itu.."
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku diam saja, gak tau juga mau bilang apa. Tapi mama sama papaku gak mau maksa, cuman mereka mau aku ketemu dulu sama orangnya setidaknya aku harus ngehargai mereka kan.."
"Terus udah ketemu?"
"Belum.."
"Ketemunya kapan?"
"Gak tau juga, kata mama orangnya masih belum bisa buat ketemu karena sibuk"
"Orangnya masih muda kan? Bukan Om-Om kan?"
"Ishh.. Ya bukan lah.. Mamaku juga gak bakalan rela lah kalau aku sama Om-om"
"Ya terus kenapa bilangnya sibuk, ya kan kalau udah sibuk berarti udah kerja, berarti udah bapak-bapak kan.."
"yee.. Emang cuman bapak-bapak yang boleh sibuk..?"
"Lah terus??"
__ADS_1
Aku terus-terusan menanyai Nina. Pembahasan mengenai perjodohan Nina benar-benar membuatku penasaran dan sejenak melupakan masalahku tentang Farhan