Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 35


__ADS_3

Farhan kembali setelah menyetor list pemesanan minumannya dengan Fauzi. Farhan duduk kembali dan tetap terdiam.


"Lu sejak kapan jadi pendiam begini?" Tanya Fauzi.


"Gu gue gak tahu mau ngebahas apa dan ngomong kayak gimana sama Lu.."


"Ck Han, gue ini Fauzi temen Lu. Emang Lu ngeliat gue siapa sekarang? Gue tahu makin dewasa gue makin ganteng tapi masa iya Lu sampai gak bisa ngenalin gue sih.." Cara bicara Fauzi kembali seperti semasa mereka SMA lalu.


Farhan tersenyum dan tertawa kecil nyaris tak bersuara. "Ngedenger Lu ngomong barusan ngebuat gue sadar kalau itu beneran Lu.." Kata Farhan perlahan mengangkat wajahnya menatap Fauzi.


"Gimana kabar Lu??" Tanya Fauzi ulang.


"Lu kan udah nanya tadi.."


"Tadi Lu ngejawab pertanyaan gue sambil ngeliat gue sebagai oranglain.."


Farhan tersenyum. Ya Fauzi dulu adalah sahabatnya wajar saja kalau tahu betul tentangnya.


"Pada dasarnya gue baik-baik aja, gue cuman lagi pusing sekaligus kewalahan karena harus kerja sambil kuliah, Lu sendiri gimana??"


"Baik, setidaknya gue gak sesibuk Lu.." Jawab fauzi.


Farhan terdiam sejenak.


"Zi.. gue minta maaf. Selama ini gue selalu takut buat minta maaf sama Lu secara langsung, gue selalu ngehindar dan gak berani ketemu sama Lu. Gue banyak salah banget sama Lu, gue benar-benar gak tahu harus gimana biar bisa nebus semua kesalahan gue sama Lu.." Kata Farhan penuh penyesalan. Permintaan maaf yang sedari dulu dia pendam karena tidak berani mengatakannya langsung akhirnya dia katakan hari ini.


"Udahlah Han, semua juga udah berlalu, buat apa lagi di ungkit-ungkit sekarang"


"Tetap aja Zi, gue benar-benar ngerasa gak enak sama Lu. Kenapa segitu begonya gue waktu itu.."


"Iya.. Lu beneran bego, udah tahu itu punya orang masih juga diembat.. Ck ck Han, Han, muka cakep itu dimanfaatin jangan di pajang doang.." Kata Fauzi mulai bercanda lagi. Fauzi tidak ingin pembahasan mereka saat ini menimbulkan kecanggungan lagi. Tapi Fauzi juga tidak ingin membuat Farhan menahan semua apa yang ingin dia katakan.


"Lu masih sama kayak dulu ya, masalahpun masih dibawa santai, masih dibawa bercandaan.." Kata Farhan tertawa kecil sambil menunduk.


"Terus mau bagaimana?? Mau ngepermasalahin ini semua?? Gue mau marah sama Lu juga gak ada gunanya, semua udah terjadi. Lagian ini bukan salah Lu doang kan, kita bertiga salah dalam hal ini. Lu juga gak mungkin terus-terusan sama Salwa kalau Salwa gak ngerespon Lu, dan Salwa juga gak mungkin ngerespon Lu kalau aja gue bisa jadi pacar yang baik buat dia.." Jelas Fauzi.


"Lu salah... Bukan Salwa yang ngerespon gue, tapi gue yang terlalu posesif ngejar-ngejar bahkan maksa Salwa untuk tetap tinggal sama gue. Gue jahat banget.."


"Harus ya Lu bilang ini sama gue??" Tanya Fauzi dengan nadanya yang berubah menjadi serius.


Farhan mengangkat wajahnya menatap Fauzi yang mulai berbicara dengan nada serius. Sorot mata Fauzi seketika menjadi tajam, Farhan sampai terkejut.


"Gue gak suka oranglain ngejelek-jelekkin Lu, gue gak suka oranglain ngebahas hal buruk tentang Lu, gue selalu menutup mata untuk semua keburukan Lu termasuk semua yang gue lihat secara langsung bukan dari apa yang oranglain bilang, dan hari ini gue ngedenger jeleknya Lu dari Lu sendiri. Apa harus Lu bilang semua ini ke gue??" Tanya Fauzi dengan sorot matanya yang masih serius.

__ADS_1


"Zi.. Gu gue bukannya..."


"Baik buruknya Lu gue terima, Lu orang pertama yang gue kenal saat masuk sekolah dulu. Gue tidur dirumah Lu, makan di rumah Lu sampai orang-orang mikir aneh-aneh tentang kita. Gue gak mau apa yang kita lalui waktu itu hilang dari ingatan gue dan berubah menjadi ingatan yang buruk. Gue ini manusia biasa Han, sekuat-kuatnya gue nutup telinga gue tentang hal-hal buruk tentang Lu akan ada masanya gue pasti dengar. Tapi bisa gak itu gue dengarnya bukan dari Lu..."


"Ma maaf Zi..." Farhan semakin merasa bersalah mendengar perkataan Fauzi. Segitunya Fauzi berusaha menjaga persahabatan mereka, Fauzi terus-terusan berusaha membuat persahabatan mereka baik-baik saja meski dia sudah merusak kepercayaannya dan mencoreng persahabatan mereka. Perlahan mata Farhan mulai berkaca-kaca.


"Gak usah nangis Lu mpret.. Udah kayak cewek aja Lu, apa kata orang-orang disini kalau ngeliat Lu nangis didepan gue.." Tegur Fauzi sedangkan airmatanya sendiri juga sudah menumpuk dipelupuk matanya.


Farhan mendorong sekotak tissue yang ada di meja kearah Fauzi.


"Hapus dulu airmata Lu baru bilang kayak gitu ke gue..."


Fauzi mengambil selembar tissue itu, menyeka airmatanya sambil membuang muka dari Farhan.


"Jangan bahas apapun lagi sama gue. Semua rasa sakit yang gue rasakan gak ada apa-apanya sama rasa bahagia yang udah gue dapat selama bareng Lu.. Yang udah berlalu biarin aja berlalu, mungkin emang jalan yang berliku ini yang harus gue lewati sama Salwa dan juga mungkin ini ujian untuk pertemanan kita.."


"Iya.. Tapi gue benar-benar minta maaf Zi ata..."


"Udah gue maafin, puas kan Lu?? Jadi gak usah bahas apapun lagi.." Kata Fauzi dengan tegas sambil menatap Farhan.


Farhan tersenyum. "Udah Lu gak usah natap gue kayak gitu.. Gue bisa baperan ntar.." Kata Farhan mulai bercanda.


Fauzi tersenyum. mendengar Farhan yang balas bercanda menandakan kelegaan dalam hatinya dan mulai kembali menjadi Farhan yang Fauzi kenal dulu.


"Ya elu.. Ganti nomor dan gak ngabarin gue.." Kata Fauzi sambil menyeruput Caramel macchiatonya. "Eh tapi Han, Lu sama Nina pacaran??" Tanya Fauzi saat meningat Farhan yang memanggil Nina dengan panggilan sayang tadi.


"Tunangan gue, tinggal nunggu gue lulus terus nikah..."


"Uhuuukkkk...." Fauzi yang sangat terkejut sampai terbatuk-batuk mendengar perkataan Farhan. "Whaa Whaaattt?? Tunangan?? Nikah?? Gimana ceritanya???"


"Lu taukan gimana Nenek sama Kakek gue.."


"Nina punya marga? Keturunan bangsawan??" Tanya Fauzi yang sudah bisa langsung menebak. Tentang keluarga Farhan bukan lagi hal yang buta bagi Fauzi yang dulunya nyaris hampir tiap hari main dengan Farhan.


Farhan mengangguk.


"Tetta Lu ngeiyain aja??"


"Ya gak lah.."


"Terus??"


"Ya gue sendiri yang mau sama Nina. Gue sayang sama Nina.." Jelas Farhan.

__ADS_1


"Cowok apaan Lu? Gampang banget jatuh cintanya.." Ejek Fauzi.


"Ya setidaknya gue butuh sekitar empat bulan untuk benar-benar cinta sama Nina, bukannya kayak oranglain yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Udah kayak lagunya Arafiq aja.." Sindir Farhan.


"Ah iya ya.. Kayaknya gue lebih gampangan lagi.." Kata Fauzi menyadari dirinya sendiri. "Jadi Lu bentar lagi Nikah sama Nina??" Tanya Fauzi kemudian.


"Gak juga, ntar gue selesaiin dulu magister gue baru nikah.."


"Wah.. Lu kedengarannya udah dewasa bener kalau ngebahas-bahas tentang nikah.."


"Emangnya Lu.. Lah Lu sendiri kapan nikah??" Farhan bertanya balik.


"Bentaran kalau jodohnya udah ketemu.." Jawab Fauzi sambil tertawa kecil.


"Salwa gimana??" Tanya Farhan.


Fauzi terdiam sejenak, membuat Farhan merasa bersalah karena sudah menyebut nama Salwa.


"Ha ha gak tahu.. Dia masih ingat sama gue aja gue gak tahu.." Kata Fauzi memaksakan diri untuk tersenyum menyembunyikan perasaannya..


"Salwa masih cinta sama Lu, dia masih nungguin Lu.."


"Sok tau Lu.."


"Bukan sok tau bambang.. Yang gue bilang ini beneran.."


"Tau dari mana? Lu masih sering kontekan sama Salwa?? Wei udah punya Nina Lu.." Tegur Fauzi.


"Ha ha.. Kentara banget kalau Lu cemburu barusan. Salwa bukannya bilang langsung sama gue, gue taunya dari Nina.."


"Salwa yang bilang langsung ke Nina??" Tanya Fauzi.


Terlihat jelas oleh Farhan bagaimana Fauzi terlihat antusias setelah tahu bahwa Salwa masih menunggunya.


"Iya, Nina bilang kalau Salwa masih nungguin Lu. Nina tahu semua tentang apa yang terjadi sama kita, tapi dia tidak tahu kalau yang jadi perusaknya itu gue. Salwa cerita semuanya ke Nina tapi nyembunyiin identitas gue, gue tahu Salwa gak mau Nina terluka.."


Fauzi terdiam saja, ya tanpa berucap pun Farhan tahu kalau perasaan Fauzi utuh untuk Salwa.


"Lu kalau masih suka mending langsung aja deh, jangan nunda-nunda lagi.."


Fauzi tersenyum menatap Farhan.


"Kayak gue harus maju ya sekarang..." Kata Fauzi tersenyum memperlihatkan dalamnya lesung pipinya.

__ADS_1


Farhan yang paham makasud Fauzi hanya balas tersenyum di susul tawanya.


__ADS_2