
Aku sudah sampai lupa apa tujuan awalku kemari. Aku duduk membaca dengan serius buku yang sepertinya itu adalah buku harian Fauzi. Aku sudah lupa tentang termometer dan kompres juga Fauzi yang suhu tubuhnya mulai naik kembali.
Aku kembali membuka lembaran selanjutnya, membacanya dengan serius dan sesekali melting tiap menemukan kata-kata yang terbilang cukup romantis.
"Terimakasih untuk kesempatan kali ini, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama dan aku tidak akan membuatmu menangis seperti ini lagi, aku tidak ingin kamu pergi lagi, Salwaku.."
Ya, Fauzi benar tidak membuatku menangis lagi karena kesalahannya, tapi tetap saja aku menangis karena Fauzi tapi itu bukan karena kesalahannya, melainkan kesalahanku sendiri.
"Aku berharap, apa yang kulihat hari ini adalah sebuah mimpi atau hanya sebuah kesalahan saja.."
Ini waktu kapan? Aku mencoba mengingatnya. Ah, ini waktu aku dirawat dirumah sakit. mungkin maksud tulisan Fauzi ini adalah ketika dia melihatku sedang bersama Farhan hari itu, dari tulisannya ini bisa membuatku merasakan bagaimana kecewa dan sakitnya Fauzi waktu itu.
Aku kembali mengecek lembaran kertas yang masih berisi tulisan, aku seperti tidak sabar untuk melihat akhir dari tulisan tangan di buku ini.
"Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi. Maaf karena aku tidak bisa membuat perasaanku menjadi lebih kuat, maaf karena aku tidak bisa berpura-pura untuk baik-baik saja dan maaf karena aku tidak bisa bertahan di sisimu lagi Salwa, ini semua salahku yang membuatmu bisa mencintai oranglain selain aku. Aku permisi dari kehidupanmu sejenak, aku akan kembali jika waktunya tiba.."
Membaca ini membuatku kembali mengingat kenangan buruk itu.
Tunggu tunggu.. Fauzi menulis untuk hilang dari kehidupanku sejenak dan dia akan kembali? Jadi tentang pertemuanku dengan Fauzi saat ini?? Tentang keakrabanku kembali dengan Fauzi saat ini bukan sebuah kebetulan tapi karena Fauzi benar sudah memulai untuk kembali masuk dalam kehidupanku??
Lembaran berikutnya hampir sama dengan beberapa lembar sebelumnya, yang hanya bertuliskan satu kalimat saja ditiap lembarnya dengan tanggal yang berbeda. "Aku rindu, tapi aku harus menahannya.." Kalimat ini ditulis secara berulang-ulang.
"Hay Salwa.. Aku sudah kalah dari pertahananku hari ini dan memilih untuk datang melihatmu setelah sekian lama aku tidak pernah melihatmu dengan jarak sedekat ini. Kamu masih cantik seperti sebelumnya dan masih suka menggetarkan hatiku. Haha entahlah kamu terlihat lucu sekali hari ini, meski ini hanya dugaanku aku merasa Salwa sedang salah paham hari ini terhadap Afifah. Kamu masih saja seperti dulu, mengambil kesimpulan dari apa yang kamu lihat tanpa mencari tahu kebenarannya.."
Ck, dia seperti sengaja membuatku salah paham waktu itu. Kenapa aku kesal mengingatnya.
Aku membuka lembar selanjutnya. "Loh, tinggal selembar lagi? Ini lembaran terakhir?" Gumamku sambil membuka-buka terus lembaran buku Fauzi itu berharap masih ada beberapa lembar lagi yang bisa aku baca. Sepertinya aku kecanduan membacanya.
"Aku siap, aku akan datang.. Kita sudah dewasa dan aku rasa ini adalah waktunya..."
Lemabaran terakhir yang hanya ditulis beberapa kata itu membuatku bingung. "Apanya yang siap? Dia akan datang kemana?" Pikirku bingung.
Aku seperti kecewa membaca akhir dari tulisan tangan Fauzi itu, aku masih menginginkan tulisan yang lebih dan lagi kenapa berakhir dengan kata-kata yang seperti itu, kata-kata yang tidak aku mengerti maksudnya.
Aku menutup buku itu dan menyimpannya kembali dimana aku menemukannya tadi.
"Astaaagaaa..." Aku terkejut sendiri setelah mengingatnya.
Aku bergegas berlari kecil menghampiri Fauzi sambil membawa kompres dan termometer.
__ADS_1
"Fauzi..." Seruku.
Aku terkejut melihat Fauzi yang berbaring tanpa menghiraukan panggilanku.
"O ozii.. banguunnn..." Aku mencoba menyadarkan Fauzi.
Perlahan Fauzi membuka matanya.
"Aku lelah, mau tidur sebentar.." Ucapnya pelan.
Aku memeriksa suhu tubuh Fauzi menggunakan termometer untuk mengetahui suhu tubuhnya sekarang. "Ah dia masih demam.." Gumamku.
Fauzi kembali tertidur, mungkin karena suhu tubuhnya yang terus naik sampai dia merasa kesulitan membuka matanya dan memilih untuk tertidur saja. Aku menemaninya sambil terus mengganti kompresnya dan mengecek suhu tubuhnya secara berkala.
.
.
.
.
Aku tidak tahu kapan kesadaranku juga ikut hilang, sepertinya karena kelelahan dan karena bosan tanpa teman cerita dan hanya menunggui Fauzi tertidur membuatku mengantuk juga dan tertidur sejenak.
"Sudah bangun?" Tanya Fauzi yang sepertinya sedari tadi menontonku tertidur.
"Sejak kapan kamu bangun?"
"Bukannya dijawab, pertanyaanku malah di balas pertanyaan.." Keluh Fauzi.
Aku dengan cepat memegangi dahi Fauzi untuk mengecek suhu tubuh Fauzi dan kembali mengeceknya dengan termometer untuk memastikan suhu yang sebenarnya.
"Masih agak demam.." Gumamku.
Aku mengambil bubur diatas meja yang sudah aku siapkan sedari tadi. "Yah sudah dingin.. Sebentar aku panaskan dulu buburnya.."
"Tidak usah.." Fauzi menahanku. "Biar itu saja.."
"Tapi ini sudah dingin, rasanya pasti sudah tidak enak.."
__ADS_1
"Tetap enak karena kamu yang masak.." Goda Fauzi. Ck jantungku mulai tidak bisa mengondisikan detaknya lagi.
Aku membantu Fauzi untuk duduk untuk mempermudahnya makan.
"Habis ini kamu harus minum obat.. Demammu sudah gak tinggi sekali tapi tetap saja harus minum obat.." Kataku sambil menyiapkan obat pereda demam untuk Fauzi.
"Tapi badanku sudah tidak panas seperti tadi.."
"Iya, tapi masih masuk kategori demam. Kalau kamu gak minum obat sekarang naik panasnya datang lagi.."
"Kamu bakalan tetap disini kan kalau aku sudah membaik?" Tanyaku menatapku.
Aku terdiam sejenak menatapnya lalu mengalihkan pandanganku.
"Ka kalau kamu sudah sembuh ya aku pulang lah, ngapain lagi aku tetap disini kalau kamu sudah sembuh" Jawabku.
Fauzi meletakkan sendoknya.
"Kenapa? Sudah kenyang? Tapi makanmu sedikit sekali.."
"Kalau aku makan terus minum obat, aku bakalan sembuh.."
"Iya, itu bagus kan??"
Fauzi terdiam, menatapku sejenak lalu menunduk.
"Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Aku mau kamu disini dulu, jangan pergi.." Fauzi menatapku dengan tatapannya yang sayu.
"Ke kenapa aku harus..."
"Bisa tetap disini saja untuk hari ini??"
"Kena.."
"Aku tidak tahu.." Kata Fauzi memotong perkataanku. "Aku cuman mau kamu ada disini..." Nadanya bicaranya yang mulai meninggi.
Aku tidak pernah melihat Fauzi yang seperti ini, memperlihatkan sisi egiosnya padaku. Aku tahu, Fauzi akan bertindak tidak seperti biasanya dia ketika sedang sakit tapi aku tidak tahu kalau sampai seperti ini.
__ADS_1
"Apa kamu gak bisa nemenin aku sekali ini saja??"Tanyanya dengan wajah memelas.
Aku bingung. Aku senang bisa menemani dan merawat Fauzi seperti ini, tapi disisi lain aku masih saja memberi batasan pada perasaanku sekedar persiapan jika pada akhirnya aku bukan perempuan yang akan mendampingi Fauzi setidaknya perasaanku tidak akan terlalu terluka.