
Malam mulai beranjak, sedang Fauzi masih begitu asyik memperhatikan istrinya yang tengah berias di depan cermin. Serasa tak ada bosan-bosannya ia memandang wanita yang telah melahirkan buah hatinya, rasanya waktu tidak akan bisa memuaskannya selama apa pun ia memandang wajah mungil itu.
Salwa yang tengah berias, menoleh dan menatap suaminya yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum manisnya.
"Kamu kenapa sayang?" Tegur Salwa menyadari bahwa pandangan suaminya itu tidak lepas dari dirinya sedari tadi.
"Kamu kok cantik terus sih?" Goda Fauzi.
Mereka bukanlah pengantin baru, namun tetap saja Fauzi selalu membuat istrinya merasa kenyang akan gombalan yang keluar dari mulut manisnya.
"Apaan sih.." Kata Salwa mulai malu-malu.
Salwa masih saja merasa malu tiap kali Fauzi memujinya, padahal kata-kata manis seperti itu sudah menjadi konsumsi bagi telinganya setiap hari.
"Aku abis nyelamatin dunia belahan mana, sampai bisa seberuntung ini memiliki istri sepertimu"
Salwa tersenyum kecil, dan memasang anting yang sudah ia persiapkan. Kini wajahnya tampil cantik dengan riasan sederhana, juga rambutnya yang sudah tertata rapi. Salwa beranjak dari duduknya, menghampiri Fauzi yang sedari tadi berbaring di tempat tidur sembari menatapnya.
"Entah kamu yang beruntung, atau aku yang beruntung sayang. Aku yang buruk ini bisa dicintai oleh laki-laki luarbiasa seperti kamu" Kata Salwa sembari memberi kecupan kecil pada bibir suaminya.
"Jangan mancing sayang.."
"Mancing? Aku?"
Fauzi yang tadinya berbaring, dengan cepat mengubah posisinya dan duduk tepat di depan istrinya.
"Kamu tahu, setelah ribuan purnama kemarin, aku akhir-akhir ini gampang sekali tergoda. Mungkin karena aku terlalu kehausan beberapa bulan terakhir ini"
Raut wajah Salwa yang sedari tadi tersenyum, perlahan berubah menjadi datar dan secara perlahan memperlihatkan ekspresinya yang sedih.
"Maafkan aku, maafkan ingatanku yang sudah nyiksa kamu selama beberapa bulan. Maaf karena aku bukan istri.."
Fauzi mengecup pelan bibir istrinya. "Kenapa selalu berbicara seperti itu? Aku tidak suka"
__ADS_1
Salwa hanya terdiam, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu sudah disini sekarang, dan sudah seperti ini. Ah maaf karena aku ngomong seperti tadi, aku cuman ngasih kamu peringatan biar gak melampaui batas, karena aku bisa menerkammu kapan saja"
Wajah muram yang sempat Salwa perlihatkan, kini kembali menjadi seperti semula setelah senyum melingkar di bibirnya.
"Aku mencintaimu" Kata Salwa kembali memberikan kecupan pada suaminya. "Dan selamanya akan mencintaimu" Sekali lagi Salwa memberikan kecupan kecil. "Sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu" Seperti tengah mempermainkan Fauzi, Salwa terus memberikan kecupan kecil di bibir suaminya tiap kali ia menjeda ucapannya.
"Sayang, aku gak akan bertanggung jawab kalau sampai lipstikmu rusak" Kata Fauzi dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah mungil milik Salwa. Namun niat hati yang ingin menikmati manisnya bibir sang istri, terhalang dengan cepat oleh telunjuk Salwa.
"Sayang, merapikan make up itu susah. Aku udah cukup lama berias, masa iya aku harus memperbaiki lagi"
"Sekali saja.."
"Gak.. Kamu gak akan puas kalau menciumku, nanti minta lebih, lebih dan lebih lagi"
"Gak, cuman cium.. Sekali saja.."
"Gak.. Sekalimu itu bisa gak ada akhirnya kalau udah mulai. Kita bisa-bisa gak jadi ke pesta"
"Gak.. Sana ganti baju.."
"Sayang sekali aja.."
"Udah sana ganti baju.. Cepat.. Kita bisa telat ke pestanya.." Kata Salwa sedikit mendorong suaminya yang terlihat mulai bermalas-malasan. "Cepat sana.."
"Kamu jahat"
Salwa hanya tersenyum melihat suaminya yang merengek seperti anak kecil. Meski jelas terlihat Fauzi sangat enggan beranjak dari posisinya, namun pada akhirnya ia tetap melangkah dan mengambil jas yang sudah Salwa persiapkan untuk Fauzi kenakan.
Salwa dan Fauzi tengah bersiap-siap untuk menuju pesta yang di selenggarakan di sebuah gedung. Ya, malam ini adalah acara resepsi pernikahan Sasa dan Azka, dimana siang tadi Azka berhasil mengucapkan ijab kabul untuk Sasa dengan satu kali tarikan nafas. Meski siang tadi Salwa dan Fauzi sudah hadir, namun tetap saja ia juga harus hadir malam ini untuk menjadi saksi betapa cantik dan bahagianya Sasa menjadi ratu sehari.
.
__ADS_1
.
.
.
Suasana pesta yang begitu ramai, smeua yang datang seolah turut bahagia, sama bahagianya dengan kedua mempelai yang selalu memperlihatkannya senyumnya di singgasana pelaminan. Fauzi dan Salwa tengah menikmati prasmanan yang tersedia, sembari saling menyapa satu sama lain dengan para tamu yang hadir disana.
Fauzi yang sedari tadi memang selalu memperlihatkan senyumnya yang ramah, kini tersenyum lebih lebar lagi ketika pandangannya menemukan sosok yang sangat ia kenali.
"Wah apa nih? Kok datangnya barengan?" Tanya Fauzi saat melihat Faiq yang datang bersama Karin.
"Biar gak keliatan ngenes datang ke acara nikahan mantan sendirian. Jadi minjam anak orang sebentar" Jawab Faiq bergurau. Sedang Karin hanya tertawa kecil mendengar lelucon mereka.
"Ah, Salwa. Bagaimana kabarmu?" Karin menyapa Salwa yang berdiri disamping Fauzi dengan senyumnya yang manis.
"Baik, kak Karin gimana?" Tanya Salwa kembali.
"Baik" Karin melempar senyumnya yang manis. Senyuman yang tidak Karin perlihatkan saat pertama kali ia bertemu Salwa dalam keadaan Salwa yang sudah sembuh dari penghapus yang selama ini menggrogoti otaknya.
Karin tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya saat pertama kali ia tahu bahwa Salwa sudah sembuh. Seolah harapannya saat itu hilang begitu saja, ia menyadari bahwa kembalinya ingatan Salwa adalah hal yang membuatnya menjadi ketidakmungkinan bisa bersama Fauzi. Namun itu adalah saat itu, saat ini Karin sudah menjadi lebih baik dengan perasaan yang sudah bisa ia atasi.
"Salwa kenal sama Karin?" Tanya Faiq yang tidak tahu menahu perihal hubungan antar Salwa, Fauzi dan juga Karin.
"Iya, kami berasal dari alumni yang sama" Jawab Karin.
"I-ini, Faiq kan??" Pandangannya yang menemukan sosok Faiq, membuat Salwa yang sudah sangat lama tidak melihat Faiq, bertanya untuk memperjelas. "Faiq yang dulu..." Salwa melempar pandangannya pada Sasa, seolah tengah memberitahu bahwa apakah ia tidak salah mengenali Faiq, orang yang dulunya menjadi kekasih Sasa.
"Salwa ingat sama aku? Bukannya...." Faiq tidak melanjutkan ucapannya, mengingat hal yang akan dia katakan bukanlah hal yang baik.
"Salwa sudah sembuh" Jawab Fauzi tersenyum.
Faiq yang sedari tadi memperlihatkan kebingungannya, perlahan mulai tersenyum dan memahami keadaan yang ada sekarang.
__ADS_1
Rasanya sudah cukup obrolan pembuka yang berlangsung antara Faiq dan Fauzi sebagai sambutannya di pesta itu. Faiq mengalihkan pandangannya dan menatap Sasa yang tampil anggun nan cantik di pelaminan. Melihat tatapan Sasa, rupanya sedari juga Sasa tengah memperhatikannya.
"Aku ngesapa pengantinnya dulu" Kata Faiq tersenyum, dan perlahan mulai melangkah seorang diri. Dimana Sasa yang dulunya adalah kekasihnya, kini tampak cantik dan bersanding dengan orang lain di pelaminan.