Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Lamaran??


__ADS_3

Fauzi yang sedang demam sekarang memperlihatkan beberapa sisinya yang berbeda. Fauzi yang sebelumya selalu bisa mengendalikan perasaannya dan tidak pernah memperlihatkan keegoisannya padaku bahkan sekedar memintaku melakukan sesuatu, hari ini memperlihatkan itu semuanya padaku.


Fauzi yang biasanya tidak pernah bertanya dengan nada memaksa meminta jawaban, Fauzi yang tidak pernah bersikap egois memintaku tinggal bersamanya dan Fauzi yang secara tidak sadar dia memperlihatkan sisi manjanya saat sedang sakit seperti ini.


"Kenapa? Sudah kenyang? Tapi makanmu sedikit sekali.."


"Kalau aku makan dan minum obat, aku akan sembuh"


"Iya.. Itu bagus kan?"


"Aku gak mau makan lagi?"


"Lah kenapa? Kamu udah dari tadi pagi gak makan??"


"Kamu bakalan pulang kalau aku sembuh?"


"I iyaa.. Aku mau ngapain lagi disini?"


"Kalau aku sakit kamu akan tetap disini?"


"Kamu ini sebenarnya mau ngomong apa sih??"


"Aku mau kamu tetap disini.."


"Tapi..."


"Sekali ini saja.."


Aku diam saja melihatnya.


"Sekali ini saja.. ya??"


Perlahan aku mengangguk mengiyakan permintaan Fauzi. Dia tersenyum dan kembali menyuap makanannya.


Ah, dia lucu sekali terlihat seperti ini. Aku seperti sedang mengurus anak kecil, kemana Fauzi yang biasa terlihat lebih dewasa itu? Yang didepanku sekarang hanya seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal.


"Makan yang banyak.." Kataku sambil duduk disampingnya, Fauzi hanya tersenyum menanggapiku.


Aku memberi Fauzi obat penurun demam setelah dia selesai makan, aku berharap demamnya cepat turun dan dia lekas sembuh.


"Makasih karena udah datang nemenin aku, dan makasih karena masih mau tinggal sebentar sama aku disini?"


Aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu tadi ngapain di kamarku? Kenapa lama sekali?"


"I itu.. A aku nyasar.." Aku benar-benar melupakan tujuan awalku saat itu untuk mengambil kompres dan termometer dikamar Fauzi karena asyik membaca buku yang ditulisnya.


"Nyasar???" Tanya Fauzi kebingungan.


"Ya ampuunn Salwaa... apa gak ada alasan yang lebih masuk akal selain nyasar?? Kamu pikir rumah Fauzi labirin yang bisa ngebuat orang jadi nyasar??" Batinku kesal.


"E ee ituu..."


"Kamu gak tahu kamarku dimana??"


"Ha iyaa.. Ha ha ha aku gak tahu kamar kamu yang mana" Jawabku tertawa canggung mengalihkan pandanganku dari Fauzi.


"Bukannya Ibu pernah nunjukin??"


"I iyaa.. Ta tapi i itu kan sudah lama.."


"Rumahku gak sebesar itu buat bisa ngebuat kamu kesasar Salwa, dan lagian kenapa bisa lupa??"


"I ituu..." Ck aku benar-benar kehabisan kata-kata dan tidak tahu mau berbohong seperti apa lagi.


"Kenapa wajahmu memerah??"


"Haa??" Aku dengan cepat memegang pipiku. "I ini mungkin karena aku kegerahan" Jawabku.


"Kamu..."

__ADS_1


"Kamu gak mau makan sesuatu??" Tanyaku mencoba mengalihkan perhatian Fauzi.


"Aku kan baru sudah makan..."


"I iya.. Tapi kamu kan lagi sakit jadi kamu butuh banyak makan kan??"


"Gak, aku gak mau makan lagi.." Kata Fauzi sambil mencoba berbaring kembali, aku dengan cepat membantunya. "Obat itu efek sampingnya mengantuk?" Tanyanya.


"Gak, Kenapa? Kamu ngantuk?"


Fauzi mengangguk.


"Mungkin karena kamu kenyang dan sekarang lagi gak enak badan makanya bawaannya jadi mau tidur" Aku merapikan selimut Fauzi.


"Kamu bohong kan??"


"Tentang apa??"


Fauzi menatapku dengan lekat, dan lagi aku mulai salah tingkah dibuatnya. "Apa?? Kenapa ngeliatin aku seperti itu??" Tanyaku bingung.


"Kamu bukannya nyasar dan bukannya gak tahu kamarku, kamu gak mungkin lupa" Fauzi terus menatapku.


"Ga gak kok.. A aku memang.."


"Kamu ngeliat sesuatu dikamarku??" Tanyanya.


"A apa? Kamu mau aku ngeliat apa di kamarmu??"


"Fotomu??"


"Me memangnya kenapa kalau aku ngeliat fotoku?"


"Kamu gak mau tanya kenapa foto itu masih ada dikamarku??"


"Bu buat apa??" Ck aku terus-terusan terbata-bata. Pertanyaan Fauzi terasa mendesak sekali, ditambah lagi dengan tatapannya semakin membuatku gugup saja.


"Hoaaaammm.... Sepertinya kamu sudah tahu jawabannya jadi tidak bertanya lagi tentang fotomu yang masih terpajang rapi disana" Fauzi yang sedari tadi menatapku akhirnya mengalihkan pandangannya, yang entah kenapa serasa sedikit lega. Kenapa juga aku merasa tegang sekali Fauzi menatapku seperti itu.


"Jawaban apa?" Tanyaku bingung.


"A apa??" Aku masih berusaha pura-pura tidak tahu.


"Buku... Wajahmu gak mungkin sampai merona begitu dan gak mungkin sampai gugup-gugup seperti ini tiap aku tanya" Kata Fauzi kembali menatapku.


Ah, dia tahu. Tidak ada lagi gunanya aku beralasan sekarang.


"I itu..."


"Karena kamu sudah tahu.." Fauzi berbaring miring agar bisa lebih nyaman menatapku. "Aku gak akan nunggu hari itu untuk bilang ini sama kamu"


"Ha hari itu? Hari apa dan bilang apa?"


"Aku sudah memulainya sekarang, memulai apa yang sempat aku hentikan sebelumnya"


Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Fauzi. Ekspresiku mungkin jelas terlihat oleh Fauzi bahwa aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang dia maksud.


"Aku mulai untuk masuk lagi dalam kehidupanmu, aku ingin menjadi yang istimewa bagimu. Aku tahu tindakan ini egois karena sebelumnya aku pernah ninggalin kamu tapi percaya atau tidak, saat aku gak sama kamupun di waktu itu perasaanku tidak pernah berubah. Perasaan yang tetap mencintaimu seperti sebelumnya dan seperti hari ini.."


"Kalau perasaanmu terus ada? Terus kenapa seperti itu dulu sama aku?? Kenapa hilang dan sama sekali gak ngasih kabar sama aku? Kenapa sengaja ngebuat aku salah paham tentang Afifah?" Aku mulai bertanya beruntun, dan


"Maaf, aku butuh nenangin diri waktu itu dan apa yang aku lakuin semuanya sudah aku susun sampai hari ini"


"Kamu sengaja mempermainkan perasaanku"


"Tidak.." Jawabnya cepat. "Bukan seperti itu, aku cuman gak bisa ngeliat kamu karena terbayang-bayang terus sama kamu dan Farhan.."


Benar, kalaupun dulu itu aku, aku tidak akan bisa melihat Fauzi jika pernah melihatnya dan tahu dia punya hubungan spesial dengan sahabatku sendiri.


"Karena kamu udah tahu semuanya sekarang, aku gak akan nyembunyiin semuanya lagi dari kamu.."


"Tentang apa??"

__ADS_1


Fauzi meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat, kurasakan telapak tangannya yang masih hangat.


"Aku akan datang, kembali memintamu untuk tinggal disisiku seperti dulu tapi bukan untuk jadi pacarku.."


Apa ini yang dimaksud dari kata-katanya kalau dia sudah siap dan dia akan datang?


"La lalu sebagai apa?" Tanyaku sedikit ragu-ragu.


Fauzi terus-terusan menguap, apa dia semengantuk itu? Obat yang kuberikan tidak memiliki efek samping mengantuk tapi Fauzi sudah sedari tadi mengantuk terus.


"Kenapa aku mengantuk sekali??" Fauzi tidak menjawab pertanyaanku malah bertanya sendiri perihal rasa ngantuknya. "Apa tidak apa kalau aku tidur lagi?" Tanyanya.


"Bukannya kamu baru bangun?"


"Gak.."


"Gak? Aku kembali dari sini dan kamu sudah tidur dan sekarang?"


"Aku cuman tidur sebentar tadi.."


Jadi sebenarnya sudah berapa lama Fauzi memandangiku yang tertidur tadi?


"Yasudah tidur saja lagi.." Aku mengurungkan rasa ingin tahuku tentang maksud dari perkataan Fauzi kalau dia akan datang.


Perlahan Fauzi menutup matanya, sepertinya dia benar-benar mengantuk.


"Salwa, aku akan datang.."


"Apa?" Tanyaku pelan.


"Datang memintamu jadi istriku, tunggu saja..."


DAG DIG DUGGG JDERRRRRRR Jantungku tidak karu-karuan mendengar perkataan Fauzi.


"Ma maksud kamu??" Meski detak jantungku sudah tidak bisa dikondisikan, aku masih perlu memastikan perkataan Fauzi. Melihat dia mengantuk, aku takut menganggap ini serius karena bisa saja dia setengah sadar mengatakan ini.


"Aku akan melamarmu secara pribadi bulan depan, dihari ulangtahunmu.. Aku butuh jawabanmu dulu sebelum akhirnya melamarmu secara resmi pada orangtuamu.." Kata Fauzi dengan ekspresinya yang datar dan matanya yang tertutup. Dia berbicara terlihat seperti orang yang sedang mengingau.


Blussshhhhh.. Untung saja dia mengatakan itu sambil menutup matanya setidaknya dia tidak akan melihat pipiku yang memerah bak udang rebus yang sangat memalukan.


"Ti tidur lah.. Se sepertinya kamu sudah mengantuk sekali..."


Fauzi terdiam, sepertinya dia benar-benar sudah tertidur. Jadi? Yang dia katakan tadi itu benar atau dia hanya sekedar mengigau??


Aku bingung, senang, haru dan ah aku tidak tahu menggambarkan seperti apa perasaanku saat ini. Aku tidak yakin Fauzi mengatakan itu dengan masih sadar atau tidak tapi tetap saja rasanya benar-benar membuatku ingin terbang.


"Salwa..."


Eh? Dia belum tertidur.


Perlahan Fauzi kembali membuka matanya.


"Ke kenapa? Kamu belum tidur??" Tanyaku.


"Sudah, tapi terbangun lagi.."


"Kenapa? Kamu perlu sesuatu??"


"Aku cuman mau bilang tadi itu bagian dari latihan"


Maksudnya? Dia latihan ngelamar aku atau latihan ngelamar oranglain lewat aku?? Rasa senangku tadi seketika hilang dan berubah menjadi bingung bercampur sedikit kesal.


"La latihan apa? Yang mana?"


"Saat kamu bangun tadi.." Katanya tersenyum.


CK apa sih yang Fauzi maksud ini? Bikin aku jadi semakin bingung.


"Saat kamu bangun tadi orang yang pertama kamu lihat adalah aku, itu adalah latihan awal karena kedepannya setiap kamu bangun pagi orang pertama yang kamu lihat adalah aku.."


"Eh??"

__ADS_1


"Itu saja.. Aku tidur lagi, rasanya masih ngantuk sekali..." Kata Fauzi berbalik tidur membelakangiku yang duduk mematung disamping tempat tidurnya dengann perasaan yang tidak terdefinisikan.


Sekali lagi, perasaanku yang tidak bisa dijabarkan dan pipiku yang semakin memanas karena rasanya darahku mengalir ke kepala semua.


__ADS_2