Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 17


__ADS_3

Fauzi terus berusaha menghubungi Salwa sampai akhirnya nomor baru yang dia gunakan pun sudah masuk dalam daftar tolak panggilan di ponsel Salwa. Fauzi tidak ada cara lain selain datang langsung kerumah Salwa untuk menemuinya.


"Mau kemana pagi-pagi begini sayang??" Tanya Ibunya yang melihat Fauzi berjalan keluar dengan terburu-buru.


"Kerumah Salwa Bu.."


"Pagi-pagi begini??"


"Iya.. Ada yang harus aku bicarakan dengan Salwa.."


"Kamu gak sarapan dulu? Sedari tadi malam kamu belum ada makan nak.."


"Gak Bu, nanti saja kalau aku sudah pulang. Aku berangkat dulu Bu.."


"Yasudah hati-hati.."


Fauzi mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia ingin segera bertemu dengan Salwa dan menjelaskan semuanya, Fauzi tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut. Selain itu Fauzi juga sangat khawatir dengan Salwa mengingat kemarin Salwa berlari ditengah hujan.


Fauzi tiba didepan rumah Salwa, menekan bel berkali-kali, memanggil Salwa berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Fauzi kembali mencoba menelfon Salwa berharap panggilannya bisa masuk kali ini tapi tetap saja nomor Salwa tidak bisa dia hubungi.


Cukup lama Fauzi berdiri didepan rumah Salwa menunggu Salwa sampai akhirnya...


"Salwa.." Panggil Fauzi menghampiri Salwa yang berjalan masuk di pekarangan rumahnya.


"Apa yang kamu lakukan disini??" Tanya Salwa dengan ekspresinya yang terlihat marah.


Fauzi berusaha menjelaskan semuanya pada Salwa, tapi Salwa selalu menolak penjelasan Fauzi dan tidak ingin mendengar apapun yang dikatakan Fauzi.


"Pergii.. Aku bilang pergiii..."


Bukan lagi sekedar tidak ingin mendengar penjelasan Fauzi, Salwa bahkan tidak ingin melihat Fauzi lagi.


"Aku akan nungguin kamu terus disini.." Fauzi mencoba bertahan.


"Lakukan sesukamu, Ayah Ibuku tidak pulang hari ini jadi tidak akan ada yang menghalangimu berdiri sepuasmu disitu.." Kata Salwa melangkah masuk meninggalkan Fauzi sendiri diluar.


Perlahan airmata Fauzi menetes, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, dia juga tidak menyalahkan Salwa dengan perlakuannya saat ini karena itu hal wajar menurut Fauzi. Yah perempuan mana yang tidak sakit hati melihat kekasihnya sedang bersama perempuan lain.


Fauzi terus-terusan menunggu didepan rumah Salwa, berharap Salwa akan membukakan pintu dan mau mendengar penjelasan Fauzi.


"Loh Nak, ngapain disini??" Tanya perempuan paruh baya tetangga Salwa. Fauzi sering melihat ibu-ibu itu ketika duduk bercerita dengan Ayah Salwa diteras rumah sehingga tidak asing lagi ibu-ibu itu bagi Fauzi.


"Lagi nungguin Salwa Bu"


"Oh, tidak kesebelah dulu?? Nanti kalau Salwa sudah pulang baru kesini lagi.." Ajak Ibu-ibu itu.


"Iya makasih Ibu, saya disini saja nungguin Salwa.." Kata Fauzi dengan sopan.

__ADS_1


"Tapi kamu baik-baik saja kan Nak?" Melihat wajah Fauzi yang pucat membuat Ibu-ibu itu khawatir.


"Saya baik-baik saja Bu.."


"Tapi kamu..."


Brrruukkk...


Fauzi yang sejak semalam tidak makan apapun dan kurang istirahat akkhirnya jatuh pingsan. Perempuan paruh baya itu memanggil Salwa dan akhirnya Fauzi dilarikan kerumah sakit terdekat. Meski sedang marah, Salwa tetap tinggal menemani Fauzi di UGD hingga Fauzi siuman.


Dengan Fauzi yang pingsanpun tidak mengubah keputusan Salwa untuk tetap tidak ingin mendengar penjelasan Fauzi, bagi Salwa semua penjelasan Fauzi hanyalah sebuah alasan dan penjelasan untuk membenarkan diri sendiri. Fauzi yang baru siuman setelah menghabiskan satu botol cairan infus kembali lagi mengejar Salwa hingga kerumahnya. Tidak ada yang lebih penting bagi Fauzi saat ini selain menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan Salwa. Fauzi masih terus-terusan berusaha menjelaskan semuanya pada Salwa. Meski dengan susah payah dan menghabiskan tenaga yang tidak sedikit, dengan kesabaran Fauzi yang terus-terusan membujuk Salwa akhirnya Salwa menerima permintaan maaf Fauzi.


.


.


.


Fauzi menunggu disebuah cafe setelah sebelumnya menelfon Fikri dan Fira untuk membuat janji bertemu.


"Hay Zi.." Sapa Fikri menghampiri Fauzi.


"Hay Kak.." Jawab Fauzi dengan tersenyum.


"Gimana dengan Salwa Zi??" Tanya Fira khawatir.


"Syukurlah, aku khawatir sekali dengan hubungan kalian, aku takut kalian kenapa-kenapa.."


"Jangan dipikirkan Kak, semuanya baik-baik aja.."


"Apa perlu aku ketemu sama Salwa dan ngejelasin semuanya??"


Fauzi menggeleng. "Gak perlu kak.."


"Setidaknya kalau aku yang ngejelasin Salwa bisa lebih percaya.."


"Salwa gak mau ngedengar penjelasan apapun kak, yang ada dipikiran Salwa kita kerja sama kalau kakak yang ngejelasin ke dia.."


"Tapi kan..."


"Udahlah sayang.." Potong Fikri. "Fauzi bilang mereka sudah baikan sekarang, kamu bisa aja memperkeruh masalahnya kalau mencoba ngejelasin semuanya sama Salwa, Fauzi kan sudah bilang Salwa sekarang lagi gak mau ngedengarin penjelasan apapun, yang penting sekarang mereka baik-baik saja.."


"Iya kak, aku sama Salwa udah baik-baik aja sekarang jadi kakak gak usah khawatirin itu lagi. Kakak jangan terlalu kepikiran tentang aku dan Salwa, kasian adek kecil dalam perut kakak kalau kakak banyak kepikiran"


"Tuh sayang, Fauzi aja ngerti masalah anak kita.." Kata Fikri.


"Iya.. Makasih ya Zi.."

__ADS_1


"Iya kak.."


"Oh iya kenapa ngajak ketemu? Tanya Fikri


"Itu kak, aku gak bisa lagi ngelanjutin project foto untuk kalian..."


"Kenapa?" Tanya Fira setengah terkejut. "Salwa gak ngebolehin??"


Fauzi menggeleng.


"Bukan kak, Salwa gak ngebahas masalah kerjaanku kok, aku aja yang ngerasa kurang ngasih waktu buat dia. Selama ini aku sibuk terus sampai aku gak terlalu merhatiin dia. Aku juga udah kelas tiga sekarang, bentar lagi bakalan sibuk les tambahan buat persiapan ujian Nasional, jadi sebelum aku sibuk aku mau nyempatin waktuku buat Salwa dulu.."


"Ya mau gimana lagi Zi kalau itu udah keputusanmu, kami gak ada hak buat ngelarang.." Kata Fikri.


"Maaf kak, aku jadi gak nepatin janjiku buat mengabadikan moment kalian sampai menikah nanti.."


"Gak apa Zi, sampai foto-foto preweed kemarin udah cukup kok" Jelas Fira.


"Maaf kak.."


"Udah gak apa.." Jawab Fikri tersenyum.


"Yaudah kasi nomor rekeningnya aja Zi, uang biaya pemotretan foto preweednya di transfer saja.." Saran Fira.


"Gak gak kak, gak usah.."


"Loh kenapa??"


"Aku juga gak nyelesaiin ini sampai selesai, udah gak usah kak.."


"Apanya yang gak usah, kamu harus dapat bayaran dari pekerjaanmu Fauzi" Tegas Fikri.


"Gak kak, aku juga masih tahap belajar kok, aku malah berterimakasih banget kak karena udah mempercayakan foto preweed kalian sama aku.."


"Hasilmu bagus, makanya kami minta kamu buat yang ngambil foto preweed kita, toh awal pembicaraan kita sebelumnya ini udah dibahas.."


"Hem.. Kalau gitu uangnya buat dede kecil saja.."


"Kenapa begitu?? Kado buat si kecil ya nanti kalau dia sudah lahir.."


"Hehe aku gak yakin bisa ngejenguk si kecil kalau udah lahir, karena kalau sesuai perhitungan waktunya dia lahir aku lagi sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru kak, jadi itu kasi buat dede bayinya saja sebagai hadiah dari aku.."


"Jadi gak enak aku Zi.."


"Gak enak apanya sih kak.. Udah jangan dibahas lagi ini.."


Mereka akhirnya larut dalam obrolan dengan pembahasan yang lainnya.

__ADS_1


Fauzi awalnya yang bersedia untuk mengabadikan momen Fira dan FIkri sampai pernikahan memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi. Fauzi berhenti dari kegiatan memotretnya agar bisa memiliki waktu lebih untuk bisa bersama Salwa sebelum dia disibukkan dengan masalah Ujian Nasionalnya


__ADS_2