
Kejadian Fauzi yang teledor dalam mengawasi istrinya kemarin, membuatnya mengutuk dirinya sendiri. Fauzi tidak ingin lagi hal seperti itu terjadi kedepannya.
Setelah memikirkan semalaman dan dengan matang, Fauzi akhirnya membulatkan tekadnya untuk berhenti bekerja dan fokus dalam mengurus Salwa saja. Fauzi tidak mau kejadian seperti sebelumnya kembali terjadi. Tabungan yang dia miliki saat ini, rasanya cukup untuk biaya hidup beberapa tahun kedepannya dan juga untuk pengobatan Salwa. Meski Fauzi sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada orangtuanya, namun dia kembali memikirkan ulang untuk berbicara masalah keuangan pada Ayahnya jika suatu hari nanti dia kesulitan, mengingat ia tidak tahu sampai kapan dia tidak bekerja.
Hari beranjak siang, suasana riuh mulai memenuhi sebuah restaurant kecil yang dipilih Fauzi untuk menemui Farhan hari ini. Laki-laki dengan kemeja berwarna putih tulang itu, duduk bersandar pada punggung kursi tengah memonitoring kondisi istrinya melalui layar ponsel yang sudah di hubungkan pada CCTV. Fauzi tidak ingin melepaskan pengawasannya lagi dengan berusaha terus memonitoring istrinya saat tidak berada di sampingnya.
“Maaf, gue telat..” Kata Farhan dan langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong depan Fauzi. Bersandar dengan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat terburu-buru menghampiri Fauzi.
“Ck, Lu kenapa?” Tanya Fauzi saat ia disajikan pemandangan Farhan yang tengah berusaha mengatur nafasnya.
“Gue telat, makanya gue buru-buru..”
“Santai saja bro..”
Farhan meraih segelas jus apel yang sudah Fauzi sediakan untuk dia sebelumnya.
“Hem kenapa??” Tanya Farhan pada Fauzi, orang yang memintanya bertemu siang ini.
“Gimana keadaan perusahaan induk Tetta Lu?”
“Ya gak gimana-gimana, gitu aja kayak biasanya. Kenapa? Tumben nanyain ini? Lu mau pindah ke perusahaan induk?” Tanya Farhan berburu.
Fauzi menggeleng.
“Disana ada orang yang kompeten juga gak?”
“Ya banyak. Tettaku kan gak pernah ngasal-ngasalan ngerekrut orang. Kenapa?”
“Kira-kira ad...”
“Ck, Lu dari tadi nanya mulu sama gue, tapi pertanyaan gue gak ada yang Lu gubris..”
“Lu nanya apa emangnya?”
“Ck, gue tanya.. Lu kenapa nanyain masalah perusahaan induk markonah...”
Farhan memperjelas pertanyaannya yang sedari tadi tidak mendapatkan respon yang baik dari Fauzi.
“Ah itu.. gue rasa, gue mau berhenti..”
“Berhenti apaan?”
“Berhenti kerja?”
“Kenapa? Lu gak betah sama kerja di perusahaan Tetta? Ada yang ngeganggu Lu disana? Gajinya kurang??”
“Siapa yang berani ngeganggu direktur hah??” Tanya Fauzi ulang pada Farhan yang memboronginya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
“Ya terus kenapa mau berhenti? Duitnya kurang?”
“Tetta Lu udah cukup ngasih timbunan harta sama gue..”
“La terus apaan dah?”
“Ini masalah pribadi gue Han, masalah Salwa..”
Farhan tidak butuh penjelasan lebih detail dari Fauzi untuk mengerti apa yang sedang dimaksud oleh sahabatnya itu.
“Gue gak mau kejadian yang kemarin terjadi lagi, gue gak mau ngebuat kesalahan yang kayak kemarin lagi Han..”
“Iya gue ngerti. Ya, Lu memang harus luangin waktu lebih banyak buat Salwa..” Kata Farhan memaklumi.
Selintas, ingatan Farhan kembali akan kejadian kemarin, dimana Salwa kembali membahas masa sekolah mereka. Kejadian yang belum sempat ia bicarakan pada Fauzi, meski istrinya sudah tidak mempermasalahkan itu lagi.
“Iya, maka dari itu, gue mau berhenti kerja dulu Han..”
“Tapi Zi, Lu tahu kan. Posisi direktur gak bisa di gantiin begitu saja, Lu gak bisa berhenti hanya karena Lu mau..”
“Iya Han, gue tahu itu. Sekarang gue cuman bingung harus gimana buat berhenti, gue butuh saran dari Lu..”
Farhan terdiam sejenak, pikirannya mulai mencari cara untuk membantu menyelesaikan kebingungan laki-laki yang duduk di depannya saat ini.
“Entar gue ngomong sama Tetta, kalau Tettaku tahu kondisimu, dia mungkin bisa mempertimbangkan keinginan Lu untuk resign”
“Semoga, gue benar-benar kesulitan sekarang kalau harus kerja sambil memantau Salwa..”
“Iya.. Gue bakal bahas itu dulu sama direktur perusahaan yang bergabung dalam kerja sama proyek itu, sekaligus nyelesaiin beberapa pekerjaan yang sementara berjalan sekarang”
Farhan terdiam sejenak, sembari membuka-buka ponselnya.
“Zi, sebenarnya ini bisa saja sih. Gue rasa Tetta bakalan bisa menyetujui keinginan Lu buat resign, karena seseorang akan masuk”
“Siapa?”
“Ini gue cuman bilang sama Lu. Oranglain belum ada yang tahu soal ini..”
Fauzi terdiam dengan tatapannya yang tidak lepas dari Farhan sembai menunggu apa yang akan Farhan katakan selanjutnya.
“Tetta baru aja ngerekrut orang baru. Orang ini udah punya pengalaman jauh masalah pekerjaan seperti kita ini, dan sekarang dia sedang gak megang perusahaan apapun”
“Ck, Lu ngasal? Gimana ceritanya orang yang berkompeten di bidang ini, tapi bisa nganggur dari perusahaan..”
“Lu gak percayaan banget sama Gue. Nih ya, orang ini baru nyelesaiin study lanjutannya di luar negri, gak tahu juga gue di negri mana, yang jelas bukan negri dongeng”
__ADS_1
Fauzi tetap fokus mendengarkan Farhan, meski Farhan menyelingi obrolan mereka dengan sedikit candaan.
“Sebelumnya dia ngurus perusahaan bokapnya, tapi karena apa dah gue juga gak tahu, orang ini milih ngelanjutin sekolahnya dan melepas diri dari perusahaan Ayahnya, padahal hidupnya udah jelas enak tuh. Dengar-dengar, sebelumnya dia udah ngebangun usahanya sendiri, tapi dia gak ngelanjutin itu dan ngasih oranglain buat ngerjain itu, tapi masih dalam pengawasannya”
“Maksud Lu, kayak Tetta Lu gitu? Yang beberapa anak perusahannya di kerja sama oranglain, tapi tetap dalam kendali Tetta Lu?”
“Ya sejenisnya lah, cuman bedanya, Tettaku kan masih ngurus perusahaan Induk, kalau orang itu bener-bener gak ngurus lagi”
“Lu ini ceritanya gimana sih? Dia gak ngurus usahanya lagi, tapi masih megang kendali??”
“Ah gue juga gak ngerti, yang gue denger ya kayak gitu doang..”
“Denger dari mana Lu?”
“Dari Nina. Lu taukan, Tetta gue sama besannya bestfriend banget. Orang itu juga disaranin sama mertua gue”
“Lu udah kayak emak-emak yang doyan gosip..”
“Yang penting kan gue dapat infonya..”
“Jadi gimana sekarang?”
“Ya intinya orang itu setuju kerja di perusahaan Tetta karena rekomendasi dari mertua gue. Katanya sih, mertua gue kenal sama bokapnya dia”
“Ck belibet banget ceritanya..”
“Ya begitulah. Intinya bokap gue baru aja ngedapetin jackpot orang hebat yang mau kerja di perusahaannya, yang berarti kemungkinan besar Lu bisa dapat izin buat resign dari bokap gue..”
“Ya semoga bisa kayak gitu. Jujur aja, gue merasa gak enak buat ngebahas ini sama tetta Lu. Gue ibaratnya orang yang udah dikasi makan enak, malah nolak”
“Santai aja. Gue yakin, Tetta bakal ngerti keadaan Lu kok. Selama Lu jadi direkktur kan, udah banyak banget peningkatan yang terjadi. Semua berjalan baik dan keuntungan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dan lagi, akhir-akhir ini Lu berhasil dapat persetujuan kerjasama kan? Yang gue denger-denger, direktur perusahaan itu sendiri yang turun tangan..”
“Gue cuman beruntung aja karena dia mau..”
“Lu gak make muka Lu buat ngegaet dia biar mau kerjasama kan? Karena katanya dia cewek..”
“Mungkin salah satunya juga itu”
“Sudah gue duga. Dasar laki-laki..”
“Lu ingat Karin gak?”
“Karin? Siapa?”
“Ck, kakak kelas itu loh..”
“Ya, anggap aja gue ingat. Hem kenapa sama dia?”
__ADS_1
“Gak jadi.. Malas gue ngomong sama orang yang pikun kayak Lu” kata Fauzi mendengus kesal. Niatnya untuk membahas Karin sebagai orang yang bekerjasama dengan dia, seketika hilang begitu saja saat ingatan Farhan tidak bisa mengenai tentang Karin.
Meski Fauzi sudah memikirkan dengan matang dan memutuskan dengan bulat tekadnya untuk berhenti bekerja, namun ia masih saja di selimuti dengan perasaan tak nyaman, mengingat ia bekerja di perusahaan orangtua Farhan. Namun kalut yang semalaman dipikirkannya itu, akhirnya sedikit menemukan titik terang setelah membahasnya bersama Farhan