
Hari beranjak siang, orang-orang bergantian masuk dan keluar dari klinik setelah mendapat pemeriksaan dari dokter.
Salwa masih duduk dan mulai kebingungan. Bagaimana bisa ia berfikir tidak rasional, beranggapan bahwa penyebab insomnianya karena kebiasaan begadang saat Mikayla rewel, sedangkan kebiasaan itu telah berlalu 3 tahun yang lalu.
"Ibu bekerja?" Tanya Dokter memecah lamunan Salwa.
"Ah? Iya. Ah bukan, aku hanya kerja dirumah"
"Ibu rumah tangga"
"Iya, sekaligus sebagai Apoteker standby di Apotek saya"
Dokter itu menghela nafas sejenak.
"Ibu, saya sangat minta maaf, karena sepertinya saya tidak bisa lanjut memeriksa Ibu. Apa Ibu bersedia jika diperiksa oleh dokter lain?"
"Kenapa?" Tanya Salwa kebingungan.
"Ada hal yang harus saya periksa saat ini. Saya sangat minta maaf karena harus seperti ini"
Salwa sedikit kesal. Dokter didepannya ini sangat tidak profesional menurutnya. Namun akhirnya Salwa setuju untuk diperiksa oleh dokter lain.
Dokter itu beranjak keluar setelah meminta izin dan memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Salwa.
Benar tidaknya dengan apa yang ada dipikiran dokter itu, namun mendengar keluhan Salwa, dia merasa bahwa keluhan yang Salwa berikan bukan lagi sesuatu yang ia bisa periksa lebih lanjut. Ia harus menyerahkan Salwa sebagai pasiennya kepada Dokter lain yang ahli dalam bidangnya.
Mengingat Salwa adalah seorang Apoteker, jelas ia tidak bisa memindahkan Salwa dengan dokter lain tanpa alasan. Terlebih lagi ia masih mengira-ngira diagnosa sesuai dengan apa yang Salwa tuturkan dan keadaan Salwa yang tiba-tiba bingung barusan.
Salwa masih duduk sembari bersandar pada punggung kursi, menuggu dokter yang akan memeriksanya datang.
"Selamat pagi Ibu"
Seorang dokter melangkah masuk dan menyapanya. Dokter yang berbeda dari dokter yang memeriksanya barusan. Salwa sedikit kebingungan melihat dokter tanpa tanda pengenal pada jas snelli yang dia gunakan.
"Kami sangat minta maaf atas ketidaknyamanan karena pergantian dokternya" Kata dokter itu dengan ramah.
Salwa hanya tersenyum simpul.
"Saya sudah mendengar garis besar dari keluhan yang Ibu tuturkan pada dokter Ishak yang memeriksa Ibu sebelumnya, dan katanya Ibu sudah meminum multivitamin?"
Salwa mengangguk.
"Apa Ibu sering merasa kelelahan akhir-akhir ini??"
"Tidak.."
"Tapi Ibu merasa, hilangnya konsentrasi Ibu dikarenakan Ibu yang kelelahan?"
Salwa mengangguk.
Lagi, Salwa kebingungan dengan dirinya sendiri. Seperti sinyal yang tertukar atau salah server dalam otaknya, yang membuatnya berfikiran sesuatu yang sedikit tidak rasional.
"Jangan khawatir Ibu, hal seperti ini bisa saja terjadi bukan karena Ibu kelelahan. Mungkin saja gula darah Ibu sedang rendah, sehingga membuat Ibu sedikit kehilangan fokus"
Salwa menatap dokter itu, dan tersenyum "Ah ya, mungkin karena gula darahku menurun karena kurang tidur akhir-akkhir ini.."
__ADS_1
Hal yang Salwa maklumi sebelumnya adalah hal yang bertolak belakang. Kurang tidur tidak akan menyebabkan gula darah rendah, melainkan sebaliknya. Salwa tahu hal itu, namun entah mengapa pikirannya membenarkan hal yang salah. Dan ha itu membuat dokter yang duduk didepannya ini mulai melihat gejala yang mungkin saja benar dengan apa yang dikatakan dokter yang memeriksa Salwa sebelumnya.
"Sejak kapan Ibu mulai merasa kehilangan konsentrasi?"
Salwa mulai menceritakan bagaimana ia lupa pada hari, sehingga ia bangun lebih awal dan memasak dihari libur.
"Ibu merasa melakukan hal itu karena kurang konsentrasi? Bukan lupa?"
"Entahlah, mungkin karena aku lupa. Tapi kurasa karena konsentrasiku rendah sampai aku melakukan hal itu. Karena aku tidak mungkin lupa akan hal-hal yang aku lakukan setiap harinya.."
Senyum tidak lepas dari bibir dokter itu, memberikan kesan ramah yang membuat Salwa menjadi nyaman.
"Bisa Ibu lanjutkan ceritanya?"
"Ah untuk ini, aku rasa bukan karena konsentrasiku yang kurang, tapi sepertinya karena aku memang lupa"
"Tentang apa?"
Salwa kembali menceritakan bagaimana ia lupa membawa susu Mikayla saat menjenguk Ibu mertuanya kemarin, juga bagaimana ia lupa dimana menyimpan minyak telon milik Mikayla. Dan terakhir Salwa bercerita tentang bagaimana dia yang kebingungan pagi tadi.
Sembari Salwa menceritakan keluhannya, dokter itu mulai mengetik pada komputer menuliskan resep elektronik yang akan dikirim langsung pada bagian Farmasi di klinik itu.
"Baiklah Ibu Salwa, saya sudah menuliskan resep untuk Ibu. Silahkan Ibu tebus obatnya dibagian Farmasi, di klinik kami"
"Ah iya Dok"
"Ibu, tolong kembali lagi dua minggu kedepan untuk periksa"
"Kenapa saya harus kembali lagi? Kenapa saya harus diperiksa lagi? Apa ada yang serius?"
"Baiklah. Terimakasih dok"
"Sama-sama, semoga lekas sembuh"
Dokter itu tersenyum dengan ramah, dan Salwa hanya balas tersenyum kemudian berlalu.
.
.
.
.
Fauzi merenggangkan tubuhnya setelah selesai menyelesaikan beberapa pekerjaan diruang kerjanya. Hari ini terasa begitu melelahkan, ia bahkan belum sempat menanyai Salwa tentang hasil pemeriksaan kesehatannya yang Salwa lakukan siang tadi.
Fauzi melangkah keluar, dan menemui istrinya yang tengah sibuk berkutit dengan netbook di depannya.
“Mikayla sudah tidur??” Tanya Fauzi menghampiri istrinya, memberi Salwa kecupan manis dan duduk di samping Salwa.
Salwa menoleh, membalas senyuman manis suaminya sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan Fauzi.
“Kamu lagi ngapain?”
“Aku mau pemesanan obat sekaligus mau ngeretur obat yang expirednya sebentar lagi”
__ADS_1
“Oh ya, tadi kamu periksa ke dokter kan?”
Salwa mengangguk dengan pandangannya yang tidak lepas dari netbooknya.
“Apa kata dokternya?”
Salwa menggeleng. “Gak ada yang jelas..”
“Gak ada yang jelas? Maksudnya??”
“Dokter gak bilang kalau aku sakit atau sehat. Ya, sepertinya dokter juga beranggapan kalau aku cuman kecapean aja"Jawab Salwa, "Eh bukan, menurutnya mungkin gula darahku menurun”
“Kamu sudah cek?”
Salwa menoleh dan menatap Fauzi, membuat Fauzi bingung dengan tatapan istrinya itu.
“Kenapa aku gak cek ya??” Tanya Salwa kebingungan.
Salwa termasuk dalam tenaga medis, mengapa bisa ia tidak berfikiran untuk mengambil sampel darahnya dan melakukan pemeriksaan lanjut jika dirinya diperkirakan tengah mengalami penurunan kadar gula darah.
Fauzi hanya menghela nafas. Entah apa yang tengah menganggu pikiran istrinya itu, sampai hal-hal yang seharusnya bisa dia pikirkan mengenai sesuatu yang berhubungan dengan statusnya sebagai bagian dari tenaga kesehatan, malah terlupakan begitu saja.
“Ahh.. Mungkin karenaa...”
Salwa yang sebelumnya berfikiran tentang sesuatu kembali bingung dan terdiam.
“Karena???” Tanya Fauzi berusaha membuat istrinya mengingat hal yang akan dia katakan selanjutnya.
“Karenaa..” Salwa kesusahan mengingat kata-kata yang ingin dia katakan sebelumnya. “Ah aku gak tahu. Intinya aku baik-baik aja karena dokter gak bilang apa-apa sama aku”
Salwa mengabaikan tentang perkataannya yang dia lupakan sebelumnya dan kembali fokus pada pekerjaan di netbooknya.
“Dokter gak bilang apa-apa lagi??”
“Iya, dokter cuman minta aku balik lagi dua minggu kedepan” Jawab Salwa tanpa menatap Fauzi dan tetap sibuk pada pekerjaannya.
“Kenapa?”
“Dokter cuman mau memastikan keadaanku saja”
Tatapan Fauzi tidak lepas dari Salwa. Perasaannya seperti, ada sesuatu yang aneh pada istrinya itu. Seperti ada hal yang seharusnya istrinya itu pikirkan mengingat ia adalah anak kesehatan, namun dia abaikan begitu saja. Seolah semuanya adalah hal yang wajar.
.
.
.
.
.
Untuk Cinta-cintaku yang khawatir mengonsumsi suplemen vitamin C karena memiliki riwayat asam lambung dan khawatir akan mengalami heartburn atau nyeri ulu hati. Aku merekomendasikan kalian untuk mengonsumsi Ester C Holisti Care. Ikatan asam pada Holisti Care sudah diputus sehingga kita tidak perlu khawatir akan kadar asamnya..
Etss ingat ya.. Gak semua makanan asam dan mengandung vitamin C langsung menyebabkan asam lambung naik.. Jadi jangan terlalu khawatir..
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan ya 😘💜💜*