Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Dugaan Nina


__ADS_3

Aku akhirnya mengurungkan niatku untuk melanjutkan pendidikanku setelah ibu memohon agar aku tetap lanjut bekerja setidaknya setahun saja. Aku juga merasa terlalu egois kalau lagi meninggalkan Ibu dan Ayah hanya untuk menahan perasaan sedihku. Aku sudah cukup egois beberapa tahun terakhir, sekarang sudah seharusnya aku berubah menjadi lebih bisa menahan keegoisanku.


Aku bersiap-siap berangkat kerja, aku harus bisa berjuang memperbaiki perasaanku dan belajar mengikhlaskan Fauzi meski itu akan sangat sulit, tapi itu lebih baik daripada aku berusaha untuk melupakannya. Karena melupakan Fauzi adalah sebuah ketidakmungkinan bagiku. Fauzi terlalu jauh tertanam dalam pikiran dan ingatanku.


Pagi ini sebelum berangkat bekerja aku mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.


"Hari ini kerja? Bisa keluar denganku sebentar??" Pesan singkat yang kuterima.


Aku berjalan keluar kamar sambil membalas pesan tersebut. "Siapa?" Tanyaku.


.


.


Aku tiba dirumah sakit, aku berjalan melewati rekam medik dan terlihat banyak sekali pasien yang mengantri disana.


"Hemm syukurlah.." Gumamku.


Yah, aku seperti berbeda dari oranglain pada umumnya. Orang lain mungkin akan mengeluh ketika melihat banyaknya pasien, sedangkan aku bersyukur untuk itu. Aku sama sekali tidak bermaksud mensyukuri orang-orang itu menjadi sakit, aku hanya mensyukuri diriku yang akan sibuk hari ini sehingga aku tiddak punya banyak waktu berfikir yang lain-lain selain pekerjaanku. Aku tengah berusaha mengalihkan perhatianku dari Fauzi dan cara termanjur agar perhatianku teralihkan adalah dengan aku yang menyibukkan diri.


Aku kembali mengecek ponselku, aku belum menerima balasan kembali dari nomor yang tidak di kenal itu. Jangankan balasan, pesan yang pesan kukirim saja centangnya belum berubah warna menjadi biru yang berarti pesanku belum terbaca. Ck siapa juga manusia yang dengan pedenya memasang foto Kim Taehyung BTS ultimate biasku menjadi display picture Whatsaapnya. Ya meskipun aku merasa display picture seperti ini cukup alay, tapi aku senang melihat foto Taehyung disana, membuatku merasa sedang chattingan dengan biasku. Ah sudahlah, kenapa juga aku sempat-sempatnya ngehalu dan lagi buat apa juga aku menunggu balasan pesan dari nomor yang tidak dikenal ini. Aku kembali fokus bekerja.


"Kak Salwa.." Panggil Izki.


"Kenapa Ki?"


"Tadi ada orang yang datang kesini nyariin kakak"


"Siapa?"


Izki hanya menggeleng mengisyaratkan kalau dia tidak tahu tentang orang itu.


"Kamu gak tanya kenapa dia nyari aku?"


"Katanya dia cuman lewat, jadi sekalian singgah mau nanyain kakak"


"Kamu ingat ciri-cirinya?"


"Gak terlalu kak, aku kan pendek jadi harus jinjit-jinjit dulu kalau mau ngomong sama seseorang lewat loket"


"Oh yaudah.. Mungkin teman.."


Ponselku berdering. Satu panggilan masuk dari Nina.


"Ya kenapa Nin?"


"Kamu dimana Wa?"


"Di Rumah sakit, kenapa?"


"Akhir pekan free gak?"

__ADS_1


"Hem iya, karena sekarang aku kedapatan jaga di depo rawat jalan jadi tiap akhir pekan aku free, paling ngerjain laporan.."


"Temanin aku ya??"


"Kemana?"


"Nyari desain undangan.."


"Desain undangan? Buat apa? Eh.. Ka kamu mau??"


"He he he iya.. Sebenarnya masih lama, tapi aku udah mau siapin semuanya.."


"Serius Nin?? Wah selamat yaa..."


"Ssstt jangan ribut-ribut, karena acaranya masih lama jadi pamali kalau banyak orang yang tau.."


"Lah ini kamu yang ngasih tau aku.."


"Ya maksudnya kamu disitu jangan ribut-ribut, nanti kedengaran sama orang lain kalau aku mau nikah.."


"Lah Nin, aku lagi di Rumah sakit dan gak ada orang yang kenal sama kamu disini maemunah.."


"Oh he he he iya ya.. lupa aku.."


"Jadi sekarang kamu udah di Mamuju?"


"Belum sih, masih ada kerjaan yang harus aku selesaiin disini sebelum pulang. Mungkin aku pulangnya besok kalau gak lusa.."


"Jadi acaranya kapan?"


"Iya ya.. tapi lamanya itu selama apa? Kapan?"


"Lamaran aja belum, ya mana aku tahu kapan??"


"Lah terus ngapa udah cari desain undangan saja maemunah?? Kamu udah mau nyiapin itu padahal lamaran aja belum.."


"Ya tapi lamaran itu cuman sebagai formalitas aja sih buat aku, toh aku sama kak Farhan udah diikat dari beberapa tahun yang lalu.."


"Iya juga sih.."


"Lagian kak Farhan masih sibuk sekarang. Ya taulah orang yang kerja sambil kuliah ribetnya kayak gimana.."


"Terus kamu gembor-gembor ngomong mau nikah gimana ceritanya? Calon suamimu saja masih sibuk begitu"


"Sebenarnya kuliahya kak Farhan sekarang udah selesai, dia lagi sibuk ngurus ini itu persiapan wisudanya. Pembicaraan kemarin kalau kak Farhan udah wisuda tanggal pernikahan kami juga bakal direncanakan makanya aku udah mulai sibuk sekarang.. Lagian Mamanya kak Farhan ngebet banget punya mantu.."


"Namanya juga kak Farhan anak satu-satunya, ya wajarlah kalau Mamanya kebelet.."


"Ya jadi ini kamu jadi nemenin aku kan?"


"Ya kamu balik kesini dulu lah beb baru bisa aku temenin.."

__ADS_1


"Oke nanti aku kabari kalau aku udah balik.."


"Kalau masalah desain undangan aku ada kenalan sih.."


"Wah bagus, jadi gak perlu repot-repot ntar.."


"Iya, jadi tinggal nyari sisanya aja.."


"Engg Salwa.."


"Ya? Kenapa Nin??"


"Ka kamu.."


"Eh bentar-bentar, ada pesan masuk, aku baca sebentar.." kataku memotong pembicaran Nina.


Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal tadi. Sepertinya dia sudah membalas pesanku, aku membukanya.


"Aku Fauzi. Jadi gimana ada waktu gak buat ketemu??"


Apa aku gak salah baca? Ini beneran Fauzi??. Aku berulang-ulang membaca pesan itu sambil mengucek mataku sesekali untuk memastikan.


"Wa.. Salwa..."


Nina memanggilku dari seberang telfon tapi aku pikiranku masih berfokus pada pesan singkat yang kuterima.


"Salwaaaaa... Kamu ngedenger aku gak sih?"


"Eh, eng.. I iyaa Nin.."


"Kamu baca pesan apa sampai gak ngedenger aku?"


"Oh Ha ha ha Undian..." Jawabku berbohong.


"Ck ada-ada aja kamu, masa pesan begitu kamu tanggapin serius"


"Haha maaf maaf.. Hem kenapa tadi?"


"Ini.. engg.. Anu.."


"Mau ngomong apa sih Nin?"


"Itu.. Katanya kak Fauzi ada di Mamuju ya? Kamu gak pernah ketemu selama disitu?"


"Eh??" Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Nina. "I itu.. Aku gak pernah ketemu, kenapa?" Kataku berbohong.


"Ya enggak, kali aja kamu ada ketemu. Aku cuman ngerasa kak Fauzi balik kesitu karena dia tahu kamu ada disitu.."


"Dia balik kesini karena dia mau nikah Nina" Batinku. Aku tidak sanggup membahas ini pada Nina dan memilih berpura-pura tidak pernah bertemu dengan Fauzi padahal baru saja aku menerima pesan dari Fauzi mengajakku untuk bertemu.


"Ke kenapa kamu mikirnya gitu? Terus tau darimana kalau Fauzi ada disini?" Tanyaku.

__ADS_1


"Kak Fauzi rekan kerjaku dari kantor yang berbeda, aku sempat ketemu sama kak Fauzi disni saat kami sama-sama jadi utusan kantor untuk ngebahas urusan kerjaan. Tapi kemarin aku ada janji lagi buat ketemu dengan orang dari kantornya dan yang datang bukan kak Fauzi, pas aku tanya kenapa katanya kak Fauzi tiba-tiba resign beberapa bulan yang lalu. Dan setelah kuingat-ingat waktu resign kak Fauzi gak beda jauh dari waktu kamu balik kesitu buat kerja.."


Ah Nina sepertinya benar-benar salah paham tentang ini. Dia tidak tahu kalau Fauzi akan menikah maka dari itu dia kembali kesini. Aku juga tidak bisa memberitahunya karena dia akan mempertanyaankan dari mana aku bisa tahu dan lagi Nina akan makin mengasihaniku.


__ADS_2