Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Not Only Love


__ADS_3

Hari masih begitu pagi, sehingga belum begitu banyak pengunjung datang di taman. Selain karena hari yang masih sangat pagi, juga karena hari ini adalah hari kerja, membuat taman yang tidak jauh dari hotel benar-benar masih sepi.


Sasa menikmati dan makan dengan lahap sarapan yang Azka buatkan untuknya. Rasa lapar seketika menyerangnya ketika aroma dari makanan yang dibawa oleh Azka menyentuh indra penciumannya.


Azka yang mulai mengajak Sasa mengobrol setelah Sasa menutup sarapan paginya, kembali dibuat merasakan sedih ketika melihat Sasa yang menangis hanya karena dia bertanya perihal kondisinya


“Sa, kalau ada sesuatu yang memberatkanmu, cerita sama aku. Aku ada disini biar kamu bisa berbagi sama aku”


Perlahan, dengan tersikuk-sikuk Sasa mulai menceritakan kronologi dari apa yang membuatnya berakhir dengan mata bengkak. Perasaannya kembali merasakan sakit yang luarbiasa ketika mengingat semua yang terjadi padanya semalam.


Azka mendengarkan dengan perasaan iba. Azka pun sempat bertanya-tanya dalam hati tentang bagaimana bisa seseorang menilai orang lain berdasarkan status sosialnya.


“Jadi sampai sekarang kamu belum pernah ketemu Faiq lagi? Terakhir tadi malam itu?”


Sasa mengangguk, mengiyakan pertanyaan Azka.


“Aku mengakhiri hubunganku” Kata Sasa dengan airmatanya yang kembali tumpah.


“Ka-kalian putus? Kenapa??” Tanya Azka yang terkejut mendengar keputusan yang Sasa ambil. “Kamu kan sangat cinta sama dia, Sa. Apa kamu udah mikirin ini matang-matang?”


Sasa mengangguk. “Kalau kamu diposisiku dengan harga dirimu yang sudah diremehkan, bagaimana rasanya? Apa kamu bisa tetap bertahan?”


Azka terdiam sejenak. Yang dia pikirkan tadi, hanya dari sudut pandang perasaan saja mengingat Sasa selalu bercerita dulunya tentang bagaimana dia yang sangat mencintai Faiq.


“Perasaan cinta saja gak akan bisa membuat aku menjalani hubunganku dengan baik dan bahagia” Jelas Sasa.


“Iya aku tahu, hanya saja apa kamu yakin gak akan menyesal karena membuat keputusan seperti ini?. Ya, aku bukan di posisimu saat sekarang jadi aku bisa mengatakan ini, tapi kalau dipikir-pikir kamu baru saja ketemu sama dia lagi setelah sekian lama perasaanmu tetap terjaga buat dia, dan sekarang kamu memilih untuk mengakhiri hubunganmu meskipun perasaanmu masih sangat cinta sama dia?"


Sasa menunduk, ia tidak memungkiri bahwa sesekali ia berpikir akan keputusannya ini. Apakah ini keputusan yang benar dan tidak akan dia sesali di kemudian hari, ataukah ini akan menjadi bencana untuk dirinya sendiri. Tapi setiap kali dilema mulai menyerangnya, Sasa kembali mengingatkan dirinya akan status sosial mereka yang berbeda, yang sangat jelas bahwa kejadian seperti semalam bisa saja terulang lagi nantinya.


“Aku yakin. Selama ini aku mencintainya karena aku merasa bahagia saat bersamanya dulu, tapi sekarang semuanya sudah berubah dan tidak lagi begitu. Dia juga sudah bukan Faiq yang aku kenal dulu. Kami yang dewasa ini, bukan lagi seperti remaja yang berpikiran bahwa cukup dengan cinta kita akan bahagia. Pikiran logisku tidak lagi bisa membenarkan hubunganku bersama Faiq”


Azka terdiam, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dulu Azka selalu berpikir, bahwa dia akan menjadi orang yang sangat bahagia jika pada akhirnya hubungan Sasa kandas dengan kekasihnya. Perasaan cinta yang dia miliki membuatnya berharap Sasa berakhir dengan pasangannya.


Tapi, setelah Sasa dan Faiq memutuskan berpisah, Azka sama sekali tidak merasa bahagia atau senang melihatnya. Karena apa yang Sasa perlihatkan padanya pasca putusnya hubungan yang dia miliki bersama Faiq hanyalah kesedihan. Rasa sedih melihat Sasa yang menangis seperti ini, membawa pergi rasa bahagia yang seharusnya Azka miliki.

__ADS_1


Bagi Azka, kebahagiaan orang yang dicintainya adalah nomor satu, walau orang itu bahagia bukan bersamanya. Dia tidak ingin menjadikan situasi yang seperti ini sebagai kesempatan untuk dirinya. Meski dulunya ia sangat menanti-nanti dan berharap Sasa bisa berakhir dengan kekasihnya.


“Ya, semoga itu adalah pilihan yang terbaik”


“Aku gak tahu kedepannya akan seperti apa. Sebelumnya aku selalu sendiri, dan sekarang pun aku sendiri lagi, aku sudah terbiasa”


“Jangan bilang kalau kamu sendiri, sekarang ada aku Sa. Aku akan selalu ada buat kamu”


Sasa berbalik menatap Azka, menyeka airmatanya sejenak kemudian tersenyum.


“Makasih, Ka”


Azka balas tersenyum dan membantu Sasa menyeka airmatanya.


Cukup lama keduanya berbincang-bincang di taman. Azka membuat beberapa lelucon untuk menghibur Sasa, dan itu cukup berhasil membuat Sasa menjadi lebih baik. Sasa yang sudah menangis sedari malam ditambah lagi pagi ini, akhirnya mulai tertawa dengan cerita konyol yang Azka ceritakan untuknya.


“Azka..”


“Hem??”


Azka menatap Sasa dengan tersenyum.


“Itulah aku diciptakan, biar Sasa ini tidak melewati masa-masa sulitnya sendiri”


Sasa begitu terharu mendengar apa yang Azka katakan. Laki-laki yang baru dia kenal setahun terakhir ini, telah banyak berjasa untuk hidupnya.


“Aku tahu, mungkin saja aku goyah nantinya kalau Faiq terus-terusan datang menemuiku, tapi aku harus kuat untuk mempertahankan pilihanku. Jelas sekali, aku pasti merasa tertekan kalau bersama Faiq”


“Apa Faiq gak bersedia buat ninggalin hidupnya yang sekarang buat kamu?”


Sasa berbalik menatap Azka, tersenyum sejenak kemudian kembali mengalihkan perhatiannya.


“Dia bersedia. Dia bilang, dia siap meninggalkan semuanya kalau aku meminta seperti itu”


“Terus, kenapa gak seperti itu saja?”

__ADS_1


“Aku egois kalau seperti itu, Ka. Bukan jalan yang mudah sampai Faiq bisa berada di posisinya sekarang. Ada waktu dimana dia menjadi orang yang kecanduan alkohol hanya karena berusaha menikmati hidupnya saat Ayahnya memaksanya pindah dan kuliah di luar negri. Faiq sempat berada di posisi terendah dalam hidupnya, dan kemudian bangkit seperti sekarang. Jadi siapa aku? Yang tiba-tiba datang dan meminta dia buat meninggalkan semua apa yang sudah dia raih selama ini dengan susah payah, hanya untuk aku”


Azka yang sebelumnya masih sangat sedikit bingung dengan keputusan Sasa untuk mengakhiri hubungannya dengan Faiq, karena yang dia tahu Sasa sangat mencintai Faiq. Namun setelah jawaban terakhir dari Sasa, Azka akhirnya mengerti.


Sasa yang masa kecilnya tidak hidup sebagaimana mestinya gadis muda lainnya, harus berjuang melewati masa-masa sulitnya untuk bisa berdiri sendiri seperti sekarang dan menikmati hidup tanpa tekanan. Sehingga jelas saja jika Sasa menolak hidup dengan Faiq yang sudah pasti akan memberinya tekanan mengingat status sosial mereka yang sangat jauh. Sasa hanya menginginkan hidup sederhana dan bahagia.


Meski Faiq bersedia untuk memberinya kehidupan yang seperti itu dengan siap melepaskan semua apa yang ada dalam hidupnya saat ini, namun Sasa tetap saja menolak karena Sasa juga mempertimbangkan hidup Faiq. Tidak mungkin bagi Sasa mengambil alih kehidupan Faiq dan menjadikan laki-laki yang sudah berjaya dengan usaha kerasnya itu, kembali ke titik awal hanya untuk hidup dengannya.


Azka menatap lekat wajah Sasa. Jelas sekali dia melihat bahwa ada sebersik ketidak ikhalasan di mata Sasa untuk melepas Faiq, namun dia menekan ego sebisanya agar ia tidak menjadi perempuan yang membuat usaha Faiq menjadi sia-sia.


“Dulu Faiq bercita-cita jadi seorang arsitek yang handal, tapi pada akhirnya dia mengubur semua mimpinya dan terjuan kedunia bisnis seperti yang dia geluti sekarang. Sekarang dia sudah sukses, aku tidak mau menjadi orang yang membuat mimpi Faiq yang sudah terkubur itu menjadi sia-sia”


“Kamu benar, tadinya aku berpikir kalau kamu salah mengambil keputusan karena melepaskan orang yang kamu cintai. Tapi pada akhirnya aku ngerti sama keputusanmu. Ya, cinta bukan hanya perihal kalian berdua, banyak hal lainnya yang akan masuk kedalam kehidupan kalian kalau kalian memaksa untuk bersama. Salah satunya, adalah mengorbankan sisi nyaman kalian dari apa yang sudah kalian dapatkan masing-masing selama ini”


“Iya, seperti itu Ka..”


“Hem.. Selamat berjuang Sa. Aku tahu, pasti gak mudah buat kamu melewati ini. Perasaan cintamu selama bertahun-tahun tidak akan bisa dilepaskan begitu saja. Tapi, dengan apa yang kamu jadikan alasan berpisah ini, pasti bisa menguatkanmu”


“Makasih, Ka”


“Dan ingat, ada aku juga yang siap membantumu dalam bentuk apapun”


Sasa menatap Azka dengan haru. Azka benar-benar menyiapkan dirinya sebagai orang yang bisa diandalkan.


.


.


.


.


.


Muehehe aku rajin hari ini 😁 Mood bagus, jadi bisa Up banyak2 😂

__ADS_1


__ADS_2