Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Ibu..


__ADS_3

Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Fauzi. Aku tahu kesehatannya sedang menurun, tapi dokter hanya mengatakan kalau Fauzi hanya kelelahan, tidak ada sesuatu yang serius dengannya.


Fauzi diperbolehkan keluar dari rumah sakit berarti keadaan Fauzi sudah membaik bukan? Lalu kenapa tidak sadarkan diri lagi.


Aku menunggu diruang tamu Fauzi, Ibunya menolak untuk membawanya ke Rumah Sakit dan membawanya pulang untuk diperiksa oleh dokter klinik disamping rumah Fauzi. Aku khawatir sekali, aku juga takut dengan tanggapan orangtuanya nanti. Fauzi anak tunggal yang mendapat perhatian penuh dari orangtuanya sehingga orangtuanya sangat protektif tentang kesehatan Fauzi.


"Nak Salwa.." Tegur Ibunya keluar sambil membawa segelas air untukku.


"Ibu, bagaimana keadaan Fauzi?" Tanyaku khawatir.


Ibunya menyodorkan segelas air untukku, mungkin ia cukup melihat keteganganku sehingga membawakan segelas air sekedar untuk menenangkanku.


"Gak kenapa-kenapa Nak.."


"Tapi Bu, Fauzi sampai pingsan..Fauzi.."


"Hahaa... siapa yang bilang Fauzi pingsan Nak? Fauzi hanya kelelahan jadi ketiduran"


"Ke..ketiduran??" Tanyaku memperjelas ucapan ibu Fauzi.


"Iya nak, dokter bilang tubuhnya relaksasi karena lega atau apalah itu namamya, ibu juga gak terlalu ngerti apa yang dokter bilang nak, cuman yang ibu tau Fauzi baik-baik sja dan sekarang sedang tertidur.."


"Ja..jadi Fauzi baik-baik saja Bu?"


"Iya Sayang.. sudah jangan terlalu cemas. semalam Fauzi memang tidak bisa tidur dan tidak mau makan, katanya lagi kenyang padahal dari siang gak pernah makan.. Ibu kadang bingung sama anak muda itu, gak makan tapi kok bisa kenyang terus.."


"Oh hehehe.. mungkin lagi gak nafsu makan saja Bu" Jawabku


"Ah.. Kalau saja dia tau anaknya tidak makan karena aku, aku bisa-bisa diusir dari sini"


"Lah apa juga yang ngebuat anak itu gak nafsu makan, Ibu selalu masak apa yang mau dia makan. Pagi sebelum berangkat pagi-pagi sekali katanya dia mau makan malam sayur tettu jadi ya Ibu buatkan.. eh tau-taunya pulang udah basah-basahan gak mau makan lagi.. Ibu bujuk tetap gak mau makan, katanya kenyang.. semalaman main Hp terus kerjaannya malah tengah malam keluar beli kartu katanya, padahal sudah larut kayak gak bisa ditunggu pagi aja baru beli kartunya.."


Aku hanya tersenyum sesekali menanggapi cerita Ibu Fauzi. seperti itu rupanya Fauzi semalam.


"Nak, sesekali tegur Fauzi ya.. Fauzi itu kadang-kafang susah dilarang, siapa tau kalau nak salwa yang tegur Fauzi jadi sedikit mendengar.."


"Iya Bu, tapi harusnya Fauzi kan lebih mendengar apa yang Ibu bilang.."


"Wahh mana ada begitu.." Jawabnya spontan.


"Mungkin karena saya sama Bapak sesekali memanjakan Fauzi, akhirnya kadang ada hal-hal yang Ibu bilangin tapi Fauzi gak mau dengar, ya namanya juga baru dia sendiri Nak jadi rasanya ada kesenangan tersendiri ngemanjain Fauzi... eh tau-taunya malah begitu" Sungutnya.


"Hehe Fauzi jadi kebiasaan Bu.."


"Hem emang.. Ibu manja-manjain bukannya balasannya jadi baik malah makin banyak maunya, mau nyesel karena udah manjain dia tap Ibu sayang juga.." Keluhnya.


"Hehehe dimarahin aja Bu kalau Fauzi gak mau nurut.."


"Maunya sih gitu Nak, tapi Ibu gak sampai hati juga.." Keluhnya. "Tapi nak.." Katanya mendekatiku sambil memegang tanganku. "Fauzi agak berubah pas kenal sama Nak Salwa, hehe Ibu juga gak tau tapi ya begitulah pokoknya.." Katanya sambil tersenyum.


"Berubah gimana Bu?" Tanyaku bingung.


"Ya pokoknya berubah saja, sekarang kalau makan juga gak kesisa-sisa lagi dan bangun paginya juga udah gak dibangunin, biasanya kalau gak dibangunin bakalan tidur terus sampai siang.. Hehe hari liburnya juga gak dipake diam terus dikamar sampai gak mandi-mandi.. Ya setidaknya Fauzinya ibu sekarang ada peningkatan lah.."


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Iyalah bu. Fauzi gak dibangunin ibu karena ada aku yang bangunin.. Fauzi hari liburnya gak malas-malasan dikamar dan gak mandi-mandi kan karena keluar jalan sama aku" Gumamku dalam hati.

__ADS_1


"Jadi Nak, tolong bantuin Ibu jagain Fauzinya Ibu ya.." Katanya sambil membelai lembut pipiku.


Ah.. Rasanya seperti ada getaran tersendiri dihatiku mendengar Ibu Fauzi berkata seperti itu, ada rasa bahagia dan tersentuh yang tidak bisa kujelaskan tapi seiring itu ada juga beban yang sama beratnya. Aku tidak tau kedepannya seperti apa tapi mendengar Ibu Fauzi berkata seperti itu aku jadi menginginkan mimpi Fauzi terwujud.


"Iya Bu.." Jawbku tersenyum. Ibu Fauzi balas tersenyum.


"Astaga keasyikan cerita disini jadi gak kerasa udah mulai sore.. Ibu masak dulu, Nak Salwa tinggallah dulu untuk istirahat.."


"Tapi ini udah sore Bu.."


"Lah kalau sore memangnya kenapa? semalam Fauzi bilang ibu dan ayah Nak Salwa sedang tidak dirumah, jadi tinggal aja dulu disini, jadi kita bisa makan malam sama-sama nanti.."


"Yaudah Salwa bantu Ibu masak.."


"Gak usah gak usah.. Nak Salwa istirahat sjaa, pasti sekarang lagi capek juga kan? ditambah lagi tadi pasti Fauzi bikin Nak Salwa jadi khawatir.."


"Tapi Bu.."


"Udah udahh.." cegatnya.


Aku terdiam..


"Bu aku kan jadi gak enak.."


"Gak enak apanya sih Nak? Yaudah, kamu bantuin Ibu nungguin Fauzi didalam.. Sebentar lagi Fauzi pasti kebangun jadi Salwa bisa kan jagain anak Ibu sebentar?"


Aku tersenyum.


"Yasudah sana, Ibu juga harus masak.. nanti dia bangun pasti lapar dari semalam belum ada makan, Ibu kedam dulu" katanya sambil melangkah masuk.


Selalu saja seperti ini, orangtua Fauzi selalu memanjakanku kalau main kerumah Fauzi.. mereka melihatku seperti anak mereka sendiri.


Aku duduk dikursi samping tempat tidur dimana Fauzi berbaring. Kupandangi Fauzi dengan lekat dengan wajahnya yang masih agak pucat.


Enak ya tidur nyenyak tapi ngebuat aku khawatir.. Gerutuku


Apa yang sebenarnya terjadi Ozi? Aku selalu menolak ingin tau kebenarannya karna takut terluka. Aku takut kalau faktanya adalah alasanmu saja. Aku lebih memilih tidak tau alasannya agar memiliki alasan untuk memaafkanmu, karena sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak ingin melukai harga diriku dengan mencintai orang yang telah membagi cintanya. Maka lebih baik jika aku tidak tau kebenarannya, aku memilih untuk buta dan tuli pada kenyataan.


Entah berapa lama aku memandangi wajah Fauzi dengan ribuan pertanyaan yang memburu untuk mendapat jawaban dikepalaku, tapi tak satupun jawaban yang kumiliki.


Perlahan Fauzi terbangun.


"Udah bangun?" Tanyaku ketus.


"Sayang kok kamu ada disini?"


"Yaudah aku pulang.." Kataku beranjak.


Fauzi segera menahanku.


"Kenapa pulang?" Tanyanya sambil terbangun.


"Ya biar aku gak disini"


"Kamu ini ngomong apa sih? Aku baru bangun mukanya sudah masam" katanya sambil menarik pipiku.


Aku terdiam saja lalu memalingkan wajahku.

__ADS_1


"Akan ada suatu hari seperti ini nantinya.." Katanya tersenyum.


"Apa?" Tanyaku penasaran tapi berlagak sok jutek.


"Aku bangun tidur dan yang kulihat pertama adalah kamu" Jawabnya tersenyum.


"Idih.. apan sih.." kataku malu-malu dengan nada kesal tapi dalam hati senangnya waarbyaasaaahhh...


"Haha ngomongnya 'Ish apaan sih' tapi mukanya memerah" Ledek Fauzi sambil tertwa.


"kenapa? Emang kenapa kalau wajahku merah?"


"Ya kan... kamu pasti malu-malu kan.. ya kan.." Kata Fauzi menggodaku..


"Sotta deh.."


"Ayo ngaku sja.."


"Gak.."


"Gak salah lagi kan maksudnya.."


"Apaan sih.." Jawabku jutek. Fauzi terus tertawa.


"Loh sudah bangun Nak?" Tanya Ibunya.


Mungkin karena kami terlalu ribut sehingga terdengar oleh Ibu Fauzi.


"Iya bu" Jawab Fauzi tersenyum.


"Gimana perasaanmu Nak? udah baikan?"


"Udah kok Bu.."


"Yasudah bangun cepat terus makan. Sedari malam kamu belum makan, Salwa juga jadi belum makan gara-gara nungguin kamu.."


"Iya Bu.."


"Ibu tunggu didalam.." Katanya berlalu.


"Bangun.. bangun.. Aku nyusul Ibu duluan" Kataku beranjak, tapi..


"Salwa.." Fauzi menahanku. Aku berbalik.


"Kenapa?"


"Terimaksih.. Makasih udah ngasih aku kesempatan. Makasih masih mau percaya sama aku, aku gak akan ngesia-siain kesempatan yang kamu kasi.."


Aku hanya tersenyum


"Jangan rusak kepercayaanku.."


"Pasti.." Jawabnya cepat..


"Yaudah aku nyusul Ibu duluan"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2