Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Siuman.


__ADS_3

BRAAKK....


Fauzi tidak pernah mengira, bahwa akan ada hari dimana dia melihat kondisi istrinya tergeletak berlumuran darah. Jantungnya serasa terhenti sejenak dengan nafas yang terasa sesak. Sebuah pemandangan yang begitu buruk tersaji untuknya, apa yang dia lihat saat ini sangat menyiksanya.


“SALWAAA....”


Fauzi berhambur memeluk Salwa yang sudah berlumuran darah. Entah darah itu keluar dari mana saja, semuanya mengalir begitu saja di jalan.


“To-tolongg.. tolong panggilkan ambulance.. tolongg...”


Fauzi memopang tubuh istrinya yang sudah berlumuran darah, sedang Salwa sudah tidak sadarkan diri.


“Sayang.. Sayang.. dengar aku. Heyy Salwaa....Bangunn....”


Fauzi meringkuk tubuh istrinya, jelas sekali ia merasakan cairan hangat berwarna merah dengan bau amis itu, mengalir hangat di sela-sela jarinya saat memangku istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


Suara sirine ambulance terdengar semakin dekat, membuat Fauzi sangat ingin menggendong Salwa dan berlari menuju sumber suara sirine itu. Tapi apa daya, jangankan untuk berlari, berdiri saja rasanya ia tidak kuat.


“Tunggu sebentar sayang, mereka sudah datang. Mereka akan menyelamatkan kamu, bertahanlah...”


Pelukan Fauzi perlahan dilepas ketika petugas medis datang menghampirinya dan siap membawa Salwa menuju rumah sakit.


Aku mohon, jangan seperti ini. Jangan tertidur, aku tidak mengizinkanmu untuk memejamkan mata, jadi tolong buka matamu sayang.. Jangan menyiksaku seperti ini...


.


.


.


.


.


Oxyflow bergelut membantu oksigen disalurkan untuk wanita yang kini tengah terbaring tanpa sadarkan diri. Kain perban berhias di kepalanya, jarum intravena chateter terpasang di punggung tangan dan beberapa bekas suntikan di venanya, memperlihatkan bagaimana keadaan Salwa yang terbilang cukup mengkhawatirkan saat ini.


Sudah lima jam dari semenjak Salwa dipindahkan keruang perawatan oleh tenaga medis, namun hingga sekarang Salwa belum juga sadarkan diri. Fauzi menunggu dengan gelisah, dia terus-terusan menggenggam erat tangan istrinya dengan sesekali menciuminya. Kekhawatiran yang menghampiri, membuatnya tidak bisa berpikir tentang hal lainnya sebelum ia melihat istrinya terbangun. Fauzi bahkan lupa mengabari orang tua dan mertuanya.


Airmata Fauzi mengalir tanpa henti, meski dokter mengatakan bahwa istrinya sudah melewati masa kritis, namun tetap saja Fauzi belum merasa tenang sebelum melihat istri kesayangannya membuka mata.


“Sayang.. Ayo bangun, katanya kamu mau pergi ketempat favorit kita, tapi kenapa malah tiduran disini?? Sayang ayo bangun, kita bisa telat kesana..”


Fauzi tidak bisa menghentikan airmatanya yang semakin mengalir deras. Kecaman beruntun ia tujukan untuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Salwa dengan baik. Ia merasa seperti laki-laki yang tidak becus dalam menjaga istrinya.


Apa yang terjadi dengan Salwa beberapa bulan terakhir ini sudah sangat melukainya, dan hari ini luka itu berformulasi menjadi lebih menyakitkan. Sejenak ia sadar bahwa ia sempat diterpa keserakahan, hanya karena Salwa yang bisa mengingat momen-momen tertentu dalam hidupnya, dia sudah berharap bahwa itu akan membawa kesembuhan untuk istrinya. Tapi sekarang, tidak perlu Salwa mengingat hidupnya, tidak perlu Salwa bisa beraktifitas seperti dulu, hanya kesadaran istrinya yang dia inginkan sekarang.

__ADS_1


Tangan Salwa yang di genggamnya bergerak kecil, membuat Fauzi refleks berdiri dari duduknya.


“Sayang? Kamu sudah bangun???”


Perlahan Salwa membuka matanya, meski sangat sayu namun jelas terlihat bahwa Salwa tengah mengarahkan pandangannya pada Fauzi.


Fauzi tersenyum meski airmatanya kembali menetes, begitu haru ia melihat istrinya membuka mata sekarang. Rasa sakit yang tadi menghujaninya seketika hilang begitu saja setelah istrinya yang telah terbaring selama lima jam itu, akhirnya sadarkan diri.


“Sebentar sayang, aku panggil dokter dulu..”


Fauzi berlari keluar ruangan, berusaha menemui dokter, perawat ataukah siapa saja yang bisa segera mengecek keadaan istrinya sekarang.


Salwa memandangi langit-langit kamar yang kemudian dia sadar bahwa tempat ia berbaring saat ini adalah rumah sakit. Pandangannya tidak terarah hanya pada satu objek, ia menyapu sekitar dengan pandangannya dan entah apa yang dicarinya saat ini.


Tidak cukup lama, Fauzi kembali bersama seorang dokter. Dokter itu dengan cepat memeriksa keadaan Salwa, membuat Fauzi harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaannya.


“Dia baik-baik saja sekarang pak, kita hanya menunggu masa pemulihannya”


Fauzi tercengang, bagaimana bisa dokter itu mengatakan istrinya tinggal menunggu masa pemulihan sedang jelas sekali terlihat olehnya bahwa istrinya sedang diberi bantuan oksigen dan juga ia tahu betul seberapa parah istrinya saat ia merasakan cairan hangat merah keluar dari tubuh istrinya.


“Ta-tapi dia...”


“Dia baik-baik saja. Kami akan melepas nasal canulanya, karena pasien sudah sadarkan diri sekarang”


Benar saja apa yang dikatakan dokter itu. Salwa dinyatakan dalam masa penyembuhan, padahal baru sekitar tujuh jam yang lalu, istrinya itu tergeletak penuh darah dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


Tapi apapun itu, Fauzi tidak lagi ingin memikirkannya. Istrinya sudah sadar sekarang, dan itulah yang dia inginkan.


“Bagaimana perasaanmu sayang?” Tanya Fauzi lembut dengan menggenggam hangat tangan istrinya.


Salwa tidak langsung memberi jawaban, dia hanya memandangi Fauzi dan sedikit tersenyum.


Apa dia tidak ingat sama aku lagi?.


Fauzi terlalu khawatir akan kondisi istrinya yang tidak sadarkan diri selama lima jam. Hingga istrinya sadar, kelegaan menghampirinya dan membuatnya lupa bahwa Salwa adalah seorang penderita Alzheimer, yang mungkin saja sekarang dalam ingatannya tidak ada dirinya disana.


“Siapa aku sayang??”


Fauzi kembali melakukan rutinitas pagi yang sering dia lakukan untuk melatih ingatan istrinya. sekaligus mengetahui, apakah ada dia diingatan istrinya saat ini.


Dahi Salwa berkerut, dia terlihat heran mendengar pertanyaan Fauzi.


“Fauzi..” Jawab Salwa dengan suara pelan.


Oh syukurlah, dia masih ingat.

__ADS_1


Fauzi tersenyum lebar, istrinya bisa mengingat namanya saja, itu sudah lebih dari cukup.


“Aku...”


Belum Fauzi melanjutkan pertanyaannya, perhatiannya teralihkan pada seseorang yang mengetuk pintu kamar Salwa dan perlahan masuk.


“Maaf pak, beberapa administrasi Nyonya Salwa harus dilengkapi dan untuk tindakan lainnya yang membutuhkan persetujuan anda”


“Ah iya, saya akan kesana”


Fauzi berbalik menatap istrinya, jelas sekali terlihat bagaimana tatapan heran Salwa perlihatkan.


“Dia manggil aku Nyonya?” Tanya Salwa dengan suaranya yang masih terdengar sangat lemah, dia berusaha memastikan apa yang baru saja dia dengar dari perawat tadi.


“Iya sayang, kenapa?”


Salwa diam saja, namun ekspresi yang memperlihatkan dia tengah kebingungan masih terpancar jelas di wajahnya.


“Sayang, aku tinggal sebentar ya. Aku gak akan lama”


Salwa hanya mengangguk pelan, memberikan izin pada Fauzi untuk meninggalkannya sejenak.


“Fauzi..”


Fauzi kembali menoleh.


“Iya sayang..”


“Ponselku??”


Fauzi terdiam sejenak. Semenjak Salwa sakit, dia tidak lagi bermain ponsel dan tidak pernah lagi menggunakan ponsel.


Apa karena dia ngeliat aku pegang Hp sampai dia minta Hp juga?


“I-itu, ponselmu kelupaan dirumah sayang, jadi pake ponselku saja ya..” Kata Fauzi berbohong, meski benar ponsel istrinya di simpan dirumah sekarang karena sudah tidak pernah digunakan beberapa bulan terakhir ini.


Fauzi menyerahkan ponselnya, dan mengecup kening istrinya sebelum berlalu.


“Aku pasti cepat kembali”


Salwa hanya tersenyum.


Salwa dengan cepat membuka ponsel Fauzi. “Dia beli Hp baru?” Gumam Salwa sebelum mencari nama Farhan di kontak Fauzi.


Salwa mulai mengetik pesan yang ingin dia kirim pada Farhan, yang kemudian tidak lupa ia hapus agar pesan itu tidak dilihat oleh Fauzi

__ADS_1


__ADS_2