Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Insomnia..


__ADS_3

Malam semakin larut tapi aku masih saja tidak bisa tidur. lampu kupadam agar bisa tertidur tapi masih saja aku terjaga, entah apa yang membuat mataku malas menutup bahkan meskipun remang-remang lampu di meja samping tempat tidur masih saja tidak bisa membawa rasa ngantuk ke mataku.


Aku melirik jam dinding, meski remang-remang masih jelas kulihat kurang 15 menit lagi jam 12, aku berbalik ke kanan dan kekiri dengan gelisah karena tidak bisa tertidur.


Kuraih ponselku yang tadinya sudah kubuat mode pesawat. Kubuka Galeri dalam ponselku dan melihat beberapa foto yang kuambil siang tadi saat jalan-jalan sama Fauzi. Terus-terusan kugeser layar ponselku dan menemukan beberpa foto yang menunjukkan momen-momen yang kulewati saat bersama Fauzi.


Perlahan airmataku menetes, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Selama ini Fauzi selalu baik terhadapku, tapi apa yang kulakukan sekarang? Aku sedang bermain dengan oranglain dibelakangnya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Selama ini aku selalu mengatakan ini semua tidak masalah dalam hatiku, toh ini terjadi karena Fauzi duluan yang memiliki perempuan lain. Tapi setelah keluar dengan Farhan tadi, melihat respon Farhan yang sedikit agak mengekangku membuatku jadi tersadar betapa Fauzi memperlakukanku dengan baik selama ini karena jangankan mengekang, Fauzi bahkan tidak pernah mengutarakan keinginannya dan hanya mengikut dengan apa yang aku mau.


Aku mengusap airmataku. "Mungkin perasaanku bisa sedikit membaik kalau menelfon Fauzi sekarang" Pikirku. Ya meskipun sekarang sudah tengah malam dan kemungkinan Fauzi sudah tertidur tapi dia pasti terbangun saat aku menelfonnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Fauzi dengan suara parau dari seberang telfon ketika menjawab panggilanku.


"Kamu sudah tidur?" Tanyaku.


"Hem.. barusan sih.."


"Kok barusan ini kan sudah jam dua belas malam.."


"Iya, habis buka-buka materi UAN tadi.."


"Sampai tengah malam??"


"Ya begitulah.." Fauzi berbicara seperti setengah sadar. "Tapi, ini sudah jam dua belas malam, kamu kok belum tidur sayang?" Tanya Fauzi kembali yang sepertinya kesadarannya mulai meningkat.


"Aku gak bisa tidur.."


"Kenapa? Kok tumben.."


"Gak tau juga..."


"Kamu ada masalah? Kok sampai jam begini belum tidur?"


"Iya.." Jawabku singkat.


"Kamu kenapa sayang??" Tanya Fauzi dengan nada terkejut.


"Aku... Aku kangen sama kamu.." Jawabku dan perlahan mulai terisak.


"Sayang.. kamu nangis?"


Aku terdiam saja.


"Salwa.. kamu kenapa sayang? Jangan buat aku khawatir.."

__ADS_1


"Aku gak papa, aku cuman kangen sama kamu.." Aku lagi-lagi tidak bisa mengendalikan perasaanku. rasanya emosionalku memuncak mengingat apa yang terjadi belakangan ini.


"Cuman kangen sama aku kok sampai nangis? Hey, cerita sama aku.."


"Gak, aku beneran cuman kangen sama kamu, saking kangennya sampai mau menangis rasanya.."


"Cup cup.. udah tenangin perasaanmu.. Udah ya nangisnya.."


Aku perlahan mulai bisa mengendalikan perasaanku, tangisanku mulai mereda.


"Maafin aku sayang, saat kamu kayak gini aku gak bisa apa-apa.."


"Gak papa, lagian jam begini kamu juga bisa apa"


"Hem.. tunggu sampai aku dewasa nanti.. tunggu sampai aku sukses nanti, ketika waktunya tiba tanggung jawab orangtuamu akan berpindah ke aku dan kamu bisa menebus rindumu tiap hari, akan ada waktu dimana tiap harinya kamu akan ngeliat aku terus, aku lagi dan aku lagi sampai rasanya kamu bosan ngeliat aku nanti. Mau tidurnya ngeliat aku, bangun tidurnya ngeliat aku juga.. hehehe" Katanya dengan lembut.


Aku tidak bisa memugkirinya kalau aku merasa senang mendengar Fauzi berkata seperti itu, mendengar Fauzi seperti itu seolah mendengar Fauzi yang sedang merancang masa depannya dimana ia menyiapkan tempat untukku dimasa depannya.


"Apa kedepannya akan seperti itu?"


"Kamu kok nanyanya itu?"


"Aku cuman nanya.."


"Hem.." Fauzi menghela nafas panjang "Aku gak bisa menjanjikan sesuatu seperti itu sama kamu, meskipun aku sangat mau tapi aku gak memilki kemampuan untuk bisa memastikan hal seperti itu. Sekarang aku sedang berusaha, belajar yang giat untuk masuk Universitas yang bagus, lulus dengan cepat lalu bekerja sampai nanti aku sudah mapan dan tinggal datang ke orangtuamu untuk meminta putrinya yang sangat berharga ini.. Hem tunggu saja sambil mendoakan aku sayang.."


"Kamu sejauh itu mikirnya.."


"Iya dong, aku harus mempersiapkan planning seperti itu biar hubungan kita gak kayak lagunya Armada nanti.."


"Maksudnya?" Tanyaku bingung.


"Mauu dibawa kemana hubungan kitaa.. Jika kau terus menunda-nunda..🎶🎶" Fauzi mulai bernyanyi "Eh tapi aku gak menunda-nunda kok, waktunya aja yang belum kesampaian" Celetuk Fauzi kemudian. "Intinya positif thinking sambil berusaha sebaik-baiknya saja sayang.. Kita susun kedepannya seperti apa sisanya tinggal minta restu Tuhan.."


"Aku senang.."


"Aku juga senang kalau kamu senang.."


"Makasih untuk semuanya Ozi.."


"Hem iya.. Gimana kangennya udah redahan? udah mulai ngantuk gak.."


"Iya.."

__ADS_1


"Yaudah sana tidur, aku temenin nanti kalau dengar kamu udah tidur baru aku matiin telfonnya.."


"Terus kamu ngapain?"


"Sambil nungguin kamu tidur paling buka-buka buku soal UN lagi.."


"Caranya kamu tau kalau aku udah tidur gimana?"


"Nanti aku panggil, kalau kamu gak nyahut ya berarti kamunya udah tidur.. Atau mau aku nyanyiin?"


"Gak usah, sambil belajar aja.."


"Yaudah sana tidur.."


"Iya.."


Aku meletakkan ponselku dimeja samping tempat tidur. Kembali menatap langit-langit kamarku, sesekali kudengar lembar-lembar buku dari seberang telfon, mungkin Fauzi meletakkan ponselnya tepat disamping buku belajarnya.


Waktu berlalu, sudah sekitar setengah jam yang lalu aku meletakkan ponselku tapi masih saja aku tidak bisa tertidur. Aku mulai sadar, yang tidak bisa membuatku tertidur adalah rasa khawatir dan gelisahku tentang hubunganku dengan Fauzi yang sekarang ada Farhan diantaranya. Aku sempat berfikir, apa aku bilang saja sama Fauzi tentang ini, tapi rasanya itu seperti menggali lubang diri sendiri, huffttt benar-benar menyusahkan.


Tidak ada lagi suara dari seberang telfon, suara buku yang tadinya masih terdengar sekarang sudah tidak terdengar lagi. Apa Fauzi tertidur? Ini sih bukan aku yang ditungguin Fauzi tidur, tapi aku yang nungguin Fauzi tertidur.


"Fauzi.." Panggilku pelan untuk memastikan Fauzi masih terjaga atau sudah terlelap.


"Sayang kamu manggil aku?" Kudengar jawaban Fauzi dari seberang telfon tapi terdengar seperti agak jauh dari ponselnya.


"Kamu belum tidur?" Tanyaku


"Loh kok nanyanya aku? Kamu kenapa belum tidur?" Kata Fauzi terdengar mendekati ponselnya.


"Belum bisa...."


"Hem.. ini udah mau jam dua pagi loh sayang dan kamu belum juga tidur. Jangan karena besok udah gak ujian lagi kamu jadi begadang kayak gini. Kamu harus istirahat.."


"Aku gak bisa tidur.."


"Jadi ini mau gimana?"


"Gak tau.."


"Hem.. aku nyanyiin deh biar cepat tidur.."


"Gak.. Aku mau nanya sesuatu.."

__ADS_1


"Apa?"


Fauzi yang awalnya inigin membantuku buat tertidur sekarang malah ikut begadang denganku.


__ADS_2