
Sekitar satu minggu Fauzi menunggu untuk Salwa yang berkata jujur, tapi sampai hari ini belum juga Salwa mengatakan semuanya.
Satu minggu yang lalu, seolah takdir ingin membuat Fauzi melihat semuanya. Fauzi yang entah kenapa begitu rindu pada Salwa akhirnya memutuskan pulang untuk bertemu dengan Salwa. Namun lagi yang dia temui adalah kebersamaan Salwa dengan Farhan. Fauzi tidak tahu pasti tentang apa yang dibicarakan Salwa dan Farhan saat itu, Fauzi pun akan memahami jika saja Salwa jujur dan mengatakannya. Fauzi sempat menelfon Salwa hari itu untuk melihat respon Salwa apakah dia berbohong atau akan berkata jujur, tapi jangankan untuk mengetahui Salwa akan jujur atau tidak, mengangkat telfon Fauzi pun Salwa tidak melakukannya. Fauzi yang sedikit jauh dari meja Salwa dan Farhan melihat dengan jelas bagaimana Salwa dengan sengaja tidak mengangkat telfonnya.
Fauzi masih berusaha berfikir positif, "Mngkin ada hal yang sedikit privasi yang ingin Farhan sampaikan sehingga Salwa tidak bisa mengangkat telfonnya waktu itu sehingga saat Fauzi berbicara ditelfon dengan Salwa Fauzi terus-terusan memancing Salwa untuk jujur tapi tetap saja Salwa tidak membahas mengenai pertemuannya dengan Farhan.
"Apa kali inipun sama saja? Apa kalian masih seperti itu? Apa itu alasan Farhan tidak ingin bertemu denganku?" Begitu banyak pertanyaan yang muncul dipikiran Fauzi.
Cukup lama Fauzi memandangi langit-langit kamarnya, berusaha mencari tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan keputussan seperti apa yang harus dia ambil saat ini. Jujur saja, perasaannya benar-benar berkecamuk dan hancur, Salwa yang sangat dicintainya sesekali berubah menjadi seseorang yang sangat melukainya sampai ada titik kebencian mulai muncul perlahan dalam hatinya. Bagaimana tidak rasa benci itu tidak muncul jika kesempatan yang diberikan sudah bukan sekali lagi, kejujuran yang sudah tidak ada lagi dan bayang-bayang pengkhianatan selalu muncul di kepalanya.
Fauzi beranjak dan mengambil ponselnya yang sedang di charger, dia sudah menentukan langkah apa yang akan dia ambil kedepannya.
"Halo.." Jawaban dari telfon seberang saat panggilan Fauzi terhubung.
"Halo Bu.."
"Iya kenapa Nak? Apa nomor Salwa gak aktif lagi??" Tanya Ibu Salwa.
"A aktif kok Bu, aku memang sedang menelfon Ibu untuk bicara dengan Ibu"
"Kenapa? Ada apa nak??"
"Ini Fauzi gak ganggu kan Bu??"
"Tidak, Ibu juga lagi tidak ada kerjaan.."
"Ibu, sebelumnya aku mau minta maaf, aku udah mikirin ini jauh-jauh hari dan akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Salwa.."
__ADS_1
"Ada apa? Kalian bertengkar lagi??"
"Gak kok Bu.. Aku cuman gak bisa bertahan lagi.."
"Ada apa nak? Kalau ada apa-apa kalian harusnya bicarakan baik-baik dulu. Dan lagi kenapa kamu bilangnya ini sama Ibu? Kamu sudah membicarakan hal ini dengan Salwa??"
"Belum Bu.. Aku mau ngebahas ini dulu sama Ibu sebelum ngomong langsung ke Salwa.."
"Kamu beneran akan mengakhiri hubunganmu dengan Salwa? Tapi kenapa? Ibu liat Salwa baik-baik saja sekarang, kalian sepertinya tidak sedang bertengkar.."
"Iya Bu, kami baik-baik saja sekarang.."
"Terus..."
"Bu, aku sangat mencintai Salwa, aku sangat sayang sama Salwa Bu, aku sudah punya mimpi dan rancangan hidup masa depan dengan Salwa, tapi akhir-akhir ini aku gelisah sekali. Aku tidak ingin memaksakan diriku untuk bertahan sedangkan aku terus-terusan merasa dikhianati, aku tidak mau rasa cintaku ini akan berubah menjadi benci karena terlalu kecewa.."
"Seminggu yang lalu aku ngeliat Salwa ketemu sama Farhan lagi Bu.."
"Apa?? Mereka ketemu lagi? Tapi Salwa gak pernah bilang itu sama Ibu.. Mereka ketemu untuk apa?"
"Aku juga gak tahu Bu.. Aku sudah mancing-mancing Salwa buat jujur tapi sampai hari ini Salwa belum juga jujur, aku sudah gak tahu lagi harus menekan perasaanku seperti apa Bu.. Aku benar-benar sudah tidak tahan.."
Ibu Salwa diam sejenak. "Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang??"
"Aku mau putus dari Salwa Bu, bukan karena aku gak cinta atau gak sayang lagi sama Salwa, aku cuman takut rasa kecewaku akan terus-terusan membesar dan berubah menjadi titik-titik kebencian kalau aku terus-terus memaksakan diriku untuk bertahan. Bu, aku sangat mencintai Salwa, meski sekarang aku berniat mengakhiri hubunganku dengan Salwa tapi aku masih memperjuangkan mimpiku untuk bisa bersama dengan Salwa di masa depan.."
"Maksud kamu, kamu cuman ingin break sementara begitu??"
__ADS_1
"Bisa dibilang semacam itu Bu, aku butuh nenangin perasaanku sementara ini. Aku juga belum ada kemampuan jika ingin meminta mengikat Salwa, aku masih kuliah dan lagi usiaku masih muda, aku belum mapan" Jelas Fauzi.
"Ibu mengerti perasaanmu Nak, kamu pasti sangat tersiksa akhir-akhir ini. Ibu juga tidak bisa menyalahkan kamu jika ingin melepaskan Salwa karena memang Salwa yang bersalah. Jika seperti itu keputusanmu, Ibu tidak akan menghalangimu.."
"Tapi Bu.. Aku masih menginginkan Salwa ada bersamaku di masa depan. Apa Ibu akan mengizinkanku untuk kembali menjemput Salwa nanti ketika aku sudah dewasa? Aku akan berusaha menjadi laki-laki yang mapan saat akan menjemput Salwa nanti Bu, aku akan berusaha untuk menjadi laki-laki yang hebat dengan cepat agar bisa menjemput Salwa lebih cepat juga.."
Ibu Salwa tersenyum, airmatanya perlahan menggenang di pelupuk matanya. "Ibu sangat terharu mendengar apa yang kamu katakan Nak, Ibu sangat senang ada anak laki-laki yang sangat mencintai putri Ibu. Ibu akan sangat bahagia jika nanti kamu benar-benar datang meminta putri Ibu, Ibu tidak mungkin tidak memberimu izin apalagi menolakmu nanti. Ibu juga sangat menyayangimu nak seperti anak Ibu juga.." Kata Ibu Salwa sambil menyeka airmatanya yang menetes, dia berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar serak oleh Fauzi. "Ibu tahu yang salah adalah anak Ibu jadi wajar kalau kamu mau mengambil keputusan seperti ini.."
"Jadi tidak apa jika aku melakukan ini kan Bu?"
"Tentu tidak apa Nak.. Hanya saja Ibu tidak menjamin Salwa masih memiliki perasaan padamu kedepannya atau masih ingin denganmu. Ibu memang sangat menginginkan kamu yang menjadi menantu Ibu kedepannya, tapi selama kamu tidak ada di sisi Salwa, tidak menutup kemungkinan Salwa akan menemukan orang lain yang bisa mengisi hatinya dan Ibu tidak akan bisa melarang Salwa untuk mencintai orang lain selain kamu. Rasa sakit hati Salwa saat kamu mengakhiri hubungan kalian nanti bisa saja berubah menjadi amarah dan benci padamu. Kamu tahu itu kan??"
"Iya Bu, aku sudah mempertimbangkan itu semua dan aku juga sudah mempersiapkan diri kalau pada akhirnya Salwa tidak menyukaiku lagi. Kalau memang itu terjadi di masa yang akan datang itu berarti Salwa memang bukan jodohku Bu.. Tapi aku pasti akan berusaha untuk selesai kuliah dengan cepat, dapat kerja cepat agar bisa mapan lebih cepat dan datang menjemput Salwa sebelum dia melabuhkan perasaannya pada oranglain.."
"Jadi kapan kamu akan bilang pada Salwa tentang ini??"
"Ah aku belum bilang hal ini pada Ayah dan Ibuku, aku harus membahas hal ini pada Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu sangat menyukai Salwa, mereka pasti akan terkejut kalau aku langsung mengakhiri hubunganku dengan Salwa secara tiba-tiba. Aku akan bicara pada Ayah dan Ibuku malam ini dan mungkin besok pagi.."
"Kamu akan bilang pada Salwa???" Tanya Ibu Salwa memotong perkataan Fauzi.
"Iya Bu.. Tapi Bu aku benar-benar tidak berniat untuk melukai hati Salwa, aku hanya ingin menenangkan semuanya dulu Bu. Aku pasti datang kalau waktunya sudah tiba, aku tidak mungkin mengecewakan Ibu.."
"Ibu senang mendengarmu berkata seperti itu..."
"Aku akan datang ketika Salwa masih sendiri Bu.. Aku pastikan itu.." Kata Fauzi tegas.
Ya, Ibu yang mana yang tidak senang ketika tahu ada anak laki-laki yang sangat mencintai putrinya bahkan menyiapkan masa depan yang cerah untuk putrinya di masa yang akan datang.
__ADS_1