Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 25


__ADS_3

Dengan penuh keragu-raguan Fauzi melangkah menghampiri Farhan dan Salwa, dia berusaha mempersiapkan perasaannya untuk apa yang akan dia lihat nantinya, detak jantungnya bergemuruh dan perasaannya sedang cekcok dengan batinnya sendiri. Ada keinginan untuk putar balik saja dan tidak usah melihat apa yang sedang terjadi disana sekarang, namun disisi lain ada rasa yang sangat mendorong untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dibelakangnya selama ini. Cukup lama Fauzi ragu-ragu dengan langkahnya sampai akhirnya dia benar-benar memutuskan memantapkan langkahnya. "Apapun yang aku lihat nanti, itu akan menjadi penentu hubunganku dengan Salwa.." Pikir Fauzi sambil mempercepat langkahnya.


JLEEBBBB... Hati yang sudah dia persiapkan tadi seolah tidak ada gunanya karena pada akhirnya tetap saja gemuruh perasaannya memenuhi ruang dihatinya menjadikannya sesak dan sakit yang tidak bisa dijabarkan. Seperti sebuah sengatan tajam yang menghantam ulu hatinya, tepat di depan matanya dia melihat kekasihnya yang dipeluk oleh sahabatnya sendiri. "Apa kalian sedang mempertontonkan hubungan kalian padaku sekarang???"


Bunga yang sedari tadi dibawahnya untuk diberikan pada pujaan hatinya jatuh begitu saja dilantai, kelopak-kelopak bunga itu jatuh berhamburan berserakan dilantai seolah menggambarkan bagaimana perasaan Fauzi saat ini. Perlahan airmatanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Fa Fauzi..." Salwa tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya melihat Fauzi yang sedang berdiri mematung. "Kenapa memasang ekspresi seperti itu? Apa kau terkejut karena sudah tertangkap basah olehku??"


Perlahan Fauzi mengalihkan pandanganya. "Ma.. Maaf.." Bahkan untuk sekedar bernafas seperti biasanya Fauzi merasa kesulitan. "Maaf mengganggu.." Kata Fauzi lalu berbalik membelakangi Salwa dan Farhan yang masih shock dengan kehadirannya tadi.


"Fauzi..." Salwa menahannya.


"Maaf karena mengganggumu" Fauzi masih berusaha tersenyum.


"Ga gak.. Bu bukan begitu.."


Fauzi mengambil bunga yang sempat terjatuh dilantai, beberapa kelopaknya hancur dan berantakan, bahkan beberapa sudah terbang tertiup angin." Ini untukmu, selamat karena sudah menyelesaikan ujian terakhirmu.." Fauzi menghela nafas dan kembali berusaha mengambil nafas yang entah mengapa serasa sesak sekali. "Ah maaf, tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya jadi sedikit rusak.." Kata Fauzi tertunduk tidak sanggup menatap Salwa.


"Fauzi..."


"A aku pulang dulu.." Fauzi menoleh dan melihat Farhan yang berdiri mematung ditempatnya. "Han, gue pulang duluan.." Kata Fauzi berbalik dan melangkah pergi


"Fa Fauzi..."


Panggilan Salwa dihiraukan Fauzi begitu saja, Fauzi tidak sanggup lagi melihat Salwa dan hanya terus berjalan bahkan mempercepat langkahnya menjauh dari Farhan dan Salwa.


Mobil Fauzi melaju dengan cepat, perasaan dan emosinya yang berkecamuk membuatnya tidak menyadari kecepatan mobilnya yang semakin lama semakin tinggi. Sesekali Fauzi membanting stir melampiaskan semua yang tertampung dalam perasaannya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus melanjutkan langkahku tadi, kenapa aku tidak bisa menahan diri, kenapa aku harus datang hari ini. Ah tidak, kenapa aku harus melihat ini semua.. Kenaaapaaa????" Kecam Fauzi.


.


.


.


Fauzi berbaring di rerumputan hijau menatap langit dan awan-awannya yang bergerak peralahan, perlahan airmatanya menetes. Bayangan Salwa sesekali melintas dipikirannya.


"Apa aku salah menduga selama ini?? Setelah aku memberi Salwa pilihan pada jawabanku malam itu, aku mengira Salwa memilihku, ternyata bukan aku.." Pikir Fauzi sambil menutup matanya.


Fauzi merasakan bagaimana terik matahari menjelajahi wajahya dengan terang dan hawa panasnya. Fauzi membiarkan wajah dibakar oleh teriknya matahari, toh panasnya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan panas hatinya saat ini.


Ponsel Fauzi berdering, satu panggilan dari Salwa tapi Fauzi mengabaikannya begitu saja. Jangankan untuk melihat Salwa, mendengar suaranya saja sudah sangat melukai hati Fauzi.


Entah berapa lama dan berapa kali panggilan tak terjawab dari Salwa di ponsel Fauzi, ada sekitar puluhan pesan singkat dari Salwa yang diabaikannnya juga. Fauzi sudah tidak peduli dengan semuanya.


Fauzi kembali jatuh tersungkur, perlahan mulai tenang dan kembali berbaring. Emosi yang sedari tadi meledak-ledak perlahan reda.


Ponsel Fauzi berdering kembali, sedari tadi Salwa terus-terusan menelfonnya dan akhirnya Fauzi mengangkatnya dan meletakkan ponselnya disampingnya begitu saja.


"Ozi.. Kamu dimana????" Tanya Salwa dari seberang telfon.


Fauzi terdiam, tidak menjawab pertanyaan Salwa.


"Ozi kamu dimana??? AKu tanya kamu dimana sekarang???" Tanya Salwa dengan nafasnya yang terpenggal-penggal.

__ADS_1


"Kenapa??" Tanya Fauzi dengan nada datar.


"Kamu dimana sekarang??? Pertanyaan Salwa yang berulang-ulang.


"Ah aku??" Fauzi mengangkat kepalanya dan memandangi langit biru yang dihiasi beberapa awan putih "Ah aku masih disini.." Lanjutnya.


"Disini dimana Fauzi??"


"Untuk apa tahu??" Airmata Fauzi yang tadinya sudah mengering perlahan menetes lagi meski ekspresinya datar-datar saja.


"Aku akan kesana..."


"Tidak usah disini rasanya menyenangkan sendirian.." Kata Fauzi tersenyum kecil memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


"Tapi.."


"Aku mau sendiri saja Salwa, kamu masih punya aktifitas lain yang harus kamu lakukan.."


Salwa terus-terusan menanyai keberadaan Fauzi meski Fauzi menolak untuk memberitahu keberadaannya. Salwa khawatir dengan kondisi Fauzi sedang Fauzi sendiri butuh ketenangan saat ini.


Salwa mematikan telfonnya saat dia bisa menebak dimana lokasi Fauzi saat ini. Fauzi kembali meletakkan ponselnya direrumputan, berbaring menatap langit dan perlahan menutup matanya.


Ingatan tentang Salwa mengalir dengan deras seolah menolak untuk dilupakan, Fauzi kembali mengingat bagaimana bahagianya dia saat Salwa menerima perasaannya, bagaimana mereka melewati hari-hari mereka yang bahagia sebagai sepasang kekasih sampai akhirnya tiba hari dimana semuanya menjadi hancur seketika. Airmata Fauzi kembali menetes mengingat apa saja yang baru terjadi yang membuat hatinya dipenuhi dengan perasaan sakit. "Akankah semuanya akan baik-baik saja?" Pikir Fauzi. Begitu banyak pertanyaan dikepalanya yang berburu meminta jawaban sedang Fauzi sendiripun tidak tahu harus menjawab apa. "Ini adalah pilihan Salwa, dan aku harus menerimanya. Yah, hubungan ini berakhir hari ini.." Kata Fauzi tersenyum dengan airmatanya yang masih saja mengalir. Sejenak senyum dibibirnya itu hilang dan... Hiksss.. Fauzi tidak bisa lagi berpura-pura tegar, airmatanya tumpah bersamaan dengan pecahnya tangisnya. Apakah lucu seorang lelaki menangis karena seorang perempuan yang dicintainya????.


Angin disekitaran rerumputan itu cukup kencang, membuat airrmata Fauzi mengering tanpa meninggalkan jejak. Matanya yang sedari tadi tertutup seolah menolak melihat apa yang akan terjadi setelah hari ini. Yah, semuanya harus berakhir karena tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.


"Ozziii....." Panggil Salwa sambil berlari menghampiri Fauzi yang berbaring.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini??" Tanya Fauzi perlahan membuka matanya.


Salwa berusaha menjelaskan semuanya dari kesalahpahaman mereka sampai keinginan Salwa untuk tetap tinggal bersama Fauzi. Fauzi hanya terus-terusan mengabaikan permintaan maaf Salwa dan menghiraukan apapun yang dikatakan Salwa, namun Salwa tetap saja meminta maaf dan terus-terusan berusaha menjelaskan semuanya sampai tiba Fauzi yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan amarahnya. Fauzi melapiaskan semuanya pada Salwa, menceritakan semua apa yang dia dilihat dirumah sakit dan bagaimana dia yang berusaha memberikan gambaran pada Salwa. Semua kekesalan, emosi dan amarah Fauzi dia keluarkank, Fauzi sudah tidak bisa menahannya lagi. Meski begitu Salwa tidak berhenti untuk tetap berusaha menjelaskan semuanya pada Fauzi.


__ADS_2