
Uhuukkkk... Tenggorokan terasa kering dan rasa pengecap tidak merasakan rasa lain selain rasa pahit. Fauzi meraih ponselnya, waktu yang tertera di layar ponselnya menujukkan waktu pukul delapan pagi.
Sedari malam Fauzi merasa tidak enak badan, hanya saja dia tidak pernah menyangka jika akan benar-benar demam pagi ini. "Kukiranya cukup dengan istirahat semalaman saja perasaanku akan membaik" Gumam Fauzi.
Ibu dan Ayah Fauzi sedang tidak dirumah, begitupun Afifah yang semenjak menikah ikut tinggal bersama suaminya. Perasaannya semakin buruk dan suhu tubuhnya semakin tinggi. Fauzi sadar, perasaannya tidak akan membaik sebelum dia meminum obat pagi ini.
Berkali-kali Fauzi mencoba menguhubungi Annisa dengan berharap Apotek milik Annisa memiliki pelayananan homecare, karena dengan kondisinya yang seperti ini sepertinya sulit baginya untuk berjalan keluar sendiri membeli obat.
Fauzi terus menggeser layar ponselnya, mencari kontak yang sekiranya bisa dia hubungi untuk meminta bantuan. Ibunya jelas akan langsung pulang jika tahu keadaan Fauzi sekarang, namun Fauzi kembali mempertimbangkan tentang Ibunya yang sangat mudah panik, Ibunya bisa saja membuat semua orang disana khawatir.
Fauzi menemukan kontak Salwa. "Hubungi atau tidak ya??" Pikir Fauzi ragu-ragu. Berkali-kali dia berniat menelfon Salwa namun dengan cepat menekan tombol endcall sebelum telfonnya terhubung. "Ck, aku bisa kelihatan lemah dimata Salwa sekarang..."
Meski batinnya berkali-kali bergejolak saling menentang dengan keadaannya sekarang, namun pada akhirnya batinnya harus mengalah kali ini demi kebaikan Fauzi.
"Kamu kenapa??" Tanya Salwa seketika mendengar suara Fauzi yang terengah-engah.
"Hufft aku ti tidak apa-apa.. Salwa, apa ada Apotek yang kamu tahu yang memberi pelayanan home care atau setidaknya yang bisa mengantarkan obat ke rumah? A aku udah menghubungi pengantaran online tapi dia gak ngerti disuruh beli obat kalau cuman nyuruh sebutin keluhanku.." Perasaannya semakin tidak enak, bahkan untuk berbicara normal seperti biasanya saja terasa sulit. Keringat dingin mulai menggenang di dahinya dan kakinya yang mulai terasa dingin.
Fauzi menjelaskan kondisinya dan apa yang sedang dia rasakan sekarang, dia butuh melakukan sesuatu setidaknya untuk menurun suhu tubuhnya, karena semakin tinggi suhu tubuhnya semakin membuat Fauzi kesulitan mengambil nafas.
"Kaki kakak yang mulai dingin itu menandakan suhu tubuh kakak akan semakin meningkat, kakak bisa mengompres menggunakan air hangat, tidak harus di dahi lebih baik kalau disekitar leher atau ketiak, bungkus kaki kakak yang dingin dan jangan make baju yang tebal.." Jelas Salwa.
Fauzi tersenyum tipis meski perasaannya sedang tidak baik. Terdengar jelas bagi Fauzi bagaimana Salwa khawatir padanya saat ini. "Kamu gak mungkin sampai segininya kalau gak khawatir sama aku Salwa dan kamu gak mungkin khawatir seperti ini kalau bukan karena kamu yang masih mencintaiku"
Perasaan Fauzi semakin membaik saat demamnya sedikit turun setelah mengikuti intruksi Salwa untuk mengompres tubuhnya. Meski belum sepenuhnya membaik, setidaknya Fauzi sudah lebih bisa untuk memopang tubuhnya berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
"Ah sejuk..." Gumam Fauzi saat merasakan rasa dingin di telapak kakinya pada lantai.
__ADS_1
Perlahan Fauzi merebahkan tubuhnya dilantai, rasa dingin dari lantai memberinya rasa nyaman, suhu tubuhnya yang panas serasa lebih membaik saat bersentuhan dengan lantai. Entah berapa lama Fauzi berbaring di lantai sampai akhirnya kesadarannya hilang dan mulai tertidur.
.
.
"Kenapa aku merasa sesak?? Ada apa ini????" Fauzi yang baru terbangun dari tidurnya kebingunan. "Sa Salwa?? Sejak kapan disini?? Kenapa dia menangis seperti ini? dan lagi pelukannya terlalu erat sampai membuatku sulit bernafas.."
"Oziiii bangguunnnn..."
Fauzi merasakan beberapa tetes airmata Salwa mengenainya. "Bangun?? Dia pikir aku kenapa???"
Dengan kondisi tubuhnya yang lemah, Fauzi kesulitan untuk membuka pelukan Salwa.
"Sa.. Salwaaa... A aakuu ga gak bisa nafasss.."
"Aku semakin bisa menebak, seperti apa perasaanmu padaku melihatmu yang sangat mengkhawatirkanku sekarang.. Ah aku semakin mencintaimu..."
Drama abal-abalan dengan menampilkan Salwa yang sangat khawatir sampai tidak sadar memeluk Fauzi dengan sangat erat akhirnya berakhir hanya dengan beberapa menit saja. Suhu tubuh Fauzi yang masih belum normal membuat tubuh Fauzi menjadi lemah dan harus dibantu oleh Salwa untuk pindah ketempat yang lebih nyaman untuk berbaring.
"Kamu seperti ini karena khawatir sama aku kan?" Tanya Fauzi. Kesehatannya yang sedang tidak baik saat ini membuatnya mengungkapkan semua yang ada dipikirannya tanpa di filter dan tanpa jaim lagi apalagi berusaha terlihat cool.
"Bukan karena kakak aku seperti ini, aku seperti ini ke semua pasien-pasienku.."
"Bohongggg..." Tangkas Fauzi cepat. "Kamu pasti khawatir sama aku kan???"
"Kenapa? Kenapa aku harus khawatir??"
__ADS_1
"Kalau tidak khawatir lalu kenapa sampai menangis seperti tadi memelukku? Kamu ini gampang sekali terbaca Salwa.."
Fauzi melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam Salwa dengan erat.
"Apa hanya aku yang yang salah beranggapan?" Fauzi memalingkan wajahnya sejenak kemudian berbalik menatap Salwa lekat "Kalau kamu gak khawatir terus ngapain kesini? Ngapain nangis dan..."
"Kalau tahu itu kenapa bertanya?" Salwa memotong perktaan Fauzi.
Deg... Dia bilang apa barusan?? Bukankah kata-katanya itu menunjukkan bahwa apa yang aku katakan itu benar?? Iya kan?? Kali ini aku tidak salah mengartikan kan??
Fauzi tersenyum, bahagia dalam hatinya tidak bisa dia apresiasikan lebih dari sekedar senyuman karena tubuhnya yang sedang lemah saat ini.
Salwa tinggal dan merawat Fauzi yang sedang sakit. Tubuhnya mungkin sedang sakit saat ini tapi Fauzi tidak bisa memungkiri perasaannya yang berbunga-bunga. Meski Salwa tidak mengatakan secara langsung bahwa dia mengkhawatirkan Fauzi, namun perkataannya barusan sudah cukup untuk diartikan sebagai sebuah pengakuan.
Suhu tubuh Fauzi yang sedang tidak stabil membuatnya harus merasakan demam yang seketika turun namun kemudian demam kembali. Salwa menyarankan Fauzi untuk ke Rumah sakit mengingat suhu tubuhnya yang sesekali naik menjadi sangat panas, namun Fauzi menolak. Bagi Fauzi, keberadaan Salwa bersamanya saat ini sudah cukup baginya dan itu jauh lebih baik untuk menenangkan perasaannya.
"Kamu ada termometer?"
"Ada dikamar..."
Salwa sedikit ragu-ragu mengingat dia harus masuk ke kamar Fauzi, tapi tidak mungkin juga menyuruh Fauzi untuk mengambilnya sedangkan untuk berdiri saja Fauzi kesusahan.
Fauzi memberi izin pada Salwa untuk masuk ke kamarnya. Bagi Fauzi, bukan sebuah masalah untuk Salwa masuk kedalam kamarnya selagi dia tidak ada disana. Salwa beranjak meninggalkannya menuju kamar Fauzi.
"Apa yang Salwa lakukan disana?? Kenapa lama sekali kembalinya??" Gumam Fauzi. Sudah sekitar sepuluh menit yang lalu Salwa menuju kamarnya dan sampai sekarang Salwa belum juga kembali.
"Ah.. Apa dia melihat sesuatu disana??" Fauzi mengingat, bagaimana dia menata rapi kenangannya bersama Salwa didalam kamarnya, mulai dari foto hingga sebuah buku yang selama ini dia gunakan untuk menulis semua tentang perasaannya yang berhubungan dengan Salwa. "Aku tidak berniat untuk mengatakannya lebih awal, tapi karena sepertinya saat ini kamu sedang membacanya, mungkin tidak baik jika aku membuatmu menunggu lebih lama sedangkan kamu sudah tahu"
__ADS_1