Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 36


__ADS_3

Hubungan Fauzi dan Farhan jadi membaik dan kembali seperti semula. Fauzi dan Farhan sering keluar bersama selagi Farhan belum kembali aktif di perkuliahannya.


Fauzi tahu bahwa Salwa masih mencintainya dari Ibunya Salwa yang sering memberi kabar tentang putrinya pada Fauzi saat Fauzi menghubunginya, hanya saja Fauzi tidak tahu perihal Salwa yang masih menunggunya dan baru mengetahui itu sekitar tiga bulan yang lalu saat bertemu dengan Farhan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir ini mereka tidak pernah bertemu, mengetahui tentang Salwa yang masih menunggunya itu membuktikan seberapa besar perasaan Salwa terhadapnya sampai sekarang.


Seminggu yang lalu Fauzi menelfon Ibu Salwa untuk kembali mengetahui bagaimana keadaan Salwa namun itu menjadi yang terakhir bagi Fauzi untuk mencari tahu kabar Salwa melalui Ibunya. Sudah enam tahun Fauzi terus-terusan menghubungi Ibu Salwa bila ingin tahu tentang Salwa untuk sekedar menebus rasa rindunya. Fauzi bisa saja datang langsung untuk melihat Salwa dari kejauhan hanya saja dia tidak yakin pada dirinya sendiri untuk bisa bertahan tidak mendekati Salwa jika dia melihatnya walau hanya sekali saja. Namun Fauzi saat ini tidak lagi bisa mengetahui kabar Salwa karena Ibu Salwa tidak lagi bersedia untuk memberikan informasi mengenai putrinya.


"Nak, kamu sudah dewasa sekarang dan Ibu sudah memberimu waktu selama ini. Salwa sudah pulang bersama kami sekarang dirumah, langkah selanjutnya Ibu sudah tidak akan membantumu, pilih jalanmu mulai dari sekarang.." Kata Ibu Salwa waktu itu. Meski begitu Fauzi masih ragu-ragu untuk datang langsung bertemu Salwa.


Fauzi sudah resign dari tempat kerja sebelumnya dan memilih kembali ke Mamuju tinggal bersama orangtunya. Fauzi tahu, tidak akan ada yang bisa menebus rasa rindunya pada Salwa selain melihatnya secara langsung. Setelah Fauzi tahu dari Farhan mengenai Salwa yang masih menunggunya, perasaannya pada Salwa semakin besar dan durasi rindunya yang menggebu-gebu semakin sering. Fauzi berharap dengan dia yang bekerja di kota yang sama dengan Salwa, dia bisa memiiki waktu setidaknya untuk sekedar berpapasan dengan Salwa, namun sampai sekarang Fauzi belum pernah sekalipun bertemu dengan Salwa atau sekedar berpapasan di jalan.


.


.


Malam menunjukkan pukul tujuh lewat tujuh belas menit, Fauzi yang baru saja pulang dari tempat kerjanya yang sebelum singgah di sebuah restoran sekedar makan malam dengan teman-temannya harus terganggu karena omelan Ibunya yang terdengar sangat nyaring.


Dasi yang belum seutuhnya lepas dari lehernya, kaos kaki yang belum dilepas dan kemeja yang masih terpakai rapi juga rasa lelah yang belum tertebuskan dengan istirahat. Fauzi kembali turun untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dibawah sampai Ibunya harus mengomel mengeluarkan ceramah panjang bagai undang-undang yang belum di amandemen.


"Ada apa Bu??" Tanya Fauzi sambil menghampiri Ibunya dan Afifah sepupunya yang duduk di sofa dengan wajahnya yang tertekuk.


"Ini nih adikmu, asam lambungnya naik dan dia masih saja ogah-ogahan kalau Ibu suruh periksa ke dokter, masa Ibu yang lebih khawatir sama kesehatannya ketimbang dia sendiri.." Gerutu Ibu Fauzi.


"Kan aku udah dari klinik Mah, ini juga udah dikasi obat.." Jawab Afifah membela diri.

__ADS_1


"Kamu ini kan mau menikah sayang, kamu harus jaga kesehatan tubuhmu. Ini obat yang dikasi klinik mungkin gak manjur jadi kamu harus ke dokter buat periksa.."


"Lah kan di klinik yang periksa juga dokter Mah.." Kata Fauzi membela Afifah dan mulai ikut-ikutan memanggil Ibunya dengan panggilan Mama karena terbiasa mendengar Afifah memanggil Ibunya seperti itu.


"Ah pokoknya tetap aja besok harus periksa lagi ke dokter, sekalian kan bisa minta vitamin sama dokternya biar kamu bisa sehat terus sampai hari pernikahanmu nanti"


"Tapi aku gak mau pergi periksa sendiri Mah, kak Zidan masih sibuk dan gak bisa nganter aku ke dokter.." Keluh Afifah dengan alasannya.


"Biar Ibu yang nganter kamu.. Kalau perlu kita ke rumah sakit besok..."


"Mah.."


"Jangan membantah Ibu Nak, ini demi kesehatanmu sayang, kamu harus fit karena sebentar lagi akan menikah.."


Afifah hanya memasang wajah cemberut.


"Kamu kan besok kerja Nak.."


"Gak apa Mah, aku bisa kok besok gak masuk dulu.."


"Iya.. Biar kak Fauzi aja yang nganter aku, kalau sama Mama nanti Mama ngomong sembarang lagi sama dokternya.."


"Ini kan demi kesehatanmu Nak.."

__ADS_1


"Iya Mah.. Besok Afifah periksa.."


"Haduhh.. Harusnya kalau didepan papamu kamu begini.." Keluh Ibu Fauzi.


"Begini bagaimana??" Tanya Afifah bingung.


"Ya rewel begini, biar papamu tahu bagaimana susahnya ngejaga anak perempuan. Ibu kadang capek ngederin Papamu minta Fauzi dikasi adik perempuan, ah Ibu bisa tua sebelum waktunya.." Keluh Ibu Fauzi.


"Yaelah Mah, kan.."


"Ah sudah-sudah.. Ibu tahu kamu pasti mau ngebela Ayahmu lagi.." Kata Ibunya memotong perkataan Fauzi. "Fauzi sana mandi cepat, Ibu sudah nyiapin makan malam nanti keburu dingin.."


Fauzi melangkah naik kekamarnya dan membersihkan tubuhnya.


.


.


.


Malam semakin larut, namun Fauzi masih saja tidak bisa tidur. Fauzi terus-terusan merasa deg-degkan mengingat besok dia akan bertemu dengan Salwa setelah enam tahun sebelumnya dia tidak pernah melihatnya, sebenarnya bukan dibilang bertemu juga, karena Fauzi tidak berencana untuk saling melihat, Fauzi hanya ingin melihat Salwa dari kejauhan saja. Ada perasaan grogi dan sedikit gugup, Fauzi bahkan sempat berniat untuk membatalkan menemani Afifah kerumah sakit besok tapi karena rasa rindunya pada Salwa dia berusaha untuk melawan rasa gugupnya agar bisa melihat Salwa walau hanya sekali saja, membatalkan menemani Afifah juga berarti mencari masalah buat diri sendiri, dia akan dapat ceramah yang tidak singkat dari Ibunya dan rengekan sepanjang hari dari sepupunya yang sangat manja itu.


Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan dikepala Fauzi, bagaimana jika seandainya saat dia melihat Salwa nanti Salwa sudah bersama oranglain atau saat tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Salwa dan Salwa membuang muka seolah tidak mengenalinya. Fauzi masih terngiang-ngiang dengan perkataan Farhan bahwa Salwa masih mencintainya, tapi itu sudah berlalu berbulan-bulan yang lalu, dan itu tidak menjamin untuk sekarang, apalagi Salwa yang sudah bekerja pasti sudah banyak orang baru yang dia temui.

__ADS_1


"Ck.. Kenapa malah berfikiran aneh-aneh begini sih.." Gerutu Fauzi sambil menutup mukanya. "Tapi bagaimana kalau betul saat bertemu besok tapi Salwa sudah tidak mengenaliku??" Pikiran-pikiran itu terus-terusan menghantui Fauzi yang membuatnya semakin sulit tidur.


Fauzi masih berjuang untuk bisa tidur malam ini karena harus mengantar Afifah ke rumah sakit besok pagi, tapi alhasil sampai jam setengah tiga dinihari Fauzi masih saja terjaga karena gangguan-gangguan di pikirannya.


__ADS_2