Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Terungkap (2)


__ADS_3

Seperti takdir, juga seperti sebuah pencerahan bagiku tentang apa yang terjadi dua tahun lalu dimana aku terus-terusan salah paham pada Fauzi. Kebenaran ini juga seperti sebuah hukuman bagiku, kenapa setelah hubunganku bersama Fauzi seperti ini baru aku tahu kebenarannya. Aku semakin merasa bersalah dan semakin menyesali kepergian Fauzi.


Aku tertegun mendengar ceritanya, menceritakan sedikit demi sedikit kebenaran yang ada di hari itu.


"Waktu Fauzi sedang berusaha menenangkanku, aku merasa menanggung beban terlalu berat hari itu sampai aku berniat menggugurkan bayiku, tapi Fauzi terus meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku bersyukur karena ada Fauzi hari itu, jika saja tidak ada dia mungkin saat ini aku tidak bisa melihat betapa menggemaskannya putraku"


Anaknya betul-betul menggemaskan, bulu matanya lentik dan matanya yang bulat dengan bibirnya yang kecil.


"Aku selalu merasa bersalah pada Fauzi, aku sudah membuat hubungan kalian menjadi tidak baik. Aku selalu bilang sama Fauzi unutk mempertemukan aku sama kamu, aku ingin menjelaskan semuanya agar kamu tidak salah paham tapi Fauzi bilang kamu hanya akan semakin terluka kalau aku menjelaskan semuanya waktu itu.."


Waktu itu, aku yang menolak bertemu dengan perempuan ini, aku takut dengan semua kenyataannya. Yah pada akhirnya aku menolak untuk mengetahui kebenarannya waktu itu.


"Aku selalu bertanya sama Fauzi. Apa semuanya baik-baik saja? Apa hubungannya denganmu baik-baik saja? Dan dia selalu bilang kalau semuanya baik-baik saja. Aku tahu dia bohong waktu itu, dia sengaja berbohong biar aku tidak kepikiran karena aku sedang hamil"


Aku terdiam saja mendengarnya.


"Aku gak tau kalau sampai sekarang kamu gak tahu, apa Fauzi gak ceritain semua kebenarannya?"


Aku menggeleng.


Sebenarnya bukan Fauzi yang tidak menjelaskan semuanya, tapi aku yang selalu menolak untuk mengetahui faktanya. Aku selalu menolak karena dipikiranku waktu itu, semua yang Fauzi katakan hanya alasan saja.


"Fauzi mengejarmu waktu itu, aku kira dia udah ngejelasin semuanya makanya dia kembali.."


"Fa Fauzi mengejarku?" Tanyaku bingung.


Aku ingat sekali malam itu aku berlarian menghindar dari Fauzi, saat aku sudah sampai pada batasku aku menoleh dan aku tidak melihat ada Fauzi dibelakang mengejarku.


"Iya, dia ngejar kamu. Tapi gak lama dia kembali dengan pakainnya yang sudah basah. Dia kembali minta maaf sama aku karena gak bisa melanjutkan pemotretannya"


Aku benar-benar bingung, karena aku masih memngingat dengan jelas Fauzi tidak ada mengejarku.


"Oh, mungkin aku gak melihatnya.." Jawabku, akan sangat aneh kalau aku bilang Fauzi tidak mengejarku sedangkan dia dengan jelas melihat Fauzi mengejarku malam itu.


"Kami sempat menghubungi Fauzi sekali lagi. Perjanjian yang sudah kami sepakati adalah Fauzi mengambil gambar saat kami prawedding sampai pada acara pernikahan kami. Tapi berkali-kali kami membujuk Fauzi dia menolak. Dia mengembalikan semua uang yang sudah kami berikan sesuai kontrak, kerena dia tidak bisa memenuhi kesepakatan jadi dia mengembalikan semua uangnya"


Itu karenaku, itu karena aku yang melarangnya lanjut memotret, itu demi menuruti semua kemauanku. Apa yang sudah aku lakukan, aku sudah membuat Fauzi meninggalkan pekerjaannya. Aku selalu merasa bahwa Fauzi yang jahat padaku waktu itu, tapi pada kenyataannya ternyata akulah yang sangat jahat.


Aku merasa sangat bersalah pada Fauzi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya keadaan Fauzi saat itu.


"Aku benar-benar minta maaf karena sudah menyebabkan kesalahpahaman ini.."


"Tidak apa." Jawabku mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Fauzi itu sangat sayang sama kamu.." Katanya tersenyum. Aku balas tersenyum.


"Orang-orang yang mengenal Fauzi juga selalu bilang seperti itu" Jawabku.


"Wajar sih kalau orang-orang akan berfikiran begitu, secara Fauzi selalu memperlihatkan rasa sayangnya sama kamu meskipun didepan oranglain yang gak kenal sama kamu.."


"Maksudnya.."


"Hem, kalau gak salah pas take foto prawedding kedua. Waktu itu Fauzi gelisah sekali, jadi aku yang iseng-iseng saja bertanya. Kutanya kenapa sampai gelisah begitu, dan kamu tahu jawabannya?"


Aku menggeleng.


"Katanya dia kepikiran kamu, dia bilang malam harinya kamu cuek sekali sampai ngebuat dia gak bisa tidur. Dia sempat curhat sama temannya tapi temannya cuman nyengir saja. Dan yang ngebuat dia makin kepikiran katanya hari itu kamu minta dia buat nemenin kamu ke toko buku tapi dia gak  bisa karena harus take foto. Haha waktu itu kita take foto sambil ngetawain Fauzi yang gak bisa fokus karena kepikiran kamu"


Ah waktu itu, waktu dimana Fauzi tidak bisa mengantarku dan aku pergi dengan Farhan ke toko buku. Itu adalah waktu dimana aku pertama kali jantungku sempat dibuat berdetak tidak karuan oleh Farhan.


"Dia sampai segitunya?" Tanyaku sedikit tertawa kecil.


"Haha iya, kami selalu mengejeknya bucin waktu itu.."


"Ternyata aku ngebuat waktu-waktu yang sulit buat Fauzi.."


"Ya meskipun itu sulit, tapi aku yakin Fauzi ngelewati itu dengan bahagia karena pada akhirnya kamu tetap ada disisinya.."


"Oh iya, Fauzi sekarang dimana?"


"Dia di provinsi seberang, lagi kuliah.."


"Wah, jadi kalian LDRan? Semangat ya, aku juga pernah LDRan sama suamiku, tapi karena kamui saling percaya jadi kami  bisa melewati semuanya"


"Hehehe harusnya begitu.."


"Hem.. boleh aku minta tolong?"


"MInta tolong apa?"


"Kirimi Fauzi foto putraku, aku penasaran bagaimana reaksi Fauzi melihat putraku, anak yang sudah dia selamatkan semenjak masih dikandungan"


Aku menggeleng pelan.


"Oh maaf.." Kulihat dia sedikit canggung. Mungkin dia merasa permintaanya terlalu berlebihan. Aku mengerti maksudnya, dia hanya ingin memperlihatkan putranya yang dulunya sudah dia bawa-bawa saat sedang sibuk bersama Fauzi.


"Bukan begitu, hanya saja aku gak bisa ngirim foto putramu ke Fauzi. Aku.. Aku gak punya nomor Fauzi"

__ADS_1


Kulihat dengan jelas ekspresi terkejutnya.


"Iya, kami sudah putus dan aku gak bisa ngehubungi Fauzi.." Kataku berusaha tersenyum meski hatiku sakit sekali mengakui bahwa hubunganku dengan Fauzi benar-benar sudah berakhir.


"Ma maaf.. Aku gak tau.. Maaf.."


"Tidak apa.." Sekali lagi aku berusaha tersenyum.


"Aku kira kamu masih sama Fauzi. Maaf sedari tadi aku ngebahas Fauzi terus, kamu pasti keingat Fauzi lagi.."


"Tanpa dibahas pun aku selalu ingat sama Fauzi, jadi tidak usah merasa sungkan"


"Aku gak pernah mengira kalau kalian bakalan seperti ini, mengingat bagaimana Fauzi selalu membahasmu jadi kupikir kalian akan selalu baik-baik saja"


"Iya, awalnya aku juga berfikiran seperti itu, tapi pada kenyataannya hati manusia bisa berubah.."


"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, kalau saja aku tahu aku gak akan ngebahas Fauzi terus dari tadi"


"Aku malah bersyukur kamu sudah cerita semuanya, seandainya tidak aku akan selalu menganggap Fauzi yang pernah selingkuh"


Dia tersenyum "Semoga kedepannya kamu bisa ketemu dengan orang yang lebih baik dari Fauzi"


"Aku juga berharap seperti itu, tapi sepertinya aku gak akan bisa dapat orang yang lebih baik dari Fauzi atau lebih tepatnya aku gak pantas dengan orang yang seperti itu.."


"Jangan pesimis begitu, masa lalu bisa saja buruk tapi masa depan yang  masih suci dan masih rahasia Tuhan bisa kita ukir dengan segala hal-hal baik dan kebahagiaan"


Aku tersenyum. "Terimakasih sudah menceritakan ini semua sama aku"


Dia hanya mengangguk tersenyum..


.


.


.


.


.


Maaf kalau ada typo dan sebagainya, kondisiku sementara lagi gak baik jadi susah ngecek berkali-kali sebelum review..


Maaf 🙏😭

__ADS_1


__ADS_2