
Perselisihan dalam sebuah hubungan memang tak jarang sering terjadi, bahkan sebagian orang mengatakan kalau hubungan tidak akan Awet jika kita tidak melewati pertengkaran-pertengkaran kecil. Intinya, pertengkaran dalam hubungan itu wajar, asal pada akhirnya kita dapat menyadari kesalahan kita masing-masing dan salah satu diantara kita harus ada yang mengalah.
Selama setahun ini, aku dan Fauzi sering mengalami pertengkaran-pertengkaran kecil, mengingat Fauzi yang pelupa dan aku yang sangat sulit mengerti keadaan Fauzi yang pelupa itu. Awalnya saja aku selalu sabar dan memaklumi keadaan Fauzi yang pelupa, tapi semakin lama aku semakin rajin mengomel ketika Fauzi melupakan sesuatu lagi, mungkin karena kami sudah saling mengenal satu sama lain dan tidak lagi sungkan untuk menunjukkan sifat asli. Tapi terlebih dari apa yang membuat kami bertengkar, tetap kembali akan membaik karena sifat Fauzi yang mudah mengalah dan selalu mudah meminta maaf padaku, meskipun terkadang aku yang salah karena sangat suka membesar-besarkan masalah kecil.
Tapi untuk kali ini, baru pertama kali dalam setahun hubunganku dengan Fauzi kudengar nadanya sedikit tinggi. Untuk pertama kalinya Fauzi balik marah kepadaku dan itu membuatku semakin kesal.
"Aku jadi bingung, aku gak selalu nolak permintaan kamu, baru kali ini aku beneran gak bisa. Untuk sekali ini saja apa kamu gak bisa ngertiin aku?"
"Aku juga punya kegiatan lain Salwa, aku gak bisa selalu ikut apa yang kamu mau, lagian aku gak selalu sibuk kan" Jelasnya lagi.
"Yasudah, terserah kamu saja" Jawabku cuek
"Kamu itu, sedikit-sedikit ngomongnya yasudah, sedikit-sedikit ngomongnya terserah"
"Yah terus kamu maunya aku ngomongnya kayak gimana?"
"Kamu beneran gak bisa ngertiin aku, bahkan untuk kali pertama ini saja selama setahun kita sama, aku gak bisa nurutin maunya kamu"
"Ya kan aku udah bilang terserah. Udah gak usah jalan, apalagi sih yang kamu permasalahkan"
"Kamu ngomongnya aja yang terserah, ngomongnya aja yaudah, tapi kelakuan kamu gak kayak gitu, aku bingung ya sama kamu.. Aku gak pernah minta kamu buat ngerti lebih banyak tentang aku, aku gak pernah maksa kamu untuk pahami aku secara lebih"
Aku hanya terdiam
"Aku jadi capek kalau kamu kayak gini terus" sambungnya lagi.
"Oh, jadi kamu capek.. Kamu udah capek sama aku gitu?" Timpalku semakin kesal.
"Ya terus kamu pikir aku harus gimana? Aku harus kuat ngadepin kamu yang terus-terusan kayak gini? Aku gak boleh capek ngadepin kamu gitu? Kamu pikir aku ini robot terus kamu mau seenaknya ngendaliin aku pake remot control begitu? Kamu keterlaluan" Nadanya sudah semakin meninggi.
Aku terdiam.. Perlahan airmataku mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Apa susah banget ya ngertiin aku?" Sambungnya
Aku hanya terus terdiam, perlahan airmataku mulai menetes.
"Ya ampun Salwa, serius aku beneran udah gak tau lagi.. Aku cuman minta kamu ngertiin aku untuk kali ini aja, kamu malah ngediamin aku" Nadanya mulai kesal.
"Iya, maafin aku.. Maaf karena gak bisa ngertiin kamu" Jawabku dengan suara parau dan terisak karena mulai menangis.
__ADS_1
"Salwa..." kudengar suaranya terkejut dengan sedikit spontan.
"Kamu menangis?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Ah, gak.. Yaudah maafin aku Ozi, karena aku gak bisa ngertiin kamu" Jawabku masih dengan suara parau menahan tangisku..
"Gak, gak.. Aku minta maaf Salwa, aku.. Aku gak bermaksud buat kamu nangis kayak gini" Katanya dengan nadanya yang mulai menurun dan penuh rasa bersalah.
"gak, aku yang salah.. Aku hari ini emang butuh istirahat" kataku sambil terisak-isak
"Gak Salwa, gak.. Maafin aku, tolong jangan menangis.. Maafin aku sayang.."
"Kayaknya aku mulai ngantuk lagi, aku tidur dulu.. Selamat berakhir pekan Ozi"
"Sayang maafin aku.. iya udah, ayo kita ke gallery" bujuknya dengan nada penuh rasa bersalah.
"Gak, aku mau tidur saja.. Aku matiin telfonnya"
"Sayaanggggg..."
Aku terdiam sejenak.. "Apa selama ini benar aku gak pernah ngertiin Fauzi?" Pikirku..
Airmataku kembali menetes.
Telfon genggamku kembali berdering, panggilan Fauzi terus masuk, aku hanya mengabaikannya. Rasanya aku tidak sanggup berbicara dengan Fauzi saat ini. Aku terus menangis.
"Tolong angkat telfonku sayang" Pesan yang dikirim Fauzi setelah 6 panggilan masuk tak terjawabnya dariku
Telfonku kembali berdering dan terus berdering tapi hanya bisa kuabaikan.
"Sayang, tolong angkat telfonku, maafkan aku.."
"Sayang.."
"Sayang tolong jangan seperti ini"
"Iya aku salah.."
"Sayang, maafin aku"
"Salwa, tolong angkat telfonku.."
Pesan WhatsApp Fauzi terus masuk setiap telfonnya tidak terjawab.
__ADS_1
Fauzi terus menelfon, dan aku hanya mengabaikannya. Aku hanya menangis sedari tadi, menutup wajahku dengan bantal. Mataku mulai bengkak, dan suaraku semakin parau juga hidung memerah.
"Ya udah terserah kamu aja, kayaknya bener kamu lagi butuh istirahat, aku gak akan gangguin kamu"
Pesan terakhir Fauzi setelah 32 panggilannya terlewatkan, membuatku semakin sakit.
Aku menangis sejadi-jadinya membaca pesan terakhir Fauzi itu, sebelumnya Fauzi tidak pernah menyerah dan berkata seperti itu ketika aku marah. Fauzi akan selalu membujukku hingga marahku reda, tapi tidak dengan kali ini, Fauzi mengabaikanku. Aku jadi menyadari, betapa aku keras kepala selama ini. Aku tidak pernah sekalipun mengerti keadaan Fauzi, aku selalu memaksakan kehendakku terhadap Fauzi dan Fauzi hanya bisa menuruti apa yang aku mau.
Aku semakin menangis.. Entah apa yang kutangisi, apakah rasa kesalku karena tidak bisa jalan dengan Fauzi hari ini, ataukah rasa kecewaku karena Fauzi yang tidak membujukku seperti biasanya, ataukah karena rasa bersalahku sendiri yang selama ini terlalu menekan Fauzi hingga ia sampai pada batasnya hari ini dengan marah kembali padaku dan sekarang seolah tidak memperdulikan aku yang sedang marah. Seperti bukan Fauzi yang kukenal.
Aku sadar, aku sendiri yang membuat Fauzi menjadi seperti ini, aku yang membuat Fauzi yang sangat sabar menjadi hilang kesabarannya terhadapku..
Menyadari itu, membuatku semakin sakit dan tak bisa membendung tangisku.
Aku tidak tahu sampai kapan Fauzi akan marah. Aku tidak terbiasa dengan Fauzi yang marah karena sebelumnya Fauzi tidak pernah marah seperti ini sampai mengirim pesan seperti itu. Aku yang tadinya kesal sekarang mulai takut dan bingung, bagaimana jika Fauzi terlalu jauh dengan kemarahannya dan tidak ingin denganku lagi? Bagaimana jika Fauzi benar-benar lelah dan sudah sampai batasnya untuk menghadapiku.
Aku tidak ingin Fauzi seperti itu.
Pikiran-pikiranku itu semakin membuatku menangis.
Mataku semakin membengkak dan hidungku semakin memerah, tapi airmataku tidak juga bisa berhenti mengalir. Berkali-kali kuseka tetap saja kembali menetes, tissue berserakan dilantai kamarku..
Tokk.took..tokk..
Aku menoleh "Siapa juga yang bertamu pagi-pagi begini? Mana ibu tidak ada, kondisiku juga sedang gak memungkinkan nerima tamu" Pikirku.
Ttookk.ttokk.ttook..
Pintu kembali diketuk..
"Apa jasa kurir pengiriman?" tanyaku sendiri.
Ttookk.tok.ttokk..
Pintu diketuk berulang-ulang.
"Iya sebentar.." Jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh muka sebelum menerima tamu, sekiranya airmata dan bengkak mataku bisa sedikit lebih baik setelah dibasuh air.
Aku melangkah keluar sembari terus menekan-nekan mataku agar bengkaknya sedikit mereda. Ya aku juga tau, tidak ada teori yang mengatakan mata bengkak akan reda ketika ditekan-tekan, tetapi tetap saja aku berulang-berulang menekan mataku.
"Apa yang dia lakukan disini?" pikirku setelah kubuka pintu dan kulihat seseorang berdiri disana.
.
.
.
.
__ADS_1
Next...