
Nina terus-terusan bercerita bagaimana awal mula hubungan dia dengan Farhan, akupun dengan senang mendengarnya lalu menanyainya lagi dan lagi.
Aku yang awalnya sedikit kecewa dan sakit hati karena berharap terlalu jauh tentang perasaan Farhan terhadapku perlahan mulai membaik. Melihat Nina yang sangat bahagia menceritakan hubungan mereka membuatku sedikit sadar bagaimana aku yang tidak seharusnya boleh beranggapan lebih pada Farhan karena itu akan membuat Nina terluka.
Sudah takdir yang membawa Nina untuk bertemu dengan Farhan dalam jalan melalui perjodohan, sudah digariskan di telapak tangan Nina bahwa Farhan adalah jodohnya meski sebelumnya perasaan Farhan padaku cukup besar tapi pada akhirnya perasaannya sekarang adalah milik Nina.
Aku menghapus semua anggapanku tentang Farhan yang masih menyukaiku, aku melepaskan semua perasaanku yang sempat terbawa perasaan pada Farhan. Dengan seperti ini aku akan menjadi ikhlas dan membuat perasaanku menjadi lebih baik dan tenang. Aku menyadarkan diriku yang tidak seharusnya dengan mudah menarik kesimpulan sendiri terhadap perasaan orang lain.
"Oh ya Nin, dulu kamu pernah bilang ketemu sama kak Farhan di bandara sama cewek lain, kamu gak tanya sama kak Farhan itu siapa?" Tanyaku. Aku juga ingin tahu siapa perempuan itu dan apa hubungannya dengan Farhan waktu itu, dengan jawaban Nina nanti aku akan tahu apakah Farhan berbohong masalah move on-nya yang lama dariku atau tidak.
"Oh itu, awalnya aku sempat lupa sih sama perempuan itu tapi pernah sekali aku jalan sama kak Farhan dan ketemu sama perempuan itu di jalan. Seperti yang aku lihat di Bandara waktu itu, perempuan itu langsung dengan manja menyapa kak Farhan, karena waktu itu aku udah makin dekat sama kak Farhan dan sama-sama sudah menyetujui tentang pertunangan kami jadi aku ya cemburu dong. Ya kan masa ada cewek yang merengek manja sama tunanganku sedangkan aku ke kak Farhan aja gak gitu.."
"Gak gitu apanya, jelas-jelas tadi kamu juga merengek manja ke kak Farhan" sindirku.
"Hehe itu karena udah terbiasa, aku juga jadi manja ke kak Farhan seperti ini karena dulunya kesal habis ngeliat perempuan itu manja-manjaan sama kak Farhan"
"Haha cie yang pertama kali ngerasain cemburu" Ledekku pada Nina.
Aku akhirnya bisa benar-benar turut bahagia pada hubungan Nina dan Farhan, tidak ada lagi perasaan kecewa yang sedari tadi aku rasakan ketika tahu hubungan mereka. Cara Nina bercerita dan melihat bagaimana bahagianya dia saat ini membuatku sadar. Aku sekarang sudah bisa berbicara dengan Nina tanpa canggung dan tanpa harus menyembunyikan perasaanku. Ya satu hal lagi yang aku sadari, dibandingkan perasaanku pada Farhan, perasaanku pada Nina jauh lebih kuat dan tulus.
"Haha iya, aku baru pertama kali ngerasain cemburu waktu dan aku benar-benar gak bisa ngendaliin perasaanku., padahal waktu itu kak Farhan udah ngejelasin sama perempuan itu tentang aku dan perempuan itu langsung minta maaf saat itu juga, tapi ya tetap saja aku waktu itu sampai marah dan gak mau ngomong sama Farhan sampai tiga hari. Haha karena aku yang gak mau ngomong sama kak Farhan, kak Farhan sampai nyusul aku ditempatku, itu juga awal kak Farhan jadi ngikutin semua mauku, teman-temannya sering ngeledek manggil kak Farhan bucin, hahaha"
"Hahaha terus terus?" Tanyaku semakin penasaran.
__ADS_1
"Nah waktu itu baru aku ingat kalau perempuan itu adalah perempuan yang ditemani Farhan di bandara waktu itu. Setelah tiga hari gak ngomong sama kak Farhan, akhirnya kak Farhan nyusul aku dan jelasin semuanya.."
"Apa katanya?"
"Katanya perempuan itu teman kuliahnya waktu masih kuliah di Mamuju dulu, mereka gak pernah ketemu lagi setelah di bandara waktu itu. Namanya Key dan dia bilang kak Key memang seperti itu orangnya, katanya dulu juga pernah sekali mantan pacar kak Farhan salah paham dan cemburu sama kak Key sampai kak Key sendiri yang datang buat ngejelasin kesalahpahaman itu" Jelas Nina.
Tebakanku benar kalau orang yang dilihat Nina waktu itu adalah Key "Mantan pacar kak Farhan yang dimaksud itu aku Nina" Kataku dalam hati.
"Aku gak pernah tau kalau kak Farhan pernah punya pacar, karena yang aku tahu dulu waktu SMA kak Farhan rajin banget ngejemput kamu jadi kupikir kak Farhan itu jomblo karena gak mungkin dia bisa ngejemput kamu terus kalau dia punya pacar"
"Hehe karena pacarnya itu aku Nina"
"Tapi dia bilang mantannya.." Lanjut Nina.
"Ka kamu gak tanya sama kak Farhan tentang mantannya itu?" Tanyaku untuk memastikan apakah Nina ada sedikit curiga denganku, juga aku ingin tahu bagaimana tanggapan Farhan waktu itu.
Sepertinya Farhan menyembunyikan antara hubunganku dengan dia dan kurasa itu adalah pilihan yang tepat.
"Uwuu to tweeett.." Ledekku
"Haha waktu kak Farhan ngomong kayak gitu rasanya pipiku langsung panas" Kata Nina disertai tawanya.
"Hahaha.. Ngebayangin muka kamu waktu itu pasti lucu banget"
__ADS_1
"Haha iya.. Aku gak pernah nyangka kalau pada akhirnya aku dan kak Farhan akan berada dihubungan yang seperti ini. Aku ingat dulu, aku cuman mengagumi kak Farhan sebatas kakak kelas karena dia terlihat keren. Bukan cuman aku aja sih yang ngelihat kak Farhan keren, banyak dari anak seangkatan kita yang suka sama kak Farhan meskipun gak sebanyak sama yang suka dengan kak Fauzi.. Haha"
"Haha, kamu yang dulunya cuman mengagumi sekarang dibuat jatuh cinta ya.."
"Haha begitulah.. Oh iya, ngomong-ngomong kak Fauzi sekarang dimana?"
Aku sedari tadi tertawa bersama Nina tiba-tiba diam mendengar pertanyaan Nina itu.
"Kenapa?" Tanya Nina kebingungan.
Aku menggeleng dan mencoba tersenyum.
"Ada apa?"
"Hehe gak.. dari tadi teru ketawa kamu gak haus?"
"Haus, tapi kenapa pas aku.."
"Yaudah kalau kamu haus aku ambilin minum dulu.." Kataku memotong pembicaraan Nina lalu bergegas keluar kamar untuk mengambil air.
Aku mengambil gelas dan menyiapkan air minum. Aku diam sebentar sebelum membawa dua gelas air itu kedalam kamar. Aku bingung, aku harus menjawab apa pertanyaan Nina. Aku tahu seharusnya aku jujur saja pada Nina karena tidak ada alasan dan tidak ada untungnya juga aku berbohong pada Nina, tapi aku tidak tau rasanya seperti sulit menjelaskan ini pada Nina. Mungkin bukan sulit, tapi karena aku tidak ingin menceritakan hal yang menyakitkan yang aku rasakan saat berpisah dengan Fauzi dan itu akan membuatku mengingat dan menyadari sekali lagi kalau Fauzi sudah tidak ada bersamaku.
Perlahan airmataku mulai menetes, aku tidak bisa menahan rasa sedih yang kembali merasuk kedalam perasaanku mengingat tentang Fauzi.
__ADS_1
"Salwaa.." Panggil Nina menyusulku ke dapur.
Aku segera menyeka airmataku agar Nina tidak melihatnya.