Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Bar again (2)


__ADS_3

Waktu berlalu, dan sepasang mantan suami istri itu masih sama-sama menikmati waktu mereka yang tak sengaja bertemu di sebuah bar. Mungkin terdengar sedikit lucu, tapi faktanya mereka bisa saling mengerti dan menjadi pendengar yang baik untuk keluh kesah sang mantan.


"Mungkin ini karma"


"Karma?" Tanya Karin yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Faiq.


"Karena aku pernah nyakitin kamu dulu, jadi aku yang jahat ini sudah dapat karmanya"


Karin hanya tersenyum kecil.


"Kalau ini benar karma-mu, berarti aku adalah orang yang beruntung"


"Karena?"


"Karena aku bisa menyaksikanmu menemui karma-mu"


Faiq tertawa kecil sembari meneguk minumannya.


"Ya.. Kamu beruntung"


Keduanya terdiam sejenak, sama-sama menikmati minuman mereka masing-masing.


"Karin, makasih"


"Untuk?"


"Karena sudah mendengar ceritaku. Lagi-lagi, aku selalu menjadi orang yang menerima kalau sama kamu"


"Tidak apa, aku juga tidak keberatan menjadi pendengar untuk mantan suamiku"


Faiq menoleh menatap Karin. Tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan Karin. Karena faktanya Faiq memang adalah mantan suaminya. Hanya saja terdengar sedikit canggung jika kata-kata itu keluar dari mulut Karin yang sebelumnya sangat terluka.


"Kenapa ngeliat aku seperti itu?"


Faiq mengalihkan pandangannya sembari menggeleng dengan senyuman yang melingkar kecil di bibirnya.


"Kamu sendiri, apa gak minat cerita sama aku? Aku gak pernah kepikiran kalau bakal ketemu sama kamu di tempat seperti ini"


Karin tersenyum, dan meneguk sedikit minumannya.

__ADS_1


"Gak ada bedanya sama kamu, aku disini karena orang yang aku sukai dalam waktu lama, lagi bahagia. Kata-kata kalau kita bahagia ngeliat orang yang kita cintai bahagia, itu bohong"


"Orang yang kamu suka tiga tahun yang lalu?"


Karin menggeleng, tidak membenarkan dugaan Faiq. "Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu"


Faiq spontan berbalik dan menatap Karin, gerakan impulsif dari dia yang terkejut mendengar ucapan Karin.


"Sepuluh tahun yang lalu??" Tanya Faiq memperjelas.


Karin mengangguk. "Sudah lama sekali" Katanya tersenyum kecut.


"A-aku kira, kamu masih sendiri waktu aku ngelamar kamu dulu"


"Iya.. Aku sendiri bukan berarti aku gak punya orang yang aku sukai, kan?"


"Jadi waktu kamu nerima lamaranku dulu, kamu gak suka sama aku?"


"Gak sepenuhnya dibilang gak suka juga" Jawab Karin kembali meneguk minumannya yang tersisa sedikit dalam gelas.


Faiq turut meneguk minumannya, dengan tatapan yang tidak lepas dari Karin. Rupanya dia cukup penasaran dengan cerita Karin.


"Aku suka dia sedari SMA. Ya, dia memang idola wanita, jadi wajar kalau aku salah satu perempuan yang tertarik sama dia. Aku nembak dia padahal aku tahu kalau dia sudah punya pacar"


"Perasaan tidak bisa dilarang bukan? Aku cuman mau dia tahu perasaanku, dan berharap dia bisa mempertimbangkan aku. Aku tahu, saat itu dia menilaiku sebagai kakak kelas yang tidak tahu malu"


"Tunggu tunggu.. Kakak kelas? Dia lebih muda dari kamu?"


Karin mengangguk pelan dengan sedikit malu untuk mengakui.


"Kalau kamu suka dia selama itu, terus kenapa terima lamaranku dulu?"


Karin menghembuskan nafas berat, dan kembali melanjutkan ceritanya.


"Aku suka dia di waktu itu, tapi aku yang perlahan tumbuh dewasa jadi sadar, kalau rasa sukaku itu hanya rasa suka sebatas anak remaja. Aku melanjutkan hidupku sebagai mahasiswi setelah lulus SMA. Aku juga gak pernah ketemu dia lagi, cuman dengar kabarnya kalau dia sempat putus sama pacarnya waktu itu"


"Jadi, kenapa sekarang bisa suka lagi?"


"Aku ketemu sama dia sekitar setengah tahun yang lalu. Ya takdir seolah sengaja mempertemukan aku sama dia. Tiba-tiba saja dia muncul kembali, dan aku kembali merasakan cinta yang dulunya aku kira cuman perasaan sesaat. Nyatanya, saat ketemu sama dia lagi, perasaanku kembali lagi seperti dulu. Tapi.."

__ADS_1


Karin berhenti sejenak, dan meminta gelas minumnya diisi lagi. Tenggorokannya serasa kering meski hanya bercerita sebentar.


"Sekarang dia sudah punya istri. Awalnya aku kira aku punya kesempatan sampai aku berharap lagi, tapi sepertinya tidak. Karena beberapa hari yang lalu, dia memperjelas keadaan kalau dia lagi bahagia sama istrinya. Aku seketika sadar, kalau aku tidak boleh menjadi wanita jahat yang merampas kebahagiaan orang lain"


"Jadi kamu sampai di tempat seperti ini untuk menghilangkan kekecewaanmu?"


Karin mengangguk pelan.


"Aku kesini di hari yang sama saat aku tahu kalau aku sudah tidak ada harapan lagi. Aku minum segelas alkohol dan mabuk setelahnya"


Faiq melirik gelas Karin yang hanya berisi minuman bersoda, bukan alkohol seperti yang dia bilang sebelumnya. Karin yang mengerti tatapan Faiq dengan cepat menjawab pertanyaan yang bahkan masih berada dalam benak Faiq.


"Sekarang aku minum soda saja. Aku nyetir, jadi tidak boleh mabuk" Kata Karin memperjelas.


Faiq hanya tertawa kecil saat menyadari bahwa Karin tahu apa yang ada dalam pikirannya.


"Kita ketemu disini dalam keadaan, dimana perasaan kita sama-sama hancur. Seperti takdir saja" Kata Karin tersenyum simpul.


"Mungkin memang takdir. Setidaknya takdir ini ngebuat kita bisa mengeluarkan apa yang sama-sama menyesakkan di hati kita"


Karin tersenyum. "Semoga kedepannya kamu bisa ketemu sama orang baru yang kamu cintai, dan mencintaimu"


Faiq menoleh, dengan pandangannya yang menemukan senyum manis milik Karin yang berhias di bibirnya.


"Kamu juga" Balas Faiq.


Sepasang mantan suami istri itu masih menikmati malam mereka di bar itu, sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.


.


.


.


.


Ohayoo... Kira-kira bagusan Faiq dibuat balik sama Karin, atau dibuat pisah aja??


Wkwkwk aku bakal ngebuat alur selanjutnya sesuai keinginan readers..

__ADS_1


Hehe tentunya pilihan terbanyak 😁


untuk yang kesekian kalinya, makasih karena sudah mampir di novelku 🥰


__ADS_2