
Setelah bertahun-tahun tidak pernah mendapat kabar dan tidak pernah bertemu dengan Faiq, akhirnya hari ini Fauzi bisa melihat Faiq tepat di depan matanya. Seorang teman yang dulunya berbagi makan, berbagi cerita dan selalu mengerti dengan keadannya. Seseorang yang pernah membuatnya sangat merasa kehilangan setelah pergi tanpa pamit dan hanya menitipkan surat agar Fauzi tidak mencarinya.
Namun Faiq yang sekarang, bukan lagi anak laki-laki yang dia kenal sebelumnya. Laki-laki dengan jas hitam yang kini duduk didepannya, adalah seorang yang berpikiran matang dalam bidang bisnis. Laki-laki yang hanya memiliki nama dan wajah yang sama dari orang yang dia kenal sebelumya, tapi tidak dengan sifat, kelakuan dan cara berbicara.
Keduanya mulai larut dalam obrolan. Terlalu dini bagi Faiq bercerita masalah pribadinya yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Namun Fauzi tidak mempermasalahkan itu, juga Faiq yang tetap nyaman bercerita. Mereka seolah kembali pada masa itu, masa dimana mereka tetap nyaman satu sama lain dalam berbagi.
Meski obrolan mereka adalah sejurus tentang Faiq di beberapa tahun terakhir ini, namun Faiq juga tidak bercerita hingga ke hal-hal yang sama sekali Fauzi tidak tahu. Berbeda dengan pembahasan mereka tentang Sasa, mantan Faiq. Itu adalah pembahasan yang dibahas lebih rinci. Pembahasan mengenai wanita yang dulunya selalu ia temui setiap hari, membuat Fauzi perlahan-lahan kembali merasakan kehadiran Faiq, sosok temannya yang menghilang beberapa tahun silam
“Belum move on?” Tebak Fauzi.
Faiq hanya terdiam, kemudian tersenyum. Ia tidak menyangkal akan kebenaran yang dikatakan Fauzi, juga kemampaun Fauzi yang masih saja sama seperti dulu, kemampuan yang bisa menebak tentangnya tanpa ia harus menyebutkannya. Ya, waktu boleh saja berlalu, keadaan bisa saja berubah, tapi seorang teman tetap akan memiliki insting tersendiri untuk temannya. Meski tidak lagi begitu mendalam seperti sebelumnya.
“Aku terbaca sekali ya”
“Sebenarnya tidak" Kata Fauzi berbohong, ia tidak ingin temannya yang tengah menyembunyikan sebagian dirinya yang dulu, merasa gagal dalam menyembunyikan perasaannya. Meski sebenarnya, masalah Sasa memang bukanlah hal yang sulit ditebak dari seorang Faiq, mengingat ia begitu mencintai wanitanya itu hingga memilih meninggalkan rumah dengan segala kemewahan dan fasilitas di dalamnya, dan memilih untuk tinggal bersamanya waktu itu. "Aku hanya menebak-nebak saja. Jadi bagaimana? Apa pernah menghubungi Sasa dari waktu itu?”
Faiq menggeleng. “Aku terlalu pengecut. Aku takut Ayahku tahu dan akan melukai Sasa”
“Jadi??”
“Aku diam saja. Aku tengah berusaha keras waktu itu untuk menjadi laki-laki hebat agar bisa melampaui Ayahku dan bisa melakukan hal yang kusuka. Ttapi faktanya, aku runtuh dalam tindakanku yang salah mengambil keputusan dalam menentukan hidupku”
“Keputusan apa?”
“Yah, anggap saja itu keputusan yang paling bodoh yang pernah aku ambil dalam hidupku” Jawab Faiq menutupi kisah kelamnya. Kisah yang bahkan mengingatnya pun dia tidak ingin, sebuah takdir yang ingin dia kubur dan menghapusnya.
Mendengar jawaban Faiq, Fauzi jadi mengerti akan hal yang tidak seharusnya ia gali lebih dalam. Faiq telah membatasi obrolan mereka untuk sesuatu yang lebih pribadi tentang dirinya. Ya, dia bukan Faiq yang sebelumnya, yang akan menceritakan hal apapun padanya, hingga ke inti-intinya.
“Jadi perasaanmu sama Sasa masih sama?”
“Mungkin..”
“Mungkin??” Tanya Fauzi tidak mengerti.
“Aku ragu untuk bilang iya, tapi juga tidak sanggup bilang tidak”
“Maksudmu?”
“Sasa itu orang yang masih bertahta dihatiku sampai sekarang. Aku gak bakal bisa lupain dia, dia terlalu istimewa. Tapi aku juga tidak bisa memastikan perasaanku, karena aku tidak tahu keadaannya. Rasional saja, aku mencoba menjaga perasaanku agar tidak jatuh dalam keterpurukan terlalu dalam kalau sampai nanti aku tahu faktanya tentang Sasa yang sudah memilki pujaan hati”
Fauzi tertawa kecil, dengan bibir sebelah bagian atasnya menyungging. Ekspresinya yang sangat menarik perhatian Faiq.
Apa kamu pikir perasaanmu masih bisa subur seperti sekarang kalau kamu bisa menangani perasaanmu seperti sebelumnya. Omong kosor besar..
Faiq menatap Fauzi dengan ekspresi yang bingung, tidak mengerti dengan senyuman penuh makna yang baru saja Fauzi perlihatkan padanya.
__ADS_1
“Kamu yakin bicara seperti itu? Kamu yakin bisa menangani perasaanmu tetap baik-baik saja kalau ngeliat Sasa sama orang lain? Aku bukannya meremehkan usahamu untuk bisa tegar menerima kenyataan, kalau semisal Sasa sudah punya pasangan saat ini. Hanya saja, ini bukan hal yang bisa kamu tangani dengan mudah meski kamu sudah meyiapkan hati sedari dini”
“Berpengalaman sepertinya..” kata Faiq di susul dengan tawa kecilnya.
“Ya begitulah..”
Fauzi hanya ikut tertawa, kali ini dia yang berhasil ditebak oleh Faiq.
“Setelah kamu bilang begitu, aku jadi bingung harus mengarahkan bagaimana perasaanku sekarang”
“Kalau masih suka ya pertahankan saja, kejar terus”
“Aku gak mau menjadi orang bodoh yang mengejar tanpa kepastian”
“Tidak mau jadi orang bodoh atau takut terluka?”
Faiq terdiam sejenak mendengar pertanyaan Fauzi.
“Kurasa dua-duanya”
“Ck, kamu lumayan pengecut juga”
“Hey..” Sela Faiq yang tidak terima dirinya dikatakan pengecut oleh Fauzi.
“Apa? Faktanya memang seperti itu kan”
“Sudah..” Potong Fauzi. “Kalau masih suka, pertahankan saja dan kejar. Aku yang menjamin statusnya”
“Maksudmu?”
“Aku ketemu sama Sasa di rumah sakit beberapa waktu lalu. Dia juga jadi orang bodoh sepertimu sekarang. Menunggu orang yang dicintainya tapi tidak kunjung datang”
“Ma-maksudmu?”
“Aku perjelas saja. Sasa masih sendiri sekarang. Terakhir aku ketemu, dia keliatan masih ada perasaan sama kamu, dia sedikit gugup waktu aku ngebahas kamu”
“Serius??” Tanya Faiq antusias. Kesan yang tadinya begitu dingin bertengger pada Faiq, runtuh seketika dan berubah menjadi hangat. Sekilas Fauzi bisa melihat, sosok Faiq yang dulu benar-benar terlihat sekarang.
“Iya. Cuman itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Aku gak tahu kalau perasaannya sekarang”
“Sekitar berapa lama?”
“Belum cukup sebulan”
“Perasaan tidak mudah berubah. Jangankan sebulan yang lalu, beberapa tahun terakhir ini pun dia tidak berubah, seperti yang kamu bilang” Jelas Faiq dengan wajah sumringah.
__ADS_1
“Ya bisa saja seperti itu, tapi bisa saja perasaannya berubah. Hari itu saat aku ketemu Sasa, ada laki-laki lain yang sama dia”
“Mungkin temannya” kata Faiq berusaha berpositif thinking.
“Ya terserah apa yang dipikiranmu”
Fauzi tahu betul, temannya itu menolak akan kemungkinan Sasa yang bisa saja sekarang sudah berpaling darinya dan memilih bersama orang lain. Dia terlanjur fokus akan apa yang dikatakan Fauzi sebelumnya, tentang status Sasa yang masih sendiri, dan mungkin masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu.
Wajah senang yang tadinya terpancar di wajah Faiq, perlahan meredup dan berubah.
“Kenapa?” Tanya Fauzi yang cukup peka.
“Aku gak tahu harus memulai dari mana kalau mau ketemu sama Sasa, dan aku gak tahu obrolan seperti apa nantinya. Aku pergi tanpa pamit dengan baik, dan setelah sekian lama gak ketemu, pasti canggung kan?”
“Aku bisa ngebuat kamu ketemu Sasa tanpa rasa canggung”
“Serius??” Tanya Faiq sekali lagi dengan antusias, dengan senyumannya yang mengambang.
Fauzi mengangguk. “Aku bisa saja minta tolong sama Sasa untuk ngejaga Salwa selagi aku kerja. Jadi saat pertemuan kita nanti bersama mitra kerja dengan proyek yang mau aku serahkan sama kamu, kamu bisa ketemu Sasa saat dia ngejaga Salwa”
“Serius??”
“Iyaa seriuss. Ck, mau sampai kapan tanya serius-serius terus?”
“Ha ha ha, aku hanya terlalu senang..”
Terlihat jelas dimata Fauzi, bagaimana Faiq yang tiba-tiba berubah dari dingin menjadi lebih hangat setelah membahas Sasa. Faiq tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Oh ya, ada apa sama Salwa, kenapa Sasa harus ngejagain Salwa dan bagaimana hubunganmu sama Salwa?” tanya Faiq mengingat sebelumnya Fauzi membahas itu.
Pertanyaan yang selalu Fauzi hindari, ialah tentang bagaimana keadaan istrinya, namun lagi-lagi dia mendapatkan pertanyaan itu.
“Baik-baik saja, Salwa sekarang istriku” Jawab Fauzi tersenyum, menyembunyikan luka yang kembali merasukinya.
“Wah selamat" Ucapan yang memperlihatkan bagaimana Faiq turut senang dengan pernikahan Fauzi dan Salwa. Faiq tahu betul, seperti apa sulitnya hubungan Fauzi dan Salwa saat Fauzi mendapati Salwa memiliki kekasih lain waktu itu. "Cinta rumit kalian akhirnya berujung di pernikahan. Jadi Salwa kenapa sampai harus di awasi?”
Meski Fauzi sudah menyembunyikan lukanya, namun pertanyaan Faiq yang kembali mengulang akan keadaan istrinya sekarang, membuat Fauzi tidak lagi menyembunyikan pilunya. Toh cepat atau lambat, Faiq akan tahu nantinya.
Dengan berat hati, Fauzi perlahan bercerita tentang bagaimana keadaan Salwa saat ini. Tentang penyakit Salwa yang semakin hari semakin buas menelan ingatan istrinya, menghapus semua kenangan indah yang dia miliki sebelumnya.
Tidak berbeda jauh dengan reaksi orang-orang yang sebelumnya Fauzi beritahu tentang kondisi Salwa. Faiq pun begitu terkejut dan setengah tidak percaya. Mata Faiq sampai berkaca-kaca mendengar cerita Fauzi tentang istrinya yang tengah mengidap alzheimer itu. Faiq yang sebelumnya terlihat sangat menakutkan dengan pola pikir dan tatapannya itu, seketika berubah menjadi melow mendengar cerita fauzi.
“Aku turut prihatin Zi, semoga kamu kuat”
Seperti orang lain pun, Faiq menyampaikan rasa turut prihatinnya yang mendalam pada Fauzi, mengetahui apa yang tengah menimpa kehidupannya saat ini.
__ADS_1
Fauzi hanya tersenyum, tidak mampu berkata-kata lagi.